Kael melangkah mendekat. Bukannya bertanya siapa yang baru saja keluar dari sana, ia justru melakukan hal yang tak terduga. Ia melepas jas navy mahalnya, lalu dengan gerakan kaku namun tegas, menyampirkannya ke bahu Sabrina yang masih bergetar hebat."Tuan... tidak perlu," bisik Sabrina, tangannya secara refleks hendak melepas jas yang terasa sangat berat dan hangat itu. Namun, aroma parfum sandalwood milik Kael seketika mengepung indera penciumannya, memberikan rasa aman yang ganjil."Jangan dilepas," potong Kael dingin. Matanya menatap ke arah pintu rapat privat yang tertutup, seolah ia bisa menembus dinding itu dengan kemarahannya. "Kau merusak pemandangan di ruanganku dengan wajah pucat dan seragam tipismu itu. Aku tidak suka bekerja di ruangan yang atmosfernya seperti kamar mayat. Pakai saja." Sabrina terdiam, merapatkan jas itu di tubuhnya. Panas tubuh Kael yang masih tertinggal di kain jas itu perlahan merambat ke kulitnya, mengusir dingin yang sejak tad
Last Updated : 2026-02-24 Read more