LOGINKael merasakan jempolnya menekan tombol darurat di smartwatch-nya berkali-kali. Namun, tidak ada getaran balasan. Tidak ada lampu merah yang berkedip. Jam seharga mobil mewah itu mendadak mati total akibat benturan saat ia ditarik keluar tadi.
"Sial," umpat Kael dalam hati. Untuk pertama kalinya, teknologi mengkhianatinya di saat nyawanya berada di ujung tanduk.
&nb
"Tuan takut ya?" Suara Sabrina memecah keheningan kabin mobil tepat saat mereka baru saja mematikan mesin di area parkir sebuah pusat perbelanjaan besar di jantung Jakarta."Tidak!" bantah Kael tegas. Pria itu bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali, sebuah gerakan repetitif yang seolah-olah ditujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri yang sebenarnya tampak sedikit ragu. Sorot matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kegelisahan tipis yang coba ia sembunyikan di balik kerah kemeja mahalnya."Terus?" tanya Sabrina lagi. Ia memiringkan kepala, menatap bosnya itu dengan penuh selidik. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum jahil yang jarang ia tunjukkan di kantor.Kael menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan."Aku hanya berpikir kau akan memilih genre romansa atau paling tidak komed
Sisa ketegangan dari pertemuan dengan Adrian di rooftop lounge kemarin sore seolah menguap begitu saja saat aroma kopi arabika yang baru digiling memenuhi ruang kerja Kael. Pagi itu, kantor O’Shea Group tampak jauh lebih tenang. Tidak ada lagi desakan dokumen dari pihak Jerman yang harus ditandatangani segera. Semuanya sudah selesai, setidaknya untuk fase pertama yang menguras emosi itu. Kael keluar dari ruangannya dengan langkah yang tidak secepat biasanya. Jas kasmirnya tersampir santai di lengan kiri, sementara lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, menonjolkan urat-urat tangan yang kuat namun tampak rileks. Ia berhenti tepat di depan meja Sabrina, menatap asistennya itu dengan binar yang lebih hangat.
Pintu kaca otomatis di belakang Kael tertutup dengan desis halus, menyisakan keheningan yang mendadak terasa menyesakkan di dalam rooftop lounge itu. Suara bising Jakarta di bawah sana seolah teredam sempurna, menyisakan detak jantung Sabrina yang berpacu liar. Sabrina masih mematung di kursinya, jemarinya terkunci rapat di atas pangkuan hingga kuku-kukunya memutih pias. Di hadapannya, sosok Adrian tidak lagi memancarkan kuasa absolut seorang investor besar dari Jerman yang ditakuti di ruang rapat. Pria itu sedikit menyandarkan punggungnya, membiarkan uap teh Earl Grey yang mulai mendingin menyapu wajahnya yang tampak jauh lebih tua dan letih di bawah sorot lampu temaram. T
"Aku hanya memastikan dia berada di tempat yang layak," suara Adrian memecah kesunyian, datar namun penuh intimidasi. Ia menyentuh tumpukan uang di atas meja dengan ujung telunjuknya yang terawat. "O’Shea Group adalah panggung yang bagus. Tapi kau tahu, Ganda, darah tidak bisa berbohong. Sabrina memiliki ketajamanmu, hanya saja dia masih terlalu lembut dan polos." Ganda berdiri seketika. Gerakannya begitu cepat hingga ujung belatinya sudah menempel tepat di dada jaket kasmir Adrian."Jangan berani-berani menyentuhnya. Jika kau menariknya ke dalam lumpur hitammu, aku bersumpah tidak akan ada lubang kubur yang cukup dalam untukmu di kota ini." Adrian justru tertawa kecil, suara yang terdengar hampa sekaligus mengerikan. "Kau mengancamku? Aku yang membentukmu menjadi belati ini, Ganda. Aku memberimu insting yang tidak dimiliki
"Apa kau tidak merindukanku?” Suara feminin yang lembut namun bertenaga itu merambat melalui speaker ponsel, memecah ketegangan di lobi khusus yang sunyi. Sabrina mematung. Jantungnya yang tadi berdegup karena cemas, mendadak melambat karena rasa hangat yang menjalar. Ia mengenali suara itu. Sangat mengenalnya."Nyonya Maureen?" bisik Sabrina pelan. Sementara Kael yang semula hendak melangkah kembali ke ruang kerjanya, mendadak menghentikan gerakannya. Ia tidak jadi pergi. Pria itu justru bersidekap, berdiri menjulang dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah-olah ingin ikut menguping setiap kata yang keluar dari ponsel Sabrina."Ya, ini aku. Siapa lagi yang akan memanggilmu sayang di jam kerja seperti ini?" Nyonya Maureen terkekeh di seberang sana. "Aku sangat merindukanmu, Sabrina. Bagaimana kabarmu? Apa cucuku ya
Ruang rapat utama O'Shea Group adalah sebuah kotak kaca raksasa yang menggantung di ketinggian lantai dua belas. Cahaya matahari Jakarta yang terik menyusup melalui kaca film, menciptakan pendar keperakan di atas meja marmer panjang yang dingin. Di sana, di hadapan belasan pria bersetelan jas gelap dari delegasi Jerman, Sabrina sudah berdiri tegak. Ia merasa seolah sedang meniti seutas benang tipis di atas jurang. Di satu sisi, ada Kael O’Shea, pria yang semalam mendekapnya dalam keheningan. Di sisi lain, ada Adrian, pria yang secara biologis adalah ayahnya. Namun, keduanya duduk di sana dengan wajah asing, bertukar anggukan formal seolah baru pertama kali bertemu dalam hidup mereka."Nona Sabrina, silakan dimulai," ucap Adrian datar. Suaranya berat dan stabil, sama sekali tidak menyisakan ruang bagi kenangan masa lalu.Sabr







