Keenan sudah menunggu Aruna di depan pintu utama mansion, ia sesekali Mr. Hans yang sedang mengobrol dengan Pak Alexander. Namun, fokus utamanya tetap menunggu Aruna yang tidak juga keluar."Kenapa lama sekali, sih?” gerutunya sambil melihat jam di pergelangan tangannya. “Aruna, kita sudah sangat terlambat," seru Keenan sedikit berteriak karena sudah tidak sabar. Tidak lama kemudian, Aruna muncul di ambang pintu. Namun, pemandangan itu membuat langkah Keenan terhenti. Aruna tidak datang sendirian. Ia menggendong Kenzo yang sedang menangis histeris, wajah bayi itu merah padam, dan tangan mungilnya mencengkeram erat kerah blazer putih Aruna."Oweeekk! Oweeekkk!" tangis Kenzo pecah, menggema di seluruh area teras mansion."Cup, cup, Sayang... Mommy hanya bergi bekerja seperti biasa, nanti Mommy bawakan mainan baru ya," bujuk Aruna dengan suara yang mulai serak. Ia menatap Keenan dengan wajah memelas. "Keenan, dia tidak mau lepas. Begitu aku taru
Read more