Aroma mentega dan vanila yang manis menguar begitu Lana meletakkan sebuah tas kertas di atas meja kayu kafe yang terletak tepat di seberang Rumah Sakit Narita. Sera menghirup aroma itu dalam-dalam, sebuah senyum kecil akhirnya terbit di wajahnya yang masih tampak kuyu. Kue-kue buatan Siwi seolah menjadi penawar paling ampuh untuk suasana hati yang berantakan. “Nona, ini dari Ibu Siwi,” ucap Lana sembari membuka tutup toples kue, menampakkan jajaran kue kering yang kuning keemasan. “Beliau berpesan agar Anda memakannya bersama teman-teman.” Sera, Lana, Deo, dan Erika duduk melingkar di sudut coffee shop yang cukup tenang. Sera segera meraih cangkir kopinya, namun gerakan tangannya tertahan oleh tatapan tajam Lana. “Nona, Anda belum menyentuh makanan padat sejak pagi,” tegur Lana dengan nada rendah namun tegas. “Sebaiknya makan kuenya dulu, jangan terus-menerus menyesap kopi itu. Apalagi tadi pagi saya lihat Anda memesan kopi hitam bukan kopi seperti biasanya.” Erika, yang baru
Last Updated : 2026-05-09 Read more