로그인“Pesta ini baru terasa meriah kalau kau ikut minum, Kaelus.”
Sang Kaisar melangkah mendekat, mengulurkan segelas wine dengan senyum yang tampak begitu tulus.
Tanpa ragu, Kaelus menerima gelas itu. Sorot mata merahnya tetap tenang, mengunci pandangan Cedric saat ia menghabis
Roselyn termenung di kamar yang sunyi, menatap pantulan dirinya di cermin dengan rasa lelah yang menggantung di tulang.Ia tidak terluka. Tidak ada memar atau luka yang dalam. Hanya wajah yang sama, rambut cokelat sedikit kusut, dan gaun yang masih terpasang rapi.Seolah tubuhnya sendiri enggan mengakui seberapa parah luka yang sebenarnya ia rasakan.'Pakaian dari Lancaster sebaiknya dibakar.'Kalimat itu kembali menggema, dan Roselyn memejamkan mata dengan rasa getir yang menghujam jauh ke dalam dada.Dua kehidupan telah dilalui, nyatanya belum cukup untuk membuatnya tangguh guna menumpulkan rasa sakit dari tatapan-tatapan menghakimi yang menuntut pertanggungjawaban atas kesuciannya.
Gerbang besi mansion Valthorne terbuka lebar menyambut kepulangan sang pemilik wilayah Utara.Namun, hawa dingin yang menyergap kali ini bukan sekadar karena salju yang masih betah memeluk tanah, melainkan suasana di dalam kediaman itu mendadak terasa asing bagi Roselyn."Selamat datang kembali, Grand Duke, Grand Duchess."Kepala pelayan membungkuk dalam, menyambut Kaelus dan Roselyn yang baru saja menginjakkan kaki di aula utama. Namun, keheningan yang mengikuti ucapan itu terasa terlalu pekat.Berbeda dari biasanya, barisan pelayan yang berdiri di sepanjang koridor kini menunduk begitu dalam, seolah-olah lantai marmer di bawah kaki mereka jauh lebih menarik daripada menyapa sang nyonya rumah.“Grand Duke,
Sebelum melangkah keluar dari pintu penginapan, Kaelus menahan pundak Roselyn pelan, menghentikan langkah sang istri tepat di dekat kereta kuda yang sudah siap.Pria berambut perak itu berlutut dengan satu kaki, memeriksa kembali ikatan tali sepatu Roselyn, lalu berdiri untuk merapikan mantel tebal yang menyelimuti tubuh kecil tersebut. "Ada yang sakit?" tanya Kaelus, sepasang netra merahnya menatap lurus, memindai wajah Roselyn dengan raut sarat akan kekhawatiran.Roselyn menggeleng pelan, seulas senyum tipis terbit di bibirnya. "Aku sudah jauh lebih baik, Kael. Sungguh."Kaelus tidak langsung menjawab. Ia meraih jemari Roselyn yang terbalut kain perban, menggenggamnya perlahan seolah memastikan s
Keheningan seketika menyelimuti kamar setelah kalimat itu lolos dari bibir Kaelus.Roselyn tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh dalam dekapan hangat Kaelus, menatap langsung wajah pria itu.Di luar jendela, salju Lancaster masih turun dengan lambat, perlahan menutupi noda darah di halaman dengan lapisan putih yang polos.Alam seakan tengah berusaha keras untuk berpura-pura bahwa tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi malam itu.Namun, Roselyn tidak bisa ikut berpura-pura abai."Katakan sekali lagi," ucap Roselyn pelan."Aku cuma ingin cari tahu, kenapa kau bisa mengulang waktu, Rose."Ada semburat kegelisahan yang me
Februari datang bersama keping salju yang turun makin lebat tatkala kesatria Valthorne menyeret Derrick melewati gerbang halaman.Roselyn berdiri di sana, di atas tanah penginapan yang masih berlumur noda darah yang membeku. Tatapannya lurus memandangi punggung pria berambut hitam itu hingga benar-benar menghilang di balik tikungan jalan.Angin malam yang menusuk langsung menghantam kulitnya yang hanya terbungkus gaun tipis, yang kini sudah koyak dan kotor di beberapa bagian.Kaelus berdiri tepat di belakang. Tidak ada satu pun aksara yang keluar, tidak pula menyentuh sang istri.Pria itu hanya ada di sana, memilih kebisuan sebagai satu-satunya bahasa saat melindungi wanitanya."Kael." Roselyn menatap sang suami.
Roselyn masih terbenam di dada Kaelus ketika merasakan tubuh suaminya mendadak menegang. Insting sebagai seorang kesatria membuat pria itu langsung mengendus bahaya yang mengintai di dekat mereka.Tanpa melepaskan pelukan, pria berambut perak itu memutar posisi tubuh, menyembunyikan Roselyn di balik punggung besarnya yang kokoh."Rose, mundurlah," bisik Kaelus, setelah mengecup lembut ubun-ubun sang istri.Roselyn baru saja melangkah satu kaki ke belakang ketika kilatan logam meluncur dari arah pintu belakang yang masih menganga.Kaelus bergerak secepat kilat, menangkis tebasan mendadak itu dengan sarung pedangnya yang bahkan belum sempat tercabut.Trang!Kedua senj
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir
Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen
Roselyn berlari keluar tanpa menoleh lagi. Hawa dingin malam itu terasa menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tipis. Namun, itu tak sebanding dengan jantung yang nyaris copot. Berdebar antara cemas dan puas karena baru saja menendang ego sang Duke.Empat jam menuju rumah pun terasa seperti siks
"Buktikan cintamu, Lady. Coba layani aku malam ini."Suara itu terdengar lembut. Namun, bukan melodi, melainkan lonceng kematian.Roselyn bergeming di atas marmer dingin, membiarkan lututnya mati rasa. Kehormatan sebagai putri tunggal Count Sirius pun sudah lama ditanggalkan. Yang tersisa hanyalah







