Share

Rasa Benci

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-20 18:07:47

Veronika melangkah lebih dekat.

Tumit sepatunya berhenti tepat di depan Charles, lalu tanpa ragu ia duduk di pangkuan pria itu. Tubuhnya lentur, hangat, wangi parfum mahalnya menyusup ke udara yang tadi dipenuhi amarah.

Charles mengendur seketika.

Tatapan tajamnya melirik anak buah yang masih berdiri kaku. Sebuah isyarat kecil dari matanya cukup. Pergi.

Anak buah itu langsung membungkuk. “Permisi, Tuan. Madam.” Pintu tertutup cepat, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan dan godaan.

Veron
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Serangan Bisnis

    Tatapan Raymond langsung berubah dingin begitu melihat ekspresi Ken di depan pintu kamar. Seketika, suasana hangat yang sejak tadi memenuhi ruangan terasa menghilang begitu saja. Cahaya matahari pagi masih masuk lembut melalui jendela besar kamar mereka. Aroma parfum Clara dan kopi hangat masih samar terasa di udara. Namun dalam satu detik, semuanya berubah menegangkan. Raymond perlahan melepaskan tangan Clara sebelum menatap Ken tajam. “Ada apa?” tanyanya rendah. Nada suaranya tenang. Dan Ken tahu persis—itu pertanda buruk. Pria itu sempat melirik sekilas ke arah Clara sebelum kembali memusatkan perhatian pada Raymond. “Anak buah kita menemukan sesuatu,” jawabnya serius. “Sepertinya ini ulah Tuan Clark.” Nama itu langsung membuat tubuh Clara menegang tanpa sadar. Jantungnya terasa turun sesaat. Bayangan pria tua dengan rambut memutih dan tatapan dingin yang datang ke pesta pernikahan mereka kemarin langsung muncul di kepalanya. Ayah Thomas. Pria yang bahkan tidak menunjuk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keluarga Kecil

    Menjelang siang, suasana mansion berubah jauh lebih santai dibanding biasanya. Para pengawal Raymond tetap berjaga di luar dengan pakaian hitam dan alat komunikasi di telinga mereka, tetapi aura mencekam yang dulu selalu menyelimuti rumah itu perlahan memudar. Kini vas bunga segar menghiasi meja-meja sudut. Musik piano instrumental mengalun pelan dari ruang tengah. Bahkan beberapa pelayan mulai berani bercanda kecil satu sama lain saat bekerja. Di balkon lantai dua, Clara berdiri sambil menikmati teh hangat ketika sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Ia tersenyum kecil tanpa perlu menoleh. “Kau diam-diam sekarang?” “Aku di rumah sendiri,” jawab Raymond santai sambil menyandarkan dagunya di bahu Clara. “Kau tetap mengejutkanku.” Raymond menarik Clara sedikit lebih dekat ke tubuhnya. “Sedang memikirkan apa?” “Bulan madu.” Pria itu mengangkat sebelah alis. “Oh?” Clara menoleh sedikit sambil menyipitkan mata curiga. “Kau serius mau membawaku per

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Suasana Berbeda

    Pagi pertama setelah pernikahan mereka membawa suasana yang terasa asing bagi seluruh penghuni mansion. Namun, keasingan itu bukan sesuatu yang buruk. Justru hangat. Hidup. Seolah rumah besar yang selama bertahun-tahun dipenuhi dingin dan ketegangan akhirnya kembali bernapas. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi berbingkai emas, memantul lembut di lantai marmer putih yang mengilap. Tirai tipis berwarna krem bergerak perlahan tertiup angin pagi, sementara aroma kopi hitam hangat bercampur roti panggang dan mentega memenuhi udara. Dari arah dapur terdengar suara para pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan. Namun berbeda dari biasanya, pagi itu mereka tidak lagi berjalan dengan wajah tegang dan langkah hati-hati. Sesekali bahkan terdengar tawa kecil. Para pelayan diam-diam saling bertukar pandang dengan ekspresi tak percaya. Karena untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun… Mansion itu terasa seperti rumah. Di ruang makan utama yang luas, Noah duduk di kursin

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Malam Pertama

    Raymond masih menahan tubuh Clara di bawahnya ketika keheningan malam perlahan memenuhi kamar pengantin itu. Cahaya lilin berpendar lembut di seluruh ruangan, memantulkan bayangan hangat di dinding kamar yang luas. Tirai putih tipis di dekat balkon bergerak perlahan tertiup angin malam, sementara aroma mawar dan vanilla masih memenuhi udara. Napas mereka belum benar-benar tenang setelah ciuman panjang tadi. Clara bisa merasakan dada Raymond naik turun pelan di atas tubuhnya. Detak jantung pria itu berdetak kuat dan stabil, begitu dekat sampai terasa jelas di ujung jemarinya. Raymond menatap Clara lumayan lama. Tatapannya perlahan turun menyusuri wajah wanita yang kini menjadi istrinya itu—mata beningnya yang masih sedikit basah, pipinya yang memerah malu, hingga bibirnya yang masih bergetar kecil karena gugup. Dan untuk pertama kalinya sejak Clara mengenalnya… Tatapan seorang mafia dingin itu benar-benar terlihat sangat lembut. “Aku membuatmu gugup?” bisiknya rendah. Suara b

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pesta

    Ciuman mereka semakin dalam. Semua orang bersorak sambil tepuk tangan. Kue di tangan Noah jatuh ke lantai, matanya terbelalak lebar, Bu Eli refleks menutup mata Noah dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian, MC kembali mengambil alih acara dengan semangat. "Wah, pengantin kita ternyata tak sabaran." Sontak semua orang tertawa. “Baik! Sekarang waktunya lempar buket!” lanjut MC. Beberapa tamu wanita langsung bersorak antusias. Clara tertawa kecil saat buket bunga putih diberikan padanya. “Awas jangan curang!” teriak salah satu tamu sambil bercanda. Clara berdiri membelakangi kerumunan wanita-wanita yang sudah siap menangkap buket. Veil panjangnya jatuh anggun menyentuh lantai marmer putih. “Satu…” Ia tersenyum sambil menggenggam bunga lebih erat. “Dua…” Para tamu mulai bersiap heboh. “Tiga!” Clara melempar buket itu ke belakang. Dan seketika aula langsung dipenuhi jeritan serta tawa riuh. Salah satu wanita muda berhasil menangkap bunga itu sambil mel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ancaman Halus

    Keheningan langsung jatuh di seluruh aula. Noah yang berdiri bersama Bu Eli mengernyit bingung membaca tulisan itu, sementara Clara langsung menahan napas. Clark tersenyum tipis. “Gigi dibalas gigi,” ucapnya pelan sambil menatap Raymond lurus. “Bukankah itu aturan dunia kita?” Tak ada yang menjawab. Hanya suara napas tegang memenuhi ruangan besar itu. Lalu perlahan, Clark mengalihkan pandangannya pada Clara. Tatapan pria tua itu membuat bulu kuduk Clara meremang. Bukan tatapan marah. Melainkan tatapan dingin seseorang yang sedang mengingat wajah orang-orang yang terlibat dalam kematian anaknya. Dan justru karena itulah… rasanya jauh lebih mengerikan. Namun beberapa detik kemudian, Clark malah tersenyum kecil. “Menarik,” gumamnya lirih. Setelah itu, tanpa mengatakan apa pun lagi, ia langsung berbalik. Tongkatnya kembali mengetuk lantai marmer. Tok. Tok. Tok. Dan perlahan pria tua itu berjalan keluar aula bersama para pengawalnya. Tidak ada bentak

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Air Keras

    Semua terjadi begitu cepat. Cairan itu melesat di udara—berkilat singkat di bawah cahaya siang—menuju wajahnya, menuju tubuhnya… menuju sesuatu yang tak akan bisa ia hindari. Namun—di antara detik yang terlalu sempit untuk berpikir—sebuah bayangan bergerak dengan cepat, pasti dan tanpa keraguan—

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Familiar

    Srrreeeettttt—!!! Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak. Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rumah Sakit

    Namun—sebelum tatapan itu benar-benar bertemu— Clara lebih dulu tersadar. Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia langsung memalingkan wajah dengan gerakan cepat, napasnya tercekat. Tangannya bergerak refleks, meraih tubuh kecil Noah dan menariknya lebih

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Noah Sakit

    “Apa?!” suaranya pecah—nyaris tak terbentuk. Di seberang sana, suara Bibi Janeta bergetar, terburu-buru, dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan. “Dari tadi demamnya tinggi sekali, Clara… dia mengigau… aku takut sesuatu terjadi…” Clara memejamkan mata sejenak. Hanya satu detik—namun dala

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status