Ayyana melangkah gontai menyusuri lorong apartemen. Langkahnya terasa berat, seolah setiap jengkal lantai yang ia injak adalah duri yang menusuk telapak kakinya. Saat pintu bernomor 402 terbuka, aroma masakan Rara menyambutnya, namun Ayyana tidak merasakan lapar sedikit pun. "Ayya? Kamu sudah pulang? Kamu dari mana saja?" tanya Rara yang muncul dari dapur dengan spatula di tangan. Ayyana tidak langsung menjawab. Ia meletakkan dua kantong kresek berisi kebutuhan bulanan di atas meja makan dengan pelan. "Aku habis membeli barang-barang yang habis, Ra," ujarnya lirih, suaranya serak dan nyaris hilang. Rara mendekat, namun gerakannya terhenti saat melihat wajah sahabatnya. Cahaya lampu neon yang terang di ruang tamu mempertegas segalanya. Mata Ayyana merah, bengkak, dan wajahnya sangat pucat. "Ayya ... kamu menangis?" Ayyana membuang muka, mencoba menghindari tatapan menyelidik Rara. "Tidak." "Jangan bohong! Aku mengenalmu bukan sehari dua hari, Ayya. Katakan padaku siapa yang m
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-13 อ่านเพิ่มเติม