Accueil / Romansa Dewasa / Pacar Rahasia Bos Muda / Hal remeh yang mengganggu

Share

Hal remeh yang mengganggu

last update Dernière mise à jour: 2026-02-16 15:32:35

Jena sedang terduduk di dalam kamar kosnya yang sempit. Setelah kejadian tadi, tak banyak percakapan yang terjadi antara dirinya dan Dimas di sepanjang sisa perjalanan.

Jena masih menghitung beberapa lembar uang yang tergeletak di atas meja kecil, sambil mencoret-coret buku keuangannya beberapa kali. Uang itu adalah tabungan yang berhasil dia kumpulnya selama lebih dari setahun dia berkerja di toko Lentera.

Jumlahnya masih jauh dari kata cukup, untuk Jena bisa mendaftar di universitas impiannya. Uang itu kini bahkan harus Jena kurangi untuk membayar biaya kosnya yang tiba-tiba saja naik.

***

Langit masih kelabu ketika Jena menaiki tangga keluar stasiun kereta Alvendere. Udara dingin menusuk kulit, padahal cahaya mentari mulai tampak bersinar malu-malu dari balik awan-awan tebal.

Jena berjalan cepat menyusuri trotoar, melewati deretan café yang belum buka dan butik dengan etalase bersih, yang terpajang gaun-gaun cantik di dalamnya.

Toko Buku Lentera berdiri di sudut jalan utama. Terlihat lampu-lampunya sudah menyala, yang menandakan jika Jo mungkin sudah tiba.

Benar saja. Saat Jena masuk ke dalam, Jo sudah berdiri di sana. Tepat di antara rak-rak buku best seller, memeriksa tata letak buku satu per satu.

Jena mendekat tanpa suara, kemudian menyapa pria yang hari ini terlihat begitu tampan dengan setelan berwarna biru gelapnya. Terlihat kontras sekali dengn kulit Jo yang putih bersih.

"Selamat pagi, Pak."

Jonathan hanya mengangguk.

Kalau saja Jena tidak pernah melihat Jonatah tersenyum saat bertemu dengan investor beberapa bulan lalu, mungkin Jena akan berpikir jika laki-laki itu tidak bisa tersenyum sama sekali.

"Pindahkan rak Menejemen setelah ini."

Jena sedikit terkejut. "Dipindah, Pak?"

"Dua baris ke kiri. Auditor minta akses sedikit diperlebar."

"Iya, Pak."

Jena langsung bergerak. Meski dia tidak yakin bisa memindahkan rak besar itu seorang diri, Jena akan tetap mencobanya. Itu lebih baik dari pada dia bilang tidak, sebab dia tidak ingin merusak paginya dengan mendengar kata mutiara keluar dari mulut Jo.

Sebelum menggeser rak itu, Jena mengelurkan dulu buku-buku yang tersusun di dalamnya. Jika tidak, buku itu pasti akan jatuh saat rak dipindahkan. Jena tidak mau sampai berkerja dua kali.

Ia menyusun buku itu tinggi, di sampingnya. Tiba saat Jena mencoba menjangkau rak paling atas, rak yang terlalu tinggi hingga kaki Jena harus berjinjit. Namun cukup tinggi sengga Jena harus melompat kecil.

Sayangnya saat itu pijakannya belum pas, sehingga membuat Jena hampir terjatuh. Tangannya reflek menggapai bagian mana saja di rak buku yang bisa menopang tubuhnya.

Sialnya, bobot Jena terlalu berat untuk bisa menopang rak buku yang setengahnya sudah kosng. Alhasil rak buku itu miring. Jena sudah siap melingdungi kepalanya yang sebentar lagi mungkin akan tertimpa rak tersebut.

Namun dari arah belakangnya, sebuah tangan besar tiba-tiba menahan sisi rak, hingga rak buku besar itu kembali berdiri stabil.

Untuk sesaat, Jena membeku.

Tubuh Jo yang tinggi sudah berdiri di belakangnya. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuatnya Jena sadar kalau itu dia.

"Tunggu yang lain, dan minta mereka membantu memindahkannya," suara berat itu masih terdengar datar, seperti biasanya.

"Baik, Pak."

Jena bergerak mundur sedikit, diikuti oleh Jonatan juga. Membentang jarak, membuatnya tampak normal seolah tidak terjad apa.

***

Sudah masuk jam istirahat kala Jena mendapati Dimas berdiri di depan pintu toko.

Ketika mata mereka bertemu, Dimas mengangkat bungkusan yang ada di tangannya, dan memggerakan mulut membentuk kalimat, "ayo makan siang..."

Jena mengangguk. Dari raut wajah pria itu jena menyadari, setidaknya ia tak terlihat mabuk sekarang.

"Ran, istirahat duluan, ya..."

Rani sedang berdiri di belakang kasir melirik sebentar ke arah Dimas. Tatapannya berpindah pada Jena kemudian tersenyum seakan sedang menggoda, sebelum akhirnya mengangguk.

Jena menghampiri pemudia itu yang kini duduk di sebuah gazebo--di taman kecil yang terletak samping toko Lentera.

Dimas menyodorkan sebotol minuman dingin, dan sepotong sandwich yang sudah dia buka bungkusnya ke hadapan Jena.

Ia menyambutnya dengan sebuah senyum tipis, bersikap seakan tak ada yang terjadi semalam.

Tapi tiba-tiba Dimas membuka suaranya, "aku mau minta maaf untuk--"

Kalomat itu belum selesai. Jena memotongnya cepat, "nggak perlu dibahas. Kalau kamu kasih aku makan siang untuk itu, aku sudah terima."

Jena mengunyah sandwich dengan mulut prnuh, kemudian mengangkatnya ringan. Membuat seulas sabit terbit di wajah Dimas yang manis.

"Aku lega... aku pikir kamu akan marah."

Jena berhenti mengunyah.

Sebelum ini, Jena tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Tidak pernah bersentuhan fisik dengan siapa pun, dan apa yang dilakukan Dimas semalam sangat membuat Jena terkejut.

Harusnya Jena marah, bukan?

Tapi penolakan yang Jena lakukan, harusnys cukup membuat Dimas mengerti jika Jena tidak menginginkannya. Dan bagi Jena itu cukup untuk menjelaskan semuanya.

Jena hanya tidak ingin kehilangan Dimas sebagai teman.

Di balik jendela kantornya, Jo melihat Jena dari kejauhan. Tanpa sadar, dia terus saja memeprhatikan gadis itu. Cukup lama. Sampai akhirnya ia mendengar pintu kantornya terbuka.

Jonatan menoleh. Clarissa muncul menggunakan gaun krem sederhana. Rambutnya terikat rapi. Ia tersenyum, berjalan mendekat, kemudian mendaratkan kecupan kecil di pipi Jo.

"Kamu sudah makan?" tanya Clarissa.

"Mungkin sebentar lagi, aku masih ada sedikit perkerjaan." Jo kembali duduk dikursinya. Tatapannya langsung beralih pada layar komputernya, sementara jarinya menari di atas keyboard.

Dia sedang mencoba bersikap biasa saja, seolah tidak pernah diam-diam memperhatikan gadis lain dari balik dinding kaca kantor.

Tapmaknya Clarissa tidak sadar, karena dia masih berdiri sengan senyumnya yang manis, sambil memandangi Jo.

"Siang ini masih nggak bisa makan bareng aku, ya?"

Nada suara itu tidak terdengar seperti pertanyaan. Di telinga Jo, itu terdengar seperti tuntutan.

Jonathan mengalihkan pandangannya, menatap Clarissa sebentar.

"Maaf..."

Lagi-lagi hanya itu yang dia ucapkan.

"Ya, sudah. Tapi besok aku udah bikin janji buat fitting. Pastikan kamu datang dan jangan terlambat. Oke..."

"Oke, aku janji akan meluangkan waktu."

"Jo, jangan bikin aku kecewa, ya."

Kalimat itu terdengar tidak asing. Seakan Jonathan sudah mendengar sepanjang hidupnya.

Selama ini Jo selalu dituntut untuk tak pernah mengecewakan siapa pun, tapi saat dia kecewa pada keadaan, siapa yang akan peduli pada perasaanya?

Jemarinya yang berhenti mengetik, mengepal kuat.

Jonatan yakin sekali sebelumnya menikahi gadis itu adalah mimpinya. Entah sejak kapan, dan bagaimana terjadinya--hal itu sudah tak lagi jadi apa yang Jo inginkan.

Mungkin sejak Papanya mengubah pernikahan Jo menjadi sebuah kesepakatan bisnis. Atau... sejak Jonathan menyadari jika perasannya perlahan memudar.

Di luar. Jena sudah kembali ke balik meja kasir saat Clarissa melangkah keluar dari kantor Jonathan. Jena menunduk dalam-dalam, Pura-pura tidak melihat Clarissa lewat.

Ia tidak ingin mengingat percakapan kemarin malam.

Percakapn yang tak seharusnya dia curi dengar.

Rasanya seperti baru saja mengintip ke dalam buku harian orang lain.

***

Menjelang tutup toko, audit checklist kembali diperiksa.

Jonathan berdiri di samping meja kasir. "Kamu yang pegang data pelanggan tetap?"

"Iya, saya, Pak."

"Coba tunjukkan..."

Jena memutar layar ke arahnya. Jonathan membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas, hingga membuat jarak mereka jadi terlalu dekat.

Ia bisa mencium aroma sandalwood yang tipis, bercampur dengan sesuatu yang lebih dingin, seperti hujan di atas aspal-- menyeruak dari tubuh Jo.

Jena menahan napas.

Jari telunjuk Jo menunjuk salah satu kolom. "Format ini salah," katanya.

"Akan saya perbaiki, Pak."

"Lakukan sekarang."

"Baik, Pak."

Ia mulai mengetik cepat, sementata Jonathan masih berdiri di sana. Tidak pergi. Dia menunggu.

Beberapa detik kemudian--

"Sudah, Pak..."

Jonathan menyipikan matanya, berusaha melihat dengan jelas dari balik kacamata. Lalu mengangguk.

"Pastikan tidak ada kesalahan lagi."

"Iya, Pak."

Jonathan berbalik. Langkahnya kembali stabil. Seperti biasa.

Tapi malam itu, di perjalanan pulang berjalan pulang menuju statiun bahwa tanah, Jena perlahan menyadari sesuati yang mulai mengganggu.

Jonathan mulai memanggilnya lebih sering hari ini. Untuk hal-hal kecil.

Memindahkan rak, yang akhirnya dilakukan orang lain. Data, yang Jo sudah tahu siapa yang pegang. Dan, format. Dia bahkan menunggu hingga Jena mempernaikinya.

Hal-hal yang biasanya bisa ia perintahkan pada siapa saja.

Jena menggeleng pelan.

Mungkin hanya karena audit. Tidak lebih.

Di dalam toko, Jonathan berdiri di depan jendela kantor, ia melihat ke arah meja kasir yang kini kosong.

Ia tidak tahu kenapa ia memastikan rak itu tidak jatuh tadi pagi. Ia juga tidak tahu kenapa ia menunggu sampai Jena selesai memperbaiki format. Seharusnya ia bisa pergi.

Tapi ia tidak.

Dan itu mengganggunya juga.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Transaksi

    Jena terbangun esokan harinya. Cahaya mentari menyusup lembut dari balik tirai apartemen, memberi sedikit sinar pada ruang yang lampunya sudah dimatikan itu. Jena mengintip ke dalam selimut. Tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun. Ia membalik badan, tak ada Jo di sana. Jena beranjak perlahan, membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran shower. Berkali-kali merutuki dirinya sendiri, yang terbangun pagi ini di ranjang bosnya. Jena yakin dia pasti sudah gila. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Jena ingin tetap berlama-lama di dalam sini, sebab dia sama sekali tidak tahu bagaimana dia harus berhadapan dengan Jo setelah ini. Namun setelah marenung cukup lama, akhirnya Jena keluar dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya. Jena sama sekali tidak menyangka jika saat dia membuka pintu kamar mandi, hal yang pertama kali dia dapati adalah Jonathan. Duduk di atas kasur tepat menghadao kamar mandi seolah sedang menungg

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Melewati batas

    Jantung Jena berdegup kencang merasakan hapas Jonathan menyentuh kutnya hangat. Sesuatu di dalam dirinya berteriak, menyuruhnya bangkit dan pergi. Menyadarkan jika Jo sudah bertunangan. Laki-laki itu akan segera menikah. Tapi tubuh Jena justru mengatakan lain. Dia tidak bergerak, Jonathan tahu ini tidak benar. Namun wajahnya terus saja mendekat pada gadis itu. Terlalu dekat. Jena tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula menahan dada Jonathan perlahan melemah. Ia tahu pintu itu masih ada di belakangnya. Jena harusnya berdiri, membukanya, kemudian pergi, lalu pulang dengan kereta terakhir. Besok dia bisa berkerja, dan kembali memanggil Jonathan Pak seperti sebelumnya. Tapi tubuhnya masih tak bergerak. Tatapan mereka terkunci pada satu titik, dengan jarak yang perlahan makin menipis. Jonathan tidak menyentuh lagi, seolah menunggu. Solah memberi waktu dan kesempatan pada Jena untuk menolak. Beberapa detik berlalu, lampu dapur memantul di mata Jena, tapi dia tetap tidak bang

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Batas yang Mengabur

    Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil Jonathan, yang membelah pelan jalan kota Alvendere. Pijar lampu-lampu jalan sesekali menyusup dari balik kaca mobil yang gelap. Udara dingin AC mobil itu menusuk bahkan sampai ke balik jaket rajut Jena yang tipis. Dari sudut matanya, Jonathan melirik ke arah gadis itu. Dari pada dingin AC, Jena lebih tersiksa dengan kecanggungan yang menyelimuti setiap sudut ruang di mobil ini. Barang kali hanya Jena saja yang menganggapnya begitu, karena seperti biasanya--Jo selalu diam tanpa ekspresi. Datar dan selalu terlihat tidak berperasaan. Mendapatkan tawaran tumpangan dari pria itu malam ini saja sudah cukup mengejutka. "Sepertinya kamu cukup tertarik dengan menejemen." Suara berat Jonathan membelah keheningan. "Saya selalu ingin mengambil jurusan manejemen bisnis saat kuliah." "Kenapa tidak kamu lakukan?" Kepala Jena menoleh ke arah samping. Dia tersenyum kecil melihat ekspresi yang Jo tampikan. Tentu saja bagi Jo yang lahir dengan sen

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Sesuatu yang mengawali

    Velmora terlihat lebih terang malam itu. Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati. Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan. Clarissa sudah berdiri di depan pintu. Hari ini dia mengenakan gaun putih sederhana, buatan perancang busana kenamaan. Rambutnya diikat setengah. Ia tersenyum begitu melihat Jonathan keluar dari mobil. “Akhirnya kamu datang Jo. Aku pikir kamu akan lupa." Nada suaranya terdengar lega. Seolah ia sempat ragu bahwa Jo akan datang. “Maaf, tadi di toko-" “Tidak apa-apa.” Clarissa memotong cepat, sebelum Jo sempat menyelesaikan kalimatnya. Bahkan terlalu cepat. Clarissa menggenggam lengan Jonathan. "Ayo, masuk!" Ruangan itu hangat. Lampu kuning berpijar lembut menyinari seisi ruangan. Dindingnya penuh kain mahal yang digantung rapi. Seorang asisten datang membawa setelan

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hal remeh yang mengganggu

    Jena sedang terduduk di dalam kamar kosnya yang sempit. Setelah kejadian tadi, tak banyak percakapan yang terjadi antara dirinya dan Dimas di sepanjang sisa perjalanan. Jena masih menghitung beberapa lembar uang yang tergeletak di atas meja kecil, sambil mencoret-coret buku keuangannya beberapa kali. Uang itu adalah tabungan yang berhasil dia kumpulnya selama lebih dari setahun dia berkerja di toko Lentera. Jumlahnya masih jauh dari kata cukup, untuk Jena bisa mendaftar di universitas impiannya. Uang itu kini bahkan harus Jena kurangi untuk membayar biaya kosnya yang tiba-tiba saja naik. *** Langit masih kelabu ketika Jena menaiki tangga keluar stasiun kereta Alvendere. Udara dingin menusuk kulit, padahal cahaya mentari mulai tampak bersinar malu-malu dari balik awan-awan tebal. Jena berjalan cepat menyusuri trotoar, melewati deretan café yang belum buka dan butik dengan etalase bersih, yang terpajang gaun-gaun cantik di dalamnya. Toko Buku Lentera berdiri di sudut jalan ut

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Rasa tidak nyaman

    Audit membuat semua orang pulang lebih lambat dari biasanya. Rak-rak yang seharusnya sudah rapi kembali diperiksa. Laporan yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi, harus dicetak ulang sebab formatnya tidak sesuai dengan standar pusat. Rani sudah pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, begitu pun karyawan lain. Satu per satu bergerak meninggalkan toko, karena kini jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh malam. Lampu utama dimatikan sebagian. Hanya menyisakan cahaya di dekat kasir dan lorong tengah. Jena masih duduk di meja kasir, menatap layar komputer dengan mata yang mulai perih dan berair. Angka-angka pelanggan tetap itu harus benar sebelum audit datang. Kalau ada satu saja yang salah mereka harus menyusun ulang data dari awal. Ia menarik napas pelan, berdiri mengambil map laporan yang baru saja selesai dicetak. Jena melirik sebentar ke arah kantor Jonatan yang lampunya masih meyala, pintu tidak tertutup rapat. Jena kemudian memutus

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status