Share

Sesuatu yang mengawali

last update Dernière mise à jour: 2026-02-17 23:58:24

Velmora terlihat lebih terang malam itu.

Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati.

Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan.

Clarissa sudah berdiri di depan pintu. Hari ini dia mengenakan gaun putih sederhana, buatan perancang busana kenamaan. Rambutnya diikat setengah. Ia tersenyum begitu melihat Jonathan keluar dari mobil.

“Akhirnya kamu datang Jo. Aku pikir kamu akan lupa."

Nada suaranya terdengar lega.

Seolah ia sempat ragu bahwa Jo akan datang.

“Maaf, tadi di toko-"

“Tidak apa-apa.” Clarissa memotong cepat, sebelum Jo sempat menyelesaikan kalimatnya.

Bahkan terlalu cepat.

Clarissa menggenggam lengan Jonathan.

"Ayo, masuk!"

Ruangan itu hangat.

Lampu kuning berpijar lembut menyinari seisi ruangan. Dindingnya penuh kain mahal yang digantung rapi.

Seorang asisten datang membawa setelan jas yang sudah disesuaikan dengan ukuran tubuh Jo.

Kini Jonathan berdiri di depan cermin. Sudah mengganti setelannya dengan jas berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kemeja sutra dan dasi kupu-kupu merah.

Clarissa yang berdiri di belakangnya dengan senyum menggembang, menampakkan gigi putih yang tersusun rapi. Tangannya merapikan bahu jas itu pelan.

“Kamu cocok sekali pakai ini...” katanya dengan bangga.

Jonathan melihat pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya tegap, dan terlihat rapi. Seperti seseorang pria yang tahu akan apa yang ingin ia lakukan.

Pikiran itu memunculkan kembali sebuah pertanyaan kecil dalam diri Jo. Sudah siapkah dirinya?

Lengan Clarissa menyusup di antara tangan Jo, memeluk tubuh pria itu dari belakang. "Aku udah nggak sabar, Jo..."

Dia mengakatakan itu dengan suara kecil, seakan tidak sedang memberitahu siapa-pun, tapi dirinya sendiri.

Jonatan melepaskan pelukan Clarissa sambil berbalik, hingga mereka berhadap-hadapan. Jo memendang wanita yang ada di hadapannya dalam.

Dia masih ingat pertemuan mereka di kampus dulu. Senyum gadis itu masih sama--senyum yang membuat Jo jatuh cinta. Tapi Jo menyadari bahwa kini jantungnya sudah tidak berdebar seperti dulu.

Semakin hari, Jonathan merasa kalau bukan dia yang berhenti mencintai Clarissa, tapi gadis itulah yang terlebih dulu berhenti. Rasa cinta Clarissa telah berubah menjadi obsesi yang mencekik Jo.

Jonatan memaksakan seulas senyum melengkung di bibir, tapi matanya terlihat kosong.

"Kamu nggak terlihat senang, Jo," kata cewek itu dengan bibir mengerucut. Air mukanya terlihat sedih seketika.

"Aku cuma sedang pusing, Clar... Audit sebentar lagi. Banyak yang kupikirkan," kalimat itu keluar seperti alasan dari mulut Jonatan.

Sudah terlalu sering diucapkan.

"Aku tahu! kamu bilang itu setiap hari sama aku."

"Kalau kamu tahu itu, aku mohon kasih waktu aku untuk bernafas. Kasih aku waktu untuk mengurus semua kerjaanku."

Jonathan memang selalu seperti itu. Datar, dan tidak berperasaan. Tapi dulu dia pernah hangat. Dulu dia pernah menatap Clarissa dengan penuh cinta.

Tangan Clarissa terkepal kuat, ekspresi sedihnya mulai berganti dengan amarah.

"Aku cuma minta waktumu, Jo. Apa itu terlalu banyak?"

"Kita akan segera menikah. Kita akan punya banyak waktu..."

Jonathan sudah cukup lelah hari ini.

Audit, laporan import, belum lagi telpon dari Daniel dan Papanya yang datang silih berganti, hanya untuk memastikan Jonathan melakukan segalanya dengan sempurna.

Jo berharap calon istrinya itu menjadi orang terakhir yang akan memperlakukanya dengan cara yang sama, tapi ternyata susah untuk membuat Clarissa memahaminya.

Jo dan Clarissa sama-sama butuh waktu. Clarissa butuh waktu Jo untuk dirinya sensiri, sedang Jo butuh waktu untuk menyelesaikan semua perkerjaan, tanggung jawab dan beban yang diletakkan semua orang pada pundaknya.

Mata Clarissa sudah berkaca-kaca. Tahu-tahu saja air mata mengalir membentuk anak sungai di pipinya. "Aku tahu, Jo. Tapi tetap saja aku rasa kamu berubah. Aku cuma takut kehilangan kamu."

Jonathan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia menarik Clarissa mendekat, lalu memeluk tubuhnya. Cara itu selalu ampuh untuk meminta maaf.

Bukan karena Jo menyadari kesalahannya, tapi karena menangis selalu jadi senjata andalan Clarissa ketika mereka berdua berdebat. Tidak pernah ada masalah yang benar-benar selesai. Mereka hanya berhenti membicarakannya, untuk kembali dipermasalahkan esok hari.

***

Mobil Jonathan berhenti di sebuah rumah besar berpagar tinggi di distrik Valmere--sebuah distrik tempat berdirinya rumah-rumah elite dalam lingkungan yang privat.

Ia menurunkan Clarissa di sana, tidak berniat mampir, hanya menunggu hingga lampu terasnya menyala, dan pintu rumah terbuka.

Kemudian Jo melajukan kembali mobilnya.

Sebenarnya dia tinggal di distrik yang sama dengan tempat Clarissa tinggal. Namun alih-alih pulang ke rumah, Jo memutar kemudiannya ke arah lain.

Mobil Jo kembali berhenti. Kali ini di tepi jalan besar yang sudah familiar.

Dari dalam mobil, Jo bisa melihat bahwa toko buku sudah gelap. Tapi masih ada lampu yang menyala. Lampu di gudang belakang--terlihat dari lorong antara rak-rak distribusi.

Ia masuk dengan kunci cadangan. Biasanya ada seorang keamanan yang akan berjaga hingga malam. Namun beberapa hari lalu dia bertenti berkeja, dan Jo belum sempat menyuruh orang untuk mencari gantinya.

Suara langkah berbalut sepatu kulit mahal mengkilap, beradu pelan dengan lantai. Di dalam gudang, Jena berdiri di antara rak stok impor.

Ia bersandar pada rak di belakangnya. Kedua tangannya menggenggam buku The Goal: A Process of Ongoing Improvement karya Eliyahu M. Goldratt.

Jena tampak fokus sekali sampai-sampai dia tidak mendengar langkah Jo.

Ia menoleh begitu mendengar pintu terbuka. Jena segera menutup buku di tangannya, dan menjejalkan buku itu sembarang ke dalam rak.

Cukup terlambat, karena Jo sudah terlanjur melihat apa yang Jena lakukan.

"Maaf, Pak." Jena menggigit bibir bawahnya. Rasanya seperti seseorang baru saja memergokinya melakukan suatu kesalahan-- Kalau diam-diam membaca buku reject yang sudah terbuka di gudang merupakan sebuah kesalahan.

Jonathan tidak terkejut. Dia tahu selama ini Jena diam-diam suka membaca buku di sela perkerjaanya. Buku yang disediakan sebagai sempel untuk pembeli, atau buku reject yang menumpuk di gudang seperti apa yang dia lakukan sekarang.

Jonathan berhenti beberapa langkah darinya.

“Kamu pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan alur kerja?” Jonathan melirik sekilas ke arah di mana Jena menjejalkan buku itu tadi.

"Alur kerja nggak selalu menyelesaikan, Pak. Tapi cukup membantu kita berhenti menyalahkan orang yang salah.”

"Kadang masalahnya memang berasa dari orang-orang."

“Atau mereka cuma bagian dari sistem yang salah," jawab Jena percaya diri, membuat keheningan mengatung di uadara beberapa saat.

Kemudian Jena menyadari jika Jonathan sudah pulang awal tadi. Lantas kenapa dia tiba-tiba ada di sini sekarang?

“Bapak belum pulang?" tanya Jena. "Atau butuh sesuatu? barang kali saya bisa bantu."

"Kamu sendiri, kenapa masih di sini?"

Jena tersenyum kaku. Dia menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. "Saya mengerjakan laporan audit Pak." Jena mengambil buku laporan yang tadi dia letakkan di atas tumpukan kardus di sampingnya, kemudian menunjukannya kepada Jonathan.

Jena tidak ingin membuat bosnya itu salah paham. "Saya cuma pinjam bukunya dari tumpukan buru reject, Pak." Jena berusaha menjelaskan asal buku yang dia baca tadi.

"Nggak maaalah. Kamu bisa baca dan pinjam buku apapun yang kamu mau," kata Jo.

Seketika mata Jena berbinar-binar. "Bener gapapa, Pak?"

"Iya."

Jena selalu berkerja dengan ekspresi yang tenang. Selalu telihat lebih dewasa dari usianya. Namun untuk pertama kalinya Jo melihat gadis itu dengan raut sebahagia itu. Seakan yang Jo berikan barusan adalah izin menggali harta karun.

Pada titik ini, Jo menyadari jika ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu.

Jonathan melepas jas yang masih menempel pada tubuhnya, dan mengantungnya di sudut rak. Dia kemudian menggulung lengan kemeja hingga ke siku, dan mengambil laporan dari tangan Jena.

"Saya akan bantu selesaikan malam ini."

"Eh, jangan, Pak. Biar saya aja. Bapak bisa pulang untuk istirahat. Bapak kelihatan lelah sekali."

Jonathan melirik gadis itu. Mata Jena mengedip beberapa kali saat Jo melihat ke arahnya. Jena takut ada yang salah dengan apa yang dia ucapkan barusan.

Tapi sepertinya tidak.

"Atau kamu juga bisa pulang sekarang, dan lanjutkan laporannya besok..."

Jena berpikir sejenak, lalu mengangguk ragu. Jena sedang tidka salam posisi mau dan bisa berlama-lama berada di ruangan yang sama berdua saja dengan Jonathan.

Setelah malma itu, Jena masih merasa bersalah karena sudah mendengar percakapan Jo via telpon dengan Clarissa. Melihat Jo dalam keadaan yang mungkin--Jo tak ingin siapapun melihatnya.

"Tapi Bapak juga akan pulang sekarang 'kan?" ucap Jena memastikan. Entah apa yang sedang dia coba pastikan.

"Kamu butuh tumpangan? saya akan antar kamu."

"Eh, enggak, Pak. Bukan itu maksud saya..."

Namun terlambat. Niat Jena menghindari manusia itu, justru membuatnya mendapatkan pemawaran yang sama sekali tidak bisa dia tolak.

Jonathan tidak menerima kata tidak. Jena terbiasa memahaminya seperti itu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Transaksi

    Jena terbangun esokan harinya. Cahaya mentari menyusup lembut dari balik tirai apartemen, memberi sedikit sinar pada ruang yang lampunya sudah dimatikan itu. Jena mengintip ke dalam selimut. Tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun. Ia membalik badan, tak ada Jo di sana. Jena beranjak perlahan, membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran shower. Berkali-kali merutuki dirinya sendiri, yang terbangun pagi ini di ranjang bosnya. Jena yakin dia pasti sudah gila. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Jena ingin tetap berlama-lama di dalam sini, sebab dia sama sekali tidak tahu bagaimana dia harus berhadapan dengan Jo setelah ini. Namun setelah marenung cukup lama, akhirnya Jena keluar dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya. Jena sama sekali tidak menyangka jika saat dia membuka pintu kamar mandi, hal yang pertama kali dia dapati adalah Jonathan. Duduk di atas kasur tepat menghadao kamar mandi seolah sedang menungg

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Melewati batas

    Jantung Jena berdegup kencang merasakan hapas Jonathan menyentuh kutnya hangat. Sesuatu di dalam dirinya berteriak, menyuruhnya bangkit dan pergi. Menyadarkan jika Jo sudah bertunangan. Laki-laki itu akan segera menikah. Tapi tubuh Jena justru mengatakan lain. Dia tidak bergerak, Jonathan tahu ini tidak benar. Namun wajahnya terus saja mendekat pada gadis itu. Terlalu dekat. Jena tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula menahan dada Jonathan perlahan melemah. Ia tahu pintu itu masih ada di belakangnya. Jena harusnya berdiri, membukanya, kemudian pergi, lalu pulang dengan kereta terakhir. Besok dia bisa berkerja, dan kembali memanggil Jonathan Pak seperti sebelumnya. Tapi tubuhnya masih tak bergerak. Tatapan mereka terkunci pada satu titik, dengan jarak yang perlahan makin menipis. Jonathan tidak menyentuh lagi, seolah menunggu. Solah memberi waktu dan kesempatan pada Jena untuk menolak. Beberapa detik berlalu, lampu dapur memantul di mata Jena, tapi dia tetap tidak bang

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Batas yang Mengabur

    Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil Jonathan, yang membelah pelan jalan kota Alvendere. Pijar lampu-lampu jalan sesekali menyusup dari balik kaca mobil yang gelap. Udara dingin AC mobil itu menusuk bahkan sampai ke balik jaket rajut Jena yang tipis. Dari sudut matanya, Jonathan melirik ke arah gadis itu. Dari pada dingin AC, Jena lebih tersiksa dengan kecanggungan yang menyelimuti setiap sudut ruang di mobil ini. Barang kali hanya Jena saja yang menganggapnya begitu, karena seperti biasanya--Jo selalu diam tanpa ekspresi. Datar dan selalu terlihat tidak berperasaan. Mendapatkan tawaran tumpangan dari pria itu malam ini saja sudah cukup mengejutka. "Sepertinya kamu cukup tertarik dengan menejemen." Suara berat Jonathan membelah keheningan. "Saya selalu ingin mengambil jurusan manejemen bisnis saat kuliah." "Kenapa tidak kamu lakukan?" Kepala Jena menoleh ke arah samping. Dia tersenyum kecil melihat ekspresi yang Jo tampikan. Tentu saja bagi Jo yang lahir dengan sen

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Sesuatu yang mengawali

    Velmora terlihat lebih terang malam itu. Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati. Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan. Clarissa sudah berdiri di depan pintu. Hari ini dia mengenakan gaun putih sederhana, buatan perancang busana kenamaan. Rambutnya diikat setengah. Ia tersenyum begitu melihat Jonathan keluar dari mobil. “Akhirnya kamu datang Jo. Aku pikir kamu akan lupa." Nada suaranya terdengar lega. Seolah ia sempat ragu bahwa Jo akan datang. “Maaf, tadi di toko-" “Tidak apa-apa.” Clarissa memotong cepat, sebelum Jo sempat menyelesaikan kalimatnya. Bahkan terlalu cepat. Clarissa menggenggam lengan Jonathan. "Ayo, masuk!" Ruangan itu hangat. Lampu kuning berpijar lembut menyinari seisi ruangan. Dindingnya penuh kain mahal yang digantung rapi. Seorang asisten datang membawa setelan

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hal remeh yang mengganggu

    Jena sedang terduduk di dalam kamar kosnya yang sempit. Setelah kejadian tadi, tak banyak percakapan yang terjadi antara dirinya dan Dimas di sepanjang sisa perjalanan. Jena masih menghitung beberapa lembar uang yang tergeletak di atas meja kecil, sambil mencoret-coret buku keuangannya beberapa kali. Uang itu adalah tabungan yang berhasil dia kumpulnya selama lebih dari setahun dia berkerja di toko Lentera. Jumlahnya masih jauh dari kata cukup, untuk Jena bisa mendaftar di universitas impiannya. Uang itu kini bahkan harus Jena kurangi untuk membayar biaya kosnya yang tiba-tiba saja naik. *** Langit masih kelabu ketika Jena menaiki tangga keluar stasiun kereta Alvendere. Udara dingin menusuk kulit, padahal cahaya mentari mulai tampak bersinar malu-malu dari balik awan-awan tebal. Jena berjalan cepat menyusuri trotoar, melewati deretan café yang belum buka dan butik dengan etalase bersih, yang terpajang gaun-gaun cantik di dalamnya. Toko Buku Lentera berdiri di sudut jalan ut

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Rasa tidak nyaman

    Audit membuat semua orang pulang lebih lambat dari biasanya. Rak-rak yang seharusnya sudah rapi kembali diperiksa. Laporan yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi, harus dicetak ulang sebab formatnya tidak sesuai dengan standar pusat. Rani sudah pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, begitu pun karyawan lain. Satu per satu bergerak meninggalkan toko, karena kini jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh malam. Lampu utama dimatikan sebagian. Hanya menyisakan cahaya di dekat kasir dan lorong tengah. Jena masih duduk di meja kasir, menatap layar komputer dengan mata yang mulai perih dan berair. Angka-angka pelanggan tetap itu harus benar sebelum audit datang. Kalau ada satu saja yang salah mereka harus menyusun ulang data dari awal. Ia menarik napas pelan, berdiri mengambil map laporan yang baru saja selesai dicetak. Jena melirik sebentar ke arah kantor Jonatan yang lampunya masih meyala, pintu tidak tertutup rapat. Jena kemudian memutus

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status