MasukSuara langkah kaki itu semakin jelas menggema di sepanjang lorong tangga gedung tua yang lembap dan gelap. Dentumannya berat, cepat, dan penuh amarah, bercampur dengan suara napas memburu yang memantul di dinding beton kusam. Tap. Tap. Tap. Thomas langsung menoleh tajam ke arah bawah tangga. Rahangnya mengeras seketika, sementara jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Clara semakin kuat sampai wanita itu meringis kesakitan. Sedangkan Clara membelalak penuh harapan. Lalu suara itu akhirnya terdengar. “CLARA!” Suara Raymond mengguncang seluruh bangunan kosong itu. Tubuh Clara langsung tersentak keras. Air matanya jatuh semakin deras, sementara dadanya terasa sesak karena campuran takut, lega, dan putus asa yang datang bersamaan. “Raymond!” teriaknya tanpa sadar. Dan hanya dalam satu detik, wajah Thomas berubah mengerikan. Sorot matanya yang tadi sudah tidak stabil kini benar-benar dipenuhi emosi brutal. Ada kemarahan, kecemburuan, dan kegilaan yang bercampur menjadi sesu
“Bahkan wanita tua itu…” gumam Thomas lirih. “…Bibi Janeta.” Thomas menatap matanya dalam-dalam. “Dia tahu sesuatu tentangku.” Tatapannya berubah menyeramkan. “Dan aku takut kau akan menjauhiku.” Air mata Clara jatuh semakin deras. “Kau menghajarnya…” suaranya pecah. Thomas diam beberapa detik. Lalu perlahan ia mengangguk. “Aku tidak punya pilihan.” “Kau MONSTER!” Suara Clara akhirnya pecah menjadi jeritan. Dan detik berikutnya—BRAKK!! Tangan Thomas menghantam dinding di samping kepala Clara begitu keras sampai serpihan semen berjatuhan. “JANGAN MENYEBUTKU SEPERTI ITU!” bentaknya penuh amarah. Clara langsung gemetar hebat. Napas Thomas naik turun tidak teratur sekarang. Matanya memerah oleh emosi yang mulai kehilangan kendali. “Aku melakukan semuanya untuk melindungimu!” “Tidak!” Clara menangis histeris. “Kau hanya ingin memilikiku!” Kalimat itu membuat Thomas mendadak diam. Sunyi beberapa detik. Hanya suara angin laut dan deburan ombak yang terdengar dari luar gedung
Sebuah gedung tua berdiri di tepi pantai seperti bangkai raksasa yang terlupakan. Dindingnya dipenuhi retakan panjang dan bercak lembab berwarna kehitaman. Sebagian jendelanya sudah pecah, menyisakan kaca-kaca tajam yang masih menempel di bingkai berkarat. Angin laut menghantam bangunan kosong itu tanpa henti, menyusup masuk melalui celah-celah dinding dan menciptakan suara siulan panjang yang terdengar menyeramkan di tengah malam. Di kejauhan, ombak menghantam karang dengan keras. Brakkk… Brakkk… Suara itu bercampur dengan deru mesin mobil hitam milik Thomas yang akhirnya berhenti mendadak di depan gedung tua tersebut. Tubuh Clara langsung menegang. Matanya bergerak cepat menatap bangunan gelap di hadapannya, lalu beralih panik ke arah Thomas. “Thomas… jangan…” suaranya bergetar hebat. Namun Thomas tidak menjawab. Pria itu turun lebih dulu, lalu membanting pintu mobil sebelum berjalan memutar ke sisi Clara. Gerakannya cepat dan dingin, seolah emosinya sudah berad
"Noah… bangun… Noah…” Tubuh Clara langsung meronta liar dalam cengkeraman Thomas. Ia mencoba melepaskan diri, berusaha menerjang ke arah putranya, tetapi tangan Thomas justru semakin mengencang di pinggangnya. “Lepaskan aku!” Clara menangis histeris sambil memukul lengan pria itu sekuat tenaga. “LEPASKAN AKU! NOAH!” Namun Thomas tetap menahannya dari belakang. Napas pria itu terdengar berat di dekat telinga Clara. “Tenang…” bisiknya rendah. “JANGAN SENTUH AKU!” Suara Clara pecah. Tubuhnya gemetar hebat sampai napasnya tersengal-sengal. Di sisi lain ruangan, Bu Eli akhirnya berhasil bangkit dengan susah payah. Wanita tua itu hampir terjatuh lagi saat berlari kecil menghampiri Noah, lalu langsung berlutut dan memeluk tubuh anak itu erat-erat. “Noah… Sayang..." Tangannya gemetar saat menyentuh wajah kecil yang pucat itu. Wajah Bu Eli langsung kehilangan warna. “Ya Tuhan…” suaranya pecah pelan. Air mata mulai jatuh di pipinya ketika ia mengangkat kepala dan menatap Thomas denga
Ruangan besar di mansion itu semakin menegang. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bersuara. Setelah bunyi tulang kecil yang remuk tadi menghilang, yang tersisa hanyalah napas Thomas yang terdengar berat dan tidak teratur di tengah keheningan. Clara berdiri terpaku di tempatnya. Wajahnya pucat pasi, sementara matanya masih menatap bangkai tikus kecil di lantai marmer putih. Tubuh kecil itu nyaris tak berbentuk lagi. Darah tipis mengotori lantai di bawah sepatu Thomas. Bu Eli refleks mundur setengah langkah sambil menutup mulutnya dengan tangan gemetar. “Nona…” bisiknya lirih. Suara itu akhirnya menyadarkan Clara. Ia buru-buru meraih tangan Bu Eli erat-erat, seolah hanya itu yang bisa membuatnya tetap berdiri sekarang. Perlahan Thomas mengangkat wajah dan menatap Clara. Dan dalam sekejap, ekspresinya berubah lagi. Gelap di matanya menghilang sedikit demi sedikit, digantikan kelembutan yang selama ini selalu Clara kenal. Seolah pria mengerikan beberapa detik lalu bukan dirinya.
Clara mundur satu langkah lagi tanpa sadar. Jemarinya yang menggenggam ponsel terasa dingin dan mati rasa, sementara matanya terpaku pada sosok Thomas yang berdiri beberapa meter di depannya. Wajah itu masih sama seperti yang ia kenal selama lima tahun terakhir—tenang, rapi, penuh kelembutan—tetapi sekarang semuanya terasa berbeda. Dadanya sesak. “Nona… ada apa?” suara Bu Eli terdengar hati-hati dari sampingnya. Clara tersentak kecil. Ia buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan kepanikan yang hampir tumpah dari matanya. 'Tidak. Thomas tidak boleh tahu kalau aku mengetahui sesuatu. Kalau dia sadar… Noah, Bu Eli, dan semuanya. Mereka semua dalam bahaya.' batinnya. Clara mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kukunya menusuk telapak sendiri. Napasnya terasa pendek. ‘Kenapa…?’ pikirannya kacau. ‘Kenapa dia melakukan semua ini…?’ Ia masih sulit mempercayainya. Thomas yang selalu datang saat ia menangis. Thomas yang menjaga Noah seperti keluarga sendiri. Thomas yang selalu berdiri
Bibir mereka bertemu tanpa peringatan.Segalanya terjadi begitu cepat hingga Clara bahkan tidak sempat memberontak. Tangan Raymond yang besar dan kuat tiba-tiba menarik lehernya, menahan tubuhnya agar tetap dekat. Ciuman itu bukan ciuman yang lembut—tidak ada keraguan di dalamnya.Bukan pula sekad
Suasana lobby yang sebelumnya dipenuhi bisikan dan senyum licik seketika berubah menjadi hening. Tidak ada yang menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Raymond. Termasuk Clara, ia sendiri membeku di tempatnya. Ia bahkan belum sempat memproses apa yang baru saja ia dengar.“Tu… Tuan?” suarany
Ken mematung.Butuh beberapa saat sebelum ia benar-benar memahami maksud kalimat itu.“Dia…?” Ken mengernyit. “Maksud Anda…?”Raymond tidak langsung menjawab. Ia kembali menggaruk lehernya yang dipenuhi ruam merah, lalu berjalan pelan menuju meja. Tatapannya jatuh lagi pada gelas kristal yang masih
Raymond menatap gelas kristal di tangannya.Cairan keemasan di dalamnya bergetar pelan, memantulkan cahaya lampu kamar. Pantulan itu berkilau di dinding kaca gelas, seolah tampak tenang—terlalu tenang untuk sesuatu yang tiba-tiba membuat alis Raymond berkerut.Ada sesuatu yang aneh.Perasaan itu mu







