LOGINAruna mematung. Napasnya tertahan di kerongkongan, terasa mencekik. Di atas tubuhnya, Gavin justru mempererat cengkeraman pada pinggul Aruna, sengaja menekan berat tubuhnya hingga Aruna tidak bisa bergerak di bawah selimut tipis yang berbau keringat dan gairah itu.
"Gavin? Kok bau parfum Kak Aruna ada di kamarmu?" suara Maya kembali terdengar dari balik pintu, kali ini nadanya lebih penuh selidik.
Gavin menatap Aruna yang matanya sudah berkaca-kaca. Alih-alih menjauh atau panik, pria itu justru sengaja bergerak kecil di dalam tubuh Aruna, sebuah provokasi gila yang membuat Aruna harus segera membekap mulutnya sendiri dengan bantal agar tidak ada suara memalukan yang lolos.
"Tadi Aruna mampir sebentar, Maya," jawab Gavin akhirnya. Suaranya sangat stabil. "Dia mengantarkan gaun pengiring pengantinnya karena ritsletingnya macet. Aku yang minta dia ke sini karena aku tahu penjahit langgananku bisa memperbaikinya malam ini juga."
"Malam begini? Kenapa Kak Aruna tidak bilang padaku? Aku telepon berkali-kali ponselnya mati," cecar Maya.
"Mungkin baterainya habis. Dia sudah pulang lewat pintu belakang sepuluh menit lalu. Katanya pusing," dusta Gavin tanpa berkedip. Tangannya merayap ke tengkuk Aruna, menarik rambut wanita itu pelan agar Aruna mendongak dan menatap matanya yang gelap.
"Gavin... jangan..." bisik Aruna tanpa suara.
"Gavin? Apa itu? Aku dengar suara bisikan," desis Maya. Gagang pintu digerakkan lagi.
"Jangan masuk, Maya! Aku sedang tidak pakai baju!" bentak Gavin keras. "Parfum itu pecah karena aku tidak sengaja menyenggolnya saat Aruna mau pulang. Baunya menyengat, makanya aku sedang membuka jendela lebar-lebar sekarang."
"Oh, maaf," suara Maya akhirnya melunak. "Ya sudah, martabaknya aku taruh di meja, ya. Aku pulang dulu. Love you."
"Iya. Love you too," sahut Gavin dingin.
Begitu bunyi pintu depan apartemen terdengar terkunci, Aruna langsung menggunakan sisa tenaganya untuk mendorong bahu Gavin sekuat tenaga.
"Kamu gila, Gavin! Bagaimana kalau dia nekat masuk?" tangis Aruna pecah.
"Justru ketakutanmu itu yang membuatmu terasa jauh lebih nikmat, Aruna," geram Gavin, kembali melumat bibir Aruna dengan paksa.
---
Pukul empat pagi, Aruna terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Suara air terdengar dari kamar mandi. Dengan tangan gemetar, Aruna memungut gaun champagne yang sudah robek di bagian bahu dan ritsletingnya itu.
"Mau ke mana?" Gavin keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.
"Pulang. Sebelum semuanya makin hancur," jawab Aruna ketus.
"Pakai ini." Gavin melemparkan tas belanja berisi dress krem baru. "Jangan pulang pakai gaun robek itu kalau kamu tidak mau Ibu bertanya kenapa bajumu hancur."
Aruna menatap Gavin dengan kebencian. "Hapus videonya, Gavin. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau malam ini."
"Satu malam tidak akan cukup, Aruna. Videonya tetap bersamaku. Anggap saja asuransi agar kamu tetap patuh."
Pagi itu, Aruna harus memaksakan diri tampil sempurna di kantornya. Sebagai seorang Creative Director di sebuah agensi periklanan ternama, Aruna adalah pusat dari segala konsep visual dan strategi kreatif. Ia harus memimpin rapat besar dengan klien hari ini.
Aruna berdiri di depan cermin toilet kantor, memulas concealer ekstra tebal di lehernya untuk menutupi tanda kemerahan yang ditinggalkan Gavin. Ia mengenakan blazer dengan kerah tinggi untuk memastikan tidak ada yang melihat jejak pengkhianatan itu.
"Mbak Aruna, klien dari perusahaan kosmetik sudah menunggu di ruang rapat utama," lapor asistennya, seorang gadis muda bernama Tika.
Aruna mengangguk, memasang wajah profesionalnya yang paling dingin. Di ruang rapat, ia memaparkan konsep kampanye "Inner Strength" dengan sangat lancar. Matanya tajam menatap moodboard yang menampilkan model dengan ekspresi bebas dan berdaya. Ironis. Padahal dia sendiri merasa seperti sampah yang tidak punya kuasa atas tubuhnya sendiri.
"Konsepnya luar biasa, Mbak Aruna. Sangat mencerminkan kemandirian wanita," puji perwakilan klien.
Aruna hanya tersenyum tipis. Pikirannya melayang pada kartu emas di dalam tasnya. Setiap kali ponselnya bergetar karena pesan masuk, tangannya yang memegang laser pointer sedikit gemetar. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya, mengatur tata letak visual, memberikan arahan pada tim desain, dan mengoreksi naskah iklan. Namun, bayangan Gavin yang menindihnya semalam terus berkelebat di antara slide presentasi.
Menjelang sore, konsentrasinya hancur total saat sebuah pesan masuk dari Gavin: "Jangan telat makan siang, Aruna. Aku ingin kamu punya tenaga untuk nanti malam. Ingat, gaun barumu terlihat sangat bagus untuk dilepas perlahan."
Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak bisa terus seperti ini. Pekerjaannya sebagai Creative Director yang menuntut ketelitian visual dan mental yang stabil mulai terancam oleh gangguan Gavin. Ia butuh jalan keluar. Ia butuh seseorang yang mengerti celah untuk menghapus jejak digital.
---
Sore harinya, Aruna menemui Raka, mantan kekasihnya, di sebuah kafe kecil di pinggiran kota.
"Aruna, aku senang kamu mau menemuiku lagi. Aku benar-benar menyesal soal kejadian itu," ucap Raka sambil mencoba meraih tangan Aruna di atas meja. "Aku masih mencintaimu, Aruna."
Aruna segera menarik tangannya. "Simpan maafmu, Raka. Aku di sini bukan untuk balikan. Aku butuh bantuan profesional. Seseorang... mengancamku dengan rekaman pribadi. Aku ingin tahu cara melenyapkan bukti itu tanpa jejak."
Wajah Raka berubah serius. "Siapa pria itu? Katakan padaku, Aruna. Aku bisa menuntutnya atas dasar pemerasan."
Aruna baru saja akan membuka mulut ketika pintu kaca kafe terbuka dengan kasar. Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam masuk, berdiri di setiap sudut ruangan.
Lalu, Gavin muncul.
Ia melangkah masuk dengan keangkuhan yang mematikan. Kemeja hitamnya digulung hingga sikut, memperlihatkan tato tipis di pergelangan tangannya. Matanya mengunci Aruna dengan kilat amarah yang membara.
"Gavin?" gumam Aruna. Suaranya hilang seketika.
Gavin duduk di kursi kosong tepat di sebelah Aruna. "Jadi, ini alasanmu mengabaikan pesanku sore tadi, Aruna? Menemui sampah ini?"
Raka mencoba berdiri. "Siapa kamu? Jangan tidak sopan di sini!"
Gavin bahkan tidak melirik Raka. Jemarinya merayap memainkan helai rambut Aruna dengan gerakan posesif. "Kamu tidak memberitahunya siapa aku, Sayang? Biar aku yang memperkenalkan diri."
Gavin berdiri. Dalam satu gerakan kilat, ia mencengkeram kerah baju Raka dan menekannya ke dinding.
"Namaku Gavin Dirgantara. Tunangan adiknya," desis Gavin tepat di depan wajah Raka.
Mendengar nama 'Dirgantara', wajah Raka seketika pucat pasi. Seluruh keberaniannya menguap. Siapa yang tidak tahu dinasti Dirgantara? Melawan pria ini sama saja dengan mengakhiri karier dan masa depannya sendiri. Tubuh Raka gemetar hebat, ia bahkan tidak berani lagi menatap mata Gavin.
"Dan wanita yang kamu pegang tangannya tadi... adalah milikku," sambung Gavin. "Satu kali lagi kamu mendekatinya, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan lagi. Mengerti?"
Raka hanya bisa mengangguk kaku dalam ketakutan yang nyata. Gavin melepaskannya dengan kasar hingga Raka jatuh terduduk. Gavin kemudian meraih pergelangan tangan Aruna.
"Ikut aku. Sekarang."
---
Di dalam mobil, sekat antara kursi depan dan belakang ditutup rapat. Aruna hanya bisa terisak.
"Kamu mencoba lari dariku dengan meminta bantuan padanya?" Gavin berteriak. "Kamu pikir pria lemah itu bisa menyelamatkanmu dariku?"
"Aku hanya ingin bebas, Gavin! Kamu menghancurkan hidupku!"
Gavin tiba-tiba menarik Aruna ke dalam pangkuannya. Aruna memberontak, namun Gavin mengunci pinggangnya dengan tangan kokoh. Ia membenamkan wajahnya di leher Aruna, menghirup aromanya dengan rakus.
"Kamu tidak akan pernah bebas, Aruna. Tidak setelah malam tadi," bisiknya serak. Ia mulai menciumi leher Aruna dengan kasar, meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok.
"Hentikan... Gavin, kita di dalam mobil!" rintih Aruna.
Gavin berhenti sejenak, mengangkat wajah Aruna agar menatapnya. "Kau baru saja membuat kesalahan besar dengan menemui pria lain. Dan malam ini, di apartemenku, aku akan memastikan kau mengingat setiap detiknya bahwa hanya ada satu pria yang boleh menyentuhmu."
"Aku membencimu," bisik Aruna lirih.
"Benci aku sesukamu, Sayang. Tapi desahkan namaku sampai kamu kehabisan suara."
Gavin mengetuk sekat mobil. "Putar balik. Kita ke apartemen sekarang."
Suara wanita di layar televisi itu terus bergema, menghantam dinding kamar yang hening seperti vonis mati. Garis wajah Sari—wanita yang memiliki mata serupa dengan Gavin—menatap dingin ke arah kamera, menelanjangi rahasia yang terendam puluhan tahun."Adik kandung..."Dunia Aruna berhenti berputar. Seluruh persendian tubuh Gavin mendadak terkunci rapat di atas tubuh Aruna. Pria itu mematung, menatap layar kaca dengan pupil mata yang melebar penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.Di bawah kungkungan tubuh Gavin yang berat, Aruna merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Rasa mual yang teramat sangat menyembur dari lambungnya, meracuni seluruh aliran darahnya."Gavin..." bisik Aruna, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Lepaskan... lepaskan aku!"Aruna mendorong dada
Bau amis darah tua bercampur bau logam yang pekat memenuhi rongga dada Aruna. Cairan hangat yang mengalir di antara sela pahanya terasa tebal, merembes cepat menembus kain satin hitam yang melekat di kulitnya. Rasa melilit di perut bawahnya seolah mencakar dinding rahim dari dalam, merenggut seluruh pasokan udara hingga tenggorokannya terkunci rapat."Gavin..." suara Aruna pecah, nyaris berbisik. Tangannya gemetar hebat, menekan permukaan lantai semen yang dingin saat matanya menangkap warna merah pekat yang kian meluas, menyatu dengan genangan darah Paman Hardi di depannya.Langkah sepatu kulit Gavin berkedut. Pistol revolver silver di tangannya meluncur bebas, menghantam lantai batu dengan dentang nyaring yang memekakkan telinga. Pria itu berlutut secara mendadak, mengabaikan genangan darah yang langsung menodai lutut celana kain mahalnya."Aruna!" Pekikan rendah yang sarat akan panik pecah dari mulut Gavin. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika memucat. Matanya liar menatap
Dinding kamar yang gelap memantulkan suara napas yang berburu. Keringat dingin membasahi sprei sutra yang kusut, melekatkan sisa-sisa benang hitam ke kulit Aruna yang kemerahan. Di atasnya, dada Gavin naik turun secara teratur. Pria itu menyandarkan dahinya di celak leher Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu yang terkunci rapat di atas kepala."Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Aruna..." bisik Gavin dengan suara serak yang menyapu kulit telinga Aruna. Tangannya yang besar turun melingkari perut Aruna yang datar, menepuknya pelan seolah sedang menyegel sesuatu yang berharga di sana.Aruna menatap ceiling kamar yang remang. Bibirnya bengkak dan perih, dadanya masih memburu hebat dari pergulatan liar yang baru saja merenggut sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar, merespons sentuhan hangat yang ditinggalkan Gavin, sementara otaknya berteriak menyuarakan kebencian yang makin pekat."Paman Hardi..." suara Aruna keluar parau, hampir tenggelam di antara ketukan hujan yang mulai memukul kac
Angin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang
Aruna menahan napas. Tangannya mencengkeram sprei tebal di belakang punggungnya, berusaha mencari tumpuan saat guncangan panik menyerang dadanya. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar rembulan, pendar asap tipis dari moncong pistol pria itu terlihat begitu mengancam."Siapa kamu?" tanya Aruna, suaranya gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tenang.Pria itu melangkah masuk. Sepatu boots mewahnya beradu melintasi pecahan bingkai pintu kayu yang hancur. Ia menyalakan pemantik api perak di tangannya. Cahaya oranye yang temaram seketika menyinari separuh wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka tipis di rahang."Orang yang harusnya menyelamatkanmu dari monster bernama Gavin," sahut pria itu. Suaranya serak, dingin, dan tanpa nada keramahan."Paman Hardi?" Aruna menyipitkan mata, terbelalak melihat garis wajah yang sangat ia kenal itu. "Bagaimana bisa... bukankah Paman di penjara?"Pria itu tertawa tipis, suara tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia mem
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam masuk membawakan nampan berisi segelas air dan dua butir pil."Nona Aruna, ini obat penguat kandungan dari Tuan Gavin. Harus diminum sekarang," ujar penjaga itu singkat.Aruna menatap dua pil merah di atas nampan dengan kening berkerut. "Aku sudah minum obat tadi pagi.""Tuan meminta saya memastikan Nona meminumnya langsung di depan saya.""Kalau aku menolak?" Aruna bersedekap, menatap lurus mata pria itu."Tuan Gavin tidak memberi opsi menolak, Nona."Aruna menghela napas panjang. Ia mengambil dua pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meneguk air hingga tandas."Sudah kan? Sekarang keluar," kata Aruna dingin.Penjaga itu menunduk kaku. "Baik. Pintu akan tetap dikunci dari luar."Begitu gerendel pintu berbunyi klak, Aruna bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tenggorokannya di depan wastafel hingga mual hebat memicu perutnya memuntahkan kembali seluruh isi lambungnya. Pil ya
"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakm
Mobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin."Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna."Sakit?
Klik.Aruna menempelkan kartu akses emas itu ke pintu apartemen Gavin. Tangannya gemetar hebat, sisa ketakutan dari butik siang tadi masih menjalar di nadinya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram. Di balik mantel panjangnya, ia mengenakan gaun pengiring pengantin w
Udara di dalam kamar hotel terasa menyesakkan bagi Aruna. Gavin masih terus menghujamnya tanpa ampun, seolah ingin menguras seluruh tenaga wanita itu hingga tak bersisa.Aruna mencengkeram bahu Gavin yang kokoh, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu saat sensasi panas menyapu seluruh tubuhnya. De







