"Dengar ya, bocah, aku masih kaya. Aku bahkan bisa membeli toko roti tempat kau bekerja," geram Aline."Oh, benarkah? Kalau begitu beli baju yang lebih layak untuk menyamar, agar tidak ketahuan," jawab bocah itu santai tanpa beban.Aline menarik napas panjang, lalu dia hembuskan dengan kuat, berharap kekesalan di dadanya segera menghilang."Oh ya, kau punya nama kan? Coba katakan padaku?" tanya Aline."Tidak mau," jawab bocah itu angkuh.Aline menghela napas panjang. "Terserahmu saja.""Tadi aku sudah berbicara dengan pemilik kedai, katanya kau sungguh bekerja di sana dan meminta maaf. Itu bagus," kata Aline. Dia tersenyum tipis, matanya agak menyipit."Aku bangga padamu." Aline berkata tulus, binar di matanya dan senyumnya mengatakan segalanya.Anak itu terdiam. Dia menunduk, matanya berkaca-kaca dengan air mata. Satu tangannya memegang dada."Kau kenapa? Sakit?" Aline memperhatikan, ada yang salah dengan bocah itu.Bocah itu menggigit bibir bawahnya. Air mata itu nyaris jatuh.Selai
続きを読む