Share

Bab 7: Inversi Suci

Penulis: Binar Rasa
last update Tanggal publikasi: 2026-02-07 10:00:14

Kompleks Pergudangan Logistik Sektor 4-B.

Pukul 02.45 WIB.

Jakarta di luar sana mungkin sedang berdenyut, tapi di sini, realitas telah ditekuk.

Sebuah tirai kabut hitam menyelimuti area, tipis namun absolut. Oklusi.

Teknik tabir milik Sang Kriya ini bekerja sempurna. Bagi warga sipil, ini hanyalah kebocoran gas rutin.

Bagi Hendra, ini adalah pintu masuk menuju neraka yang disterilkan.

Hendra melangkah melewati garis polisi yang berpendar biru samar.

Sepatunya mengetuk beton dengan irama yang berat. Dingin.

Di belakangnya, Sarah dan Dira.

Langkah mereka presisi, menghindari titik-titik residu yang bertebaran di lantai seperti noda minyak yang bernyawa.

Perangkat Ganda-Waskita di tangan Sarah berderik. Suaranya tidak stabil.

Tik. Tik-tik. Drrrtt.

Bunyi itu seperti detak jantung yang sedang mengalami serangan panik.

"Lapor. Residu di sektor primer sudah diisolasi."

Suara Dira datar, sedatar layar tablet digital yang ia genggam. Matanya memindai persebaran energi yang berpendar di monitor.

"Target awal teridentifikasi sebagai Sengkolo kelas menengah. Inang bernama Mandra. Skala awal: Kritis."

Dira terdiam sejenak. Jemarinya membeku di atas layar.

"Tapi ada yang salah di sini."

Hendra berhenti. Tepat di depan sebuah gunungan abu putih di atas beton.

Ia berlutut.

Matanya menyipit, mengamati retakan pada lantai aspal yang membentuk pola fraktal melingkar yang rumit.

Sempurna. Terlalu sempurna untuk sebuah kematian.

"Jelaskan," perintah Hendra. Singkat. Tajam.

Dira menelan ludah sebelum membaca analisis teknis dari sistem BARA.

"Secara metafisis, Sengkolo adalah parasit endotermik. Mereka menghisap panas. Mereka membekukan mangsa dari dalam."

Dira menggeser grafik pada tabletnya. Sebuah kurva merah melonjak tajam, menabrak batas atas sensor.

"Tapi sensor termal-mistis merekam anomali yang mustahil. Titik nol ledakan mencatat suhu 3.200 derajat Celcius."

Hendra tidak bergeming.

"Durasi?"

"0,004 detik," jawab Dira.

Hening sejenak. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah pernyataan perang terhadap logika.

Ini bukan pemutusan raga biasa. Ini adalah penghancuran eksistensi melalui Inversi panas murni.

"Sengkolo-nya tidak hanya mati, Komandan."

Sarah menyela. Suaranya bergetar tipis. Ia menatap perangkat Ganda-Waskita yang kini membisu.

"Entitas itu... menguap. Tidak ada polutan. Tidak ada sisa kegelapan."

Sarah menunjuk gunungan abu di depan Hendra dengan ujung jarinya yang mendingin.

"Yang tersisa hanya abu murni ini. Seolah-olah kegelapan itu dipaksa menjadi cahaya."

Hendra melepas sarung tangan taktisnya.

Ia menyentuh lantai beton dengan ujung jari telanjang. Permukaannya terasa halus. Licin seperti kaca.

Pasir yang meleleh karena panas ekstrem, lalu membeku dalam sepersekian detik.

Sebuah tanda tangan kekuatan yang sangat spesifik.

"Laskar Geni," desis Hendra.

Rahangnya mengeras. Ada kemarahan yang tertahan di balik sorot matanya yang maskulin.

"Siapa anggota Geni yang bergerak mendahului perintah unit Arang?"

Ia berdiri, menatap hamparan abu yang kini terbang tertiup angin buatan dari sistem ventilasi gudang.

Brutal. Tanpa jejak. Tanpa koordinasi.

"Eksekusi sebrutal ini hanya akan merusak rantai investigasi kita," ucap Hendra dingin.

Matanya menatap lurus ke kegelapan di sudut gudang yang belum terjamah cahaya.

"Bukan kami, Pak Tua."

Suara itu berat. Mengiris hening dengan nada meremehkan yang kental.

Dari balik bayangan pilar gudang yang menjulang, dua sosok melangkah keluar.

Mereka mengenakan seragam taktis ringan. Namun, rompi pelindung mereka tidak biasa.

Ada jalinan mantra pengikat yang berpendar redup di sela serat kainnya.

Mahesa, Ketua Tim Laskar Geni, berdiri dengan tangan bersedekap.

Di sampingnya, seorang pemuda bernama Jagad menatap liar. Seringainya provokatif.

Jagad memutar-mutar belati pendek di jemarinya. Bilah itu bergetar, memancarkan energi hitam yang pekat dan berisik.

Hendra berdiri tegak. Ia tidak gentar, justru dadanya terasa panas oleh kemarahan yang tertata.

"Kalian melanggar protokol, Mahesa."

Suara Hendra naik satu oktav. Tajam seperti sembilu.

"Unit Geni dilarang masuk ke TKP sebelum Laskar Arang menyelesaikan stabilisasi area."

Hendra melangkah maju, memperpendek jarak. Sepatunya menggerus debu beton dengan bunyi yang mengancam.

"Siapa yang memberi izin kalian menembus Oklusi?"

Mahesa hanya mendengus. Sebuah reaksi yang lebih menghina daripada kata-kata.

Mata tajam Mahesa melirik tumpukan abu putih di lantai. Ada kilat ketidaknyamanan di sana.

Sebuah emosi yang berusaha ia kubur dalam-dalam di balik wajah batunya.

"Simpan omong kosong birokrasi mu, Hendra," Mahesa menyahut datar.

"Kami datang karena Sang Dhuta merasakan getaran frekuensi yang tidak wajar dari markas."

Mahesa menunjuk abu itu dengan dagunya. "Dan melihat ini... aku tahu kenapa."

Jagad melangkah maju. Gerakannya luwes, menyerupai predator yang sedang mengincar mangsa empuk.

Ia mendekati Dira dan Sarah. Terlalu dekat.

Jagad melepaskan sedikit tekanan energi dari telapak tangannya.

Udara di sekitar Sarah mendadak berat. Oksigen seolah lenyap, menyisakan rasa sesak yang menghimpit paru-paru.

"Kalian manusia-mesin hanya bisa membaca angka," bisik Jagad sambil melirik Sarah dengan tatapan lapar.

Ia menghirup udara dalam-dalam, seolah sedang mencicipi sisa-sisa kematian di sana.

"Kalian tidak bisa merasakan aromanya, kan?"

Jagad tertawa kecil. Suaranya serak.

"Aroma sesuatu yang terbakar habis tanpa menyisakan rasa sakit. Itu bukan teknik kami."

Ia menatap belatinya sendiri yang masih bergetar gelap.

"Laskar Geni menghancurkan dengan kegelapan. Tapi ini... ini panas yang menjijikkan."

"Jagad, cukup."

Perintah Mahesa jatuh dengan dingin. Jagad mundur, meski seringainya tidak memudar.

Mahesa kembali menatap Hendra. Kali ini, sorot matanya lebih serius. Lebih gelap.

"Jika kau pikir salah satu anak buahku yang melakukannya, kau salah besar."

Mahesa menjeda. Suasana mendadak menjadi lebih dingin daripada sebelumnya.

"Tidak ada satu pun dari kami—bahkan para Resi di Dewan Pancanaka sekalipun—yang bisa memanipulasi api pada tingkat kemurnian seperti ini."

Hendra terdiam. Ia bisa merasakan kejujuran yang pahit dalam nada bicara Mahesa.

"Ini bukan api yang berasal dari energi kegelapan yang dimurnikan," lanjut Mahesa.

"Ini adalah api yang... berbeda."

Dira bangkit dari posisi berlututnya. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap terpaku pada layar tablet.

"Data sensor tidak berbohong," suara Dira bergetar, namun tegas.

"Panas ini bersifat Suci."

Hening mendadak menyergap. Kata itu terasa asing, terlarang, dan berbahaya di telinga mereka.

"Sebuah istilah yang sudah dihapus dari basis data aktif Sang Pustaka sejak lima ratus tahun lalu," Dira melanjutkan.

"Karena dianggap sebagai mitos."

Dira menatap Hendra dan Mahesa bergantian. Ketakutan kini mulai merayap di balik profesionalismenya.

"Jika bukan Laskar Geni yang mengeksekusi Sengkolo ini, berarti kita sedang berhadapan dengan pihak ketiga."

Hendra mengepalkan tangan pada gagang perangkat komunikasinya.

Keangkuhan Laskar Geni yang merasa terancam bersinggungan dengan ego Laskar Arang yang baru saja direndahkan.

Namun, di tengah semua itu, ada sebuah kebenaran baru yang mulai menyelinap keluar dari balik abu.

Sesuatu yang lebih tua dari mereka semua telah bangun.

Dan sesuatu itu sedang lapar.

"Identifikasi ulang sektor luar," perintah Hendra ke komunikatornya.

"Kita tidak sendirian di sini."

****

"Pihak ketiga?"

Jagad tertawa keras. Suaranya menghantam dinding gudang, menggema, lalu pecah menjadi kesunyian yang ganjil.

"Maksudmu ada pahlawan kesiangan yang membakar Sengkolo Skala Kritis hanya dengan tangan kosong? Jangan konyol."

Jagad menghentikan putaran belatinya. Ujung bilah hitam itu kini menunjuk ke arah tubuh yang tergeletak beberapa meter dari mereka.

"Mandra adalah inang yang kuat. Butuh tiga anggota Geni untuk menahannya tanpa membunuh wadahnya."

Seringai Jagad melebar, memperlihatkan deretan gigi yang putih namun terasa tajam.

"Tapi pria ini... dia membakar penyakitnya tanpa membunuh inangnya."

Hendra tertegun.

Ia menatap Mandra. Sang mandor gudang itu terbaring pingsan, napasnya teratur, dadanya naik-turun dengan normal.

Tubuhnya utuh. Tidak ada luka bakar fisik. Tidak ada bau daging terpanggang.

Namun, di bawah kulit Mandra, residu Sengkolo yang biasanya mengerak dalam sumsum tulang telah lenyap. Bersih.

"Sarah," panggil Hendra. Suaranya rendah, sarat dengan beban otoritas yang mendadak terasa berat.

"Mana daftar hadir lembur gudang ini? Siapa saksi mata terakhir di lokasi sebelum kita sampai?"

Sarah bergerak cepat. Jemarinya yang ramping menari di atas layar tablet yang membiaskan cahaya biru ke wajahnya yang pucat.

Jantungnya berdegup kencang. Ada firasat buruk yang mulai memanjat tenggorokannya.

Ia menyaring daftar nama karyawan, mencocokkan koordinat GPS ponsel yang sempat aktif di titik koordinat ini.

"Hanya ada dua orang di zona ini saat insiden mencapai puncak, Komandan," lapor Sarah. Suaranya sedikit tercekat.

"Satu adalah Mandra, sang Inang. Dan yang kedua..."

Sarah mendadak membeku.

Namanya muncul di sana. Nama pria yang kemarin baru saja ia beri catatan Cepat sembuh di daftar pantauan.

Nama pria yang ia putus komunikasinya tepat saat fajar mulai menyingsing.

"Siapa?" desak Mahesa.

Langkah Mahesa mendekat, membawa aura kegelapan yang menekan dada Sarah hingga ia sulit bernapas.

"Rian," jawab Sarah lirih. "Buruh logistik senior. Dia seharusnya berada di titik nol saat ledakan termal ini terjadi."

Jagad bersiul rendah. Sebuah nada kekaguman yang bercampur dengan niat membunuh.

"Seorang buruh logistik? Selamat dari Skala Kritis tanpa lecet sedikit pun?"

Jagad menjilat bibirnya sendiri. Matanya berkilat liar.

"Entah dia adalah orang paling beruntung di dunia, atau dia adalah sesuatu yang lebih buruk daripada Sengkolo yang kita buru."

Mahesa menatap abu putih itu sekali lagi, lalu beralih ke arah pintu gudang. Pintu menuju Jakarta yang luas.

"Hendra, sampaikan pada Sang Adyaksa. Laskar Geni mengambil alih perburuan saksi ini."

Mahesa melirik Hendra dengan tatapan merendahkan yang dingin.

"Jika pria bernama Rian ini benar-benar 'predator', Laskar Arang hanya akan menjadi umpan meriam jika kalian mendekatinya."

"Kau tidak bisa mengambil alih wewenang ini, Mahesa!" geram Hendra.

"Aku tidak butuh wewenang untuk bertahan hidup," balas Mahesa tajam. "Jagad, ayo. Kita cari aroma panas ini sebelum benar-benar mendingin."

Laskar Geni menghilang ke dalam kegelapan di luar jangkauan lampu sorot. Meninggalkan keheningan yang menyesakkan bagi tim Laskar Arang.

Sarah menatap layar tabletnya. Profil wajah Rian yang kuyu dan lelah terpampang jelas di sana.

Di dalam kepalanya, suara Rian yang datar saat mereka berpisah di pesta pernikahan Maya kembali terngiang.

“Siapa kau ...?"

Sarah meremas ujung seragamnya.

Ia adalah detektor bahaya yang handal. Namun saat ini, alat tercanggihnya adalah rasa takut yang menjalar di tulang belakangnya.

"Komandan," ucap Sarah lirih. "Jika Rian benar-benar terlibat... apa yang harus kita lakukan?"

Hendra menatap langit-langit gudang yang masih menyisakan hawa hangat yang tidak alami.

"Kita lakukan apa yang selalu BARA lakukan, Sarah."

Hendra mematikan senter taktisnya. Kegelapan seolah menelan sosoknya.

"Kita amati. Kita isolasi. Dan jika dia terbukti sebagai ancaman Skala Singularitas..."

Hendra menjeda. Dingin.

"Kita hapus."

****

Markas Sektoral BARA.

Ruang Sidang Adyaksa.

Lampu ruangan itu temaram.

Hanya ada satu sorotan cahaya tajam yang jatuh tepat di tengah meja bundar.

Di sana, sebuah toples kaca berdiri angkuh. Isinya hanya abu keperakan.

Sisa-sisa dari apa yang pernah menjadi gudang Sektor 4-B.

Sang Dhuta menatap abu itu tanpa kedip.

Kacamata berbingkai perak yang ia kenakan berkilat, membedah spektrum energi yang masih tertinggal di sana.

"Laskar Arang menyebutnya 'Inversi Suci'."

Suara Sang Dhuta berat. Bergema di dinding kedap suara.

"Laskar Geni menyebutnya 'Predator'."

Ia menjeda. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik.

"Tapi aku menyebutnya ancaman bagi struktur kita."

Hendra berdiri kaku di sisi kiri.

Punggungnya tegak, namun jemarinya sedikit bergetar saat menyentuh panel kontrol.

Di sisi lain, Mahesa bersandar di dinding.

Wajahnya keras. Tidak sabar. Seolah-olah ruangan ini terlalu sempit untuk energinya yang meluap.

"Identitas saksi mata sudah dikonfirmasi," lapor Hendra.

Sebuah tombol ditekan. Proyeksi biometrik muncul di udara, memancarkan cahaya biru pucat.

"Rian. Tiga puluh tahun. Karyawan logistik selama dua belas tahun."

Hendra menggeser data itu dengan gerakan efisien.

"Catatan kriminal nihil. Riwayat energi gelap nol. Silsilah keluarga bersih hingga tiga generasi."

Hendra menatap Sang Dhuta dengan tatapan meyakinkan.

"Dia hanya manusia sipil yang kebetulan sedang lembur."

"Manusia sipil tidak menguapkan Sengkolo Skala Kritis dengan api murni, Hendra."

Mahesa memotong tajam.

Ia melangkah maju. Sepatunya menghantam lantai dengan bunyi yang solid.

Matanya menatap lurus ke arah proyeksi wajah Rian.

"Lihat matanya. Dalam foto ini, dia terlihat mati di dalam."

Mahesa mendengus. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.

"Tapi Jagad merasakan residu panasnya saat kami tiba. Pria ini bukan lagi Rian yang tercatat di kertasmu."

Panas.

Bahaya.

Sang Dhuta mengangkat tangan.

Satu gerakan sederhana yang sanggup membungkam perdebatan dalam sekejap.

"Kita tidak bisa mengeksekusi POI di pemukiman padat tanpa bukti manifes kekuatan."

Ia menoleh ke pojok ruangan yang paling gelap.

"Sarah. Kau mengenalnya secara personal. Apa pendapatmu?"

Sarah tersentak.

Sejak tadi ia hanya diam, mencoba mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan.

Ia menarik napas panjang. Udara di ruangan itu terasa kering dan berbau ozon.

"Dia... dia pria yang sangat biasa," suara Sarah pelan namun jernih.

Ia membayangkan wajah Rian. Wajah yang ia temui setiap hari selama lima tahun terakhir.

"Terlalu biasa hingga hampir tidak terlihat."

Sarah mengepalkan tangan di balik saku mantelnya.

"Tapi beberapa hari yang lalu, saat kami berpisah di pernikahan adiknya... ada sesuatu yang berbeda."

Ia mengingat sentuhan itu.

"Suhu tubuhnya. Cara dia bicara."

Sarah menatap Sang Dhuta dengan mata yang berkabut keraguan.

"Itu bukan Mas Rian yang saya kenal."

Asing.

Sang Dhuta mengetuk meja. Tok. Tok.

Bunyi itu terdengar seperti vonis.

"Bagus. Gunakan hubungan itu."

Ia berdiri. Jubahnya menyapu lantai tanpa suara.

"Hendra, siapkan Unit Arang untuk pengawasan jarak jauh."

"Mahesa, tempatkan Jagad sebagai pendukung taktis jika situasi berubah menjadi merah."

Pandangan Sang Dhuta kini terkunci pada Sarah. Dingin. Tak tersentuh.

"Sarah, kau akan mendatangi rumahnya."

Jantung Sarah berdegup kencang.

"Cari tahu apakah Rian masih ada di dalam tubuh itu."

Sang Dhuta berbalik, membelakangi mereka semua.

"Atau kita harus memanggil Sang Penempa untuk menyiapkan peti segel."

Peti mati.

Atau penjara abadi.

****

Gang Sempit Sektor 4.

16.00 WIB.

Rian duduk di bangku kayu yang ringkih.

Punggungnya bersandar pada dinding kusam yang catnya sudah mengelupas seperti kulit mati.

Di tangannya, sebuah gelas kopi plastik terlihat tenang. Isinya sudah mendingin sejak satu jam lalu.

Namun, asap tipis tetap mengepul dari permukaannya.

Bukan karena uap air panas, melainkan karena suhu dari jemarinya yang mulai tidak terkendali. Cairan di dalam gelas itu perlahan mendidih oleh sentuhan kulitnya sendiri.

"Kau tahu mereka ada di sana, bukan?"

Suara itu muncul lagi. Wisanggeni.

Serak seperti gesekan kayu kering yang terbakar di tengah hutan.

Pandangannya bukan lagi sekadar mata manusia. Lewat indra Wisanggeni, dunia berubah menjadi tumpukan frekuensi dan radiasi panas.

Ia melihat van putih di ujung jalan. Dua pria di dalamnya berpura-pura sibuk dengan kabel telepon. Laskar Arang.

Ia juga melihat di atas atap rumah tetangga. Sosok yang meringkuk, berusaha menekan hawa keberadaannya dengan energi gelap yang pekat. Jagad.

"Tugas untuk mengurungmu," Wisanggeni tertawa kecil. Tawa yang terasa seperti percikan bara di dalam kepala Rian.

"Manusia selalu takut pada api yang tidak bisa mereka kendalikan."

Rian meremas gelas nya hingga berubah bentuk.

"Mereka mengirim wanita itu. Si Arang kecil yang pernah kau cintai. Apa kau masih merasakan detak jantung yang mengganggu itu saat dia mendekat?"

Detak itu ada. Lemah, namun ritmenya sangat familiar bagi Rian.

Sarah baru saja turun dari ojek di depan gang.

Sarah melangkah perlahan. Setiap tapakannya terasa seperti mendaki gunung yang sangat terjal.

Di dalam tas selempangnya, jemarinya menggenggam perangkat Ganda-Waskita portabel. Besinya dingin, kontras dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya.

Jika jarum itu menyentuh zona merah, Rian bukan lagi seorang pria.

Dia adalah target yang harus dilumpuhkan.

"Mas Rian?" panggil Sarah saat ia tiba di depan pagar besi yang berkarat.

Rian menoleh.

Tatapannya datar. Setenang permukaan danau sebelum badai besar datang.

Namun, jauh di dalam pupil itu, Sarah melihat kilat pijar yang asing. Sebuah cahaya yang membuatnya secara insting ingin melangkah mundur.

"Sarah. Bukankah kita sudah kemarin?"

Suara Rian terdengar hampa. Tak ada emosi yang tertinggal di sana.

"Aku... aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," Sarah mencoba memaksakan sebuah senyum.

Tangannya di dalam tas gemetar hebat. Perangkat deteksi itu mulai memberikan getaran ritmik di ujung jarinya.

Kuning. Siaga.

"Aku dengar ada kejadian di gudang tempat kamu kerja semalam. Mandra dilarikan ke rumah sakit."

Rian berdiri dari bangkunya.

Gerakannya lambat, namun setiap inci pergeseran tubuhnya menciptakan tekanan udara yang berat. Oksigen di sekitar mereka seolah tersedot habis.

"Mandra sudah sehat. Penyakitnya sudah kubakar habis."

Sarah membeku. Paru-parunya seakan mendadak kaku.

Kubakar habis.

Itu bukan sekadar kiasan. Itu adalah sebuah pengakuan yang mengerikan.

"Mas, apa yang sebenarnya terjadi?"

Sarah melangkah maju satu tindak. Ia mencari sisa-sisa manusiawi di mata pria itu.

"Siapa kamu sekarang? Mas Rian yang aku kenal tidak bicara seperti ini."

Di atas atap, Jagad menarik belatinya. Logam hitam itu tidak memantulkan cahaya.

"Target melakukan kontak verbal yang mencurigakan," bisik Jagad ke arah mikrofon di kerahnya. "Izin untuk melakukan intervensi bayangan?"

"Tahan, Jagad. Tunggu sinyal dari Sarah," suara Hendra menjawab dari dalam van.

Rian terus berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.

Hawa panas memancar dari raga Rian. Bukan panas demam yang biasa Sarah obati.

Ini adalah panas kering yang membuat tenggorokan Sarah terasa seperti tercekik pasir.

[DETEKSI SKALA KRITIS]

Perangkat di dalam tas Sarah mendadak mengeluarkan pekikan frekuensi tinggi. Suara yang menyayat, yang hanya bisa didengar oleh telinga anggota BARA.

Jarumnya tidak lagi bergetar di zona Kuning. Ia melompati Oranye dengan liar dan menghantam batas maksimal.

Merah. Manifes Penuh.

"Sarah," ucap Rian.

Suaranya kini berlapis. Ada gema purba yang bergetar di balik pita suaranya. Suara Wisanggeni.

"Katakan pada teman-temanmu di balik tembok dan di atas atap itu. Jangan bermain dengan api di tempat yang sempit ini."

Rian menatap tepat ke arah kamera tersembunyi di kancing baju Sarah.

"Warga sipil bisa terluka."

Sarah pucat pasi. "Kamu... kamu tahu mereka ada di sini?"

"Aku bisa mendengar detak jantung mereka sejelas suara genderang pertempuran."

Rian beralih menatap ke arah atap.

"Dan kau, turunlah dari atap itu sebelum panas ini melelehkan sepatumu."

"Sialan! Dia tahu!" teriak Jagad.

Tanpa perintah, Jagad melompat. Ia adalah bayangan yang melesat jatuh dari ketinggian.

Belatinya terhunus ke arah bahu Rian, mengincar saraf motorik dengan presisi yang mematikan.

"JAGAD, JANGAN!" teriak Sarah histeris.

Rian tidak menghindar. Ia tidak bergeming.

Ia hanya mengangkat satu tangan dengan gerakan santai, seperti menghalau seekor nyamuk yang mengganggu tidurnya.

BOOM.

Bukan benturan fisik yang terdengar. Melainkan sebuah dentuman frekuensi yang memekakkan telinga.

Saat belati Jagad menyentuh aura tipis di atas kulit Rian, ledakan panas statis terpental keluar.

Jagad terlempar seper

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 16: Sisa Abu di Ujung Pelarian

    Alarm itu tidak lagi berbunyi sebagai peringatan.Ia melengking. Seperti jeritan panjang hewan yang sedang disembelih di atas altar beton.Lampu-lampu indikator Ruang Kendali Strategis BARA yang tadinya biru tenang, kini berkedip dalam ritme merah yang gila.Wajah-wajah para ilmuwan tersiram warna darah. Pucat. Penuh teror.Presisi matematika yang selama ini mereka agungkan di balik dinding steril ini menguap.Hancur.Rian berdiri terpaku di pusat kekacauan.Napasnya berat. Setiap tarikan oksigen terasa seperti menelan serbuk kaca yang mengiris paru-paru.Di dalam kepalanya, Wisanggeni tidak berteriak.Sang Dewa Api justru diam.Keheningan yang mencekam. Seperti laut yang surut drastis tepat sebelum tsunami menghantam daratan."Dia sudah melewati Pintu Delta," suara operator di konsol terdengar pecah oleh statis."Sektor pertahanan otomatis... tidak merespons. Senjata plasma... tidak mempan."Rian menoleh ke layar monitor utama yan

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 15: Pecahnya Sangkar Kemanusiaan

    Bau antiseptik itu tidak sekadar tercium.Ia menyerang.Menusuk masuk ke rongga hidung Rian bahkan sebelum kesadarannya pulih sempurna.Di samping telinganya, suara bip dari monitor jantung berdetak dengan ritme yang menyiksa.Setiap dentingnya terasa seperti ketukan palu godam yang menghantam saraf pelipis.Sakit.Rian memaksa kelopak matanya terbuka.Cahaya lampu neon di langit-langit menyambutnya tanpa ampun.Putih yang menyilaukan. Dingin. Tajam.Rian merasa seolah sebilah belati baru saja diputar di dalam pupil matanya.Ia berada di dalam tabung kaca sterilisasi.Kabel-kabel sensor menjalar di dada dan lengannya seperti parasit yang haus informasi.Di balik pembatas transparan, para peneliti dengan pakaian hazmat bergerak gesit.Mereka tidak menatapnya sebagai manusia.Hanya subjek. Hanya angka yang bergerak di layar monitor.Rian mencoba menggerakkan jemarinya.Perih yang membakar segera menyengat.Kulitnya ya

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 14: Singgasana di Balik Kerak Bumi

    Jakarta yang mendung kini hanya tinggal kenangan di atas sana.Ganaspati tidak lagi terbang.Tubuh barunya terlalu padat. Terlalu berat.Manifestasi fisik yang tercipta dari kegagalan pemurnian Wisanggeni itu kini terikat mutlak pada gravitasi.Ia berdiri di pusat kawah Sektor 7. Asap sisa ledakan masih mengepul, membelit kakinya yang legam.Di bawah pijakannya, tanah merekah. Bukan karena pergeseran tektonik, melainkan karena sebuah kehendak yang memaksa bumi untuk patuh.Sebuah celah menganga. Gelap dan tak berujung.Namun bagi mata Ganaspati—yang kini terdiri dari api emas curian—kegelapan itu justru berkilauan.Itu adalah jalan pulang.Ia melangkah masuk.Gravitasi menariknya jatuh dengan kecepatan gila.Namun, ini bukan kejatuhan yang menakutkan. Baginya, ini adalah pelukan seorang ibu yang menyambut anaknya yang telah lama hilang.Udara berubah drastis dalam hitungan detik.Oksigen Jakarta yang tipis dan berbau polusi lenyap

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 13: Kutukan Sang Penyelamat

    Sektor 7 bukan lagi sebuah lokasi konstruksi.Tempat itu telah berubah menjadi kawah neraka yang mendenyutkan hawa panas.Rian melesat. Tubuhnya bukan lagi sekadar daging dan tulang.Ada kilatan emas yang membungkus raganya—sebuah manifestasi dari api Wisanggeni yang mulai mengambil alih kesadaran.Dunia di matanya tampak melambat. Debu-debu semen yang beterbangan terlihat seperti partikel diam yang menunggu untuk dibakar.Langkahnya terhenti tepat sepuluh meter di depan sosok itu.Aris.Atau setidaknya, apa yang tersisa dari pemuda itu.Makhluk yang mendiami tubuh Aris meraung. Getarannya cukup kuat untuk meretakkan sisa-sisa beton di sekeliling mereka.Suara itu tidak manusiawi. Tajam dan menyakitkan telinga."Kau menahan apimu, Dewa?"Ejekan itu keluar dari mulut yang sudah tidak lagi simetris.Itu suara Ganaspati.Sebuah simfoni mengerikan antara geraman monster dan rintihan samar Aris yang tertindih di bawahnya.Tumpang tindih. Memuakkan.Ganaspati mengangkat tangan kanan Aris ya

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 12: Resonansi Emas dan Jelaga

    Layar hologram itu bergetar.Citra satelit Sektor 7 tersaji di depan mata. Jakarta pinggiran yang biasanya bising, kini tertutup kabut hitam pekat.Berdenyut. Seolah kawasan itu memiliki jantungnya sendiri."Target ini bukan Sengkolo biasa."Suara Sang Kriya berat. Menggantung di udara temaram ruang pemurnian."Namanya Aris. Sepuluh tahun lalu, dia adalah salah satu bintang paling terang di Laskar Geni."Rian berdiri mematung di dekat dinding yang retak. Sisa ledakan energinya tadi masih terasa sebagai getaran halus di bawah kakinya.Dia menajamkan pendengaran."Aris dijadikan subjek eksperimen oleh faksi konservatif," lanjut Kriya. Matanya melirik tajam pada Sang Dhuta yang baru saja masuk."Mereka mencoba memasukkan Ganaspati ke dalam tubuhnya. Roh api raksasa yang haus darah."Kriya menjeda. Kesunyian di ruangan itu terasa mencekik."Mereka pikir mereka bisa menciptakan senjata pemusnah massal yang patuh. Namun, manusia punya batas.""Jiwa Aris hancur. Yang tersisa hanyalah kebenci

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 11: Anatomi Abu dan Cahaya

    Keheningan itu lebih menyakitkan daripada ledakan.Udara tidak lagi panas, namun bau sangitnya tertinggal.Aroma ozon terbakar dan plastik meleleh menyesakkan paru-paru.Ada sesuatu yang purba di sana.Aroma abu pemakaman yang telah terkunci selama ribuan tahun.Rian tergeletak di tengah platform logam.Tubuhnya bergetar hebat.Bukan karena dingin.Sisa-sisa energi Wisanggeni masih berdenyut di bawah pori-porinya.Setiap kali ia menarik napas, dadanya terasa diiris serbuk kaca panas.Pahit.Di atas balkon observasi, Sang Dhuta berdiri mematung.Pria tua itu tampak seperti reruntuhan hidup.Jubah abu-abunya hangus di bagian lengan.Memperlihatkan kulit yang melepuh hitam.Itu bukan terbakar api biasa.Itu adalah jejak radiasi spiritual yang baru saja dipancarkan Rian.Napas Dhuta berat. Berbunyi ngik yang menyakitkan.Paru-parunya telah terpapar panas absolut."Kau... kau lihat itu, Mahesa?" bisik Dhuta pada

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 6: Bukan Lagi Manusia

    Hening yang mencekik.Rian terdiam.Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, raga ini melakukan sesuatu di luar kendalinya.Bukan sekadar refleks. Ini adalah pemberontakan sel-sel tubuh.Tangan Rian mengepal kuat. Keras.Suhu di sekitarnya melonjak drastis secara tidak wajar.Di dekat me

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 5: Tujuh Hari dan Satu Janji

    Lampu ruang tamu menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di dinding. Aris melangkah masuk dengan bahu yang kaku. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah apel dan pir terasa berat. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bunyi

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 4: Sesuatu yang Pulang Bersamanya

    Uap teh meliuk di udara. Maya menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam cangkir di depan Rian. Gerakannya hati-hati. Terlalu hati-hati. Uap itu mendadak bergulung lebih cepat saat mendekati jemari Rian. Seolah ada hawa panas tak kasatmata yang menyedotnya masuk. Maya menelan ludah. Ia du

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 3: Residu Manusia

    Tiga hari kemudian. Rian melangkah keluar dari lobi rumah sakit yang steril. Dokter yang menanganinya masih berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menatap punggung Rian dengan dahi berkerut dalam. Bingung. Surat jalan di tangan Rian adalah bukti sebuah kejaiban medis. Luka-lukanya menutup terl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status