LOGIN
“Berhent— Ahh …”
Aruna melenguh pelan, mencoba menarik kembali kewarasannya dari sentuhan memabukkan pria asing itu. Akal sehat Aruna seperti disedot habis oleh gelas-gelas alkohol yang ia pesan tadi.
Di malam ulang tahunnya ini, ia seharusnya menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Namun, bukan momen romantis yang ia dapatkan, melainkan pengkhianatan besar.
Tiga tahun hubungan berakhir sia-sia saat ia memergoki kekasihnya bercumbu dengan wanita lain di apartemen mereka. Dengan perasaan hancur, Aruna memilih pelarian ke sebuah kelab malam.
Kini, ia justru berakhir di sebuah kamar hotel dengan pria asing yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
“Kamu yakin ingin aku berhenti?” bisik pria itu tepat di telinga Aruna. Tangannya sibuk menjelajah tiap titik nikmat wanita itu dengan gerakan yang sangat ahli.
Refleks Aruna menggelengkan kepalanya. Tubuhnya tidak bisa berbohong dengan kenikmatan yang sedang dirasakan.
“Tolong … shhh,” desah Aruna sambil memejamkan matanya rapat.
“Katakan yang jelas, Baby. Kamu ingin aku berhenti atau lanjut?” tanya pria itu lagi dengan senyum kemenangan.
Tangannya kini lebih berani meremas dada Aruna, memelintir putingnya hingga Aruna memekik rendah. Sensasi panas menjalar ke seluruh sarafnya, membuatnya kehilangan kendali.
“Aku … shh … lakukan. Tolong lakukan,” pinta Aruna akhirnya dengan suara parau.
“As you wish, Baby.”
Tanpa banyak bicara lagi, pria itu melepas seluruh pakaiannya yang tersisa. Ia memamerkan tubuh atletisnya yang kokoh di bawah cahaya temaram lampu kamar.
Ia langsung membungkam bibir ranum Aruna dengan ciuman yang menuntut dan rakus. Lidahnya bermain dengan liar, seolah ingin menandai wilayah kekuasaannya tanpa ampun.
Pria itu mengangkat kedua kaki Aruna dan melingkarkannya ke pinggangnya yang kuat. Ia menghujam Aruna dengan satu sentakan dalam yang membuat Aruna terkesiap.
“Ahh! Gavin… maksudku… ahh!” Aruna bahkan tidak tahu siapa yang ia panggil, ia hanya bisa merasakan setiap inci tubuh pria itu menyatu dengannya.
Pria itu bergerak dengan tempo yang cepat dan brutal. Ia seolah ingin menghancurkan Aruna sekaligus memberikan surga dunia yang belum pernah wanita itu rasakan sebelumnya.
Aruna sepenuhnya larut dalam tiap hentakan yang diberikan. Kuku-kukunya mencengkeram bahu kokoh pria itu, meninggalkan bekas merah yang nyata.
Dosa ini terasa begitu nikmat, membuat Aruna melupakan sejenak rasa sakit hatinya. Ia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pria asing yang aroma kayu cendananya kini memenuhi indra penciumannya.
Ketika pagi datang, Aruna terbangun karena cahaya yang terasa menusuk matanya dari celah gorden. Sekujur tubuhnya terasa perih dan pegal luar biasa.
“Astaga …” gumam Aruna lirih saat melihat tanda-tanda merah di sekujur tubuhnya.
Ia menoleh ke samping, namun tempat tidur itu sudah kosong. Pria semalam sudah pergi, menyisakan wangi parfum kayu cendana yang masih menempel di bantal.
Aruna bangkit dengan tertatih dan segera memakai kembali pakaiannya. Ia tidak menyesal, anggap saja ini kado ulang tahun paling liar yang pernah ia dapatkan.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ibunya telah beberapa kali menelepon.
“Ya, ada apa, Bu?” tanya Aruna begitu telepon tersambung.
“Aruna, kamu di mana? Hari ini kamu harus datang ke rumah, kita akan kedatangan tamu penting!” ujar ibunya dari seberang dengan nada antusias.
Aruna hanya bisa mengiyakan dengan suara lemas. Ia segera memacu kendaraannya pulang, mencoba menghilangkan bayangan pria semalam dari benaknya.
Sesampainya di rumah, suasana sudah sangat sibuk. Ibunya tampak mondar-mandir memastikan segalanya sempurna.
"Aruna, cepat ganti baju! Keluarga Dirgantara sudah hampir sampai!" perintah Ibunya tanpa menoleh sedikit pun.
Aruna hanya mengangguk pasrah. Ia segera mengenakan gaun paling sopan dengan kerah tinggi untuk menutupi jejak dosa semalam yang masih terlihat jelas.
Saat ia turun ke ruang tamu, pintu depan terbuka. Sosok pria jangkung dengan setelan jas hitam mahal melangkah masuk dengan sangat berwibawa.
Aruna terpaku di tempatnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menghirup aroma yang sangat familiar. Aroma kayu cendana.
Pria itu adalah Gavin Dirgantara. Calon tunangan Maya, adiknya sendiri.
Gavin menatap Aruna dengan kilat mata yang tajam dan misterius. Ia bersikap seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, namun tatapannya seolah sedang menelanjangi Aruna di depan semua orang.
"Senang bertemu denganmu, Aruna," ucap Gavin dengan suara bariton yang berat dan tenang.
Aruna hanya bisa menjabat tangan Gavin dengan jemari yang gemetar hebat. Ia tidak menyangka pria yang menghabiskan malam panas dengannya adalah orang yang akan menjadi adik iparnya.
Selesai makan malam, Aruna menyelinap ke balkon belakang untuk mencari udara segar. Ia merasa sesak terus berada di ruangan yang sama dengan Gavin.
Namun, baru saja ia menarik napas, sebuah tangan besar menariknya dengan kasar ke sudut balkon yang paling gelap.
Punggung Aruna menabrak dinding dengan keras. Gavin sudah mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya, tidak memberikan celah sedikit pun untuk lari.
"Lepaskan! Jangan sampai Maya melihat kita!" desis Aruna dengan suara gemetar karena takut sekaligus terangsang oleh kehadiran pria itu.
Gavin justru tersenyum miring, sebuah senyuman predator yang membuat jantung Aruna mencelos.
"Kenapa? Takut rahasia kecil kita terbongkar?" bisik Gavin rendah tepat di telinga Aruna.
Gavin meraba perut Aruna dengan telapak tangannya yang hangat, lalu perlahan merayap naik ke atas, ke arah dadanya. Aruna bergidik ngeri, namun tubuhnya justru bereaksi menyambut sentuhan itu.
"Kumohon, Gavin... jangan hancurkan pernikahan Maya," rintih Aruna dengan tatapan memohon.
Gavin justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat berbahaya. Ia mencengkeram dagu Aruna agar menatap langsung ke matanya yang gelap dan penuh nafsu.
"Aku tidak akan membongkarnya, Aruna. Tapi sebagai gantinya, kau harus terus melayaniku setiap kali aku menginginkannya," perintah Gavin tak terbantahkan.
Gavin merapat, membiarkan Aruna merasakan ketegangan tubuhnya di balik jas mahal itu. Ia menggigit daun telinga Aruna pelan, membuat wanita itu nyaris melenguh di rumah orang tuanya sendiri.
"Kau menyukainya semalam, bukan? Cara aku menguasaimu di atas ranjang hotel itu?" tanya Gavin provokatif.
Aruna memejamkan mata, menahan diri agar tidak menyerah pada gairah yang kembali tersulut.
"Ingat, Aruna. Mulai sekarang, kau adalah milikku secara rahasia. Jangan coba-coba lari atau menolakku," desis Gavin.
Gavin mendekatkan bibirnya ke telinga Aruna, memberikan ancaman terakhir yang membuat Aruna merasa dunianya runtuh seketika.
"Atau haruskah aku memberitahu Maya sekarang juga, bahwa kakaknya sudah mencicipi calon suaminya terlebih dahulu?"
Suara wanita di layar televisi itu terus bergema, menghantam dinding kamar yang hening seperti vonis mati. Garis wajah Sari—wanita yang memiliki mata serupa dengan Gavin—menatap dingin ke arah kamera, menelanjangi rahasia yang terendam puluhan tahun."Adik kandung..."Dunia Aruna berhenti berputar. Seluruh persendian tubuh Gavin mendadak terkunci rapat di atas tubuh Aruna. Pria itu mematung, menatap layar kaca dengan pupil mata yang melebar penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.Di bawah kungkungan tubuh Gavin yang berat, Aruna merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Rasa mual yang teramat sangat menyembur dari lambungnya, meracuni seluruh aliran darahnya."Gavin..." bisik Aruna, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Lepaskan... lepaskan aku!"Aruna mendorong dada
Bau amis darah tua bercampur bau logam yang pekat memenuhi rongga dada Aruna. Cairan hangat yang mengalir di antara sela pahanya terasa tebal, merembes cepat menembus kain satin hitam yang melekat di kulitnya. Rasa melilit di perut bawahnya seolah mencakar dinding rahim dari dalam, merenggut seluruh pasokan udara hingga tenggorokannya terkunci rapat."Gavin..." suara Aruna pecah, nyaris berbisik. Tangannya gemetar hebat, menekan permukaan lantai semen yang dingin saat matanya menangkap warna merah pekat yang kian meluas, menyatu dengan genangan darah Paman Hardi di depannya.Langkah sepatu kulit Gavin berkedut. Pistol revolver silver di tangannya meluncur bebas, menghantam lantai batu dengan dentang nyaring yang memekakkan telinga. Pria itu berlutut secara mendadak, mengabaikan genangan darah yang langsung menodai lutut celana kain mahalnya."Aruna!" Pekikan rendah yang sarat akan panik pecah dari mulut Gavin. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika memucat. Matanya liar menatap
Dinding kamar yang gelap memantulkan suara napas yang berburu. Keringat dingin membasahi sprei sutra yang kusut, melekatkan sisa-sisa benang hitam ke kulit Aruna yang kemerahan. Di atasnya, dada Gavin naik turun secara teratur. Pria itu menyandarkan dahinya di celak leher Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu yang terkunci rapat di atas kepala."Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Aruna..." bisik Gavin dengan suara serak yang menyapu kulit telinga Aruna. Tangannya yang besar turun melingkari perut Aruna yang datar, menepuknya pelan seolah sedang menyegel sesuatu yang berharga di sana.Aruna menatap ceiling kamar yang remang. Bibirnya bengkak dan perih, dadanya masih memburu hebat dari pergulatan liar yang baru saja merenggut sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar, merespons sentuhan hangat yang ditinggalkan Gavin, sementara otaknya berteriak menyuarakan kebencian yang makin pekat."Paman Hardi..." suara Aruna keluar parau, hampir tenggelam di antara ketukan hujan yang mulai memukul kac
Angin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang
Aruna menahan napas. Tangannya mencengkeram sprei tebal di belakang punggungnya, berusaha mencari tumpuan saat guncangan panik menyerang dadanya. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar rembulan, pendar asap tipis dari moncong pistol pria itu terlihat begitu mengancam."Siapa kamu?" tanya Aruna, suaranya gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tenang.Pria itu melangkah masuk. Sepatu boots mewahnya beradu melintasi pecahan bingkai pintu kayu yang hancur. Ia menyalakan pemantik api perak di tangannya. Cahaya oranye yang temaram seketika menyinari separuh wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka tipis di rahang."Orang yang harusnya menyelamatkanmu dari monster bernama Gavin," sahut pria itu. Suaranya serak, dingin, dan tanpa nada keramahan."Paman Hardi?" Aruna menyipitkan mata, terbelalak melihat garis wajah yang sangat ia kenal itu. "Bagaimana bisa... bukankah Paman di penjara?"Pria itu tertawa tipis, suara tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia mem
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam masuk membawakan nampan berisi segelas air dan dua butir pil."Nona Aruna, ini obat penguat kandungan dari Tuan Gavin. Harus diminum sekarang," ujar penjaga itu singkat.Aruna menatap dua pil merah di atas nampan dengan kening berkerut. "Aku sudah minum obat tadi pagi.""Tuan meminta saya memastikan Nona meminumnya langsung di depan saya.""Kalau aku menolak?" Aruna bersedekap, menatap lurus mata pria itu."Tuan Gavin tidak memberi opsi menolak, Nona."Aruna menghela napas panjang. Ia mengambil dua pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meneguk air hingga tandas."Sudah kan? Sekarang keluar," kata Aruna dingin.Penjaga itu menunduk kaku. "Baik. Pintu akan tetap dikunci dari luar."Begitu gerendel pintu berbunyi klak, Aruna bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tenggorokannya di depan wastafel hingga mual hebat memicu perutnya memuntahkan kembali seluruh isi lambungnya. Pil ya
Udara di dalam kamar hotel terasa menyesakkan bagi Aruna. Gavin masih terus menghujamnya tanpa ampun, seolah ingin menguras seluruh tenaga wanita itu hingga tak bersisa.Aruna mencengkeram bahu Gavin yang kokoh, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu saat sensasi panas menyapu seluruh tubuhnya. De
"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakm
Mobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin."Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna."Sakit?
Lutut Aruna terasa lemas mendengar ancaman pria itu. Gavin masih menatapnya dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia di otaknya.Tangannya yang besar masih berada di perut Aruna. Sebuah klaim sepihak bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuh itu sejak malam panas di hotel.Dari







