Kelas berjalan dengan tenang, tapi bagi Bara, satu jam itu rasanya seperti duduk di atas bara api. Duduk tepat di sebelah Arum membuat konsentrasinya berantakan. Sejak dulu di kampung, Arum adalah gadis yang dia puja diam-diam. Sekarang, melihatnya sedekat ini, Bara merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.Selesai kuliah, mahasiswa lain mulai berhamburan keluar. Bara menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang."Rum, kamu... Balik naik apa?" tanya Bara. Suaranya sedikit kaku.Arum mendongak dan tersenyum tipis. "Ehm, itu dia, Bar. Tadi pagi diantar saudara Bapak, tapi sekarang dia nggak bisa jemput karena ada urusan mendadak.""Terus rencana kamu gimana? Tahu jalan ke kosan?" tanya Bara lagi."Aku belum tahu jalan, Bar. Mau naik angkutan tapi bingung. Takut nyasar," jawab Arum pelan. Wajahnya yang kalem terlihat sedikit gelisah.Bara melihat jam di tangannya. Masih ada waktu dua jam sebelum dia harus berangkat kerja ke gym.
Read more