공유

Kuasa Raymond

작가: Miss Wang
last update 게시일: 2026-02-16 13:05:59

Suara rem berdecit keras memecah malam di depan Mansion Raymond.

Deretan mobil hitam berhenti nyaris bersamaan, lampu depan menyapu halaman yang sudah porak-poranda. Pintu terbuka serempak. Raymond turun lebih dulu—jasnya terbuka, langkahnya mantap, wajahnya tenang dengan mata yang menyala dingin. Anak-anak buahnya menyebar di belakangnya, senjata terangkat dengan formasi rapi.

Satu sosok melompat dari balik pilar.

DOR!

Satu tembakan saja dari Raymond membuat tubuh itu terhempas ke tanah sebel
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kritis

    Raymond menatap tangan itu cukup lama. Lalu perlahan menerimanya. Mereka kembali ke lantai VIP beberapa menit kemudian. Suasana rumah sakit jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Lampu-lampu putih koridor memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap. Seorang perawat yang melihat kondisi Raymond langsung berlari mengambil handuk besar. "Tuan..." Perawat itu menyerahkan handuk dengan gugup. Ken menerimanya lebih dulu. Lalu menyampirkannya ke bahu Raymond. "Keringkan diri Anda." Raymond tidak bergerak. Masih diam. Masih kosong. Ken menghela napas. Kemudian mengambil handuk lain dan mengusap rambut Raymond yang basah. Pemandangan yang mungkin akan membuat seluruh kota tercengang jika melihatnya. Tangan kanan Raymond selama bertahun-tahun. Orang kepercayaannya. Sahabat yang tidak pernah diakuinya secara langsung. "Ken." "Ya, Tuan?" Raymond memejamkan mata. Lalu berkata pelan. "Jangan bilang siapa pun." Ken mengangkat alis. "Tentang apa?" "Aku menangis." Bebe

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Runtuh

    Ketakutan membuat seseorang berlari. Keputusasaan membuat seseorang berhenti melangkah karena tidak tahu lagi harus menuju ke mana. Dan malam itu, wajah keputusasaan adalah Raymond Antonio. Hujan turun semakin deras di atas gedung rumah sakit. Butiran air menghantam lantai beton atap, menciptakan suara gemuruh yang bersahutan dengan desiran angin malam. Langit tampak pekat tanpa bintang. Awan hitam menggantung rendah, seolah ikut menanggung beban yang menekan dada pria itu. Raymond masih berlutut di tempat yang sama. Celana hitam mahalnya sudah basah kuyup. Kemeja putih yang biasanya selalu rapi kini menempel pada tubuhnya karena diguyur hujan tanpa henti. Rambut hitamnya jatuh berantakan menutupi sebagian dahi. Namun ia tidak peduli. Tidak sedikit pun. Kedua tangannya mengepal kuat di atas lantai beton yang dingin. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun tidak beraturan seolah setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Selama hidu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Musuhnya Kali Ini Adalah Takdir

    Keheningan menyelimuti ruang tunggu VIP di lantai khusus rumah sakit itu. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak. Hanya terdengar dengungan lembut pendingin ruangan dan suara langkah samar para tenaga medis yang berlalu-lalang di koridor luar. Raymond berdiri tepat di hadapan dokter. Tubuhnya tegak. Tatapannya lurus. Namun sorot matanya perlahan kehilangan fokus. Seakan otaknya menolak memahami kalimat yang baru saja didengarnya. "Preeklampsia..." ulangnya lirih. Suara itu terdengar asing. Serak. Kosong. Dokter senior di hadapannya mengangguk pelan. "Dan kami juga menemukan indikasi sindrom HELLP." Raymond berkedip lambat. Rahangnya mengeras. Namun bukan karena marah. Melainkan karena berusaha mempertahankan ketenangan yang mulai retak sedikit demi sedikit. "Aku tidak mengerti." Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan. "Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti." Dokter menarik napas panjang. Ia sudah menangani banyak keluarga pasien selama

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sakit

    Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut," ujar dokter itu. “Sekarang?” tanya Raymond dengan bibir bergetar. “Sekarang.” “Kenapa?” “Karena saya tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap ibu maupun bayinya.” Ruangan langsung sunyi. Bahkan Noah yang tidak memahami sepenuhnya pembicaraan orang dewasa itu ikut terdiam. Sementara Bu Eli menggenggam kedua tangannya erat. “Apakah berbahaya?” tanyanya pelan. Dokter tidak langsung menjawab. Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban yang cukup. --- Kurang dari lima belas menit kemudian... Iring-iringan mobil hitam keluar dari gerbang mansion dengan kecepatan tinggi. Hujan tipis mulai turun membasahi jalanan kota. Lampu kendaraan membelah lalu lintas sore yang padat. Di kursi belakang mobil utama, Raymond duduk sambil memangku kepala Clara. Tangannya menggenggam jemari wanita itu erat. Seolah takut jika ia melepaskannya walau sedetik. “Clara...” Tidak ada jawaban. “Bangunlah.” Tetap tidak ada respons. Untuk pertama

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Komplikasi?

    “CLARA!” Suara Raymond menggema keras di seluruh mansion, memantul di dinding marmer dan lorong-lorong luas yang biasanya tenang. Dalam hitungan detik, pria itu sudah berlutut di lantai dapur. Pecahan kaca berserakan di sekeliling tubuh Clara. Segelas jus yang tadi dipegang wanita itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di atas lantai marmer putih. Cairan berwarna oranye menyebar membentuk noda tidak beraturan di dekat kakinya. Namun Raymond bahkan tidak melihat semua itu. Dunianya hanya tertuju pada satu hal. Clara. “Clara, bangun, Clara.” Tangannya yang biasanya mantap saat memegang senjata atau menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah kini bergetar saat menyentuh pipi istrinya. Kulit Clara terasa dingin. Terlalu dingin. Wajah wanita itu pucat. Kelopak matanya tertutup rapat. Tubuhnya terkulai tanpa respons. Untuk sesaat, jantung Raymond terasa berhenti berdetak. “Clara... buka matamu.” Nada suaranya berubah serak. Penuh ketakutan. Ketakutan yang bahkan t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   ABC

    Teriakan Noah sampai terdengar ke seluruh rumah. Dan beberapa langkah di belakang Noah, Clara selalu berdiri di beranda. Tersenyum. Menunggu. Hal sederhana. Namun bagi Raymond, itu adalah hal yang tidak pernah ia miliki selama puluhan tahun hidupnya. Rumah. Keluarga. Seseorang yang menunggu kepulangannya. Dan ternyata perasaan itu jauh lebih berharga daripada kemenangan bisnis sebesar apa pun. *** Waktu berlalu tanpa terasa. Musim berganti. Hari demi hari berjalan tenang. Dan kehamilan Clara perlahan memasuki bulan kelima. Perutnya mulai membulat dengan jelas. Noah menjadi orang yang paling bersemangat. Setiap hari, anak itu punya ritual khusus. Menempelkan telinganya ke perut Clara. Lalu berbicara dengan adiknya. “Adik.” Hening. “Kalau dengar, tendang dua kali.” Tidak ada respons. Noah mengangguk serius. “Berarti adik malu.” Clara selalu tertawa setiap kali melihatnya. Sementara Raymond diam-diam merekam momen itu dengan ponselnya. Untuk pertama kalinya da

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ciuman Pertama

    Clara melangkah tergesa di belakang Ken tanpa sempat mengenakan alas kaki. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya. Pintu kamar Raymond sudah terbuka lebar. Raymond setengah duduk di atas ranjang, punggungnya bersandar pada dipan ranjang. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras menahan nyeri.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Undangan Pesta

    Foto-foto Clara berjajar rapi di atas meja kerja Charles. Cahaya lampu meja menyorot wajah-wajah yang tertangkap lensa secara diam-diam—Clara saat berjalan sendirian di koridor kampus, Clara tertawa kecil saat berbincang dengan Hans, tampak biasa, lalu Clara berdiri kaku, rahang mengeras, tangan t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Raymond Demam

    Tubuhnya terangkat dari kasur seakan ditarik paksa oleh mimpi itu. Napasnya tersengal, dadanya naik turun cepat, keringat membasahi pelipis hingga leher. Matanya liar menatap sekeliling kamar, memastikan ia berada di masa kini. Wajah pembunuh ibunya. Tatapan dingin. Suara tenang yang memberi peri

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mimpi Buruk

    Clara melangkah mundur satu langkah. Ia menoleh ke arah lorong—namun yang tertangkap matanya hanya ujung rambut hitam berkilau dan gaun mahal yang melambai sebelum menghilang ke dalam kamar Raymond.Clara mengerutkan kening. ‘Mungkin aku salah dengar,’ pikirnya sebelum melangkah kembali ke dalam k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status