Ia menatapku sejenak, sebuah tatapan yang penuh pemujaan, sebelum ia membenamkan wajahnya di antara kedua pahaku yang terbuka.Bibirnya yang tebal lagi panas memakan daging kecil sensitif, menggigit dan mengulumnya."Dillard..." suaraku nyaris hilang, hanya berupa bisikan yang tertelan oleh keheningan ruangan.Dunia di luar pintu itu—politik, Cavendish, ancaman istana—terasa memudar. Yang tersisa hanyalah aroma maskulin yang lekat, suara gesekan kain yang jatuh ke lantai, dan detak jantung yang berdentum seragam.Pekikanku tajam ketika orgasme menyerang.Dillard tidak membiarkanku jatuh meski seluruh persendianku terasa meluruh. Cengkeramannya pada pangkal pahaku mengencang, menopang tubuhku yang gemetar hebat saat gelombang itu perlahan surut. Napasnya yang panas masih terasa di sana, meninggalkan jejak lembap yang membuat kulitku sensitif terhadap udara dingin di ruangan ini.Ia mengangkat wajahnya. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sayu, dipenuhi oleh kepuasan yang gelap da
Read more