Home / Romansa / Pacar Rahasia Bos Muda / Rasa tidak nyaman

Share

Rasa tidak nyaman

last update publish date: 2026-02-16 12:50:30

Audit membuat semua orang pulang lebih lambat dari biasanya.

Rak-rak yang seharusnya sudah rapi kembali diperiksa. Laporan yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi, harus dicetak ulang sebab formatnya tidak sesuai dengan standar pusat.

Rani sudah pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, begitu pun karyawan lain. Satu per satu bergerak meninggalkan toko, karena kini jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh malam.

Lampu utama dimatikan sesebagin, hanya menyisakan cahaya di dekat kasir dan lorong tengah.

Jena duduk di meja kasir, menatap layar komputer dengan mata yang mulai perih dan berair. Angka-angka pelanggan tetap itu harus benar sebelum audit datang. Kalau ada satu saja yang salah mereka harus menyusun ulang data dari awal.

Ia menarik napas pelan, berdiri mengambil map laporan yang baru saja selesai dicetak.

Jena melirik sebentar ke arah kantor Jonatan yang lampunya masih meyala, pintu tidak tertutup rapat. Jena kemudian memutuskan untuk mendekat, dan mengetuk pintu itu pelan.

Tok! tok!

Tidak ada jawaban.

Sepertinya bosnya itu tidak ada di dalam. Barang kali sedang ada di gudang, atau justru sudah pulang tanpa Jena sadari. Jika memang begitu, harus ada seseorang yang mematikan lampu kantornya.

Jena mendorong pintu sedikit-- Lalu tekanan pada tangannya berhenti.

“…aku sudah bilang aku akan usahakan.”

Suara itu suara Jonathan. Terdengar lebih pelan dari biasanya.

Tidak tegas.

Tidak terdengar nada datarnya saat memberi perintah. Ia lebih seperti seseorang yang sedang mencoba tetap tenang.

Jena langsung menahan napas beberapa detik. Ia sama sekali tidak bermaksud menguping. Benar-benar tidak. Namun di saat bersamaan kakinya juga tidak ingin langsung bergerak menjauh.

“Clar, jangan begitu...”

Hening mengatung di udara beberapa detik.

Jena tidak bisa mendengar suara di seberang sana, tapi ia bisa menebak siapa yang sedang diajak bicara Jo sekarang.

Jonathan berdiri memunggungi pintu tempat di mana Jena berdiri, menghadap ke dinding kaca yang memantulkan pemandangan malam kota yang masih tampak sibuk. Satu tangan memegang ponsel di telinga, dan tangannya yang lain mencengkeram tepi meja kerjanya. Urat-urat di punggung tangannya terlihat tegang.

“Aku nggak bisa selalu pulang tepat waktu.”

Kini nada suaranya berubah. Masih datar, tapi ada sesuatu yang terdengar retak di sana. Retakan kecil yang belum pernah Jena dengar.

Jena seharusnya pergi.

Ia tahu itu.

Tapi tubuhnya seperti membeku.

“Aku nggak menghindar.”

Hening lagi.

Suara napas Jonatan terdengar pendek, seolah ia sedang menahan sesuatu.

Lalu, sangat pelan--

“Aku cuma... capek.”

Jena menunduk cepat. Jemarinya menggengam map dengan erat.

Seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak seharusnya. Ia mundur satu langkah. Map di tangannya hampir terjatuh lagi, tapi ia menahannya.

Langkahnya mundur pelan, kemudian berbalik. Dan kali ini benar-benar pergi, kembali ke belakang meja kasir.

Beberapa menit kemudian, Jonathan keluar dari ruang kantor. Jena melirik sekilas dengan ekor matanya. Air muka Jo sudah kembali terlihat seperti biasanya.

Dingin. Rapi. Dan Tak terbaca.

Seolah hal-hal tadi tidak pernah dia keluar dari mulutnya. Seolah dia kembali menjadi orang yang tak bisa merasakan emosi apapun seperti sebelumnya.

Ia melihat Jena yang masih ada di bawah lampu, di belakang meja kasir. Tepat di mana gadis itu selalu berada. Dia tak pernah pulang awal, padahal Jo tahu Jena juga yang tiba paling pagi.

Seperti tak ada hal yang membuatnya ingin pulang.

“Kamu masih belum pulang?”

Jena sedikit tersentak, dia mendongak cepat.

“Sebentar lagi, Pak.”

Jawabannya selalu saja begitu.

"Apa orang tuamu tidak khawatir kalau kamu selalu pulang semalam ini?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Jo bahkan tidak tahu kenpa dia menanyakannya.

"Orang tua saya sudah nggak ada, Pak. Saya cuma tinggal sendiri," jawab Jena sembari tersenyum tipis.

"Maaf..."

Sorot mata Jo melemah, ketika dia mengatakannya.

Kepala Jena menggeleng. "Nggak masalah, Pak. itu bukan sesuatu yang istimewa."

Meski Jena mengucapkannya masih dengan sebuah senyum tipis yang tergambar di wajahnya, Jonathan menyadari jika sorot mata gadis itu memancarkan sebuah kesedihan.

Mumunculkan sedkit getaran aneh dalam dada Jonathan.

Ia berdiri di sana beberapa detik lebih lama dari biasanya. Seperti berniat mengatakan sesuatu yang kini hanya nyangkut di tenggorokan.

“Jangan pulang terlalu malam.”

Lagi-lagi hanya kalimat itu yang keluar.

“Siap, Pak.”

Setelah mendengar jawaban dari Jena, dia berbalik. Langkahnya kembali stabil. Seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda dia menyadari bahwa Jena baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak pernah dia curi dengar.

***

Hujan mulai turun kembali. Mengetuk kaca-kaca besar yang mengelilingi toko buku di tengah kota itu.

Jena kembali menatap layar komputer, sedangkan angka-angka itu tidak lagi terbaca jelas. Pikirannya terus kembali pada satu kalimat--

"Aku cuma capek."

Tentu saja semua orang bisa merasa lelah. Tentu semua orang boleh begitu. Namun mendengar kata itu langsung keluar dari mulut Jo, rasanya aneh. Jonathan yang sepertinya tidak akan pernah mengatakan itu pada siapapun. Terlebih lagi dengan suara seperti itu.

Suara yang--

Terdengar sangat berat, dan putus asa.

Jena menggelengkan kepalanya pelan, mencoba kembali fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan. Bila ada seseorang yang harus Jena kasihani, orang itu adalah dirinya sendiri. Jena tidak punya waktu untuk mengasihani orang yang punya segalanya seperti Jonathan.

Jena melirik ponselnya yang masih menyala di atas meja. Pesan dari Ibu kosnya masih tertera di sana.

"Mulai bulan depan, sewa akan naik. Kalau kamu tidak sanggup, saya akan mencari penyewa lain."

Jena menghrup napas dalam-dalam, mengisi setiap rongga paru-parunya dengan udara, kemudiam menghembuskannya perlahan.

Kini jangankan melanjutkan studinya, Jena bahkan tidak tahu apakah tabungannya akan cukup untuk sekedar membayar kontrakan bulan depan.

***

Setelah perkerjaannya selesai, Jena mematikan lampu yang masih menyala, kemudian menyelempangkan tas marun lusuhnya ke pundak, dan berjalan keluar dari toko dengan payung yang sudah dia buka.

Jena berjalan menysuri trotoar di tengah hujan untuk bisa sampai ke statiun kereta bawah tanah. Perjalanan dari toko ke statiun membutuhkan waktu lima belas menit berjalan kaki, waktu yang cukup jauh untuk ditempuh setelah berkutat dengan aktifitas melelahkan seharian. Tapi bagi Jena itu masih lebih baik dari pada harus mengeluarkan uang lebih untuk naik taxi.

Belum jauh Jena berjalan, suara klakson mobil berbunyi nyaring dari belakang sebelum akhirnya mobil itu berhenti tepat di samping Jena.

Jena menoleh.

Kaca mobil itu perlahan turun, dan wajah seorang pemuda nongol dari balik kemudi. Wajahnya merah, matanya terlihat sayu, tapi dia menyapa Jena dengan semangat dan senyum mengembang.

"Jena. Ayo naik!" ajaknya, sambil membukakan pintu untuk Jena.

Jena tampak heran melihat Dimas di sini. Namun dia segera masuk ke dalam mobil.

"Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Jena pada pemuda itu.

Dimas mendeket, kemudian memasangkan sabuk pengaman pada Jena.

"Aku abis dari bar dekat sini sama anak-anak. Aku ingat akhir-akhir ini kamu sering lembur, makanya aku lewat."

Jena bisa mencium bau samar alkohol keluar dari mulut Dimas. Jena menepis kecil udara di depan hidungnya, menyapu dengan jemarinya yang lentik. Kemudian Jena melototi pemuda yang duduk di sampingnya itu.

"Kamu mabuk, ya?"

"Aku cuma minum sedikit, Je. Aku nggak mabuk. Serius." Dimas mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaam, membuat pose pice.

Dimas mulai melajukan mobilnya pelan, menyusup di antara rintik-rintik hujan.

Jena dan Dimas sudah berteman sejak mereka SMA. Dimas merupakan teman dekat dan satu-satunya teman lelaki yang Jena miliki--meski Dinas tidak suka dirinya disebut begitu.

Jika daa pertemann terjalin antara wanita dan pria, sudah dipastikan akan ada cinta yang tubuh diantaranya.

Dimas menyukai Jena, dan dia sudah mengakuinya bakan ketika mereka masih duduk di bangku kelas dua SMA. Namun cinta merupakan sebuah kemewahan untuk Jena. Dari kecil dia hidup dari satu panti asuhan satu, ke panti asuhan lainnya. Setelah dia memasuki usia legal, Jena keluar dari panti asuhan dan mulai menghidupi dirinya sendiri.

Bagi Jena, tetap bersekolah sambil mengambil beberapa perkerjaan paruh waktu sudah cukup menghabiskan tenaga dan waktunya. Cinta bukan prioritas dalam hidup Jena, terlebih lagi dengan Dimas... tidak pernah terpikirkan dikepalanya sama sekali.

Tentu Dimas merupakan pemuda yang baik. Tapi Jena selalu menganggapnya sebagai seorang sahabat, tidak lebih.

"Kamu kenapa nggak mau terima aku, Je? kamu nggak tahu, di kampus banyak sekali cewek yang ngantri yang mau sama aku."

Begitulah kira-kira kalimat yang Dimas ucapkan ketika Jena kembali menolaknya untuk yang ke sekian kali.

"Kalau gitu, kencanlah sama salah satu di antara mereka, Dim. Aku tahu kamu bisa dapat yang jauh lebih baik dari pada aku."

"Emangnya kurangku apa, Je? Apa yang nggak aku punya, sampai kamu nolak aku terus?"

Jena hanya menghela napas. "Aku cuma nggak dalam posisi bisa cinta-cintaan, Dimas. Kamu tahu, aku lagi berjuang untuk mimpiku. Aku nggak punya waktu untuk pacaran."

Jena yakin dia sering mengatakan itu pada Dimas. Jena bahkan sampai hapal, apa yang akan Dimas katakan setalah ini...

Namun ternyata kali ini Jena salah. Mobiil itu kini memelan, dan menepi di pinggitr jalan. Jalan yang terlihat sepi sebab hujan mengguyur semakin deras.

"Je... lihat aku." Suara dimas terdengar sangat serius-- tidak pernah terdengar seserius ini sebelumnya.

Jena memiringkan kepalanya. Di sebelahnya, Dimas sudah menatap Jena, dalam sekali. Tangan Dimas yang malam ini terasa begitu dingin, menentuh pipi Jena. Untuk beberapa saat mereka saling memandang.

Entah ini perasaan Jena saja, tapi dia merasakan wajah Dimas semakin lama semakin mendekat. Jarak kian menipis di antara mereka, Jena bahkan bisa mendengar hembusan napas samar pria itu, dan bau alkohol tipis di udara.

Wajah Dimas semakin dekat, bersiap mendarat di bibir Jena, tapi sebelum itu Jena dengan cepat memalingkan wajahnya membuat Dimas berhenti.

"Kamu mabuk, Dimas..."

Tubuhnya menolak dengan sendirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Sebuah Pertanyaan

    "Masa cewek secantik kamu Jomblo, Je?" Wajah Jena memanas seketika. Namun dia memaksakan sebuah tertawa yang hambar, "emang siapa sih yang mau sama orang kaya aku," katanya. "Kalau kamu mau, aku mau," kata cowok itu membuat Jena hampir sersedak ludahnya sendiri. Poppy dengan cepat menyodorkan air pada Jena yang sedang terbatuk-batuk. "Jangan nervous gitu, kali, Je. Biasa aja," ledek Poppy kemudian tiba-tiba ia mengode pria di hadapannya dengan kedipan mata, agar mereka meninggalkan Jena dan cowok itu berduaan saja. Pria yang ada di hadapan Poppy itu mengerti, dia segera berdiri sambil berkata, "eh, Je. Aku boleh pinjem Poppy sebentar, ya... Aku ada yang pengen dibeli, nih. Kayanya selera Poppy bagus dan bisa bantuin gue milih." Jena melempar pandangan ke arah Poppy dengan tampangnya yang polos, lalu pandamgannya beralih pada cowok di hadapannya. "Gimana kalau kita ikut sekalian?" tanya Jena pada cowok itu--namanya Rayan. Cowok itu melirik ke arah temannya, untuk ber

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Kencan?

    Tentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Istilah yang tidak Jena sukai

    Berakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Dunia Baru Jena

    "Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Gadis yang mulai berani

    "Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hubungan yang sudah terlalu lama

    "Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan agar tak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat Jo berhasil menyentuh area sensitisnya, sebelah tangannya lagi mencengkram tiang rak yang ada di sebelahnya karena lututnya mulai terasa lemas akibat gesekan jari Jo dari balik celana dalamnya. "Jo... jangan," katanya pelan. Namun setelah mengatakan itu, tangan yang tadinya Jena gunakan menutup mulutnya, kini justru melingkar ke atas, ke belakang leher Jonathan. Jemarinya menyusup di antara rambut belakang kepala Jo--hal yang selalu berhasil membuat napsu Jo naik hingga ke kepala. Jarinya menyelinap dari sisi celana dalam Jena, mengusap lembut bibir vagina yang mulai basah itu. Jena menggit bibir bawahnya, berus

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Melewati batas

    Jena terbangun esokan harinya. Cahaya mentari menyusup lembut dari balik tirai apartemen, memberi sedikit sinar pada ruang yang lampunya sudah dimatikan itu. Jena mengintip ke dalam selimut. Tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun. Ia membalik badan, tak ada Jo di sana. Jena beranjak perlahan,

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Batas yang Mengabur

    Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil Jonathan, yang membelah pelan jalan kota Alvendere. Pijar lampu-lampu jalan sesekali menyusup dari balik kaca mobil yang gelap. Udara dingin AC mobil itu menusuk bahkan sampai ke balik jaket rajut Jena yang tipis. Dari sudut matanya, Jonathan melirik

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Sesuatu yang mengawali

    Velmora terlihat lebih terang malam itu. Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati. Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan. C

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hal remeh yang mengganggu

    Jena sedang terduduk di dalam kamar kosnya yang sempit. Setelah kejadian tadi, tak banyak percakapan yang terjadi antara dirinya dan Dimas di sepanjang sisa perjalanan. Jena masih menghitung beberapa lembar uang yang tergeletak di atas meja kecil, sambil mencoret-coret buku keuangannya beberapa k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status