LOGINRuangan itu mendadak terasa terlalu sempit.Raymond masih memegang foto lama tersebut. Jemarinya mencengkeram bagian tepinya hingga kertas yang sudah berusia bertahun-tahun itu sedikit melengkung.Tatapannya tidak beralih dari tulisan di belakang foto.AKU TIDAK PERNAH MATI.Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman apa pun.Raymond perlahan mengangkat wajah.“Siapa yang menulis ini?”Tidak ada yang menjawab.Charles berdiri diam.Elena menundukkan kepala.John memperhatikan keduanya dengan waspada.Raymond melangkah mendekati ayahnya.“Aku bertanya sekali lagi.”Suaranya rendah.“Siapa yang menulis ini?”Charles menarik napas panjang.“Aku tidak tahu.”Raymond tertawa hambar.“Menarik.”Ia mengangkat foto tersebut.“Foto ibuku ditemukan di kamar Adriana.”“Di belakangnya
Elena masih berdiri di dekat jendela.Kunci tua itu tersembunyi di dalam genggamannya. Permukaannya dingin, terbuat dari logam tua yang warnanya mulai menghitam dimakan usia.Charles memperhatikannya.“Apa yang kau pegang?”Elena tidak menjawab.Ia justru memasukkan kunci itu lebih dalam ke saku gaunnya.“Tidak ada.”Charles menatapnya curiga.“Jangan bohong kepadaku.”Elena tersenyum tipis.“Bukankah itu yang selama ini kita lakukan?”Charles terdiam.Kalimat tersebut terasa seperti tamparan.Selama bertahun-tahun, Elena telah memberinya cerita tentang Maria. Tentang pengkhianatan. Tentang uang yang disembunyikan. Tentang bagaimana Maria meninggalkan keluarganya.Dan Charles mempercayainya.Terlalu lama.“Aku baru menyadari sesuatu,” ucap Charles pelan.Elena menoleh.“Apa?”“Mungkin selama ini aku tidak pernah me
BAB SELANJUTNYA — KEBENARAN YANG TERSISABagian 2Lorong bawah tanah itu terasa semakin dingin.Raymond berjalan cepat mengikuti John. Suara langkah mereka memantul di antara dinding batu yang lembap, menciptakan gema panjang yang membuat suasana terasa semakin mencekam.Udara berbau tanah basah dan logam tua. Lampu-lampu kecil yang tertanam di dinding menyala redup, beberapa bahkan berkedip seolah sebentar lagi akan mati.“Di depan, Tuan.”John menunjuk sebuah pintu besi yang terbuka setengah.Raymond mempercepat langkah.Dua pengawal berdiri di depan pintu. Begitu melihat Raymond datang, mereka langsung menyingkir.Raymond masuk.Langkahnya mendadak berhenti.Di tengah ruangan, Ken terbaring di lantai batu.Tubuhnya masih mengenakan pakaian rumah sakit. Perban di kepalanya sudah sedikit bergeser, memperlihatkan noda darah kering di dekat pelipis. Kedua tangannya terikat di b
Teriakan John masih menggema di sepanjang lorong bawah tanah.“TUAN RAYMOND!”“KEN DITEMUKAN!”Raymond yang baru saja hendak meninggalkan ruangan rahasia langsung berbalik.Jantungnya berdegup keras.Tanpa membuang waktu, ia berlari mengikuti suara John. Sepatu kulitnya menghantam lantai batu yang lembap, menghasilkan gema panjang di antara dinding-dinding tua. Udara di bawah mansion terasa jauh lebih dingin daripada di lantai atas. Aroma tanah basah, debu, dan sesuatu yang menyerupai obat-obatan memenuhi lorong sempit itu.Beberapa lampu kecil tertanam di dinding, tetapi sebagian berkedip-kedip seolah jaringan listrik bangunan tua tersebut tidak pernah benar-benar diperbaiki.“Di mana dia?” tanya Raymond tanpa memperlambat langkah.“Di ujung lorong, Tuan!”John menunjuk sebuah pintu besi yang terbuka setengah.Dua pengawal berdiri di depannya dengan wajah tegang.Raymond langsung melewati mereka.Begitu memasuki ruangan, langkahnya mendadak terhenti.Ken terbaring di lantai.Tubuhnya
Elena mengangguk. "Operasi rekonstruksi wajah." "Latihan suara." "Latihan ekspresi." "Gerakan tubuh." "Kebiasaan." Ia menatap Raymond. "Semua dipelajari." Dada Raymond terasa panas. "Kalian mengubah wajah seseorang menjadi wajah ibuku?" "Ya." "Untuk apa?" Elena menatapnya beberapa saat. "Untuk membalas semuanya." "Balas apa?" "Maria." Raymond mengepalkan tangannya. "Jangan bicara tentang ibuku seperti dia penjahat." Elena tertawa kecil. Tawa itu tidak memiliki sedikit pun kehangatan. "Begitulah masalahnya." Ia mendekat. "Kau hanya mengetahui cerita yang diberikan Maria kepadamu." Raymond menatapnya tajam. "Kau tidak tahu apa yang terjadi." "Justru aku tahu." Elena mulai kehilangan ketenangannya. "Maria mengambil semuanya dari keluargaku." "Dia meninggalkan kami." "Dia menyembunyikan kekayaan." "Dan kau?" Tatapannya menusuk Raymond. "Kau hidup nyaman dari semua yang dia sembunyikan." "Diam!" Suara Raymond menggema. C
Ruangan rahasia itu kembali tenggelam dalam kesunyian. Pintu brankas masih terbuka. Cahaya lampu senter memantul pada permukaan logamnya, menerangi dokumen-dokumen tua yang berserakan di atas meja kayu. Raymond berdiri di sana tanpa bergerak. Map hitam peninggalan Maria masih berada di tangan kirinya. Namun pikirannya tidak lagi tertuju pada angka-angka aset, sertifikat tanah, atau daftar perusahaan rahasia yang baru saja ditemukannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu wanita. Wanita dengan wajah ibunya. Wanita yang mengetahui keberadaan brankas. Wanita yang tampak ketakutan ketika melihat seseorang di belakangnya. Dan yang paling mengganggu— wanita itu pernah berkata bahwa Maria belum pernah mati. Raymond menarik napas panjang. "Aku harus menemukan jawabannya." John yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung menoleh. Raymond menyerahkan map hitam kepadanya. "Jaga ini." John menerimanya dengan kedua tangan. "Baik, Tuan." Raymond menatap
Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj
Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”
Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan
“Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te






