MasukSementara, itu di Mansion Antonio... Malam semakin larut. Hujan turun tipis membasahi taman belakang. Butiran air memantulkan cahaya lampu taman hingga terlihat seperti kristal-kristal kecil yang berjatuhan dari langit. Namun suasana hangat yang biasanya memenuhi rumah besar itu telah menghilang. Ruang keluarga terasa sunyi. Jam antik di dinding berdetak pelan. Noah duduk meringkuk di sofa dengan kedua lutut dipeluk erat. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Sesekali ia mengusap hidungnya menggunakan lengan piyama dinosaurus kesayangannya. Di meja depan mereka, Bu Eli menyalakan sebuah lilin kecil. Nyala apinya bergoyang pelan tertiup embusan angin dari jendela. "Nenek..." Suara Noah terdengar lirih. "Mama pasti sembuh, kan?" Bu Eli menoleh. Senyumnya berusaha terlihat setenang mungkin. Padahal dadanya sendiri dipenuhi kecemasan. Wanita itu menggenggam kedua tangan kecil Noah. "Iya." Jawaban itu keluar dengan suara yang sedikit bergetar. "Mari kita berdoa.
"Kondisi Nyonya Clara memburuk." Kalimat singkat itu meluncur pelan dari bibir dokter senior, tetapi dampaknya menghantam Raymond jauh lebih keras daripada ledakan peluru yang pernah ia hadapi sepanjang hidupnya. Untuk beberapa detik, dunia di sekelilingnya seakan kehilangan suara. Koridor VIP yang sejak tadi dipenuhi langkah kaki perawat mendadak terasa begitu jauh. Cahaya lampu putih di langit-langit terlihat menyilaukan. Bahkan suara pendingin ruangan yang terus berdengung perlahan menghilang dari pendengarannya. Yang tersisa hanyalah wajah dokter di hadapannya. Dan kalimat itu. Kondisi Nyonya Clara memburuk. Raymond berdiri membeku. Rahangnya mengeras, tetapi sorot matanya kehilangan fokus. "Apa..." Suaranya terdengar parau, nyaris tidak keluar. "Apa maksudmu, Dokter?" Dokter senior itu menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia sudah bertahun-tahun menangani pasien dalam kondisi kritis, tetapi menyampaikan kabar buruk kepada keluarga tidak pernah menjadi hal yang mudah.
Raymond menatap tangan itu cukup lama. Lalu perlahan menerimanya. Mereka kembali ke lantai VIP beberapa menit kemudian. Suasana rumah sakit jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Lampu-lampu putih koridor memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap. Seorang perawat yang melihat kondisi Raymond langsung berlari mengambil handuk besar. "Tuan..." Perawat itu menyerahkan handuk dengan gugup. Ken menerimanya lebih dulu. Lalu menyampirkannya ke bahu Raymond. "Keringkan diri Anda." Raymond tidak bergerak. Masih diam. Masih kosong. Ken menghela napas. Kemudian mengambil handuk lain dan mengusap rambut Raymond yang basah. Pemandangan yang mungkin akan membuat seluruh kota tercengang jika melihatnya. Tangan kanan Raymond selama bertahun-tahun. Orang kepercayaannya. Sahabat yang tidak pernah diakuinya secara langsung. "Ken." "Ya, Tuan?" Raymond memejamkan mata. Lalu berkata pelan. "Jangan bilang siapa pun." Ken mengangkat alis. "Tentang apa?" "Aku menangis." Bebe
Ketakutan membuat seseorang berlari. Keputusasaan membuat seseorang berhenti melangkah karena tidak tahu lagi harus menuju ke mana. Dan malam itu, wajah keputusasaan adalah Raymond Antonio. Hujan turun semakin deras di atas gedung rumah sakit. Butiran air menghantam lantai beton atap, menciptakan suara gemuruh yang bersahutan dengan desiran angin malam. Langit tampak pekat tanpa bintang. Awan hitam menggantung rendah, seolah ikut menanggung beban yang menekan dada pria itu. Raymond masih berlutut di tempat yang sama. Celana hitam mahalnya sudah basah kuyup. Kemeja putih yang biasanya selalu rapi kini menempel pada tubuhnya karena diguyur hujan tanpa henti. Rambut hitamnya jatuh berantakan menutupi sebagian dahi. Namun ia tidak peduli. Tidak sedikit pun. Kedua tangannya mengepal kuat di atas lantai beton yang dingin. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun tidak beraturan seolah setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Selama hidu
Keheningan menyelimuti ruang tunggu VIP di lantai khusus rumah sakit itu. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak. Hanya terdengar dengungan lembut pendingin ruangan dan suara langkah samar para tenaga medis yang berlalu-lalang di koridor luar. Raymond berdiri tepat di hadapan dokter. Tubuhnya tegak. Tatapannya lurus. Namun sorot matanya perlahan kehilangan fokus. Seakan otaknya menolak memahami kalimat yang baru saja didengarnya. "Preeklampsia..." ulangnya lirih. Suara itu terdengar asing. Serak. Kosong. Dokter senior di hadapannya mengangguk pelan. "Dan kami juga menemukan indikasi sindrom HELLP." Raymond berkedip lambat. Rahangnya mengeras. Namun bukan karena marah. Melainkan karena berusaha mempertahankan ketenangan yang mulai retak sedikit demi sedikit. "Aku tidak mengerti." Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan. "Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti." Dokter menarik napas panjang. Ia sudah menangani banyak keluarga pasien selama
Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut," ujar dokter itu. “Sekarang?” tanya Raymond dengan bibir bergetar. “Sekarang.” “Kenapa?” “Karena saya tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap ibu maupun bayinya.” Ruangan langsung sunyi. Bahkan Noah yang tidak memahami sepenuhnya pembicaraan orang dewasa itu ikut terdiam. Sementara Bu Eli menggenggam kedua tangannya erat. “Apakah berbahaya?” tanyanya pelan. Dokter tidak langsung menjawab. Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban yang cukup. --- Kurang dari lima belas menit kemudian... Iring-iringan mobil hitam keluar dari gerbang mansion dengan kecepatan tinggi. Hujan tipis mulai turun membasahi jalanan kota. Lampu kendaraan membelah lalu lintas sore yang padat. Di kursi belakang mobil utama, Raymond duduk sambil memangku kepala Clara. Tangannya menggenggam jemari wanita itu erat. Seolah takut jika ia melepaskannya walau sedetik. “Clara...” Tidak ada jawaban. “Bangunlah.” Tetap tidak ada respons. Untuk pertama
Di markas, Adrian dan Sofia mulai merasa gelisah. Di ruang utama yang remang, Adrian berdiri menghadap jendela tinggi, jarinya mengetuk gelas kristal dengan ritme yang tak sabar. Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detiknya terasa seperti ejekan.Sofia duduk di sofa kulit, kakinya yang jenjang
Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj
Raymond mematung sejenak. Waktu terasa terhenti detik itu juga. Sofia dan Ken spontan menutup mulut mereka dengan tangan, napas mereka tercekat. Raymond melangkah masuk perlahan. Tangannya bergerak refleks ke pinggang. Dan dalam satu gerakan cepat, pistol telah berada dalam genggamannya, moncongny
Semuanya gelap dan berat. Seperti tubuh Clara tenggelam jauh ke dasar laut yang tak bertepi.Kesadarannya mengapung perlahan, naik sedikit demi sedikit ke permukaan. Kepalanya berdenyut hebat, napasnya terasa sesak oleh sisa aroma menyengat yang masih menempel di rongga hidungnya. Ia perlahan menc







