เข้าสู่ระบบVelmora terlihat lebih terang malam itu.
Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati. Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan. Clarissa sudah berdiri di depan pintu. Hari ini dia mengenakan gaun putih buatan perancang busana kenamaan. Rambutnya diikat setengah. Ia tersenyum begitu melihat Jonathan keluar dari mobil. “Akhirnya kamu datang Jo. Aku pikir kamu akan lupa." Nada suaranya terdengar lega. Seolah ia sempat ragu bahwa Jo akan datang. “Maaf, tadi di toko-" “Tidak apa-apa.” Clarissa memotong cepat, sebelum Jo sempat menyelesaikan kalimatnya. Bahkan terlalu cepat. Clarissa menggenggam lengan Jonathan. "Ayo, masuk!" Ruangan itu hangat. Lampu kuning berpijar lembut menyinari seisi ruangan. Dindingnya penuh kain mahal yang digantung rapi. Seorang asisten datang membawa setelan jas yang sudah disesuaikan dengan ukuran tubuh Jo. Kini Jonathan berdiri di depan cermin. Sudah mengganti setelannya dengan jas berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kemeja sutra dan dasi kupu-kupu merah. Clarissa yang berdiri di belakangnya dengan senyum menggembang, menampakkan gigi putih yang tersusun rapi. Tangannya merapikan bahu jas itu pelan. “Kamu cocok sekali pakai ini...” katanya dengan bangga. Jonathan melihat pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya tegap, dan terlihat rapi. Seperti seseorang pria yang tahu akan apa yang ingin ia lakukan. Pikiran itu memunculkan kembali sebuah pertanyaan kecil dalam diri Jo. Sudah siapkah dirinya? Lengan Clarissa menyusup di antara tangan Jo, memeluk tubuh pria itu dari belakang. "Aku udah nggak sabar, Jo..." Dia mengakatakan itu dengan suara kecil, seakan tidak sedang memberitahu siapa-pun, tapi dirinya sendiri. Jonatan melepaskan pelukan Clarissa sambil berbalik, hingga mereka berhadap-hadapan. Jo memendang wanita yang ada di hadapannya dalam. Dia masih ingat pertemuan mereka di kampus dulu. Senyum gadis itu masih sama--senyum yang membuat Jo jatuh cinta. Tapi Jo menyadari bahwa kini jantungnya sudah tidak berdebar seperti dulu. Semakin hari, Jonathan merasa kalau bukan dia yang berhenti mencintai Clarissa, tapi gadis itulah yang terlebih dulu berhenti. Rasa cinta Clarissa telah berubah menjadi obsesi yang mencekik Jo. Jonatan memaksakan seulas senyum melengkung di bibir, tapi matanya terlihat kosong. "Kamu nggak terlihat senang, Jo," kata cewek itu dengan bibir mengerucut. Air mukanya terlihat sedih seketika. "Aku cuma sedang pusing, Clar... Audit sebentar lagi. Banyak yang kupikirkan," kalimat itu keluar seperti alasan dari mulut Jonatan. Sudah terlalu sering diucapkan. "Aku tahu! kamu bilang itu setiap hari sama aku." "Kalau kamu tahu itu, aku mohon kasih waktu aku untuk bernafas. Kasih aku waktu untuk mengurus semua kerjaanku." Jonathan memang selalu seperti itu. Datar, dan tidak berperasaan. Tapi dulu dia pernah hangat. Dulu dia pernah menatap Clarissa dengan penuh cinta. Tangan Clarissa terkepal kuat, ekspresi sedihnya mulai berganti dengan amarah. "Aku cuma minta waktumu, Jo. Apa itu terlalu banyak?" "Kita akan segera menikah. Kita akan punya banyak waktu..." Jonathan sudah cukup lelah hari ini. Audit, laporan import, belum lagi telpon dari Daniel dan Papanya yang datang silih berganti, hanya untuk memastikan Jonathan melakukan segalanya dengan sempurna. Jo berharap calon istrinya itu menjadi orang terakhir yang akan memperlakukanya dengan cara yang sama, tapi ternyata susah untuk membuat Clarissa memahaminya. Jo dan Clarissa sama-sama butuh waktu. Clarissa butuh waktu Jo untuk dirinya sendiri, sedang Jo butuh waktu untuk menyelesaikan semua perkerjaan, tanggung jawab dan beban yang diletakkan semua orang pada pundaknya. Mata Clarissa sudah berkaca-kaca. Tahu-tahu saja air mata mengalir membentuk anak sungai di pipinya. "Aku tahu, Jo. Tapi tetap saja aku rasa kamu berubah. Aku cuma takut kehilangan kamu." Jonathan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia menarik Clarissa mendekat, lalu memeluk tubuhnya. Cara itu selalu ampuh untuk meminta maaf. Bukan karena Jo menyadari kesalahannya, tapi karena menangis selalu jadi senjata andalan Clarissa ketika mereka berdua berdebat. Tidak pernah ada masalah yang benar-benar selesai. Mereka hanya berhenti membicarakannya, untuk kembali dipermasalahkan esok hari. *** Mobil Jonathan berhenti di sebuah rumah besar berpagar tinggi di distrik Valmere--sebuah distrik tempat berdirinya rumah-rumah elite dalam lingkungan yang privat. Ia menurunkan Clarissa di sana, tidak berniat mampir, hanya menunggu hingga lampu terasnya menyala, dan pintu rumah terbuka. Kemudian Jo melajukan kembali mobilnya. Sebenarnya dia tinggal di distrik yang sama dengan tempat Clarissa tinggal. Namun alih-alih pulang ke rumah, Jo memutar kemudinya ke arah lain. Mobil Jo kembali berhenti. Kali ini di tepi jalan besar yang sudah familiar. Dari dalam mobil, Jo bisa melihat bahwa toko buku sudah gelap. Tapi masih ada lampu yang menyala. Lampu di gudang belakang--terlihat dari lorong antara rak-rak distribusi. Ia masuk dengan kunci cadangan. Suara langkah berbalut sepatu kulit mahal milik Jo, beradu pelan dengan lantai. Di dalam gudang, Jena berdiri di antara rak stok impor, ia bersandar pada rak di belakangnya. Kedua tangannya menggenggam buku The Goal: A Process of Ongoing Improvement karya Eliyahu M. Goldratt. Jena tampak fokus sekali sampai-sampai dia tidak mendengar langkah Jo. Ia menoleh begitu mendengar pintu terbuka. Jena segera menutup buku di tangannya, dan menjejalkan buku itu sembarang ke dalam rak. Cukup terlambat, karena Jo sudah terlanjur melihat apa yang Jena lakukan. "Maaf, Pak." Jena menggigit bibir bawahnya. Rasanya seperti seseorang baru saja memergokinya melakukan suatu kesalahan --Kalau diam-diam membaca buku reject yang sudah terbuka di gudang merupakan sebuah kesalahan. Jonathan tidak terkejut. Dia tahu selama ini Jena diam-diam suka membaca buku di sela perkerjaanya--Buku yang disediakan sebagai sempel untuk pembeli, atau buku reject yang menumpuk di gudang seperti apa yang dia lakukan sekarang. Jonathan berhenti beberapa langkah darinya. “Kamu pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan alur kerja?” Jonathan melirik sekilas ke arah di mana Jena menjejalkan buku itu tadi. "Alur kerja nggak selalu menyelesaikan, Pak. Tapi cukup membantu kita berhenti menyalahkan orang yang salah.” "Kadang masalahnya memang berasa dari orang-orang." “Atau mereka cuma bagian dari sistem yang salah," jawab Jena percaya diri, membuat keheningan mengatung di uadara beberapa saat. Kemudian Jena menyadari jika Jonathan sudah pulang awal, tadi. Lantas kenapa dia tiba-tiba ada di sini sekarang? “Bapak belum pulang?" tanya Jena. "Atau butuh sesuatu? barang kali saya bisa bantu." "Kamu sendiri, kenapa masih di sini?" Jena tersenyum kaku. Dia menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. "Saya mengerjakan laporan audit Pak." Jena mengambil buku laporan yang tadi dia letakkan di atas tumpukan kardus di sampingnya, kemudian menunjukannya kepada Jonathan. Jena tidak ingin membuat bosnya itu salah paham. "Saya cuma pinjam bukunya dari tumpukan buru reject, Pak." Jena berusaha menjelaskan asal buku yang dia baca itu. "Nggak masalah. Kamu bisa baca dan pinjam buku apapun yang kamu mau," kata Jo. Seketika mata Jena berbinar-binar. "Bener gapapa, Pak?" "Iya." Jena selalu berkerja dengan ekspresi yang tenang. Selalu telihat lebih dewasa dari usianya. Namun untuk pertama kalinya Jo melihat gadis itu dengan raut sebahagia itu. Seakan yang Jo berikan barusan adalah izin menggali harta karun. Pada titik ini, Jo menyadari jika ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Jonathan melepas jas yang masih menempel pada tubuhnya, dan mengantungnya di sudut rak. Dia kemudian menggulung lengan kemeja hingga ke siku, dan mengambil laporan dari tangan Jena. "Saya akan bantu selesaikan malam ini." "Eh, jangan, Pak. Biar saya aja. Bapak bisa pulang untuk istirahat. Bapak kelihatan lelah sekali." Jonathan melirik gadis itu. Mata Jena mengedip beberapa kali saat Jo melihat ke arahnya. Jena takut ada yang salah dengan apa yang dia ucapkan barusan, sebab kini Jo memandangnya dengan cara berbeda dari biasanya. Jena belum tahu harus menyebutnya apa. "Atau kamu juga bisa pulang sekarang, dan lanjutkan laporannya besok..." ujar Jo. Jena berpikir sejenak, lalu mengangguk ragu. Jena sedang tidak dalam posisi mau dan bisa berlama-lama berada di ruangan yang sama berdua saja dengan Jonathan. Setelah malma itu, Jena masih merasa bersalah karena sudah mendengar percakapan Jo via telpon dengan Clarissa. Melihat Jo dalam keadaan yang mungkin--Jo tak ingin siapa pun melihatnya. "Tapi Bapak juga akan pulang sekarang 'kan?" ucap Jena memastikan. Entah apa yang sedang dia coba pastikan. Jo merasa kalimat itu seperti segelas teh yang langsung menjalar hangat hingga ke dadanya. Padahal hanya sebuah kata yang normal. Kata-kata sepele yang bisa diucapkan siapa saja. Namun nadanya tidak terdengar seperti pertanyaan, tuntutan, atau perintah. "Kamu butuh tumpangan? saya akan antar kamu." "Eh, enggak, Pak. Bukan itu maksud saya..." Namun terlambat. Niat Jena menghindari manusia itu, justru membuatnya mendapatkan pemawaran yang sama sekali tidak bisa dia tolak. Jonathan tidak menerima kata tidak. Jena terbiasa memahaminya seperti itu."Masa cewek secantik kamu Jomblo, Je?" Wajah Jena memanas seketika. Namun dia memaksakan sebuah tertawa yang hambar, "emang siapa sih yang mau sama orang kaya aku," katanya. "Kalau kamu mau, aku mau," kata cowok itu membuat Jena hampir sersedak ludahnya sendiri. Poppy dengan cepat menyodorkan air pada Jena yang sedang terbatuk-batuk. "Jangan nervous gitu, kali, Je. Biasa aja," ledek Poppy kemudian tiba-tiba ia mengode pria di hadapannya dengan kedipan mata, agar mereka meninggalkan Jena dan cowok itu berduaan saja. Pria yang ada di hadapan Poppy itu mengerti, dia segera berdiri sambil berkata, "eh, Je. Aku boleh pinjem Poppy sebentar, ya... Aku ada yang pengen dibeli, nih. Kayanya selera Poppy bagus dan bisa bantuin gue milih." Jena melempar pandangan ke arah Poppy dengan tampangnya yang polos, lalu pandamgannya beralih pada cowok di hadapannya. "Gimana kalau kita ikut sekalian?" tanya Jena pada cowok itu--namanya Rayan. Cowok itu melirik ke arah temannya, untuk ber
Tentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu
Berakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May
"Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang
"Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan
"Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan agar tak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat Jo berhasil menyentuh area sensitisnya, sebelah tangannya lagi mencengkram tiang rak yang ada di sebelahnya karena lututnya mulai terasa lemas akibat gesekan jari Jo dari balik celana dalamnya. "Jo... jangan," katanya pelan. Namun setelah mengatakan itu, tangan yang tadinya Jena gunakan menutup mulutnya, kini justru melingkar ke atas, ke belakang leher Jonathan. Jemarinya menyusup di antara rambut belakang kepala Jo--hal yang selalu berhasil membuat napsu Jo naik hingga ke kepala. Jarinya menyelinap dari sisi celana dalam Jena, mengusap lembut bibir vagina yang mulai basah itu. Jena menggit bibir bawahnya, berus







