Tatapan mereka bertemu. Begitu dekat hingga Clara bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata Raymond—kecil, rapuh, dan terperangkap. Tatapan itu bukan permintaan ataupun negosiasi. Itu adalah perintah tanpa suara. Harus dilakukan. Tidak ada ruang untuk penolakan, tidak ada celah untuk mundur. Udara di antara mereka terasa menekan. Clara menelan ludah. Bibirnya bergetar, dadanya naik turun tak beraturan. Akhirnya, dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata, “Aku… mengerti.” Kata itu terasa pahit. Berat. Seperti menelan duri. Clara juga merasa jijik kepada dirinya sendirinya. Raymond menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah memastikan kepatuhan itu. Lalu ia menegakkan tubuhnya, melepaskan cengkeramannya, dan berbalik tanpa emosi. “Ken,” ucapnya singkat. Ken langsung berdiri tegak. “Ya, Tuan.” “Besok, urus semuanya,” perintah Raymond. “Baik, Tuan,” jawab Ken tanpa ragu sambil menundukkan kepala. Clara masih berdiri di tempatnya, jantungnya berdebar keras. Ia men
Last Updated : 2026-01-19 Read more