แชร์

178. SISA BADAI SEMALAM

ผู้เขียน: vitafajar
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-12 23:55:50

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menciptakan garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas kelopak mata Arini. Wanita itu mengerang pelan, mencoba menghalau silau yang mengganggu tidurnya yang sangat berharga.

Namun, begitu ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk sekadar berbalik posisi, sebuah rasa nyeri yang tumpul menjalar dari pinggang hingga ke seluruh ujung kakinya. Sensasi pegal yang luar biasa itu seolah mengunci pergerakan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   178. SISA BADAI SEMALAM

    Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menciptakan garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas kelopak mata Arini. Wanita itu mengerang pelan, mencoba menghalau silau yang mengganggu tidurnya yang sangat berharga.Namun, begitu ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk sekadar berbalik posisi, sebuah rasa nyeri yang tumpul menjalar dari pinggang hingga ke seluruh ujung kakinya. Sensasi pegal yang luar biasa itu seolah mengunci pergerakannya di atas kasur."Aduh ...," rintih Arini pelan sembari meringis menahan perih.Ia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan yang sudah terang. Hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang menyentuh kulit bahunya yang polos di balik selimut sutra yang berantakan.Arini menoleh ke sisi ranjang di sebelahnya, berharap menemukan sosok pria yang menjadi alasan seluruh tubuhnya terasa seperti habis dihantam ombak besar. Namun, s

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   177. PUNCAK LEDAKAN CINTA

    Dinding-dinding walk-in closet yang elegan itu seolah tidak lagi mampu menampung energi panas yang meledak di antara keduanya. Di bawah temaram cahaya lampu yang kuning keemasan, Alvaro masih menggendong Arini dalam posisi yang sangat intim dan menuntut kekuatan fisik yang luar biasa.Keringat mulai bercucuran dari pelipis Alvaro, mengalir turun melewati leher dan membasahi kemeja putihnya yang kini sudah tidak lagi rapi. Namun, kekuatan otot lengannya seolah tidak memiliki batas, ia tetap menopang berat tubuh Arini sembari terus melakukan gerakan memaju-mundurkan pinggulnya dengan tenaga yang kian liar."Nngghhh ... Kak ... pelan-pelan ... ahh! Kita mau ke mana sih?" rintih Arini di sela-sela desahannya yang tersengal hebat.Kepalanya terkulai lemas di bahu kokoh Alvaro, namun kedua tangan Arini masih meremas kain kemeja suaminya dengan sangat erat. Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata, fokusnya sepenuhnya tercurah pada rasa nikmat yang menghantam setiap sel tubuhnya saat ini.Deng

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   176. PUNCAK YANG TERTAHAN

    Suasana di dalam walk-in closet yang mewah itu semakin memanas, oksigen seolah menipis tertutup oleh kabut gairah yang begitu pekat. Alvaro tidak lagi memberikan celah bagi Arini untuk sekadar menarik napas panjang. Dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat pinggul Arini, ia semakin memaju-mundurkan pinggulnya dengan ritme yang kian kencang dan bertenaga.Bunyi gesekan kulit dan deru napas yang memburu menjadi satu-satunya melodi yang memenuhi ruangan kedap suara itu."Nngghhh ... Kak ... ahh! Kak Alvaro!" desahan Arini pecah, suaranya bergetar hebat saat ia merasakan setiap dorongan Alvaro yang semakin dalam dan menuntut.Mata Alvaro yang gelap dan tajam tetap terkunci pada pantulan tubuh mereka di cermin besar di depan mereka. Ia ingin melihat setiap reaksi Arini, ingin merekam bagaimana wanita itu menyerah sepenuhnya di bawah kendalinya.Dengan gerakan yang kasar namun penuh damba, Alvaro menurunkan tali lingerie sutra merah di bahu kanan Arini. Kain tipis itu meluncur jatuh, memb

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   175. PENYATUAN DI DEPAN CERMIN

    Hening yang menyesakkan di dalam walk-in closet itu seketika pecah oleh deru napas yang memburu, saling bersahutan di antara rak-rak pakaian mewah dan jejeran koleksi jam tangan. Alvaro, yang selama beberapa menit tadi hanya mampu mematung, kini bergerak dengan dorongan insting yang tak lagi bisa ia bendung.Setiap langkah kakinya yang berat di atas lantai kayu oak terdengar seperti dentum genderang perang yang menuntut penyerahan diri mutlak. Tanpa sepatah kata pun, Alvaro sampai di hadapan Arini. Ia tidak menunggu instruksi lebih lanjut, gairah di matanya sudah cukup menjadi perintah.Dengan gerakan yang sangat tangkas, Alvaro menyusupkan kedua tangan besarnya di bawah ketiak Arini, mengangkat tubuh mungil istrinya seolah wanita itu hanyalah sehelai bulu yang tak berbobot. Ia memindahkan Arini dengan satu sentakan dominan yang penuh tenaga."Kak ... Aaakhh!" desis Arini tertahan saat ia merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya didudukkan dengan tegas di atas meja rias m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   174. PEMBALASAN DENDAM YANG MANIS

    Alvaro masih mematung di ambang pintu walk-in closet, tangannya masih menggenggam gagang pintu geser yang baru saja ia buka. Matanya sama sekali tidak berkedip, seolah-olah jika ia bernapas sedikit saja, pemandangan indah di depannya akan menghilang bak fatamorgana.Ia sudah sering melihat Arini dalam berbagai keadaan, anggun dengan gaun pesta, formal dengan setelan kantor, bahkan berantakan saat menangis. Namun, Arini yang berdiri di hadapannya saat ini adalah sebuah definisi godaan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya di dalam benaknya.Warna merah dari lingerie sutra itu tampak begitu kontras, hampir seperti api yang membakar kulit putih bersih istrinya yang bercahaya. Renda hitam yang tipis membingkai lekuk dadanya yang montok dengan sangat provokatif, sementara potongan tinggi di bagian paha memamerkan kaki jenjang yang indah.Namun, yang paling membuat pertahanan Alvaro runtuh adalah bibir Arini yang kini berwarna merah pekat, memberikan kesan berani, liar, dan sangat berku

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   173. MERAH YANG MEMBARA

    Keheningan di dalam kamar utama apartemen pribadi Alvaro terasa begitu pekat, namun sekaligus memberikan ketenangan yang menghanyutkan. Cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas dinding marmer yang dingin.Di atas ranjang luas itu, Alvaro dan Arini saling mengunci tatapan mata dengan intensitas yang sangat dalam. Tidak ada lagi suara bising wartawan, tidak ada lagi bayang-bayang intimidasi dari Tuan Besar Wijaya ataupun Sofia Wijaya, yang ada hanyalah deru napas yang saling bersahutan dalam irama yang sama.Alvaro perlahan mencondongkan tubuhnya, menelusuri garis rahang Arini dengan ujung jemarinya yang terasa sangat hangat. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma sisa parfum Arini yang kini bercampur dengan wangi maskulin miliknya, menciptakan sebuah simfoni aroma yang memabukkan.Tanpa sepatah kata pun, Alvaro menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sangat lembut dan penuh perasaan. Ciuman itu tidak dilakukan denga

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   172. PELABUHAN TERAKHIR

    Gedung pencakar langit Vertex Group perlahan menjauh di kaca spion saat mobil mewah Alvaro membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin mobil terasa jauh lebih tenang dan damai jika dibandingkan dengan ketegangan beberapa jam yang lalu.Ketegangan di lobi apartemen dan gemuru

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   171. ARSITEK DI BALIK LAYAR

    Mobil mewah Alvaro meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang sangat stabil dan terkendali. Di dalam kabin yang kedap suara itu, Arini masih terpaku menatap suaminya dengan tatapan yang sarat akan rasa ingin tahu yang mendalam.Pertanyaan tentang Operasi Vertex tadi benar-benar terus

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   170. BADAI DI LOBI UTAMA

    Ratusan lampu flash kamera wartawan menyambar wajah Arini bagaikan kilat yang mematikan, menciptakan pendar putih yang menyakitkan mata di lobi utama gedung apartemen mewah itu. Suara riuh pertanyaan media saling tumpang tindih, menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga, namun Arini tetap berd

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   169. CATUR DI BALIK KORIDOR

    Arini jatuh terduduk di atas salah satu kopernya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan air mata menetes di sela jemarinya. Ia merasa seolah-olah seluruh keberaniannya sebagai pemimpin Mahardika Group luruh begitu saja menghadapi kekejaman dinasti Wijaya yang tidak kenal aturan hukum.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status