Share

Kuasa Raymond

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-02-16 13:05:59

Suara rem berdecit keras memecah malam di depan Mansion Raymond.

Deretan mobil hitam berhenti nyaris bersamaan, lampu depan menyapu halaman yang sudah porak-poranda. Pintu terbuka serempak. Raymond turun lebih dulu—jasnya terbuka, langkahnya mantap, wajahnya tenang dengan mata yang menyala dingin. Anak-anak buahnya menyebar di belakangnya, senjata terangkat dengan formasi rapi.

Satu sosok melompat dari balik pilar.

DOR!

Satu tembakan saja dari Raymond membuat tubuh itu terhempas ke tanah sebel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kenangan

    BIPPPPPPPPPPP...Suara panjang dari monitor jantung memecah keheningan koridor rumah sakit.Nadanya melengking tajam.Dingin.Menusuk.Menggema sepanjang lorong ICU yang diterangi cahaya lampu putih kebiruan.Setiap orang yang berada di sana spontan menghentikan langkahnya.Beberapa perawat saling berpandangan.Seorang dokter muda mempercepat langkah memasuki ruang ICU.Sementara di luar...Raymond Antonio masih berdiri membelakangi pintu ruang perawatan intensif.Tubuhnya tegak.Namun ketegangan yang sejak tadi menopang dirinya perlahan mulai runtuh.Kedua tangannya yang semula terkepal erat di sisi tubuh mulai mengendur sedikit demi sedikit.Buku-buku jarinya yang memutih perlahan kembali berwarna.Bukan karena ia mulai tenang.Melainkan karena seluruh tenaga di tubuhnya seakan habis terkuras.Ia tidak lagi mencoba mengejar dokter.Tidak lagi bertanya.Tidak lagi memaksa siapa pun menjelaskan keadaan Clara.Tatapannya kosong menembus lantai granit mengilap di bawah kakinya.Seolah s

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mama, Papa

    Sementara, itu di Mansion Antonio... Malam semakin larut. Hujan turun tipis membasahi taman belakang. Butiran air memantulkan cahaya lampu taman hingga terlihat seperti kristal-kristal kecil yang berjatuhan dari langit. Namun suasana hangat yang biasanya memenuhi rumah besar itu telah menghilang. Ruang keluarga terasa sunyi. Jam antik di dinding berdetak pelan. Noah duduk meringkuk di sofa dengan kedua lutut dipeluk erat. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Sesekali ia mengusap hidungnya menggunakan lengan piyama dinosaurus kesayangannya. Di meja depan mereka, Bu Eli menyalakan sebuah lilin kecil. Nyala apinya bergoyang pelan tertiup embusan angin dari jendela. "Nenek..." Suara Noah terdengar lirih. "Mama pasti sembuh, kan?" Bu Eli menoleh. Senyumnya berusaha terlihat setenang mungkin. Padahal dadanya sendiri dipenuhi kecemasan. Wanita itu menggenggam kedua tangan kecil Noah. "Iya." Jawaban itu keluar dengan suara yang sedikit bergetar. "Mari kita berdoa.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gawat

    "Kondisi Nyonya Clara memburuk." Kalimat singkat itu meluncur pelan dari bibir dokter senior, tetapi dampaknya menghantam Raymond jauh lebih keras daripada ledakan peluru yang pernah ia hadapi sepanjang hidupnya. Untuk beberapa detik, dunia di sekelilingnya seakan kehilangan suara. Koridor VIP yang sejak tadi dipenuhi langkah kaki perawat mendadak terasa begitu jauh. Cahaya lampu putih di langit-langit terlihat menyilaukan. Bahkan suara pendingin ruangan yang terus berdengung perlahan menghilang dari pendengarannya. Yang tersisa hanyalah wajah dokter di hadapannya. Dan kalimat itu. Kondisi Nyonya Clara memburuk. Raymond berdiri membeku. Rahangnya mengeras, tetapi sorot matanya kehilangan fokus. "Apa..." Suaranya terdengar parau, nyaris tidak keluar. "Apa maksudmu, Dokter?" Dokter senior itu menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia sudah bertahun-tahun menangani pasien dalam kondisi kritis, tetapi menyampaikan kabar buruk kepada keluarga tidak pernah menjadi hal yang mudah.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kritis

    Raymond menatap tangan itu cukup lama. Lalu perlahan menerimanya. Mereka kembali ke lantai VIP beberapa menit kemudian. Suasana rumah sakit jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Lampu-lampu putih koridor memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap. Seorang perawat yang melihat kondisi Raymond langsung berlari mengambil handuk besar. "Tuan..." Perawat itu menyerahkan handuk dengan gugup. Ken menerimanya lebih dulu. Lalu menyampirkannya ke bahu Raymond. "Keringkan diri Anda." Raymond tidak bergerak. Masih diam. Masih kosong. Ken menghela napas. Kemudian mengambil handuk lain dan mengusap rambut Raymond yang basah. Pemandangan yang mungkin akan membuat seluruh kota tercengang jika melihatnya. Tangan kanan Raymond selama bertahun-tahun. Orang kepercayaannya. Sahabat yang tidak pernah diakuinya secara langsung. "Ken." "Ya, Tuan?" Raymond memejamkan mata. Lalu berkata pelan. "Jangan bilang siapa pun." Ken mengangkat alis. "Tentang apa?" "Aku menangis." Bebe

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Runtuh

    Ketakutan membuat seseorang berlari. Keputusasaan membuat seseorang berhenti melangkah karena tidak tahu lagi harus menuju ke mana. Dan malam itu, wajah keputusasaan adalah Raymond Antonio. Hujan turun semakin deras di atas gedung rumah sakit. Butiran air menghantam lantai beton atap, menciptakan suara gemuruh yang bersahutan dengan desiran angin malam. Langit tampak pekat tanpa bintang. Awan hitam menggantung rendah, seolah ikut menanggung beban yang menekan dada pria itu. Raymond masih berlutut di tempat yang sama. Celana hitam mahalnya sudah basah kuyup. Kemeja putih yang biasanya selalu rapi kini menempel pada tubuhnya karena diguyur hujan tanpa henti. Rambut hitamnya jatuh berantakan menutupi sebagian dahi. Namun ia tidak peduli. Tidak sedikit pun. Kedua tangannya mengepal kuat di atas lantai beton yang dingin. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun tidak beraturan seolah setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Selama hidu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Musuhnya Kali Ini Adalah Takdir

    Keheningan menyelimuti ruang tunggu VIP di lantai khusus rumah sakit itu. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak. Hanya terdengar dengungan lembut pendingin ruangan dan suara langkah samar para tenaga medis yang berlalu-lalang di koridor luar. Raymond berdiri tepat di hadapan dokter. Tubuhnya tegak. Tatapannya lurus. Namun sorot matanya perlahan kehilangan fokus. Seakan otaknya menolak memahami kalimat yang baru saja didengarnya. "Preeklampsia..." ulangnya lirih. Suara itu terdengar asing. Serak. Kosong. Dokter senior di hadapannya mengangguk pelan. "Dan kami juga menemukan indikasi sindrom HELLP." Raymond berkedip lambat. Rahangnya mengeras. Namun bukan karena marah. Melainkan karena berusaha mempertahankan ketenangan yang mulai retak sedikit demi sedikit. "Aku tidak mengerti." Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan. "Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti." Dokter menarik napas panjang. Ia sudah menangani banyak keluarga pasien selama

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Air Keras

    Semua terjadi begitu cepat. Cairan itu melesat di udara—berkilat singkat di bawah cahaya siang—menuju wajahnya, menuju tubuhnya… menuju sesuatu yang tak akan bisa ia hindari. Namun—di antara detik yang terlalu sempit untuk berpikir—sebuah bayangan bergerak dengan cepat, pasti dan tanpa keraguan—

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Familiar

    Srrreeeettttt—!!! Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak. Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rumah Sakit

    Namun—sebelum tatapan itu benar-benar bertemu— Clara lebih dulu tersadar. Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia langsung memalingkan wajah dengan gerakan cepat, napasnya tercekat. Tangannya bergerak refleks, meraih tubuh kecil Noah dan menariknya lebih

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Noah Sakit

    “Apa?!” suaranya pecah—nyaris tak terbentuk. Di seberang sana, suara Bibi Janeta bergetar, terburu-buru, dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan. “Dari tadi demamnya tinggi sekali, Clara… dia mengigau… aku takut sesuatu terjadi…” Clara memejamkan mata sejenak. Hanya satu detik—namun dala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status