Share

Raymond Tertembak

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-01-21 17:07:02

Raymond menegakkan tubuhnya kembali.

Kata-kata itu—bersiaplah—masih menggantung di udara ketika ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu respons. Sepatu kulitnya beradu pelan dengan lantai marmer, menjauh, membawa serta bayangan yang menekan dada Clara.

Clara berdiri kaku beberapa detik.

Ia takut.

Ia ingin menolak. Ingin berteriak bahwa ia tidak siap, tidak mau. Namun kenyataan berdiri dingin di hadapannya: ia tak punya pilihan. Cepat atau lambat, malam itu akan datang juga.

Ia menunduk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hamil Kedua

    Dokter itu terdiam cukup lama di samping ranjang. Tatapannya berpindah dari layar hasil pemeriksaan kecil di tangannya menuju wajah Clara yang masih pucat dan belum sepenuhnya sadar. Kerutan tipis muncul di dahinya, seolah ia sedang menimbang bagaimana cara menyampaikan sesuatu yang penting tanpa membuat suasana semakin tegang. Di dalam kamar utama mansion Antonio, udara terasa berat dan menyesakkan. Hanya suara hujan tipis yang mengetuk kaca jendela dan bunyi pelan alat medis yang masih menyala di atas meja kecil dekat ranjang. Raymond berdiri tidak jauh dari sana dengan tubuh tegak kaku. Rahangnya mengeras. Tatapannya tajam menusuk dokter itu tanpa berkedip sedikit pun. Kesabarannya benar-benar berada di ujung batas. “Kalau ada sesuatu yang terjadi pada istri saya…” suaranya rendah, berat, dan penuh tekanan. “…katakan sekarang.” Dokter itu langsung tersentak kecil. “N-no, Tuan Raymond…” jawabnya buru-buru. Namun anehnya, pria paruh baya itu justru terlihat sedikit lega. Sud

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pingsan

    “Apa?!”Suara Raymond langsung menggema keras di dalam mobil.Tubuhnya menegang seketika. Rahangnya mengeras, sementara tatapan matanya yang tadi tenang langsung berubah tajam penuh kepanikan yang nyata.Ken refleks menoleh cepat.“Ada apa, Tuan?”Raymond menggenggam ponselnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.“Clara pingsan.”Kalimat itu langsung mengubah suasana di dalam mobil.Udara yang tadi terasa lebih ringan mendadak membeku.“PUTAR BALIK SEKARANG!”Bentakan Raymond terdengar tajam dan penuh tekanan.Ken langsung membanting setir tanpa berani bertanya apa pun. Ban mobil berdecit keras di atas jalan basah sebelum kendaraan hitam panjang itu melesat cepat membelah lalu lintas kota.“Semua pertemuan bisnis dibatalkan,” ucap Raymond dingin sambil kembali menatap layar ponselnya.“Tapi Tuan, rapat sore dengan investor—”“AKU BILANG BATALKAN SEMUA!”Suara Raymond kali ini jauh lebih keras sampai Ken langsung diam.Selama bertahun-tahun bekerja dengannya, Ken sangat jarang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clark Berakhir

    Keheningan langsung memenuhi kamar utama mansion itu. Hanya suara hujan tipis dari luar jendela yang terdengar samar, mengetuk kaca besar kamar dengan ritme pelan yang justru membuat suasana terasa semakin tegang. “Tuan Clark bergerak lebih dulu.” Kalimat Ken menggantung di udara seperti ancaman yang akhirnya benar-benar datang. Namun anehnya… Raymond tidak terlihat panik. Tidak ada perubahan drastis di wajahnya. Tidak ada keterkejutan ataupun amarah. Justru sebaliknya—tatapannya perlahan berubah semakin dingin sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Senyum kecil yang langsung membuat Ken mengembuskan napas lega. Karena itu berarti satu hal. Semuanya berjalan sesuai rencana. Clara yang sejak tadi berdiri di dekat Raymond langsung mengernyit bingung melihat reaksi suaminya. “Ray?” Raymond berjalan santai menuju meja kecil di dekat jendela. Jemarinya mengambil jam tangan hitam yang tadi belum sempat dipakai, lalu memasangkannya perlahan di pergelangan tang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kehangatan

    Raymond melirik sekilas ke arah lengannya seolah baru sadar luka itu ada. Kau berkelahi lagi?” tanya Clara pelan. “Hanya sedikit masalah," jawab Raymond nyaris berbisik. “Sedikit?” Clara langsung berdiri dan mendekat. “Raymond, tanganmu lebam begini.” Raymond justru terkekeh kecil. “Kau mulai cerewet.” “Aku serius.” Clara memegang pergelangan tangannya hati-hati, seolah takut menambah rasa sakit di sana. Dan cara wanita itu menyentuhnya membuat tatapan Raymond perlahan berubah lebih lembut. Pria itu tiba-tiba menarik pinggang Clara mendekat sampai tubuh mereka nyaris tidak berjarak. “Dan aku suka saat kau khawatir,” gumamnya rendah. Pipi Clara langsung memanas. “Dasar aneh…” Raymond tersenyum tipis, lalu menyandarkan dahinya pelan ke dahi Clara. “Aku tidak pernah punya orang yang mengkhawatirkanku sebelumnya.” Kalimat itu membuat hati Clara langsung terasa sesak. Tidak ada nada dramatis dalam suara Raymond. Justru karena diucapkan begitu tenang, kata-kata itu terasa j

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat Pulang

    Dan di bawah sana, di tengah hujan malam yang turun semakin rapat, lampu mobil hitam panjang milik Raymond akhirnya memasuki halaman mansion perlahan. Sorot lampunya membelah gelap halaman yang basah oleh air hujan, memantulkan kilau pucat di jalan batu menuju tangga utama mansion. Suara mesin mobil terdengar berat sebelum akhirnya mati tepat di depan pintu besar rumah itu. Clara yang sejak tadi berdiri gelisah di balkon langsung mengembuskan napas panjang. Dadanya yang sedari tadi terasa sesak perlahan mengendur. Lega. Begitu lega sampai lututnya hampir kehilangan tenaga. Tanpa sempat mengenakan alas kaki, Clara langsung berbalik dan berlari keluar kamar. Langkahnya terdengar cepat menuruni tangga marmer mansion yang sunyi. Gaun tidur satin putih yang dikenakannya bergerak mengikuti langkah tergesa itu, sementara rambut panjangnya yang tadi sudah setengah kering kini sedikit berantakan menempel di pundaknya. Di bawah, pintu mobil akhirnya terbuka. Raymond turun perlahan dari k

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Titik Lemah

    “Clark membangun seluruh kekuasaannya untuk Thomas,” lanjut Ken. “Dan sekarang dia kehilangan satu-satunya pewaris.” Tatapan Raymond mengeras sedikit. “Orang yang kehilangan segalanya biasanya jadi paling berbahaya.” Sore harinya, Raymond akhirnya tiba di sebuah hotel mewah di pusat kota. Gedung tinggi itu menjulang megah di tengah langit mendung yang mulai gelap. Lantai lobby pribadi dipenuhi marmer hitam mengilap, sementara lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang elegan namun dingin. Raymond baru berjalan beberapa langkah ketika langkahnya tiba-tiba berhenti. Karena di ujung lorong— Tuan Clark sudah berdiri di sana. Sendirian. Pria tua itu mengenakan setelan hitam elegan dengan tongkat kayu gelap di tangannya. Rambut putihnya tersisir rapi ke belakang, membuat wajah kerasnya terlihat semakin tajam. Tatapannya tenang. Namun dingin menusuk. Ken langsung refleks menegang. “Biarkan,” ucap Raymond rendah. Para pengawal segera mundur. Kini lorong panjang itu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dunia memang tak Adil

    “Clara?” Suara Hans masih terdengar dari ponsel yang menempel di telinga Clara, panik dan khawatir. Namun suara itu segera tenggelam oleh langkah berat yang mendekat. Raymond menutup pintu kamar dengan satu gerakan tenang. Klik. Suara kunci berputar pelan, namun dampaknya menghantam Clara sepe

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Alexa ingin Kabur

    Setelah berpakaian rapi, Clara turun sendiri pagi itu. Langkahnya mantap meski dadanya masih menyimpan sisa gelisah. Ruang makan bermandikan cahaya pagi. Jendela-jendela tinggi membiarkan matahari jatuh di atas meja panjang berlapis kayu gelap. Jam dinding berdetak teratur. Raymond sudah ada di

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebutuhan Clara Dipenuhi

    Bu Eli menuntun Clara menyusuri koridor panjang yang sunyi. Lampu-lampu dinding menyala temaram, memantulkan bayangan mereka di lantai marmer hitam mengilap. Setiap langkah Clara terasa berat. Mereka berhenti di depan sebuah pintu. Pintu itu berbeda dari yang lain. Lebih besar. Lebih gelap.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tragedi di Kamar Clara

    Pria itu melangkah sepenuhnya ke dalam kamar. Pintu ditutup perlahan di belakangnya.Klik.Suara kunci diputar. Pria itu berdiri beberapa langkah dari ranjang, menatap Clara yang tertidur meringkuk. Rambutnya tergerai di bantal, wajahnya pucat, bulu mata masih basah oleh sisa air mata. Dadanya nai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status