“Kael," suara Nyonya Maureen memecah keheningan, serak namun tajam. "Kau sudah tidak berurusan dengan mereka lagi, 'kan? Katakan padaku kau tidak membawa hantu-hantu Dublin itu ke sini."Kael menegang. Ia menarik napas dalam, memaksakan sebuah topeng ketenangan yang sempurna. "Tidak ada hantu, tidak ada perak, Grandma. Hanya perampok amatir yang kebetulan tahu celah keamanan kita. Jangan biarkan imajinasimu merusak pemulihanmu.""Kau berbohong," desis Nyonya Maureen, matanya menyipit. "Kau punya tatapan yang sama dengan ayahmu saat dia mencoba menyembunyikan api yang membakar rumahnya sendiri."Tepat saat ketegangan itu nyaris pecah, pintu ICU terbuka tanpa ketukan. Gladis melangkah masuk. Wangi parfum floral mahalnya langsung membunuh aroma antiseptik yang menyesakkan. Ia membawa buket lili putih dan keranjang buah yang terlihat terlalu sempurna untuk menjadi nyata."Nyonya... syukurlah!" Gladis berseru lirih, wajahnya seketika berubah menjadi potret keprihatinan yang sangat terlatih
Last Updated : 2026-02-28 Read more