Beberapa jam sebelumnya.Pintu rumah kecil terbuka dengan suara keras. Alda masuk dengan wajah masam, tasnya dibanting ke sofa. Bibirnya mengerucut, matanya merah oleh amarah yang belum padam.“Kenapa, sayang?” Bibi Elsa segera bangkit dari kursinya, menghampiri dengan nada manja. “Kok cemberut begitu?”Di sudut ruang tamu, Paman Bobi masih duduk santai, koran terbuka di tangannya, secangkir kopi mengepul di meja. Ia bahkan tak menoleh.“Ma, Pa,” suara Alda bergetar, antara kesal dan ingin dikasihani. “Kalian tahu siapa yang aku lihat di kampus hari ini?”Bibi Elsa mengerutkan kening. “Siapa, sayang?”“Clara.”Kata itu membuat Paman Bobi menurunkan korannya. Bibi Elsa membeku. “Clara?” ulangnya pelan. “Bagaimana bisa? Bukankah dia—”“Dan kalian tahu?” potong Alda cepat. “Dia diantar jemput mobil mewah! Mobil hitam, gede, kayak mobil pejabat!” Ia merengut, suaranya berubah menjadi rengekan. “Sementara aku naik motor butut!”Paman Bobi menghela napas, lalu menyesap kopinya. “Mungkin dia
Last Updated : 2026-01-24 Read more