Share

Tumbuh Rasa

Penulis: Miss Wang
last update Tanggal publikasi: 2026-02-18 18:00:15

Nama itu masih menggema di kepala Raymond bahkan setelah ia membuka mata. Nama yang tak pernah ia ucapkan lagi. Ia menegakkan tubuh, menarik napas dalam, lalu bangkit, melangkah ke sisi jendela. Tatapannya kosong dan dingin.

Beberapa jam berlalu, Clara baru saja pulang dari kampus. Raymond yang sedang membaca koran reflek memanggilnya. “Kau—,” Namun terhenti.

Clara menoleh. “Ya, Tuan?”

Raymond terdiam, ia menundukkan pandangan lalu mengangkatnya kembali. “Aku tak memanggilmu,” ucapnya dingin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wartawan Takut

    Brak... Brak... Brak... Suara langkah sepatu bot para pengawal menggema serempak di halaman depan Mansion Antonio. Belasan pria bertubuh tegap itu maju satu langkah bersamaan, lalu membentuk barikade baru di belakang gerbang besi hitam setinggi hampir tiga meter. Setelan jas hitam, sarung tangan kulit, dan alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka membuat kehadiran mereka terlihat semakin mengintimidasi. Tatapan mereka lurus ke depan. Dingin. Tanpa sedikit pun keraguan. Tidak ada celah yang bisa dilewati. Tidak ada ruang bagi wartawan untuk mendekat. Udara pagi yang semula dipenuhi suara teriakan dan kilatan kamera kini berubah mencekam. Hanya suara embusan angin yang menggoyangkan daun-daun cemara di sepanjang jalan masuk menuju mansion. Di tengah barisan itu... Raymond berdiri tegak. Kedua bahunya tetap lurus. Dagunya sedikit terangkat. Sorot matanya yang tajam menyapu satu per satu wajah para wartawan di balik pagar. Amarah yang tadi meledak-ledak kini seola

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Murka

    Tepat pada saat itu... Terdengar suara langkah pelan dari belakang. Tok... Tok... Tok... Elena maju. Gaun panjang berwarna gading yang dikenakannya berkibar pelan diterpa angin pagi. Wajahnya masih terlihat pucat. Namun sorot matanya berubah begitu tegas. Ia berdiri tepat di samping Raymond. Semua kamera langsung beralih ke arahnya. Klik! Klik! Klik! Kilatan flash kembali memenuhi halaman. Raymond menoleh cepat. Tatapannya dipenuhi tanda tanya. Mengapa Elena maju? Apa yang sedang ingin dilakukannya? Namun Elena tidak memandang Raymond. Ia menatap lurus ke arah para wartawan. "Aku..." Suaranya pelan. Namun begitu jelas. "...adalah Elena." "Adik kandung Nyonya Antonio." Kerumunan kembali gaduh. Beberapa wartawan langsung saling berteriak. "Itu dia!" "Rekam!" "Cepat!" Elena mengangkat tangan kanannya. Memberi isyarat agar semua diam. Keributan perlahan mereda. "Aku tidak keberatan kalau kalian mempertanyakan siapa diriku." "Kalian boleh meragukan hubung

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Fitnah

    Raymond membeku. Bukan karena terkejut. Melainkan karena otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan wartawan itu. Angin pagi yang berembus pelan seakan berhenti. Kilatan kamera yang sejak tadi terus menyala kini terdengar jauh. Yang memenuhi pendengarannya hanya satu kalimat. "...mendiang Nyonya Besar Antonio pernah terlibat dalam kasus penyelundupan berskala besar..." Tatapan Raymond perlahan terangkat. Mata hitamnya yang semula tenang berubah semakin tajam. Dingin. Kelam. Berbahaya. Rahangnya mengeras hingga garis otot di kedua pipinya tampak jelas. Tulang rahangnya menonjol. Kedua tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal. Jari-jarinya menekan telapak tangan sendiri begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat pada punggung tangannya mulai menonjol. Dadanya naik turun perlahan. Bukan karena takut. Melainkan karena ia sedang mati-matian menahan amarah. "Apa..." Suaranya terdengar rendah. Pe

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Berita Mengejutkan

    Suaranya tidak keras. Namun cukup berat hingga terdengar jelas di tengah keributan. Ken segera mendekat. "Tuan." "Mereka mulai berkumpul sejak pukul enam pagi." "Mereka menolak meninggalkan lokasi." "Kami sudah meminta bantuan kepolisian untuk mengatur lalu lintas." Raymond mengangguk tipis. Tatapannya kembali mengarah ke kerumunan wartawan. "Siapa yang memberi kalian izin membuat keributan di depan rumah saya?" Tak seorang pun langsung menjawab. Seorang wartawan wanita berjas biru mengangkat mikrofonnya lebih tinggi. "Tuan Raymond." "Apakah benar Nyonya Elena saat ini tinggal bersama keluarga Antonio?" Raymond tetap diam. Wartawan lain langsung menyusul. "Apakah benar sedang dilakukan tes DNA?" "Apakah beliau akan memperoleh hak waris keluarga Antonio?" "Apakah hubungan darah ini sengaja disembunyikan selama puluhan tahun?" Raymond masih belum menjawab. Ekspresinya nyaris tidak berubah. Di belakangnya... Clara mulai merasa tidak nyaman. Keributan, suara kamera,

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wartawan

    Pintu kamar utama di lantai dua terbuka lebar.Raymond melangkah keluar lebih dulu dengan langkah panjang dan cepat. Wajah yang beberapa saat lalu dipenuhi ketenangan kini berubah serius. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya kembali menjadi tajam—sorot mata seorang Mafia yang terbiasa menghadapi situasi genting tanpa kehilangan kendali.Di belakangnya, Clara keluar dengan langkah jauh lebih hati-hati.Tangan kirinya menopang perut yang kini mulai membulat, sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Noah agar bocah itu tidak berlari menyusuri koridor."Noah, tetap di samping Mama.""Iya, Ma."Noah mengangguk patuh.Meski belum memahami apa yang sedang terjadi, bocah itu dapat merasakan perubahan suasana dari wajah orang-orang di sekelilingnya.Koridor lantai dua yang biasanya tenang pagi itu berubah menjadi sibuk.Beberapa pelayan tampak berlari kecil membawa alat komunikasi internal.Ada yang menoleh ke arah halaman depan melalui jendela-jendela besar.Ada pula yang sali

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bahagia

    Clara mengusap matanya perlahan. "Lalu sejak tadi cuma memandangiku?" "Iya." "Memangnya tidak bosan?" "Tidak." jawab Raymond tanpa berpikir. "Aku bahkan bisa melakukan ini sampai malam." Clara tertawa kecil. "Untung Antonio Group punya banyak direktur." "Kalau tidak..." "CEO-nya pasti sudah dipecat." Raymond ikut tertawa. "Hari ini aku memang sengaja tidak bekerja." "Aku sendiri yang membatalkan seluruh jadwal." Clara langsung menatapnya. "Seluruhnya?" Raymond mengangguk. "Rapat." "Bertemu investor." "Semuanya." "Ray..." "Kau tidak perlu melakukan itu." Raymond mengusap pipi Clara dengan ibu jarinya. "Perlu." "Sangat perlu." "Aku sudah terlalu lama membiarkan pekerjaan mengambil waktuku." "Aku tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi." Tatapan Clara berubah lembut. Ia mengangkat tangan lalu menggenggam tangan suaminya. "Raymond..." Pria itu mengecup pelan kening istrinya. "Boleh egois satu hari saja?" Clara tersenyum. "Egois bagaimana?" "Aku ingin sat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tewasnya Sang Psikopat

    Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Obsesi

    Clara mundur satu langkah lagi tanpa sadar. Jemarinya yang menggenggam ponsel terasa dingin dan mati rasa, sementara matanya terpaku pada sosok Thomas yang berdiri beberapa meter di depannya. Wajah itu masih sama seperti yang ia kenal selama lima tahun terakhir—tenang, rapi, penuh kelembutan—tetapi

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Persiapan Pernikahan

    Keesokan harinya, mansion yang biasanya tenang berubah total—seolah napasnya sendiri ikut dipercepat oleh kesibukan yang tak ada henti. Orang-orang berlalu-lalang tanpa jeda, membawa kotak-kotak besar berisi dekorasi mewah, kain-kain mahal, dan rangkaian bunga yang masih terbungkus rapi. Di sudut l

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gadis Yatim Piatu, Clara

    “Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status