Mag-log inKlik.
Aruna menempelkan kartu akses emas itu ke pintu apartemen Gavin. Tangannya gemetar hebat, sisa ketakutan dari butik siang tadi masih menjalar di nadinya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram. Di balik mantel panjangnya, ia mengenakan gaun pengiring pengantin warna champagne yang tadi dicoba di butik.
Gavin berdiri di dekat meja bar, menyesap wiskinya. Ia masih memakai kemeja biru navy yang sama, tapi dua kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang kecokelatan.
"Lepas mantelnya, Aruna," perintah Gavin dingin tanpa menoleh.
Aruna bergeming di dekat pintu. "Gavin, ini sudah malam. Aku sudah datang. Tolong, hapus videonya dan biarkan aku pergi setelah ini."
Gavin tertawa rendah, suara yang terdengar mengerikan di kesunyian apartemen itu. Ia berbalik, menatap Aruna dengan mata yang menggelap. "Kamu pikir kartu emas itu cuma buat kunjungan lima menit? Kamu pikir aku memintamu memakai gaun itu hanya untuk dipamerkan di depan pintu? Lepas. Sekarang."
"Gavin, kumohon..."
"Jangan membuatku mengulangi perintah, Aruna. Atau ponselku yang akan berbicara pada ibumu," ancamnya tenang namun tajam.
Dengan perlahan dan tangan gemetar, Aruna membuka mantelnya. Gaun champagne model backless itu membalut tubuhnya dengan sangat provokatif, mengekspos punggung mulusnya yang putih.
"Mendekat," titah Gavin lagi.
Aruna melangkah ragu, setiap langkahnya terasa seperti menuju tiang gantungan. Begitu jark mereka hanya tersisa beberapa senti, Gavin merenggut pinggang Aruna dengan kasar hingga tubuh mereka bertabrakan.
"Cantik sekali. Jauh lebih cantik daripada saat ibumu dan Maya melihatmu tadi siang. Kamu tahu apa yang kupikirkan saat di butik tadi?" bisik Gavin, hidungnya menggesek pelipis Aruna.
"Jangan lakukan ini... Maya sangat mencintaimu, Gavin. Dia adikku satu-satunya," rintih Aruna.
"Dan aku menginginkan kakaknya. Bukankah itu adil? Dia mendapatkan statusku, dan aku mendapatkan tubuhmu," Gavin memutar tubuh Aruna, jarinya menyentuh ritsleting gaun itu di bagian punggung.
"Gavin, jangan robek! Ini gaun untuk acara Maya! Ibu akan curiga kalau gaun ini rusak!"
"Aku nggak peduli soal acaranya. Aku bahkan nggak peduli kalau pernikahan itu batal karena gaun ini," desis Gavin. Sreeet! Dengan satu tarikan beringas, Gavin tidak hanya menarik ritsleting itu, tapi merobek jahitan di bagian bahu gaun mahal itu hingga kainnya terkulai jatuh.
"Gavin! Kamu gila!"
"Diam, Aruna. Atau aku mengirim videonya sekarang juga. Pilih mana? Kehilangan gaun, atau kehilangan muka di depan seluruh keluarga besar?"
Gavin mendorong Aruna ke ranjang king size. Ia segera menindihnya, mengunci kedua tangan Aruna ke atas kepala dengan satu tangan besarnya.
"Gavin... pelan... ahh!" Aruna memekik saat Gavin menggigit bahunya dengan beringas, meninggalkan tanda kemerahan di sana.
"Kenapa harus pelan? Tubuhmu nggak bilang 'pelan' semalam di hotel. Tubuhmu bilang 'tambah lagi', Aruna. Kamu menikmatinya, akui saja," goda Gavin, suaranya parau oleh gairah.
Gavin meraup dada Aruna yang kini polos karena gaunnya sudah melorot ke pinggang. Ia meremasnya dengan kuat, memberikan sensasi nyeri sekaligus panas yang menjalar ke seluruh saraf Aruna.
"Lepaskan aku, Gavin... ssshh... ini salah..."
"Bilang, Aruna. Siapa pria yang sedang menguasaimu sekarang? Siapa?"
"Kamu... ahh... Gavin, hentikan... aku benci ini..."
"Katakan lebih keras! Aku ingin mendengar namaku dari bibirmu!" Gavin menghujamkan miliknya dengan satu sentakan brutal tanpa pemanasan, membuat Aruna terkesiap hebat.
"Ahh! Gavin!" Aruna melengkungkan tubuhnya, mencengkeram sprei sekuat tenaga hingga buku jarinya memutih. Air mata mulai mengalir, namun tubuhnya mulai bergetar menerima invasi Gavin yang tak terbendung.
"Sakit? Atau nikmat, Sayang? Jangan berbohong pada tubuhmu sendiri," Gavin bergerak dengan tempo yang sangat cepat, membuat ranjang itu berderit ritmis memenuhi kamar.
"Aku... aku membencimu... ahhh... ssshh... Gavin... pelan... kumohon..."
"Benci aku sesukamu, tapi desahkan namaku sampai kamu kehabisan suara. Aku ingin Maya tahu siapa yang sebenarnya aku cintai di ranjang ini."
Gavin membalik tubuh Aruna hingga posisi menungging. Ia menarik rambut Aruna agar wanita itu mendongak, memaksanya menatap bayangan mereka di cermin besar di samping ranjang.
"Lihat dirimu, Aruna. Calon ipar yang malang. Lihat betapa liarnya kamu saat aku masuk lebih dalam dari belakang. Kamu terlihat sangat haus," bisik Gavin seraya kembali menghujamkan miliknya dengan ritme yang lebih liar.
"Ahh! Gavin... cukup... ssshh... jangan di sana... ahhh! Aku nggak kuat..."
Tumbukan Gavin semakin beringas, setiap sentakannya terasa menghujam hingga ke ulu hati Aruna. Aruna merasa dunianya seolah akan pecah. Keringat bercucuran, membasahi kain gaun champagne yang kini hanya tersangkut di pinggulnya, menjadi saksi bisu pengkhianatan malam ini.
"Gavin... aku... aku akan... ahhh!" Aruna mencapai puncaknya dengan tubuh yang bergetar hebat, kepalanya terkulai di atas bantal.
Gavin mengerang rendah, otot-otot punggungnya menegang saat ia mempercepat gerakannya untuk mengejar pelepasannya sendiri. Namun, tepat di saat tensi mereka berada di titik tertinggi dan Aruna masih terengah-engah...
Klik.
Bunyi sensor pintu depan apartemen terdengar sangat jelas. Aruna membeku seketika. Darahnya seolah berhenti mengalir. Tubuhnya mendadak kaku di bawah kungkungan Gavin.
"Gavin? Kamu sudah pulang? Aku bawakan martabak kesukaanmu! Kamu tadi lupa makan malam, kan?"
Itu suara Maya. Suara itu terdengar sangat riang, sangat dekat di ruang tengah.
"Gavin? Kok pintunya nggak dikunci? Tumben banget," suara Maya terdengar lagi. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai parket, semakin mendekat ke arah kamar utama.
Aruna panik luar biasa. Ia mencoba melepaskan diri dari Gavin dengan sisa tenaganya. "Gavin! Maya! Sembunyi, Gavin! Cepat!"
Gavin justru tidak bergerak. Ia tetap berada di dalam tubuh Aruna, merasakan detak jantung Aruna yang berpacu liar karena ketakutan. Ia bahkan sengaja menekan berat tubuhnya agar Aruna tidak bisa bergeser dari posisinya.
"Gavin, kumohon... dia akan masuk! Dia akan melihat kita!" tangis Aruna pecah, suaranya sangat lirih, hampir berupa bisikan yang tercekat di tenggorokan.
Gavin menatap pintu kamar yang hanya tertutup separuh. Alih-alih menyembunyikan Aruna, ia justru menarik napas panjang dan berteriak ke arah pintu.
"Maya! Jangan masuk! Aku sedang... tidak pakai baju!" teriak Gavin dengan nada yang dibuat seolah ia baru saja terbangun.
Langkah kaki Maya berhenti tepat di depan pintu kamar. "Oh? Maaf, Gavin! Habisnya aku panggil-panggil dari luar nggak ada jawaban. Aku cuma mau antar makanan."
Aruna menahan napas, tubuhnya masih menyatu dengan Gavin, gemetar di bawah selimut yang ditarik Gavin seadanya untuk menutupi punggung Aruna.
"Taruh saja di meja makan, Maya. Aku akan keluar sebentar lagi," ucap Gavin, matanya masih menatap Aruna dengan kilat jahat.
"Tapi Gavin, kok... ada parfum perempuan di sini? Wanginya familiar banget. Wangi parfum Kak Aruna?" tanya Maya dari balik pintu.
Jantung Aruna serasa copot. Ia mencengkeram lengan Gavin, memohon melalui tatapan matanya agar pria itu melakukan sesuatu.
Suara wanita di layar televisi itu terus bergema, menghantam dinding kamar yang hening seperti vonis mati. Garis wajah Sari—wanita yang memiliki mata serupa dengan Gavin—menatap dingin ke arah kamera, menelanjangi rahasia yang terendam puluhan tahun."Adik kandung..."Dunia Aruna berhenti berputar. Seluruh persendian tubuh Gavin mendadak terkunci rapat di atas tubuh Aruna. Pria itu mematung, menatap layar kaca dengan pupil mata yang melebar penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.Di bawah kungkungan tubuh Gavin yang berat, Aruna merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Rasa mual yang teramat sangat menyembur dari lambungnya, meracuni seluruh aliran darahnya."Gavin..." bisik Aruna, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Lepaskan... lepaskan aku!"Aruna mendorong dada
Bau amis darah tua bercampur bau logam yang pekat memenuhi rongga dada Aruna. Cairan hangat yang mengalir di antara sela pahanya terasa tebal, merembes cepat menembus kain satin hitam yang melekat di kulitnya. Rasa melilit di perut bawahnya seolah mencakar dinding rahim dari dalam, merenggut seluruh pasokan udara hingga tenggorokannya terkunci rapat."Gavin..." suara Aruna pecah, nyaris berbisik. Tangannya gemetar hebat, menekan permukaan lantai semen yang dingin saat matanya menangkap warna merah pekat yang kian meluas, menyatu dengan genangan darah Paman Hardi di depannya.Langkah sepatu kulit Gavin berkedut. Pistol revolver silver di tangannya meluncur bebas, menghantam lantai batu dengan dentang nyaring yang memekakkan telinga. Pria itu berlutut secara mendadak, mengabaikan genangan darah yang langsung menodai lutut celana kain mahalnya."Aruna!" Pekikan rendah yang sarat akan panik pecah dari mulut Gavin. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika memucat. Matanya liar menatap
Dinding kamar yang gelap memantulkan suara napas yang berburu. Keringat dingin membasahi sprei sutra yang kusut, melekatkan sisa-sisa benang hitam ke kulit Aruna yang kemerahan. Di atasnya, dada Gavin naik turun secara teratur. Pria itu menyandarkan dahinya di celak leher Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu yang terkunci rapat di atas kepala."Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Aruna..." bisik Gavin dengan suara serak yang menyapu kulit telinga Aruna. Tangannya yang besar turun melingkari perut Aruna yang datar, menepuknya pelan seolah sedang menyegel sesuatu yang berharga di sana.Aruna menatap ceiling kamar yang remang. Bibirnya bengkak dan perih, dadanya masih memburu hebat dari pergulatan liar yang baru saja merenggut sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar, merespons sentuhan hangat yang ditinggalkan Gavin, sementara otaknya berteriak menyuarakan kebencian yang makin pekat."Paman Hardi..." suara Aruna keluar parau, hampir tenggelam di antara ketukan hujan yang mulai memukul kac
Angin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang
Aruna menahan napas. Tangannya mencengkeram sprei tebal di belakang punggungnya, berusaha mencari tumpuan saat guncangan panik menyerang dadanya. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar rembulan, pendar asap tipis dari moncong pistol pria itu terlihat begitu mengancam."Siapa kamu?" tanya Aruna, suaranya gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tenang.Pria itu melangkah masuk. Sepatu boots mewahnya beradu melintasi pecahan bingkai pintu kayu yang hancur. Ia menyalakan pemantik api perak di tangannya. Cahaya oranye yang temaram seketika menyinari separuh wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka tipis di rahang."Orang yang harusnya menyelamatkanmu dari monster bernama Gavin," sahut pria itu. Suaranya serak, dingin, dan tanpa nada keramahan."Paman Hardi?" Aruna menyipitkan mata, terbelalak melihat garis wajah yang sangat ia kenal itu. "Bagaimana bisa... bukankah Paman di penjara?"Pria itu tertawa tipis, suara tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia mem
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam masuk membawakan nampan berisi segelas air dan dua butir pil."Nona Aruna, ini obat penguat kandungan dari Tuan Gavin. Harus diminum sekarang," ujar penjaga itu singkat.Aruna menatap dua pil merah di atas nampan dengan kening berkerut. "Aku sudah minum obat tadi pagi.""Tuan meminta saya memastikan Nona meminumnya langsung di depan saya.""Kalau aku menolak?" Aruna bersedekap, menatap lurus mata pria itu."Tuan Gavin tidak memberi opsi menolak, Nona."Aruna menghela napas panjang. Ia mengambil dua pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meneguk air hingga tandas."Sudah kan? Sekarang keluar," kata Aruna dingin.Penjaga itu menunduk kaku. "Baik. Pintu akan tetap dikunci dari luar."Begitu gerendel pintu berbunyi klak, Aruna bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tenggorokannya di depan wastafel hingga mual hebat memicu perutnya memuntahkan kembali seluruh isi lambungnya. Pil ya
"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakm
Mobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin."Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna."Sakit?
Aruna mematung. Napasnya tertahan di kerongkongan, terasa mencekik. Di atas tubuhnya, Gavin justru mempererat cengkeraman pada pinggul Aruna, sengaja menekan berat tubuhnya hingga Aruna tidak bisa bergerak di bawah selimut tipis yang berbau keringat dan gairah itu."Gavin? Kok bau parfum Kak Aruna a
Udara di dalam kamar hotel terasa menyesakkan bagi Aruna. Gavin masih terus menghujamnya tanpa ampun, seolah ingin menguras seluruh tenaga wanita itu hingga tak bersisa.Aruna mencengkeram bahu Gavin yang kokoh, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu saat sensasi panas menyapu seluruh tubuhnya. De







