Beranda / Romansa / Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin / Bab 1 : Dosa di Balik Jas Hitam

Share

Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin
Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin
Penulis: Fillani Putri

Bab 1 : Dosa di Balik Jas Hitam

Penulis: Fillani Putri
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 23:05:10

Detak jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok tipis di bar ini biasanya membuatku mual, tapi malam ini semuanya terasa seperti bius yang kucari. Aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kekasihku selama tiga tahun sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemen yang seharusnya menjadi kejutan ulang tahunku. Hancur. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan jiwaku sekarang.

Aku memesan satu gelas wiski lagi, lalu satu lagi, sampai pandanganku mulai sedikit berbayang. Di tengah keremangan lampu bar yang berputar, aku merasakan sebuah tatapan yang membakar kulit tengkukku. Aku menoleh perlahan dan menemukan seorang pria duduk di sudut yang paling gelap. Ia sedang menyesap minumannya dengan tenang, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dariku.

Ia tidak seperti pria-pria di sini yang mencoba mendekat dengan rayuan murahan. Pria itu hanya diam, tapi auranya sangat mendominasi. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kokoh dan urat-urat yang menonjol. Sangat maskulin. Sangat berbahaya.

"Kau terlihat seperti sedang mencari jalan untuk menghancurkan dirimu sendiri, Gadis Kecil," suaranya terdengar rendah, membelah kebisingan musik di sekitar kami saat ia tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

Aku mendongak, menantang tatapannya yang sedingin es namun menyimpan bara api di dalamnya. "Bukan urusanmu. Pergi saja jika kau hanya ingin menceramahiku."

Bukannya pergi, ia justru terkekeh pelan. Sebuah tawa yang terdengar seperti ancaman sekaligus godaan. Ia mencondongkan tubuhnya, membuat aroma maskulin yang begitu kuat menyergap indra penciumanku. "Aku tidak suka menceramahi orang. Aku lebih suka memberikan apa yang mereka butuhkan."

"Dan menurutmu apa yang aku butuhkan?" tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar, entah karena alkohol atau karena keberadaannya yang begitu mengintimidasi.

"Kau butuh untuk lupa," bisiknya tepat di depan bibirku.

Sebelum aku sempat menjawab, ia menyambar bibirku. Ciumannya tidak lembut. Itu adalah sebuah serangan yang penuh rasa lapar dan tuntutan. Aku seharusnya mendorongnya, tapi rasa sakit di hatiku membuatku justru menarik kerah kemejanya, membalas ciumannya dengan keputusasaan yang sama. Aku ingin terbakar. Aku ingin hilang dalam sensasi ini agar aku tidak perlu mengingat pengkhianatan itu lagi.

Tangan besarnya merayap ke pinggangku, menarik tubuhku hingga menempel sempurna pada tubuhnya yang keras seperti batu. Sensasi panas menjalar dari titik sentuhannya, membuat seluruh sarafku berteriak minta lebih. Ia melepaskan ciumannya sejenak, menatapku dengan mata yang kini menggelap karena gairah. Tanpa kata-kata, ia menarikku keluar dari bar menuju hotel mewah yang berada tepat di atas bangunan ini.

Begitu pintu kamar hotel tertutup, keadaan menjadi semakin tak terkendali. Ia menyudutkan tubuhku ke pintu, mencium leherku dengan intensitas yang membuatku mendesah tanpa sadar. Tangannya yang kasar mulai menjelajahi setiap lekuk tubuhku di bawah gaun tipis yang kukenakan. Setiap sentuhannya terasa seperti klaim mutlak. Malam itu, aku membiarkan pria asing yang bahkan tidak kutahu namanya ini mengambil alih segalanya.

Di atas ranjang yang luas itu, di bawah cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela besar, ia memperlakukanku seolah aku adalah miliknya yang paling berharga sekaligus mangsa yang paling ia inginkan. Gairah yang ia berikan begitu meledak-ledak, membuatku lupa bagaimana caranya bernapas. Setiap gerakan tubuhnya yang bertenaga membuatku tenggelam dalam kesenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Malam itu bukan hanya tentang seks, tapi tentang sebuah pelarian yang membakar habis sisa-sisa kewarasanku.

---

Pagi hari datang dengan rasa sakit di kepala dan kekosongan di hati. Aku terbangun di ranjang mewah itu sendirian. Pria itu sudah pergi, meninggalkan aroma parfumnya yang masih menempel kuat di bantal. Aku segera bangkit, berpakaian dengan terburu-buru, dan bersumpah tidak akan pernah mengingat kejadian memalukan ini lagi. Aku akan kembali ke kehidupanku yang biasa.

Namun, takdir punya rencana lain yang jauh lebih kejam.

Malam harinya, rumah orang tuaku tampak lebih sibuk dari biasanya. Ayah memintaku mengenakan pakaian terbaik karena keluarga calon suami adikku, Maya, akan datang untuk makan malam perkenalan. Maya akan segera bertunangan dengan putra dari keluarga Dirgantara, penguasa bisnis properti terbesar di negeri ini.

"Aruna, tolong bantu Ibu di meja makan. Mereka sudah sampai!" teriak Ibu dengan nada gembira.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungku yang sejak tadi merasa tidak enak. Aku keluar ke ruang tamu tepat saat pintu depan terbuka. Aku melihat Maya tersenyum malu-malu di samping seorang pria muda yang tampak ramah. Namun, langkahku terhenti total saat seorang pria lain melangkah masuk di belakang mereka.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang sangat mahal, terlihat begitu berwibawa dan angkuh. Rambutnya tertata rapi, sangat berbeda dengan penampilannya yang berantakan saat berada di atas tubuhku semalam. Tapi matanya... mata itu tetap sama. Tajam, gelap, dan penuh rahasia.

Duniaku serasa runtuh. Pria asing yang menghabiskan malam panas bersamaku adalah Gavin Dirgantara. Kakak kandung dari pria yang akan menikahi adikku sendiri.

Suasana makan malam berlangsung formal, tapi aku tidak bisa menelan makanan sedikit pun. Aku merasa mata Gavin terus mengulitiku dari seberang meja. Ia bersikap seolah kami tidak pernah bertemu, berbincang dengan Ayahku tentang bisnis dengan suara baritonnya yang membuat bulu kudukku meremang.

Selesai makan malam, saat Maya dan calon suaminya asyik mengobrol di taman, aku menyelinap ke dapur untuk mengambil segelas air. Aku butuh oksigen. Namun, sebelum aku sempat mengambil gelas, sebuah tangan besar membekap mulutku dan menarikku ke sudut pantry yang gelap.

Punggungku menabrak dinding dingin, dan di depanku, Gavin berdiri begitu dekat hingga ujung sepatu kami bersentuhan. Ia tidak melepaskan dekapannya, justru semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan.

"Kau tampak sangat cantik dengan gaun sopan ini, Aruna," bisiknya dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Sangat berbeda dengan caramu mencengkeram bahuku semalam."

Aku mencoba berontak, tapi kekuatannya jauh di atasku. Ia melepaskan bekapan tangannya, namun beralih mencengkeram daguku agar aku menatap langsung ke matanya yang berbahaya.

"Jangan berani-berani membongkar apa yang terjadi, atau aku akan menghancurkan pernikahan adikmu," ancamku dengan suara berbisik yang gemetar.

Gavin justru tersenyum miring, sebuah senyuman predator yang membuat jantungku mencelos. Ia meraba perutku dengan telapak tangannya yang hangat, membuatku bergidik ngeri sekaligus teringat kembali pada sentuhannya semalam.

"Aku tidak akan membongkarnya, Aruna. Tapi sebagai gantinya, kau harus terus melayaniku setiap kali aku menginginkannya, atau haruskah aku memberitahu Maya bahwa kakaknya sudah mencicipi calon kakak iparnya lebih dulu?"

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 6: Hukuman Sang Tuan Muda

    Mobil hitam mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuatku mual, namun ketakutanku pada pria di sampingku jauh lebih besar daripada rasa pusing di kepalaku. Gavin tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan kafe. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke jendela dengan rahang yang terkatup rapat. Aura kemarahan yang dipancarkannya begitu pekat, memenuhi ruang kabin mobil yang kedap suara ini hingga aku merasa oksigen di sekitarku menipis.Aku meremas jemariku sendiri, mencoba menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Mengapa setiap kali aku mencoba mencari jalan keluar, aku justru terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam? Sosok Raka yang ketakutan tadi terus terbayang di benakku, membuktikan bahwa Gavin Dirgantara bukan sekadar pria sombong dengan tumpukan uang. Dia adalah otoritas mutlak yang tidak mengenal kata tidak.Mobil akhirnya berhenti di basement sebuah apartemen penthouse eksklusif di pusat Jakarta. Tanpa menunggu sopir membukakan

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 5: Cemburu Sang Predator

    Aku merasa seperti tawanan yang menunggu waktu eksekusi. Setiap kali ponsel pemberian Gavin bergetar, jantungku seolah berhenti berdetak. Namun, rasa sakit hati dan harga diri yang tersisa mendorongku untuk melakukan satu tindakan nekat. Aku butuh sekutu. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku lepas dari jeratan Gavin tanpa harus menghancurkan Maya.Sore itu, aku memutuskan untuk menemui Raka, mantan kekasihku yang sempat menyelingkuhiku. Ironis memang, menemui pria yang membuatku jatuh ke pelukan Gavin di malam itu. Tapi Raka adalah seorang pengacara, dan dia tahu banyak tentang celah hukum serta privasi digital.Kami bertemu di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, tempat yang kuyakin tidak akan terjangkau oleh radar keluarga Dirgantara."Aruna, aku senang kau mau menemuiku lagi. Aku benar-benar menyesal soal kejadian itu," ucap Raka sambil mencoba meraih tanganku di atas meja.Aku segera menarik tanganku dengan rasa muak. "Simpan maafmu, Raka. Aku di sini bukan untuk balikan. Aku

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 4: Sandiwara di Balik Gaun Putih

    Aku menatap pantulan diriku di cermin besar butik pengantin ini. Mataku sedikit sembab, namun riasan tebal berhasil menyembunyikan kelelahan dan rasa hancur yang kurasakan. Di sebelahku, Maya tampak begitu cantik dan berseri-seri dalam balutan gaun pengantin satin berwarna putih gading. Ia terlihat seperti malaikat, sangat kontras denganku yang merasa seperti pendosa paling kotor di ruangan ini."Kak Aruna, menurutmu yang ini terlalu terbuka tidak di bagian punggung?" tanya Maya sambil berputar pelan di depan cermin.Aku mencoba memaksakan senyum terbaikku. "Tidak, Maya. Kau terlihat sangat sempurna. Reno pasti akan terpesona melihatmu.""Aku setuju dengan kakakmu, Maya. Kau terlihat sangat anggun."Suara bariton itu membuat seluruh tubuhku menegang. Aku melihat melalui cermin saat Gavin melangkah masuk ke area privat butik ini. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya, terlihat sangat berwibawa. Di belakangnya, Ibu menyusul dengan wajah sumringah karena kehadiran keluarga

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 3: Harga Sebuah Rahasia

    Udara di dalam kamar hotel ini terasa mencekik. Aku berdiri mematung di depan Gavin, pria yang dalam semalam telah berubah dari orang asing menjadi mimpi buruk paling nyata dalam hidupku. Perintahnya baru saja menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kucoba pertahankan. Lepaskan pakaianku? Rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga."Gavin, ini keterlaluan," suaraku bergetar hebat. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan semalam. Kenapa kau harus menghancurkanku seperti ini?"Gavin duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya dengan santai seolah dia sedang menonton pertunjukan yang sangat menarik. Ia meraih segelas wiski yang ada di nakas, menyesapnya sedikit sebelum menatapku kembali dengan mata gelapnya yang tidak terbaca."Semalam itu adalah ketidaksengajaan yang menyenangkan, Aruna. Tapi malam ini? Malam ini adalah sebuah transaksi," ucapnya tanpa beban. "Aku punya sesuatu yang kau butuhkan, yaitu kebungkamanku. Dan kau punya sesuatu yang aku inginkan. Adil,

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 2 : Tawaran Iblis

    Lututku terasa lemas mendengar ancaman yang keluar dari bibir pria itu. Gavin masih menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia yang kusembunyikan. Tangannya yang besar masih berada di perutku, seolah memberikan klaim bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuhku sejak malam itu. Aku bisa mendengar tawa Maya dan calon suaminya dari arah taman, suara kebahagiaan yang sekarang terasa seperti lonceng kematian bagiku."Kau gila, Gavin," desisku sambil mencoba menepis tangannya. "Maya adalah adikku. Dia sangat mencintai adikmu. Bagaimana bisa kau sejahat ini?"Gavin tidak bergeming. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpitku hingga tidak ada celah udara di antara kami. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan stabil, berbanding terbalik dengan jantungku yang berpacu liar karena ketakutan. Ia menyelipkan jari-jarinya ke sela rambutku, menariknya sedikit ke belakang agar aku terpaksa mendongak menatapnya."Aku tidak peduli dengan cinta mereka, Aruna. Aku

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 1 : Dosa di Balik Jas Hitam

    Detak jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok tipis di bar ini biasanya membuatku mual, tapi malam ini semuanya terasa seperti bius yang kucari. Aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kekasihku selama tiga tahun sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemen yang seharusnya menjadi kejutan ulang tahunku. Hancur. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan jiwaku sekarang.Aku memesan satu gelas wiski lagi, lalu satu lagi, sampai pandanganku mulai sedikit berbayang. Di tengah keremangan lampu bar yang berputar, aku merasakan sebuah tatapan yang membakar kulit tengkukku. Aku menoleh perlahan dan menemukan seorang pria duduk di sudut yang paling gelap. Ia sedang menyesap minumannya dengan tenang, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dariku.Ia tidak seperti pria-pria di sini yang mencoba mendekat dengan rayuan murahan. Pria itu hanya diam, tapi auranya sangat mendominasi. Ia mengenaka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status