Se connecter"Lincoln.""Ya?""Tutup mulutmu sekarang," sahut Dillard datar, "sebelum kau mengumumkannya pada tukang pos besok pagi.""Wajahmu."Dia segera pasang ekspresi netral. Yang paling tidak berhasil yang pernah kulihat.Helena menepuk lengannya. "Kau sudah terlihat seperti orang yang menyimpan rahasia terbesar di dunia.""Aku bisa menyimpan rahasia!""Kau tidak bisa menyimpan rahasia," kata Helena datar. "Hei, aku memberitahu Dillard tentang hubungan kita padahal kiya sudah bersama dua tahun.""Itu berbeda—""Kita berangkat besok pagi," potong Dillard. "Tidur. Semua."*Roda kereta kayu menggilas jalanan berbatu. Suara ketukannya berirama. Itu menjadi satu-satunya musik latar di kereta kuda yang sepi ini. Pemandangan di luar jendela berkelebat pelan. Ada hijau hutan dan abu-abu jalanan. Lalu kembali lagi ke hijau.Dulu, tiap putaran roda ini terasa seperti hitung mundur. Sebuah hitung mundur menuju hukuman mati. Bayangan Viktor selalu membuntuti. Ruang sidang yang dingin dan beban masa
Dokter itu meletakkan tangannya di atas tas medis, menatap sang Duke dengan pandangan otoriter. "Istri Anda baik-baik saja. Kehamilan ini berjalan normal, sealami matahari yang terbit di pagi hari. Tugas Anda sekarang adalah memastikan dia tidak stres. Dan itu termasuk tidak membuatnya pening dengan rentetan pertanyaan Anda yang tak habis-habis ini."Dillard terhenti. Ia menutup buku catatan kecilnya dengan bunyi plak yang cukup keras. Namun, kegigihannya belum luruh. "Berapa sering dia harus diperiksa?"Dr. Maren menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar seperti doa minta kesabaran. "Sebulan sekali sudah lebih dari cukup. Begitu Anda sampai di ibu kota, Anda bisa menemukan bidan kerajaan yang sangat kompeten. Mintalah Duke Theodore memberikan rekomendasi, dia pasti tahu siapa yang terbaik.""Baik," jawab Dillard pendek."Ada pertanyaan lain? Pertanyaan terakhir, saya mohon," sindir Dr. Maren halus."Satu." Dillard menatap Dr. Maren langsung ke matanya, intensitasn
Dokter yang akhirnya tiba adalah seorang perempuan paruh baya bernama Dr. Maren. Ia membawa tas kulit hitam besar yang tampak berat dan mengenakan ekspresi wajah "jangan-ajak-aku-basa-basi" yang sangat kaku. Tanpa banyak bicara, ia mengusir Dillard keluar dan memeriksaku selama dua puluh menit penuh yang terasa seperti selamanya.Dillard, tentu saja, bersikeras ingin tetap di dalam ruangan."Tidak," sahut Dr. Maren datar, seolah ia sedang menolak permintaan seorang anak kecil untuk menambah porsi pencuci mulut. "Keluar, Yang Mulia. Anda hanya akan membuat tekanan darah istri Anda naik karena kegelisahan Anda yang tidak perlu itu."Maka Dillard pun terpaksa berdiri di luar pintu. Aku tidak perlu melihat menembus kayu ek yang tebal itu untuk tahu posisinya: tegak, kaku, dan mungkin sedang menatap dinding seberang dengan intensitas yang bisa melubanginya.Setelah dua puluh menit yang melelahkan, Dr. Maren akhirnya membuka pintu. Benar saja, Dillard berdiri tepat di depannya, nyaris s
"Kirim kurir lagi," jawab Dillard dingin. Ia mendekati meja tulis. Ia mengambil pena seolah ingin menulis sendiri surat itu. "Katakan ada urusan mendesak. Katakan kita terlambat dua hari. Bilang saja jalanannya rusak. Aku tidak peduli."Sekali lagi, Helena melirikku. Matanya seolah bertanya apakah kita harus menuruti kegilaan ini. Aku hanya berkedip pelan.Aku memberi isyarat kecil dengan tangan. Itu perintah bisu untuk menuruti pria yang sedang panik itu. Tidak ada gunanya membantah sekarang."Lakukan saja, Helena," bisikku pelan."Baik, Yang Mulia," sahut Helena. Ia mundur perlahan. Ruangan kini dipenuhi aroma tinta dan kecemasan.Dillard kembali menatapku. Ia terlihat seperti sedang menyusun strategi perang. Padahal,
Dillard sedang duduk di tepi tempat tidur saat aku keluar.Kemejanya sudah terpasang. Rambutnya sudah tersisir rapi. Ia sedang merunduk. Ia sibuk menarik tali sepatu boots-nya dengan saksama. Ia tidak langsung melihatku.Aku berdiri diam di depan pintu. Aku memperhatikannya selama beberapa detik.Dillard mengangkat kepala. Ia menangkap wajahku dengan satu tatapan cepat. Itu cara khasnya membaca situasi sebelum bertanya.Ia berhenti mengikat tali sepatunya. Tubuhnya menegang."Kau terlihat pucat—""Dillard." Aku melangkah maju. Ia hendak menyentuh dahiku untuk mengecek demam. Ak
Aku tidak langsung memberitahu Dillard. Ada sesuatu yang menahanku. Mungkin itu rasa takut.Atau mungkin keinginan posesif untuk menyimpan rahasia ini sedikit lebih lama. Aku belum ingin ia menjadi milik dunia.Mual bisa berarti banyak hal. Bisa karena perjalanan panjang yang melelahkan. Bisa karena pola tidur yang kacau balau.Mungkin juga sisa tekanan berbulan-bulan baru bereaksi pada tubuhku sekarang. Aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang besar.Aku tidak ingin memberi harapan menyilaukan lalu ternyata salah.Aku turun ke dapur lebih awal. Saat itu rumah masih terlelap dalam sunyi. Udara pagi terasa menusuk hingga membuat bulu kuduk berdiri.Di sudut
Hening total di ballroom.Semua mata tertuju pada buku kecil di tangan Celestine.Diary Putri Elara.Viktor wajahnya berubah. Dari merah ke putih dalam sekejap. "Dari mana kau dapat itu?""Dari kamar Putri Elara. Sebelum semua barang-barangnya dibakar." Celestine pegang diary erat. "Aku menyimpanny
Viktor menatapku dengan mata menyipit. Waspada sekarang."Kalau begitu—" Raja batuk lagi. Lebih parah kali ini. Sapu tangan penuh darah. "Kalau begitu audiensi dimulai. Duke Donoughoe dan Duchess Juliet—presentasikan bukti kalian."Dia duduk kembali di tahta. Napas tersengal.Dillard menatapku. Ada
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus siap." Aku lirik tas dokumen di tangan Lincoln. "Kau bawa semuanya?""Semua ada di sini." Dia menepuk tas. "Tapi Juliet—ini terlalu cepat. Kita belum siap—""Tidak ada pilihan." Aku menatap Dillard yang sudah sampai di depan tahta. "Kita lakukan sekarang atau tidak
Carmen wajahnya merah. Entah malu atau marah."Aku mengerti." Suaranya kaku sekarang. "Maafkan aku kalau kata-kataku menyinggung. Aku hanya... aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu memilih dia dibanding... pilihan lain yang ada.""Aku memang tidak memilih Juliet," kata Dillard. Menatap aku sekara







