Se connecterAudit membuat semua orang pulang lebih lambat dari biasanya.
Rak-rak yang seharusnya sudah rapi kembali diperiksa. Laporan yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi, harus dicetak ulang sebab formatnya tidak sesuai dengan standar pusat. Rani sudah pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, begitu pun karyawan lain. Satu per satu bergerak meninggalkan toko, karena kini jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh malam. Lampu utama dimatikan sebagian. Hanya menyisakan cahaya di dekat kasir dan lorong tengah. Jena masih duduk di meja kasir, menatap layar komputer dengan mata yang mulai perih dan berair. Angka-angka pelanggan tetap itu harus benar sebelum audit datang. Kalau ada satu saja yang salah mereka harus menyusun ulang data dari awal. Ia menarik napas pelan, berdiri mengambil map laporan yang baru saja selesai dicetak. Jena melirik sebentar ke arah kantor Jonatan yang lampunya masih meyala, pintu tidak tertutup rapat. Jena kemudian memutuskan untuk mendekat, dan mengetuk pintu itu pelan. Tok tok Tidak ada jawaban. Sepertinya bosnya itu tidak ada di dalam. Barang kali sedang ada di gudang, atau justru sudah pulang tanpa Jena sadari. Jika memang begitu, harus ada seseorang yang mematikan lampu kantornya. Jena mendorong pintu sedikit-- Lalu tekanan pada tangannya berhenti. “…aku sudah bilang aku akan usahakan.” Suara itu suara Jonathan. Terdengar lebih pelan dari biasanya. Tidak tegas. Tidak terdengar nada datarnya saat memberi perintah. Ia lebih seperti seseorang yang sedang mencoba tetap tenang. Jena langsung menahan napas beberapa detik. Ia sama sekali tidak bermaksud menguping. Benar-benar tidak. Namun di saat bersamaan kakinya juga tidak ingin langsung bergerak menjauh. “Clar, jangan begitu...” Hening mengatung di udara beberapa detik. Jena tidak bisa mendengar suara di seberang sana, tapi ia bisa menebak siapa yang sedang diajak bicara Jo sekarang. Jonathan berdiri memunggungi pintu tempat di mana Jena berdiri, menghadap ke dinding kaca yang memantulkan pemandangan malam kota yang masih tampak sibuk. Satu tangan memegang ponsel di telinga, dan tangannya yang lain mencengkeram tepi meja kerjanya. Urat-urat di punggung tangannya terlihat tegang. “Aku nggak bisa selalu pulang tepat waktu.” Kini nada suaranya berubah. Masih datar, tapi ada sesuatu yang terdengar terak di sana. Retakan kecil yang belum pernah Jena dengar. Jena seharusnya pergi. Ia tahu itu. Tapi tubuhnya seperti membeku. “Aku nggak menghindar.” Hening lagi. Suara napas Jonatan terdengar pendek, seolah ia sedang menahan sesuatu. Lalu, sangat pelan-- “Aku cuma... capek.” Jena menunduk cepat. Jemarinya menggengam map dengan erat. Seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak seharusnya. Ia mundur satu langkah. Map di tangannya hampir terjatuh lagi, tapi ia menahannya. Langkahnya mundur pelan, kemudian berbalik. Dan kali ini benar-benar pergi, kembali ke belakang meja kasir. Beberapa menit kemudian, Jonathan keluar dari ruang kantor. Jena melirik sekilas dengan ekor matanya. Air muka Jo sudah kembali terlihat seperti biasanya. Dingin. Rapi. Dan Tak terbaca. Seolah hal-hal tadi tidak pernah dia keluar dari mulutnya. Seolah dia kembali menjadi orang yang tak bisa merasakan emosi apapun seperti sebelumnya. Ia melihat Jena yang masih ada di bawah lampu, di belakang meja kasir. Tepat di mana gadis itu selalu berada. Dia tak pernah pulang awal, padahal Jo tahu Jena juga yang tiba paling pagi. Seperti tak ada hal yang membuatnya ingin pulang. “Kamu masih belum pulang?” Jena sedikit tersentak, dia mendongak cepat. “Sebentar lagi, Pak.” Jawabannya selalu saja begitu. "Apa orang tuamu tidak khawatir kalau kamu selalu pulang semalam ini?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Jo bahkan tidak tahu kenpa dia menanyakannya. "Orang tua saya sudah nggak ada, Pak. Saya cuma tinggal sendiri," jawab Jena sembari tersenyum tipis. "Maaf..." Sorot mata Jo melemah, ketika dia mengatakannya. Kepala Jena menggeleng. "Nggak masalah, Pak. itu bukan sesuatu yang istimewa." Meski Jena mengucapkannya masih dengan sebuah senyum tipis yang tergambar di wajahnya, Jonathan menyadari jika sorot mata gadis itu memancarkan sebuah kesedihan. Gadis itu tidak pernah terlihat begitu sebelumnya. Mumunculkan sedkit getaran aneh dalam dada Jonathan. Ia berdiri di sana beberapa detik lebih lama dari biasanya. Seperti berniat mengatakan sesuatu yang kini hanya nyangkut di tenggorokan. “Jangan pulang terlalu malam.” Lagi-lagi hanya kalimat itu yang keluar. “Siap, Pak.” Setelah mendengar jawaban dari Jena, dia berbalik. Langkahnya kembali stabil. Seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda dia menyadari bahwa Jena baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak pernah dia curi dengar. Hujan mulai turun kembali. Mengetuk kaca-kaca besar yang mengelilingi toko buku di tengah kota itu. Jena kembali menatap layar komputer, sedangkan angka-angka itu tidak lagi terbaca jelas. Pikirannya terus kembali pada satu kalimat-- "Aku cuma capek." Tentu saja semua orang bisa merasa lelah. Tentu semua orang boleh begitu. Namun mendengar kata itu langsung keluar dari mulut Jo, rasanya aneh. Jonatahan yang sepertinya tidak akan pernah mengatakan itu pada siapapun. Terlebih lagi dengan suara seperti itu. Suara yang-- Terdengar sangat berat, dan putus asa. Jena menggelengkan kepalanya pelan, mencoba kembali fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan. Bila ada seseorang yang harus Jena kasihani, orang itu adalah dirinya sendiri. Jena tidak punya waktu untuk mengasihani orang yang punya segalanya seperti Jonathan. Jena melirik ponselnya yang masih menyala di atas meja. Pesan dari Ibu kosnya masih tertera di sana. "Mulai bulan depan, sewa akan naik. Kalau kamu tidak sanggup, saya akan mencari penyewa lain." Jena menghrup napas dalam-dalam, mengisi setiap rongga paru-parunya dengan udara, kemudiam menghembuskannya perlahan. Kini jangankan melanjutkan studinya, Jena bahkan tidak tahu apakah tabungannya akan cukup untuk sekedar membayar kontakan bulan depan. *** Setelah perkerjaannya selesai, Jena mematikan lampu yang masih menyala, kemudian menggendong tas marun lusuhnya dan berjalan keluar dari toko dengan payung yang sudah dia buka. Jena tersenyum menyapa sebentar ke arah keamanan yang berjaga malam itu. "Lembur lagi malam ini?" tanya bapak-bapak paru baya, yang terlihat menunggu Jena keluar untuk mengunci pintu. "Biasa, Pak, Kalau sudah dekat audit seperti ini perkerjaan jadi makin banyak, hehe..." Setelah berpamitan, Jena berjalan menysuri trotoar di tengah hujan untuk bisa sampai ke statiun kereta bawah tanah. Perjalanan dari toko ke statiun membutuhkan waktu lima belas menit berjalan kaki. Waktu yang cukup jauh untuk ditempuh setelah berkutat dengan aktifitas melelahkan seharian, tapi itu masih lebih baik dari pada harus mengeluarkan uang lebih untuk naik taxi. Namun belum jauh Jena berjalan, suara klakson mobil berbunyi nyaring dari belakang sebelum akhirnya mobil itu berhenti tepat di samping Jena. Jena menoleh. Kaca mobil itu perlahan turun, dan wajah seorang pemuda nongol dari balik kemudi. Wajahnya merah, matanya terlihat sayu, tapi dia menyapa Jena dengan semangat dan senyum mengembang. "Jena. Ayo naik!" ajaknya, sambil membukakan pintu untuk Jena. Jena tampak heran melihat Dimas di sini. Namun dia segera masuk ke dalam mobil. "Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Jena pada pemuda itu. Dimas mendeket, kemudian memasangkan sabuk pengaman pada Jena. "Aku abis dari bar dekat sini sama anak-anak. Aku ingat akhir-akhir ini kamu sering lembur, makanya aku lewat." Jena bisa mencium bau samar alkohol keluar dari mulut Dimas. Jena menepis kecil udara di depan hidungnya, menyapu dengan jemarinya yang lentik. Kemudian Jena melototi pemuda yang duduk di sampingnya itu. "Kamu mabuk, ya?" "Aku cuma minum sedikit, Je. Aku nggak mabuk. Serius." Dimas mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaam, membuat pose pice. Dimas mulai melajukan mobilnya pelan, menyusup di antara rintik-rintik hujan. Jena dan Dimas sudah berteman sejak mereka SMA. Dimas merupakan teman dekat dan satu-satunya teman lelaki yang Jena miliki. Meski Dinas tidak suka dirinya disebut begitu. Jika daa pertemann terjalin antara wanita dan pria, sudah dipastikan akan ada cinta yang tubuh diantaranya. Dimas menyukai Jena, dan dia sudah mengakuinya bakan ketika mereka masih duduk di bangku kelas dua SMA. Namun cinta merupakan sebuah kemewahan untuk Jena. Dari kecil dia hidup dari satu panti asuhan satu, ke panti asuhan lainnya. Setelah dia memasuki usia legal, Jena keluar dari panti asuhan dan mulai menghidupi dirinya sendiri. Bagi Jena, tetap bersekolah sambil mengambil beberapa perkerjaan paru waktu sudah cukup menghabiskan tenaga dan waktunya. Cinta bukan prioritas dalam hidup Jena, terlebih lagi dengan Dimas... tidak pernah terpikirkan dikepalanya sama sekali. Tentu Dimas merupakan pemuda yang baik. Tapi Jena selalu menganggapnya sebagai seorang sahabat, tidak lebih. "Kamu kenapa nggak mau terima aku, Je? kamu nggak tahu, di kampus banyak sekali cewek yang ngantri yang mau sama aku." Begitulah kira-kira kalimat yang Dimas ucapkan ketika Jena kembali menolaknya untuk yang ke sekian kali. "Kalau gitu, kencanlah sama salah satu di antara mereka, Dim. Aku tahu kamu bisa dapat yang jauh lebih baik dari pada aku." "Emangnya kurangku apa, Je? Apa yang nggak aku punya, sampai kamu nolak aku terus?" Jena hanya menghela napas. "Aku cuma nggak dalam posisi bisa cinta-cintaan, Dimas. Kamu tahu, aku lagi berjuang untuk mimpiku. Aku nggak punya waktu untuk pacaran." Jena yakin dia sering mengatakan itu pada Dimas. Jena bahkan sampai hapal, apa yang akan Dimas katakan setalah ini... Namun ternyata kali ini Jena salah. Mobiil itu kini memelan, dan menepi di pinggitr jalan. Jalan yang terlihat sepi sebab hujan mengguyur semakin desar. "Je... lihat aku." Suara dimas terdengar sangat serius-- tidak pernah terdengar seserius ini sebelumnya. Jena memiringkan kepalanya. Di sebelahnya, Dimas sudah menatap Jena, dalam sekali. Tangan Dimas yang malam ini terasa begitu dingin, menentuh pipi Jena. Untuk beberapa saat mereka saling memandang. Entah ini perasaan Jena saja, tapi dia merasakan wajah Dimas semakin lama semakin mendekat. Jarak kian menipis di antara mereka. Jena bahkan bisan mendengar hembusan napas samar pria itu, dan bau alkohol tipis di udara. Wajah Dimas semakin dekat, bersiap mendarat di bibir Jena, tapi sebelum itu Jena dengan cepat memalingkan wajahnya membuat Dimas berhenti. "Kamu mabuk, Dimas..." Tubuhnya menolak dengan sendirinya.Jena terbangun esokan harinya. Cahaya mentari menyusup lembut dari balik tirai apartemen, memberi sedikit sinar pada ruang yang lampunya sudah dimatikan itu. Jena mengintip ke dalam selimut. Tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun. Ia membalik badan, tak ada Jo di sana. Jena beranjak perlahan, membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran shower. Berkali-kali merutuki dirinya sendiri, yang terbangun pagi ini di ranjang bosnya. Jena yakin dia pasti sudah gila. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Jena ingin tetap berlama-lama di dalam sini, sebab dia sama sekali tidak tahu bagaimana dia harus berhadapan dengan Jo setelah ini. Namun setelah marenung cukup lama, akhirnya Jena keluar dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya. Jena sama sekali tidak menyangka jika saat dia membuka pintu kamar mandi, hal yang pertama kali dia dapati adalah Jonathan. Duduk di atas kasur tepat menghadao kamar mandi seolah sedang menungg
Jantung Jena berdegup kencang merasakan hapas Jonathan menyentuh kutnya hangat. Sesuatu di dalam dirinya berteriak, menyuruhnya bangkit dan pergi. Menyadarkan jika Jo sudah bertunangan. Laki-laki itu akan segera menikah. Tapi tubuh Jena justru mengatakan lain. Dia tidak bergerak, Jonathan tahu ini tidak benar. Namun wajahnya terus saja mendekat pada gadis itu. Terlalu dekat. Jena tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula menahan dada Jonathan perlahan melemah. Ia tahu pintu itu masih ada di belakangnya. Jena harusnya berdiri, membukanya, kemudian pergi, lalu pulang dengan kereta terakhir. Besok dia bisa berkerja, dan kembali memanggil Jonathan Pak seperti sebelumnya. Tapi tubuhnya masih tak bergerak. Tatapan mereka terkunci pada satu titik, dengan jarak yang perlahan makin menipis. Jonathan tidak menyentuh lagi, seolah menunggu. Solah memberi waktu dan kesempatan pada Jena untuk menolak. Beberapa detik berlalu, lampu dapur memantul di mata Jena, tapi dia tetap tidak bang
Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil Jonathan, yang membelah pelan jalan kota Alvendere. Pijar lampu-lampu jalan sesekali menyusup dari balik kaca mobil yang gelap. Udara dingin AC mobil itu menusuk bahkan sampai ke balik jaket rajut Jena yang tipis. Dari sudut matanya, Jonathan melirik ke arah gadis itu. Dari pada dingin AC, Jena lebih tersiksa dengan kecanggungan yang menyelimuti setiap sudut ruang di mobil ini. Barang kali hanya Jena saja yang menganggapnya begitu, karena seperti biasanya--Jo selalu diam tanpa ekspresi. Datar dan selalu terlihat tidak berperasaan. Mendapatkan tawaran tumpangan dari pria itu malam ini saja sudah cukup mengejutka. "Sepertinya kamu cukup tertarik dengan menejemen." Suara berat Jonathan membelah keheningan. "Saya selalu ingin mengambil jurusan manejemen bisnis saat kuliah." "Kenapa tidak kamu lakukan?" Kepala Jena menoleh ke arah samping. Dia tersenyum kecil melihat ekspresi yang Jo tampikan. Tentu saja bagi Jo yang lahir dengan sen
Velmora terlihat lebih terang malam itu. Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati. Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan. Clarissa sudah berdiri di depan pintu. Hari ini dia mengenakan gaun putih sederhana, buatan perancang busana kenamaan. Rambutnya diikat setengah. Ia tersenyum begitu melihat Jonathan keluar dari mobil. “Akhirnya kamu datang Jo. Aku pikir kamu akan lupa." Nada suaranya terdengar lega. Seolah ia sempat ragu bahwa Jo akan datang. “Maaf, tadi di toko-" “Tidak apa-apa.” Clarissa memotong cepat, sebelum Jo sempat menyelesaikan kalimatnya. Bahkan terlalu cepat. Clarissa menggenggam lengan Jonathan. "Ayo, masuk!" Ruangan itu hangat. Lampu kuning berpijar lembut menyinari seisi ruangan. Dindingnya penuh kain mahal yang digantung rapi. Seorang asisten datang membawa setelan
Jena sedang terduduk di dalam kamar kosnya yang sempit. Setelah kejadian tadi, tak banyak percakapan yang terjadi antara dirinya dan Dimas di sepanjang sisa perjalanan. Jena masih menghitung beberapa lembar uang yang tergeletak di atas meja kecil, sambil mencoret-coret buku keuangannya beberapa kali. Uang itu adalah tabungan yang berhasil dia kumpulnya selama lebih dari setahun dia berkerja di toko Lentera. Jumlahnya masih jauh dari kata cukup, untuk Jena bisa mendaftar di universitas impiannya. Uang itu kini bahkan harus Jena kurangi untuk membayar biaya kosnya yang tiba-tiba saja naik. *** Langit masih kelabu ketika Jena menaiki tangga keluar stasiun kereta Alvendere. Udara dingin menusuk kulit, padahal cahaya mentari mulai tampak bersinar malu-malu dari balik awan-awan tebal. Jena berjalan cepat menyusuri trotoar, melewati deretan café yang belum buka dan butik dengan etalase bersih, yang terpajang gaun-gaun cantik di dalamnya. Toko Buku Lentera berdiri di sudut jalan ut
Audit membuat semua orang pulang lebih lambat dari biasanya. Rak-rak yang seharusnya sudah rapi kembali diperiksa. Laporan yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi, harus dicetak ulang sebab formatnya tidak sesuai dengan standar pusat. Rani sudah pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, begitu pun karyawan lain. Satu per satu bergerak meninggalkan toko, karena kini jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh malam. Lampu utama dimatikan sebagian. Hanya menyisakan cahaya di dekat kasir dan lorong tengah. Jena masih duduk di meja kasir, menatap layar komputer dengan mata yang mulai perih dan berair. Angka-angka pelanggan tetap itu harus benar sebelum audit datang. Kalau ada satu saja yang salah mereka harus menyusun ulang data dari awal. Ia menarik napas pelan, berdiri mengambil map laporan yang baru saja selesai dicetak. Jena melirik sebentar ke arah kantor Jonatan yang lampunya masih meyala, pintu tidak tertutup rapat. Jena kemudian memutus






