ログインDi seberang unit apartemen Sabrina, Kael nyaris membenturkan kepalanya ke headboard ranjang karena frustrasi. Wajahnya memanas, bukan karena marah, melainkan malu yang luar biasa. Jempolnya yang biasanya lincah menandatangani dokumen miliaran rupiah, kali ini justru berkhianat di saat yang paling krusial.
"Sial," umpatnya pelan. Ia segera mengetik pesan klarifikasi dengan jari yang masih gemetar hebat.
[Maaf. Maksudku KE HAJATAN! Typo! Sumpah! Jariku terpeleset.]
&n
Mobil mewah Kael kemudian meluncur membelah jalanan Jakarta yang tampak lengang karena memang ini adalah akhir pekan. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma parfum woody milik Kael dan wangi peach dari tubuh Sabrina beradu, menciptakan atmosfer yang intim namun juga penuh ketegangan. Sabrina terus-menerus merapikan lipatan kain lilitnya, memastikan penampilannya tetap sempurna."Kau terlihat gelisah. Apa busanamu terlalu ketat?" tanya Kael sambil melirik sekilas, satu tangannya masih setia mengendalikan kemudi sementara tangan lainnya bersandar santai di transmisi."Bukan begitu," sahut Sabrina pelan. "Aku hanya berpikir, apa tidak berlebihan kalau aku ikut? Ini acara keluarga Mas Teguh. Pak Dadang pasti akan terkejut melihatku datang bersamamu, bukan sebagai karyawan, tapi...""Tapi sebagai pasanganku," potong Kael cepat dengan nada rendah yang tegas. "Pak Dadang sudah meng
Di seberang unit apartemen Sabrina, Kael nyaris membenturkan kepalanya ke headboard ranjang karena frustrasi. Wajahnya memanas, bukan karena marah, melainkan malu yang luar biasa. Jempolnya yang biasanya lincah menandatangani dokumen miliaran rupiah, kali ini justru berkhianat di saat yang paling krusial."Sial," umpatnya pelan. Ia segera mengetik pesan klarifikasi dengan jari yang masih gemetar hebat.[Maaf. Maksudku KE HAJATAN! Typo! Sumpah! Jariku terpeleset.] Tidak menunggu lama, ia segera memotret kartu undangan milik adik Teguh, lalu mengirimkannya sebagai bukti fisik agar Sabrina tidak mengira ia sedang memberikan kode penghinaan. Sementara itu di dalam kamarnya, Sabrina yang tadinya sudah menarik napas siap untuk mengomel lagi, mendadak luluh. Ia tertawa geli sendirian hingga harus menutup mulutnya dengan bantal aga
"Ma, apa Mama tidak ada rasa kasihan sedikit saja padaku?" tanya Gladis dengan suara sedikit bergetar, menatap wanita yang selama ini ia panggil Ibu dengan tatapan memohon yang hancur."Jangan jadi gadis cengeng! Sekarang beri tahu apa yang akan kau balas pada kami atas semua kemewahan yang sudah kau nikmati?" bentak mama angkatnya, mengabaikan fakta bahwa Gladis baru saja melewati malam yang traumatis. Ganda yang sejak tadi bersedekap di samping Gladis langsung memotong pembicaraan dengan nada sarkastik yang kental."Wah, Nyonya, aku baru tahu kalau di rumah sakit ini ada jasa jual beli manusia. Kirain cuma jualan obat," sindir Ganda telak."Diam kau! Jangan ikut campur!" sentak wanita tadi dengan wajah memerah menahan amuk. Ia menatap Ganda dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Memangnya kau siapa, hah? Berani sekali mengatur urusan keluarga kami!""Ak
Suasana intim yang baru saja terbangun di ruang tamu tadi hancur seketika oleh suara nyaring ponsel Kael. Di tengah apartemen yang hening, dering itu terdengar begitu keras, seolah menarik paksa keduanya kembali ke realitas yang rumit. Sabrina, yang sedetik lalu nyaris luluh dalam pesona Kael, langsung tersentak dan memalingkan wajahnya yang memerah. Ia segera melepaskan diri dari dekapan Kael dengan gerakan canggung."Aku... aku lupa ada pakaian kotor Aliz yang masih tertinggal di kamar mandi," gumam Sabrina tanpa berani menatap mata Kael. Tanpa menunggu jawaban, ia lekas beranjak, melarikan diri dari atmosfer yang terlalu menyesakkan bagi jantungnya. Kael mendesah frustrasi, merutuki siapa pun yang berani mengganggunya di waktu yang sangat tidak tepat ini. Ia merogoh saku, melihat nama Victor terpampang di layar gawainya. Dengan wajah mengeras, ia menggeser ikon hijau."Ada apa?" bentak Kael kesal, suaranya rendah namun penuh penekanan."Maaf, Tua
Keheningan di ruang tamu apartemen itu terasa begitu padat, seolah udara pun enggan bergerak di antara Sabrina dan Kael. Sabrina masih berdiri mematung di dekat meja makan, sementara Kael mulai melangkah. Setiap derap langkah pria itu terdengar pelan namun pasti, mengikis jarak yang selama ini Sabrina bangun dengan susah payah. Kael berhenti tepat di depan Sabrina, begitu dekat hingga ujung sepatunya dan sendal sang gadis nyaris bersentuhan. Sabrina bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh Kael, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang khas, sedikit woody dan fresh, namun kini bercampur dengan sisa ketegangan hari itu. Wangi yang dulu selalu membuatnya merasa aman, kini justru membuat pertahanannya goyah. Sabrina berusaha tetap tegak, mendongak untuk menantang tatapan Kael meski jemarinya yang meremas pinggiran meja mulai gemetar. Ia bingung, separuh hatinya ingin mendorong pria ini keluar agar rasa sesaknya hilang, namun s
Gladis mengusap kasar air matanya yang terus mengalir, meninggalkan jejak kemerahan di pipinya yang pucat. Ia menarik napas dalam-dalam ketika mendengar suara ketukan di pintu kamar rumah sakit. Dengan cepat, ia mencoba merapikan penampilannya yang berantakan dan duduk tegak. Dalam hatinya, ia sangat yakin bahwa pria yang meneleponnya tadi telah sampai dengan napas memburu karena khawatir."Masuk saja," ucap Gladis dengan suara serak. Pintu terbuka, namun binar harapan di mata Gladis padam seketika. Wajahnya langsung berubah kesal, urat-urat di lehernya menegang karena kecewa yang luar biasa."Mana Kael?" tanya Gladis galak, suaranya naik satu oktaf."Dia sedang pa
"Kau tidak dibayar untuk berpikir soal jadwal jalan-jalan, Sabrina," gumam Kael dingin. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain putih, gerakannya tenang namun menyimpan ketegangan yang nyata. "Masih ada pekerjaan yang harus kau rampungkan." Riko, yang duduk di hadapan Kael, tidak m
Langkah kaki Kael terhenti tepat di depan pintu otomatis Terminal VIP Juanda. Udara panas Surabaya yang menyengat langsung menyapu wajah mereka, kontras dengan sisa dingin dari kabin jet pribadi yang baru saja mereka tinggalkan. Di depan sebuah sedan hitam mengkilap, seorang pria berdir
"Kau bercanda, ya? Dia hanya akan mengganggu kita di sana.” Ruang kerja Kael kini berubah menjadi ruang makan pribadi yang tegang. Jam istirahat telah tiba, dan Gladis secara otomatis menanggalkan sikap formalitasnya.
Sabrina langsung tersentak kaget. Tubuhnya berjengit kecil saat bunyi dentang besi gagang pel itu menghantam lantai marmer dengan suara yang memekakkan telinga di tengah lobi yang sunyi. Dengan napas yang menderu pendek, ia mencoba mengabaikan tatapan tajam Kael yang menghuj







