MasukAku merasa seperti tawanan yang menunggu waktu eksekusi. Setiap kali ponsel pemberian Gavin bergetar, jantungku seolah berhenti berdetak. Namun, rasa sakit hati dan harga diri yang tersisa mendorongku untuk melakukan satu tindakan nekat. Aku butuh sekutu. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku lepas dari jeratan Gavin tanpa harus menghancurkan Maya.
Sore itu, aku memutuskan untuk menemui Raka, mantan kekasihku yang sempat menyelingkuhiku. Ironis memang, menemui pria yang membuatku jatuh ke pelukan Gavin di malam itu. Tapi Raka adalah seorang pengacara, dan dia tahu banyak tentang celah hukum serta privasi digital. Kami bertemu di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, tempat yang kuyakin tidak akan terjangkau oleh radar keluarga Dirgantara. "Aruna, aku senang kau mau menemuiku lagi. Aku benar-benar menyesal soal kejadian itu," ucap Raka sambil mencoba meraih tanganku di atas meja. Aku segera menarik tanganku dengan rasa muak. "Simpan maafmu, Raka. Aku di sini bukan untuk balikan. Aku butuh bantuan profesional. Seseorang... mengancamku dengan rekaman pribadi. Aku ingin tahu bagaimana cara melenyapkan bukti itu tanpa jejak." Wajah Raka berubah serius. "Siapa pria itu? Katakan padaku, Aruna. Aku bisa menuntutnya atas dasar pemerasan dan pelanggaran privasi." Aku baru saja akan membuka mulut ketika tiba-tiba suasana kafe yang tenang berubah menjadi tegang. Pintu kaca kafe terbuka dengan kasar, dan beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam masuk, berdiri di setiap sudut ruangan. Pengunjung lain mulai berbisik panik. Lalu, pria itu muncul. Gavin melangkah masuk dengan keangkuhan yang mematikan. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung, memperlihatkan tato tipis di pergelangan tangannya yang jarang ia perlihatkan. Matanya langsung mengunci posisiku. Sorot matanya saat ini bukan lagi dingin, melainkan penuh amarah yang membara. "Gavin?" gumamku dengan suara yang hampir hilang. Ia berjalan lurus ke arah meja kami. Tanpa berkata apa-apa, Gavin menarik kursi di sebelahku dan duduk dengan santai, namun auranya membuat Raka tampak seperti kelinci kecil di depan serigala. "Jadi, ini alasanmu mengabaikan pesanku sore tadi, Aruna?" tanya Gavin dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Menemui sampah yang sudah membuangmu?" Raka mencoba berdiri, mencoba menunjukkan keberaniannya. "Siapa kau? Jangan bersikap tidak sopan di sini!" Gavin bahkan tidak melirik Raka. Ia hanya menatapku, jemarinya mulai memainkan helai rambutku dengan gerakan yang posesif. "Kau tidak memberitahunya siapa aku, Sayang? Biar aku yang memperkenalkan diri." Gavin berdiri, tingginya jauh melampaui Raka. Dalam satu gerakan kilat yang membuat semua orang di kafe terpekik, Gavin mencengkeram kerah baju Raka dan menekannya ke dinding dengan kekuatan yang luar biasa. "Namaku Gavin Dirgantara. Dan wanita yang sedang kau pegang tangannya tadi adalah milikku," desis Gavin tepat di depan wajah Raka. "Satu kali lagi kau mendekatinya, aku tidak akan hanya menghancurkan kariermu, tapi aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan lagi. Mengerti?" Raka gemetar hebat, wajahnya pucat pasi. Gavin melepaskannya dengan kasar hingga Raka jatuh terduduk di kursinya kembali. Gavin kemudian menoleh padaku, meraih pergelangan tanganku dengan cengkeraman yang kuat namun tidak menyakiti. "Ikut aku. Sekarang," perintahnya. Aku tidak bisa melawan. Aku hanya bisa mengikuti langkah besarnya menuju mobil hitam yang sudah menunggu di depan. Begitu kami masuk ke dalam mobil, Gavin memerintahkan sopirnya untuk pergi dan menutup sekat antara kursi depan dan belakang. Suasana di dalam mobil menjadi sangat sunyi dan mencekam. Gavin melepaskan dasinya dengan kasar, lalu menoleh padaku. Matanya menyala karena cemburu yang liar. "Kau mencoba lari dariku dengan meminta bantuan padanya?" suaranya meninggi. "Kau pikir pria lemah itu bisa menyelamatkanmu dariku?" "Aku hanya ingin bebas, Gavin! Kau menghancurkan hidupku!" teriakku sambil menangis. Gavin tiba-tiba menarikku ke dalam pangkuannya. Aku mencoba memberontak, namun ia mengunci pinggangku dengan kedua tangannya yang kokoh. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dengan rakus. "Kau tidak akan pernah bebas, Aruna. Tidak setelah apa yang kita lalui," bisiknya dengan suara serak. Ia mulai menciumi leherku dengan kasar, meninggalkan tanda kemerahan yang sangat jelas di sana. "Lepaskan... Gavin, kita ada di dalam mobil," rintihku saat tangannya mulai masuk ke dalam blus yang kukenakan. Gavin berhenti sejenak, mengangkat wajahnya untuk menatap mataku. Tangannya berpindah ke tengkukku, menekanku agar semakin dekat dengannya. "Kau baru saja membuat kesalahan besar dengan menemui pria lain, Aruna. Dan malam ini, di apartemenku, aku akan memastikan kau mengingat setiap detiknya bahwa hanya ada satu pria yang boleh menyentuhmu, dan pria itu adalah aku." ---Mobil hitam mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuatku mual, namun ketakutanku pada pria di sampingku jauh lebih besar daripada rasa pusing di kepalaku. Gavin tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan kafe. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke jendela dengan rahang yang terkatup rapat. Aura kemarahan yang dipancarkannya begitu pekat, memenuhi ruang kabin mobil yang kedap suara ini hingga aku merasa oksigen di sekitarku menipis.Aku meremas jemariku sendiri, mencoba menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Mengapa setiap kali aku mencoba mencari jalan keluar, aku justru terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam? Sosok Raka yang ketakutan tadi terus terbayang di benakku, membuktikan bahwa Gavin Dirgantara bukan sekadar pria sombong dengan tumpukan uang. Dia adalah otoritas mutlak yang tidak mengenal kata tidak.Mobil akhirnya berhenti di basement sebuah apartemen penthouse eksklusif di pusat Jakarta. Tanpa menunggu sopir membukakan
Aku merasa seperti tawanan yang menunggu waktu eksekusi. Setiap kali ponsel pemberian Gavin bergetar, jantungku seolah berhenti berdetak. Namun, rasa sakit hati dan harga diri yang tersisa mendorongku untuk melakukan satu tindakan nekat. Aku butuh sekutu. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku lepas dari jeratan Gavin tanpa harus menghancurkan Maya.Sore itu, aku memutuskan untuk menemui Raka, mantan kekasihku yang sempat menyelingkuhiku. Ironis memang, menemui pria yang membuatku jatuh ke pelukan Gavin di malam itu. Tapi Raka adalah seorang pengacara, dan dia tahu banyak tentang celah hukum serta privasi digital.Kami bertemu di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, tempat yang kuyakin tidak akan terjangkau oleh radar keluarga Dirgantara."Aruna, aku senang kau mau menemuiku lagi. Aku benar-benar menyesal soal kejadian itu," ucap Raka sambil mencoba meraih tanganku di atas meja.Aku segera menarik tanganku dengan rasa muak. "Simpan maafmu, Raka. Aku di sini bukan untuk balikan. Aku
Aku menatap pantulan diriku di cermin besar butik pengantin ini. Mataku sedikit sembab, namun riasan tebal berhasil menyembunyikan kelelahan dan rasa hancur yang kurasakan. Di sebelahku, Maya tampak begitu cantik dan berseri-seri dalam balutan gaun pengantin satin berwarna putih gading. Ia terlihat seperti malaikat, sangat kontras denganku yang merasa seperti pendosa paling kotor di ruangan ini."Kak Aruna, menurutmu yang ini terlalu terbuka tidak di bagian punggung?" tanya Maya sambil berputar pelan di depan cermin.Aku mencoba memaksakan senyum terbaikku. "Tidak, Maya. Kau terlihat sangat sempurna. Reno pasti akan terpesona melihatmu.""Aku setuju dengan kakakmu, Maya. Kau terlihat sangat anggun."Suara bariton itu membuat seluruh tubuhku menegang. Aku melihat melalui cermin saat Gavin melangkah masuk ke area privat butik ini. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya, terlihat sangat berwibawa. Di belakangnya, Ibu menyusul dengan wajah sumringah karena kehadiran keluarga
Udara di dalam kamar hotel ini terasa mencekik. Aku berdiri mematung di depan Gavin, pria yang dalam semalam telah berubah dari orang asing menjadi mimpi buruk paling nyata dalam hidupku. Perintahnya baru saja menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kucoba pertahankan. Lepaskan pakaianku? Rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga."Gavin, ini keterlaluan," suaraku bergetar hebat. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan semalam. Kenapa kau harus menghancurkanku seperti ini?"Gavin duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya dengan santai seolah dia sedang menonton pertunjukan yang sangat menarik. Ia meraih segelas wiski yang ada di nakas, menyesapnya sedikit sebelum menatapku kembali dengan mata gelapnya yang tidak terbaca."Semalam itu adalah ketidaksengajaan yang menyenangkan, Aruna. Tapi malam ini? Malam ini adalah sebuah transaksi," ucapnya tanpa beban. "Aku punya sesuatu yang kau butuhkan, yaitu kebungkamanku. Dan kau punya sesuatu yang aku inginkan. Adil,
Lututku terasa lemas mendengar ancaman yang keluar dari bibir pria itu. Gavin masih menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia yang kusembunyikan. Tangannya yang besar masih berada di perutku, seolah memberikan klaim bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuhku sejak malam itu. Aku bisa mendengar tawa Maya dan calon suaminya dari arah taman, suara kebahagiaan yang sekarang terasa seperti lonceng kematian bagiku."Kau gila, Gavin," desisku sambil mencoba menepis tangannya. "Maya adalah adikku. Dia sangat mencintai adikmu. Bagaimana bisa kau sejahat ini?"Gavin tidak bergeming. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpitku hingga tidak ada celah udara di antara kami. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan stabil, berbanding terbalik dengan jantungku yang berpacu liar karena ketakutan. Ia menyelipkan jari-jarinya ke sela rambutku, menariknya sedikit ke belakang agar aku terpaksa mendongak menatapnya."Aku tidak peduli dengan cinta mereka, Aruna. Aku
Detak jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok tipis di bar ini biasanya membuatku mual, tapi malam ini semuanya terasa seperti bius yang kucari. Aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kekasihku selama tiga tahun sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemen yang seharusnya menjadi kejutan ulang tahunku. Hancur. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan jiwaku sekarang.Aku memesan satu gelas wiski lagi, lalu satu lagi, sampai pandanganku mulai sedikit berbayang. Di tengah keremangan lampu bar yang berputar, aku merasakan sebuah tatapan yang membakar kulit tengkukku. Aku menoleh perlahan dan menemukan seorang pria duduk di sudut yang paling gelap. Ia sedang menyesap minumannya dengan tenang, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dariku.Ia tidak seperti pria-pria di sini yang mencoba mendekat dengan rayuan murahan. Pria itu hanya diam, tapi auranya sangat mendominasi. Ia mengenaka







