Kak Julia tertawa paling keras, sampai menepuk meja. Kak Diana menyusul, bahkan hampir tersedak sendiri.“Serius?!” kata Kak Diana di sela tawanya.Aku langsung memalingkan wajah, panas menjalar dari leher sampai ke telinga.Kalau ada tanah, aku ingin sekali mengubur kepalaku ke dalamnya.“Ih, ya ampun, Bayu!” Kak Julia sampai mengusap sudut matanya yang mulai berair. “Malu banget pasti!”Aku hanya bisa menggaruk kepala kasar, berharap entah bagaimana situasi ini cepat selesai.Di sisi lain, Bik Sari menutup mulutnya, berusaha menahan tawa meski jelas gagal. Bahunya ikut bergetar. Pak Ijul bahkan sampai berdehem beberapa kali, mencoba terlihat serius, tapi tetap saja senyumnya bocor.“Maaf, Den…” katanya sambil memalingkan wajah.Seolah itu membantu.Aku ingin berdiri tapi Kak Lora mencegahku.Sementara itu, Nara tetap duduk dengan tenang, bahkan terlihat sedikit bingung melihat reaksi semua orang.“Saya pikir itu normal,” katanya jujur.“Normal, katanya!” ulang Kak Julia, semakin tid
続きを読む