Home / Romansa / Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin / Bab 4: Sandiwara di Balik Gaun Putih

Share

Bab 4: Sandiwara di Balik Gaun Putih

Author: Fillani Putri
last update Last Updated: 2026-02-04 23:08:50

Aku menatap pantulan diriku di cermin besar butik pengantin ini. Mataku sedikit sembab, namun riasan tebal berhasil menyembunyikan kelelahan dan rasa hancur yang kurasakan. Di sebelahku, Maya tampak begitu cantik dan berseri-seri dalam balutan gaun pengantin satin berwarna putih gading. Ia terlihat seperti malaikat, sangat kontras denganku yang merasa seperti pendosa paling kotor di ruangan ini.

"Kak Aruna, menurutmu yang ini terlalu terbuka tidak di bagian punggung?" tanya Maya sambil berputar pelan di depan cermin.

Aku mencoba memaksakan senyum terbaikku. "Tidak, Maya. Kau terlihat sangat sempurna. Reno pasti akan terpesona melihatmu."

"Aku setuju dengan kakakmu, Maya. Kau terlihat sangat anggun."

Suara bariton itu membuat seluruh tubuhku menegang. Aku melihat melalui cermin saat Gavin melangkah masuk ke area privat butik ini. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya, terlihat sangat berwibawa. Di belakangnya, Ibu menyusul dengan wajah sumringah karena kehadiran keluarga calon menantu kesayangannya.

Gavin berdiri tepat di belakangku. Mata kami bertemu melalui pantulan cermin. Ada kilatan nakal di matanya yang hanya bisa kubaca sendiri. Ia seolah sedang menelanjangiku di depan Ibu dan adikku.

"Terima kasih sudah mau datang, Kak Gavin," ucap Maya dengan riang. "Aku butuh pendapat laki-laki. Bagaimana menurutmu?"

Gavin melipat tangan di depan dada, menatap Maya sekilas sebelum kembali memfokuskan pandangannya padaku. "Sangat bagus. Tapi aku rasa kakakmu juga butuh mencoba gaun pengiring pengantinnya sekarang. Aku ingin melihat apakah warnanya serasi dengan gaunmu."

Ibu mengangguk setuju. "Benar, Aruna. Cepat masuk ke bilik ganti. Biar Gavin yang menilai, seleranya dalam hal pakaian sangat bagus."

Aku ingin menolak, tapi tatapan tajam Gavin adalah peringatan yang tidak bisa dibantah. Dengan langkah berat, aku mengambil gaun berwarna champagne yang sudah disiapkan dan masuk ke dalam bilik ganti. Aku menutup tirai dengan kasar, mencoba mengatur napasku yang mulai tidak beraturan.

Gaun ini memiliki model backless dengan ritsleting di bagian belakang yang cukup sulit dijangkau. Aku berjuang menarik ritsleting itu ke atas, namun tanganku yang gemetar membuatnya tersangkut.

"Perlu bantuan, Aruna?"

Suara itu terdengar sangat dekat. Belum sempat aku menjawab, tirai bilik ganti sedikit terbuka dan Gavin menyelinap masuk sebelum aku sempat berteriak. Ia segera menutup tirai itu kembali dan menguncinya dari dalam.

"Gavin! Apa yang kau lakukan? Keluar sekarang!" bisikku dengan nada panik yang tertahan. Bilik ini terlalu sempit untuk kami berdua. Aroma parfumnya kembali memenuhi paru-paruku, membangkitkan memori panas yang ingin kubuang jauh-jauh.

"Kau kesulitan dengan ritsletingmu, Sayang. Sebagai calon kakak ipar yang baik, aku hanya ingin membantu," ucapnya dengan nada mengejek.

Ia memutar tubuhku hingga membelakanginya. Aku bisa merasakan telapak tangannya yang hangat menyentuh kulit punggungku yang terbuka. Sentuhan itu membuatku bergidik. Jarinya bergerak sangat lambat, bukan menarik ritsleting ke atas, melainkan justru mengusap garis tulang belakangku dengan gerakan menggoda.

"Berhenti, Gavin... Ibu dan Maya ada di luar," rintihku pelan. Jantungku berdebar begitu keras hingga aku takut mereka bisa mendengarnya dari balik tirai.

"Lalu kenapa? Mereka hanya akan mengira kita sedang sibuk dengan gaun ini," bisiknya tepat di telingaku. Ia merapatkan tubuhnya ke punggungku, membuatku bisa merasakan gairahnya yang kembali bangkit. Ia mencium bahuku yang terbuka, meninggalkan jejak panas di sana.

"Jangan... kumohon," air mata mulai menetes di pipiku. Tekanan emosional ini benar-benar menyiksaku. Aku merasa seperti pengkhianat terbesar bagi adikku sendiri.

Gavin memutar tubuhku kembali menghadapnya. Ia menatapku dengan tatapan yang kini melembut, namun tetap penuh dominasi. Ia menghapus air mataku dengan ibu jarinya, lalu dengan cepat menarik ritsleting gaunku ke atas hingga tertutup sempurna.

"Jangan menangis, Aruna. Kau merusak pemandangan indahnya gaun ini," ucapnya dingin. Ia merapikan sedikit tatanan rambutku yang berantakan, lalu mencium bibirku sekilas, sebuah ciuman yang singkat namun penuh klaim.

Gavin membuka tirai dan melangkah keluar lebih dulu dengan wajah tanpa dosa. Aku menarik napas panjang, mencoba menormalkan ekspresi wajahku sebelum menyusul keluar.

"Nah, lihat! Kalian sangat serasi. Aruna terlihat sangat cantik dengan warna itu," puji Ibu saat aku keluar.

Maya memeluk lenganku dengan manja. "Iya, Kak Aruna cantik sekali! Nanti saat acara, Kak Aruna harus berdiri di samping Kak Gavin terus ya, biar kelihatan kompak sebagai keluarga."

Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam dadaku. Berdiri di sampingnya? Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa bertahan hidup sampai hari pernikahan itu tiba tanpa menjadi gila.

Gavin tersenyum pada Maya, lalu melirikku dengan senyum miring yang penuh kemenangan. "Tentu, Maya. Aku akan memastikan kakakmu tidak akan jauh-jauh dariku sepanjang acara nanti."

Acara fitting itu berakhir dengan makan siang bersama. Sepanjang waktu, Gavin terus memainkan perannya sebagai pria terhormat di depan keluargaku, namun di bawah meja, ia terus mengusap paha bagian dalamku dengan kakinya, memaksaku untuk tetap diam dan berpura-pura menikmati makanan.

Saat kami akhirnya berpisah di parkiran, Gavin mendekatiku saat Ibu dan Maya sudah masuk ke dalam mobil mereka.

"Ingat jadwal kita besok malam, Aruna," bisiknya sambil membukakan pintu mobil untukku.

Aku menatapnya dengan penuh kebencian. "Aku membencimu, Gavin. Sangat membencimu."

Gavin hanya tertawa kecil, suara yang terdengar begitu merdu sekaligus mengerikan. Ia membungkuk sedikit, berpura-pura merapikan sabuk pengamanku agar Ibu tidak curiga.

"Kebencianmu adalah bumbu terbaik di ranjang, Aruna. Dan bersiaplah, karena besok malam, aku tidak akan membiarkanmu memakai sehelai benang pun saat kau memohon padaku untuk berhenti."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 6: Hukuman Sang Tuan Muda

    Mobil hitam mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuatku mual, namun ketakutanku pada pria di sampingku jauh lebih besar daripada rasa pusing di kepalaku. Gavin tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan kafe. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke jendela dengan rahang yang terkatup rapat. Aura kemarahan yang dipancarkannya begitu pekat, memenuhi ruang kabin mobil yang kedap suara ini hingga aku merasa oksigen di sekitarku menipis.Aku meremas jemariku sendiri, mencoba menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Mengapa setiap kali aku mencoba mencari jalan keluar, aku justru terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam? Sosok Raka yang ketakutan tadi terus terbayang di benakku, membuktikan bahwa Gavin Dirgantara bukan sekadar pria sombong dengan tumpukan uang. Dia adalah otoritas mutlak yang tidak mengenal kata tidak.Mobil akhirnya berhenti di basement sebuah apartemen penthouse eksklusif di pusat Jakarta. Tanpa menunggu sopir membukakan

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 5: Cemburu Sang Predator

    Aku merasa seperti tawanan yang menunggu waktu eksekusi. Setiap kali ponsel pemberian Gavin bergetar, jantungku seolah berhenti berdetak. Namun, rasa sakit hati dan harga diri yang tersisa mendorongku untuk melakukan satu tindakan nekat. Aku butuh sekutu. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku lepas dari jeratan Gavin tanpa harus menghancurkan Maya.Sore itu, aku memutuskan untuk menemui Raka, mantan kekasihku yang sempat menyelingkuhiku. Ironis memang, menemui pria yang membuatku jatuh ke pelukan Gavin di malam itu. Tapi Raka adalah seorang pengacara, dan dia tahu banyak tentang celah hukum serta privasi digital.Kami bertemu di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, tempat yang kuyakin tidak akan terjangkau oleh radar keluarga Dirgantara."Aruna, aku senang kau mau menemuiku lagi. Aku benar-benar menyesal soal kejadian itu," ucap Raka sambil mencoba meraih tanganku di atas meja.Aku segera menarik tanganku dengan rasa muak. "Simpan maafmu, Raka. Aku di sini bukan untuk balikan. Aku

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 4: Sandiwara di Balik Gaun Putih

    Aku menatap pantulan diriku di cermin besar butik pengantin ini. Mataku sedikit sembab, namun riasan tebal berhasil menyembunyikan kelelahan dan rasa hancur yang kurasakan. Di sebelahku, Maya tampak begitu cantik dan berseri-seri dalam balutan gaun pengantin satin berwarna putih gading. Ia terlihat seperti malaikat, sangat kontras denganku yang merasa seperti pendosa paling kotor di ruangan ini."Kak Aruna, menurutmu yang ini terlalu terbuka tidak di bagian punggung?" tanya Maya sambil berputar pelan di depan cermin.Aku mencoba memaksakan senyum terbaikku. "Tidak, Maya. Kau terlihat sangat sempurna. Reno pasti akan terpesona melihatmu.""Aku setuju dengan kakakmu, Maya. Kau terlihat sangat anggun."Suara bariton itu membuat seluruh tubuhku menegang. Aku melihat melalui cermin saat Gavin melangkah masuk ke area privat butik ini. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya, terlihat sangat berwibawa. Di belakangnya, Ibu menyusul dengan wajah sumringah karena kehadiran keluarga

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 3: Harga Sebuah Rahasia

    Udara di dalam kamar hotel ini terasa mencekik. Aku berdiri mematung di depan Gavin, pria yang dalam semalam telah berubah dari orang asing menjadi mimpi buruk paling nyata dalam hidupku. Perintahnya baru saja menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kucoba pertahankan. Lepaskan pakaianku? Rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga."Gavin, ini keterlaluan," suaraku bergetar hebat. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan semalam. Kenapa kau harus menghancurkanku seperti ini?"Gavin duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya dengan santai seolah dia sedang menonton pertunjukan yang sangat menarik. Ia meraih segelas wiski yang ada di nakas, menyesapnya sedikit sebelum menatapku kembali dengan mata gelapnya yang tidak terbaca."Semalam itu adalah ketidaksengajaan yang menyenangkan, Aruna. Tapi malam ini? Malam ini adalah sebuah transaksi," ucapnya tanpa beban. "Aku punya sesuatu yang kau butuhkan, yaitu kebungkamanku. Dan kau punya sesuatu yang aku inginkan. Adil,

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 2 : Tawaran Iblis

    Lututku terasa lemas mendengar ancaman yang keluar dari bibir pria itu. Gavin masih menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia yang kusembunyikan. Tangannya yang besar masih berada di perutku, seolah memberikan klaim bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuhku sejak malam itu. Aku bisa mendengar tawa Maya dan calon suaminya dari arah taman, suara kebahagiaan yang sekarang terasa seperti lonceng kematian bagiku."Kau gila, Gavin," desisku sambil mencoba menepis tangannya. "Maya adalah adikku. Dia sangat mencintai adikmu. Bagaimana bisa kau sejahat ini?"Gavin tidak bergeming. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpitku hingga tidak ada celah udara di antara kami. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan stabil, berbanding terbalik dengan jantungku yang berpacu liar karena ketakutan. Ia menyelipkan jari-jarinya ke sela rambutku, menariknya sedikit ke belakang agar aku terpaksa mendongak menatapnya."Aku tidak peduli dengan cinta mereka, Aruna. Aku

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 1 : Dosa di Balik Jas Hitam

    Detak jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok tipis di bar ini biasanya membuatku mual, tapi malam ini semuanya terasa seperti bius yang kucari. Aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kekasihku selama tiga tahun sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemen yang seharusnya menjadi kejutan ulang tahunku. Hancur. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan jiwaku sekarang.Aku memesan satu gelas wiski lagi, lalu satu lagi, sampai pandanganku mulai sedikit berbayang. Di tengah keremangan lampu bar yang berputar, aku merasakan sebuah tatapan yang membakar kulit tengkukku. Aku menoleh perlahan dan menemukan seorang pria duduk di sudut yang paling gelap. Ia sedang menyesap minumannya dengan tenang, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dariku.Ia tidak seperti pria-pria di sini yang mencoba mendekat dengan rayuan murahan. Pria itu hanya diam, tapi auranya sangat mendominasi. Ia mengenaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status