Udara mendadak dingin, bukan karena embusan angin, melainkan karena kalimat tajam yang meluncur dari bibir Arkan. Pemuda itu berdiri tegap, menatap lurus ke arah Rendra dengan sorot mata menuntut. Keheningan yang mencekam jatuh seketika. Angga dan Siwi terpaku, napas mereka seolah tertahan di tenggorokan. Sera pun tersentak. Ia melepaskan pelukannya dari Siwi, bahunya masih terguncang kecil, namun matanya yang sembab kini membulat sempurna ke arah adiknya. Isakannya terhenti paksa oleh rasa terkejut yang menjalar hingga ke ujung jari. Sera melihat Rendra hanya diam. Pria itu tidak membalas dengan kemarahan, justru hanya menyipitkan mata, menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan, dingin namun penuh selidik. Sudut bibir Rendra tertarik, membentuk senyum tipis yang sarat akan sarkasme namun tetap terlihat berwibawa. "Adik ipar," suara Rendra rendah, bergema di antara mereka dengan nada yang tenang namun menusuk. "Sepertinya kamu begitu sayang dan jauh lebih mengerti kakak
Última atualização : 2026-03-15 Ler mais