Eyang Utari menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Sera yang masih sedingin es. "Sera," suaranya merendah, hampir seperti bisikan rahasia di tengah keheningan kamar. "Kemarin, aku mendapati Sintia mengganti aromaterapi di kamar ini. Dia menaruh zat berbahaya di dalamnya—sesuatu yang jika kau hirup terus-menerus, akan merusak kesehatanmu, bahkan rahimmu." Sera tersentak, kelopak matanya bergetar hebat. "Untuk menetralkannya, aku harus memastikanmu tidur sangat nyenyak agar sistem tubuhmu melakukan pembersihan alami dan efek obat itu tidak merasuk lebih jauh. Itulah alasan teh herbal itu kuberikan," lanjut Eyang Utari sembari mengusap punggung tangan Sera. "Dan hari ini, aromaterapi itu sengaja kuganti dengan yang lain, agar tidak ada lagi racun yang mengganggumu. Aku tidak sedang mencelakaimu, Nak." Sera terdiam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu mendengar kenyataan bahwa ibu mertuanya sendiri berniat
Last Updated : 2026-05-11 Read more