ホーム / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 111. Keluarga Kertasoedibyo

共有

Bab 111. Keluarga Kertasoedibyo

作者: juskelapa
last update 公開日: 2026-02-15 20:05:46

Satria tidak bereaksi atas kalimat pertama Nadine. Wanita itu seperti mendapat angin segar untuk menyudutkan Satria. Apalagi Nayla yang ditunggu belum keluar.

“Katanya Pak Elang akhir-akhir ini sering tiba-tiba keluar kantor. Pulang lebih cepat dari biasanya, lalu nambah supir khusus buat anter jemput istri dan anak sambungnya. Ckckck.” Nadine menatapnya lurus. “Orang-orang bilang beliau lagi sibuk mengurus keluarga. Bahkan satu klien lama dari India lepas begitu aja.”

Satria hanya mengangkat a
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (14)
goodnovel comment avatar
Usnani
nad knapa km gak nyadari kesalahanmu sih... seharusnya tau ya sbg istrinya satria dulu, satria itu Seperti apa.....
goodnovel comment avatar
Anies
bayangin Satria 15th lalu berasa bayangin siapa gitu yak
goodnovel comment avatar
henny.orlee
Nadine perlu ke psikologi itu obsesinya sma satria makin hari makin parah
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • KAMAR KEDUA   Bab 198. Kebusukan Terorganisir 

    Mendengar itu Satria tak bergerak. Ia mengulangi kata-kata itu dalam kepala.“Pak Salim tahu. Tapi seperti biasa Pak Salim diam.”Detak jantungnya semakin cepat. Tangannya pasti sudah sedingin es.Artinya … Pak Salim punya kesempatan besar untuk mencegah hal itu terjadi.“Jangan marah, Sat,” ucap Pak Hendra. “Kan sudah saya bilang kalau Prabu masih hidup, kamu nggak akan memiliki yang kamu inginkan.” Ia kembali tertawa pendek. Seakan sedang menertawakan cucunya.“Prabu nggak akan sepicik itu mengelola perusahaannya. Kadang kucing memang suka mempermainkan tikus meski tidak benar-benar tertarik memakannya.” Ucapan Satria membuat senyum di wajah Pak Hendra menghilang.Pak Hendra berjalan pelan kembali ke meja. “Awalnya transaksi kecil,” lanjutnya. “Satu invoice. Dua invoice. Semuanya legal di atas kertas.”“Lalu lama-lama Prabu sadar uang yang muter terlalu besar?” tebak Satria.Pak Hendra menatapnya sambil mengangguk tipis.“Prabu bukan orang bodoh,” kata Satria. “Kalian pasti membuatn

  • KAMAR KEDUA   Bab 197. Kenyataan Penting dan Pahit

    Pak Hendra mencondongkan tubuhnya pelan. Tangannya mengambil botol air mineral kaca di atas meja kecil, lalu menuangkan isinya ke gelas kertas kosong di depannya.Gerakannya tenang. Seolah mereka hanya dua orang yang sedang mengobrol bisnis biasa di tengah malam.“Kenapa?” tanya Satria akhirnya.Suaranya rendah seperti bisikan.Tapi cukup berat untuk membawa semua hal yang sejak tadi menyesakkan dadanya.Satu pertanyaan untuk semuanya.Untuk Prabu. Untuk kecelakaan itu. Untuk darah di jalan. Untuk alasan kenapa sahabatnya harus mati.“Kalau semua masih bisa dibicarakan…” rahang Satria mengeras, “…dia nggak harus mati, kan?”Ia bahkan tidak mau menyebut nama Prabu di depan pria itu. Entah kenapa rasanya kotor. Pak Hendra seharusnya berada di rumah. Duduk santai menonton televisi bersama cucu-cucunya. Bukan berdiri di tengah gudang gelap seperti ini. Kontras itu justru membuat bulu kuduk Satria terasa dingin.Pak Hendra tersenyum kecil sambil mendorong gelas air ke arah Satria. “Kita se

  • KAMAR KEDUA   Bab 196. Gudang Nomor Tujuh Belas

    Satria meninggalkan rumah sakit dengan langkah cepat.Lorong persalinan masih terang saat ia berjalan menjauh. Suara monitor detak jantung bayi dan langkah perawat masih samar terdengar di belakangnya. Tapi kepalanya sudah penuh oleh hal lain.Sheza.Gudang nomor 17.Lalu ….Obrolan bersama Arga dan Julian.“Seluruh berkas di gudang nomor 17 untuk barang bukti dan memusnahkan berkas Prabu.”“Harus punya sesuatu untuk dibarter biar mereka bisa diam.”Rahang Satria mengeras. Rambutnya yang tadi rapi sekarang sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyugar rambutnya.“Yang dibarter itu pasti harus besar dan berharga buat si tua itu,” Satria berbisik.Pintu lift tertutup di depannya. Pantulan wajahnya muncul samar di dinding stainless. Tegang. Letih. Lalu ponselnya kembali bergetar. Kali ini pendek-pendek. Satria membuka pesan masuk.‘Saya hanya ingin memastikan semuanya tetap tenang.’‘Saya rasa kita sama-sama tidak ingin keluarga kita terganggu, bukan?’Tatapan Satria meredup.Pak De

  • KAMAR KEDUA   Bab 195. Sesuatu yang Perlu Penyelesaian

    Mobil berhenti di depan pintu IGD. Satria keluar lebih dulu. Seorang satpam langsung membantu membuka pintu penumpang.“Saya minta kursi roda buat istri saya,” kata Satria pada satpam. Tak lama satpam itu kembali dengan sebuah kursi roda. Satria membantu Sheza turun dan tangannya sigap menopang tubuh Sheza. “Pelan,” katanya.Sheza memelankan gerakannya. Napasnya sedikit lebih berat, tapi masih terkendali. Seorang perawat lalu mendekat dan mengambil alih kursi roda sementara Satria meletakkan mobil ke sisi lain halaman. “Saya kontraksi ringan,” kata Sheza pada perawat.“Baik. Kita langsung ke bagian persalinan ya, Bu.”Tak lama Satria bergabung dan tiba di sebelah Sheza. Sementara Bu Pur terlihat melambatkan langkah di belakang. Hening memperhatikan perlakuan Satria pada putrinya.Sheza didorong masuk melewati lorong rumah sakit yang terang dan dingin. Suara roda kursi menyusuri lantai mengisi keheningan di malam yang sudah larut.Beberapa saat berjalan dengan keheningan dan pikiran m

  • KAMAR KEDUA   Bab 194. Menjelang Kelahiran

    Selama kurun kehamilan Sheza, Satria memang sudah banyak membaca. Kehamilan Nadine yang sebagian dihabiskan di luar negeri dan ditangani para dokter ahli dan kehamilan IVF yang spesial membuat ia hanya mengikuti apa yang diinginkan Nadine. Yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjaga suasana hati Nadine. Beda dengan kehamilan Sheza saat ini. Ia bisa terlibat lebih banyak. Sheza memuaskan banyak sisi kelelakiannya.Tak hanya lebih banyak mendengar apa yang ia inginkan, Sheza juga selalu bercerita apa yang dirasakan tubuhnya. Itu membuat Satria merasa hubungan mereka perlahan menjadi lebih intim.Sheza membiarkan ia mengambil alih banyak hal. Membuat sisi dominannya menjadi terpuaskan.“Kamu pakai ini aja,” kata Satria, menambah lapisan kimono panjang di bagian luar dress pendek yang ia kenakan. Kimono katun itu turut menyamarkan bentuk tubuhnya.“Memang bloody show, kan?” Sheza memastikan lagi. Saat Satria mengusap lipatan luar kelembutannya tadi, ia hanya melihat permukaan jari Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 193. Gerak Cepat

    Usai Satria mengakhiri pembicaraan, Ratri terlihat salah tingkah sesaat. Makanan mereka baru tiba dan obrolan belum bergulir lebih dalam. Namun, di balik wajah paniknya, Satria berdiri dengan raut puas. Seakan ia sudah mendapat seluruh informasi yang ia butuhkan.Ratri masih duduk saat Satria mengulurkan tangan. “Maaf, Rat. Aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malam yang belum bisa disebut makan malam. Mungkin lain waktu aku bisa bayar hutang ini ke kamu.”“It's okay, Sat.” Ratri ikut berdiri. Ia membalas jabatan tangan Satria dengan senyum lembut. “Walaupun rasanya cuma sebentar banget. Tapi … makasih karena udah mau jadi teman cerita buat hari ini.”Satria mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu tidak ada basa-basi lagi. Satria sudah tenggelam dengan isi pikirannya. Soal Sheza dan soal siapa yang harus ia hubungi untuk mencari Calvin. Satria meninggalkan meja dengan langkah cepat. Ia berjalan menuju meja kasir dan membayar seluruh pesanan mereka malam i

  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 72. Sepertinya Belum Yakin

    Sebenarnya … ia tidak berniat mengatakan apa pun dengan nada seperti itu pada mertuanya. Setelah ponsel berpindah tangan ke Satria, Sheza merapikan meja makan pelan-pelan. Dio kembali ke kamar dan Tuti mencuci piring dengan gerakan yang menenangkan. Suara air dan denting piring seharusnya cukup un

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 68. Bukan Perasaan Sesaat

    Sheza tak sempat keberatan. Kenikmatan yang lembut dan halus perlahan menariknya. Ia seakan lupa bahwa langkahnya sukarela menuju kamar kedua. Yang pasti, kepalanya yang melayang ringan tak sempat membuat ia kikuk saat Satria menatapnya. Ah … seharusnya ia malu, rikuh. Satria menatapnya seperti

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 59. Hari yang Tidak Direncanakan

    Sebelum mendapat telepon dari Salim Prajogo, pagi itu Satria terpukau beberapa kali. Saat ia duduk menyantap seiris roti di meja makan, Sheza keluar dari kamar. Tatapannya langsung tertuju pada satu tempat tanpa ia sadari. Wanita itu mengenakan dress tanpa lengan dengan kerah kotak berwarna kuning

    last update最終更新日 : 2026-03-24
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status