Raymond menatap Clara lebih lama dari yang seharusnya. Tatapan itu bukan sekadar menilai—ia membaca, menguliti, mencari celah. “Kau menginginkan sesuatu,” ucapnya pelan, tapi tajam.Kata-kata itu membuat bahu Clara menegang. Napasnya tertahan sesaat, lalu ia melangkah lebih dekat. Tangannya terangkat, menarik dasi Raymond hingga jarak di antara mereka nyaris lenyap. Mata Clara membalas tatapan itu, basah namun berani. “Bantu aku,” bisiknya. “Balaskan dendamku. Aku mohon.”Rahang Raymond mengeras. Ada sesuatu berkilat di matanya. Tangannya naik, mencengkeram wajah Clara, ibu jarinya menahan dagu gadis itu agar tetap menatapnya. Napasnya mulai tak teratur, hangat dan berat. Keheningan di lorong terasa berisik.Lalu, tanpa peringatan, ia menutup jarak itu. Pria itu mencium Clara. Sentuhan pertamanya lembut. Clara terkesiap, tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia ingin mundur, ingin berlari, tapi kakinya tak bergerak. Ia pasrah, bukan karena ingin—melainkan karena tekadnya sudah terlanjur
Last Updated : 2026-02-01 Read more