Share

Pesan Tak Terbalas

Penulis: Adinasya Mahila
last update Tanggal publikasi: 2026-03-14 18:29:11

Sudah dua hari berlalu sejak Sera kembali ke Jayakarta, dan selama itu pula, Sera tidak melihat batang hidung Rendra. Setelah kepulangan mereka dari Turi, Rendra seolah ditelan bumi, pria itu tidak langsung kembali ke istana. Sera tahu Rendra pasti langsung terjun mengerjakan urusan lain yang mendesak.

Sera duduk membatu di tepi ranjang kamarnya yang luas. Cahaya matahari pagi menyelinap terang dari balik tirai, namun gairah hidup di wajah Sera nampak redup. Jemarinya menggenggam ponsel, matan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (10)
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
g sbar bgt nggu Klian bsa terbuka dgn prsaan msing²
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Rendra menunggu utk makan ,karena Sera belum makan siang ,Lana dan Deo gercep laporan
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
ciyee yg kageeen
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Harus Tahu Sopan Santun

    Sofia terkesiap mundur setengah langkah. Kedua matanya membelalak lebar, sama sekali tidak menyangka bahwa Sera yang selama ini selalu bersikap tenang, penurut, dan menundukkan kepala di hadapan keluarga Narrottama, kini berani melotot dan membentaknya tepat di depan hidungnya sendiri. Bibir Sofia terkatup rapat, kehabisan kata-kata karena keterkejutan yang begitu tiba-tiba.Di sisi lain, Lana yang sejak tadi mengepalkan tangan ikut tersulut emosi. Rahang ajudan wanita itu mengeras, dan ia baru saja hendak melangkah maju seraya membuka mulutnya untuk menyemprot Sofia.Namun, sebelum sepatah kata pun sempat meluncur dari bibir Lana, tangan Deo sudah lebih dulu terulur dengan sigap. Telapak tangan pria itu mencengkeram kuat pergelangan tangan Lana, menahan langkah rekannya seraya menggelengkan kepala pelan memberi isyarat agar Lana tidak ikut campur dan tetap menjaga posisinya sebagai pengawal.Tatapan mata Sera yang membara masih menghunus sengit ke wajah Sofia selama beberapa detik, se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Amarah Sera

    Melihat Angga yang pernah menjadi sopir pribadinya melangkah keluar bersama Siwi, Sintia langsung bergerak maju beberapa langkah. Dagunya terangkat tinggi, tatapannya menyalang penuh kebencian ke arah pria paruh baya yang kini berdiri mematung di ambang pintu teras."Angga! Apa kamu sudah tidak bisa mendidik dan memberitahu anak laki-lakimu itu?!" sembur Sintia tanpa basa-basi, suaranya melengking tajam memecah keheningan sore. "Atau memang dari dulu kamu sebenarnya punya niat lain yang terselubung pada keluarga kami?! Apa kamu sama sekali tidak pernah memikirkan kebaikan kami sebagai majikanmu selama ini?!"Angga tampak terpaku dan bingung menghadapi rentetan cecaran yang begitu mendadak itu. Tangannya yang masih kotor oleh sisa tepung terangkat canggung di depan dada. "Ada apa sebenarnya ini, Nyonya? Saya... saya benar-benar tidak paham apa maksud perkataan Anda. Mari, lebih baik kita masuk dan bicara di dalam rumah dulu, Nyonya...""Tidak mau!" tolak Sintia mentah-mentah seraya men

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Namun Memprovokasi

    Sintia merebut ponsel itu dari tangan Sofia dengan gerakan cepat. Matanya membelalak lebar, terpaku pada gambar yang terpampang di layar. Di sana, terlihat jelas sosok Ratu sedang duduk berdua di sebuah bangku taman dengan seorang remaja laki-laki. "Geser saja layarnya, Tante. Masih banyak foto lain yang menunjukkan betapa dekatnya mereka berdua," bisik Sofia, suaranya terdengar begitu tenang namun memprovokasi. Jemari Sintia bergetar saat ia menyapu layar ponsel ke samping. Foto demi foto menampilkan kedekatan yang nyata. Di salah satu gambar, Ratu tampak tertawa seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan. Napas Sintia seketika tercekat, dadanya bergemuruh hebat hingga genggaman tangannya di ponsel itu mengerat kuat. "Ratu... mana mungkin..." desis Sintia tak percaya, bibirnya bergetar menahan amarah yang mulai membakar ubun-ubunnya. Sofia menarik napas panjang, melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut prihatin yang dibuat-buat. "Aku sendiri yang meminta foto-foto

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pasangan Romantis

    Deo melangkah mendekat, lalu tangannya terulur meraih kembali jemari Erika, menggenggamnya mantap tanpa keraguan."Aku akan menemanimu bicara ke papamu," ucap Deo dengan tatapan lurus menghujam manik mata Erika. Suaranya terdengar begitu tenang dan dalam. "Aku ingin melihat langsung bagaimana reaksinya. Dan kalau beliau sampai marah besar, aku sendiri yang akan berdiri di depan untuk melindungimu."Erika menatap pria itu lekat-lekat, bibirnya terkatup rapat sementara rasa hangat seketika melingkupi dadanya, meluruhkan sisa-sisa amarah yang tadi membakar kepalanya.Kalimat penuh kesungguhan dari Deo itu rupanya sampai ke telinga Lana yang sejak tadi mengintip dari balik sekat pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah. Lana berdiri menyandarkan bahu di kusen kayu, meneguk air putih dari gelas kaca di tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sejoli itu."Kamu sedang melihat apa, Lana? Kamu menguping ya?" bisik sebuah suara lembut tepat di belakang telinga Lana."Asta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Dulu!

    Arkan menggeleng santai seraya menatap kakaknya tanpa rasa bersalah. "Ayah sama Ibu belum tahu. Dari awal kami memang sepakat untuk backstreet saja."Mendengar kata itu meluncur begitu enteng, Sera membelalakkan matanya sesaat, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke sandaran kursi seraya menggeleng-gelengkan kepala. Rasa tak percaya kian menguasai benaknya. Sikap adiknya yang terlalu santai itu justru membuktikan dugaannya sejak awal bahwa Arkan memang tidak akan pernah sanggup berpikir sampai ke jenjang yang lebih serius dengan Ratu.Sera menarik napas panjang, menatap Arkan dengan sorot mata yang sarat ketegasan. "Aku tidak akan memberitahu Ayah dan Ibu soal hubungan kalian berdua ini. Itu hak kamu sendiri untuk memberitahu mereka atau tidak, dan aku tidak mau ikut campur lebih jauh ke ranah itu."Sera memajukan sedikit tubuhnya ke arah kasur, menunjuk dada adiknya dengan jari telunjuk. "Tapi yang paling penting kamu harus ingat baik-baik, Arkan. Perasaan orang itu bukan barang maina

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Cinta Monyet

    Sera tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap lekat manik mata adiknya, lalu menganggukkan kepala perlahan dengan guratan wajah yang tegas."Ayo masuk ke dalam. Kita bicara di dalam saja," ucap Sera seraya menunjuk pintu depan rumah dengan dagunya.Arkan menghela napas pasrah, menundukkan pandangannya seraya meletakkan helm di atas jok motor. Sera kemudian berbalik, menoleh ke arah Lana dan Deo yang masih berdiri tegak di dekat pintu mobil dengan sikap waspada."Lana, Deo, kalian berdua ikut masuk saja ke dalam," ujar Sera lembut seraya melambaikan tangannya pelan. "Tidak perlu berjaga di luar seperti itu, cuacanya panas. Duduk di ruang tamu saja.""Baik, Nona Sera," sahut Deo dan Lana hampir bersamaan seraya mengangguk patuh.Mereka berempat akhirnya melangkah beriringan melewati pintu teras yang terbuka. Begitu kakinya menjejak lantai ruang tamu yang beralas karpet sederhana, Arkan berbalik menghadap kakaknya. Pemuda itu melirik sekilas ke arah Deo dan Lana yang mu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status