เข้าสู่ระบบLutut Aruna terasa lemas mendengar ancaman pria itu. Gavin masih menatapnya dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia di otaknya.
Tangannya yang besar masih berada di perut Aruna. Sebuah klaim sepihak bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuh itu sejak malam panas di hotel.
Dari arah taman, suara tawa Maya terdengar begitu riang. Bagi Aruna, suara itu sekarang terdengar seperti lonceng kematian.
"Kamu gila, Gavin," desis Aruna sambil mencoba menepis tangan pria itu. "Maya itu adikku. Dia calon suamimu! Kenapa kamu sejahat ini?"
Gavin tidak bergeming sedikit pun. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpit Aruna hingga tidak ada lagi celah udara di antara mereka.
Aruna bisa merasakan detak jantung Gavin yang tenang. Sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar karena ketakutan.
Gavin menyelipkan jari ke sela rambut Aruna. Ia menariknya sedikit ke belakang agar wanita itu terpaksa mendongak menatapnya.
"Aku tidak peduli soal status, Aruna. Aku hanya peduli pada apa yang aku inginkan," bisik Gavin tepat di depan bibir Aruna.
Aroma wiski dan mint dari napasnya membuat ingatan Aruna terlempar balik ke kamar hotel itu. Sialan. Tubuhnya justru mengkhianati dengan memberikan reaksi panas yang tidak diinginkan.
"Kamu terlihat sangat suci di depan keluargamu. Padahal aku tahu betapa liarnya kamu saat berada di bawahku semalam," lanjut Gavin sambil terkekeh rendah.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah balkon. Jantung Aruna hampir melompat keluar.
"Kak Aruna? Gavin? Kalian di mana? Sayang?" Itu suara Maya.
Panik luar biasa menyerang Aruna. Namun Gavin tetap tenang, bahkan tidak melepaskan tangannya sampai detik terakhir sebelum Maya muncul.
Dengan gerakan yang sangat halus, Gavin mundur satu langkah. Ia berpura-pura sedang memperbaiki kancing lengan jasnya sambil menatap pemandangan taman.
"Ah, Maya. Kakakmu hanya sedang menunjukkan arah taman belakang padaku," ucap Gavin dengan nada yang begitu natural.
Maya tersenyum lebar tanpa curiga sedikit pun. Ia langsung memeluk lengan Gavin mesra. "Oh, kirain ke mana. Kak Aruna, wajahmu pucat sekali? Kakak sakit?"
"Aku... aku hanya sedikit pusing, Maya. Mungkin karena kurang tidur," dalih Aruna sambil berpegangan pada pagar balkon agar tidak jatuh.
Malam itu berakhir seperti siksaan pelan bagi Aruna. Saat keluarga Dirgantara berpamitan, Gavin menjabat tangan orang tua Aruna dengan sangat sopan.
Saat tiba giliran Aruna, Gavin menggenggam tangannya sedikit lebih lama di depan Maya. Ia menyelipkan sebuah kertas kecil ke dalam telapak tangan Aruna.
Begitu di dalam kamar yang terkunci, Aruna membuka kertas itu dengan tangan gemetar.
Hotel Kencana, Kamar 901. Jam 11 malam ini. Kalau tidak datang, aku kirim rekaman CCTV hotel semalam ke grup keluarga.
Aruna merasa sesak seketika. Pria itu benar-benar iblis yang sengaja menjebaknya dalam permainan gila ini.
Dengan air mata yang mengalir deras, Aruna mengambil kunci mobilnya. Ia tidak punya pilihan selain menghadapi iblis itu demi melindungi masa depan adiknya.
Sesampainya di depan kamar 901, Aruna menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama sampai pintu terbuka.
Gavin berdiri di sana hanya mengenakan jubah mandi putih yang longgar. Dadanya yang bidang dan kecokelatan terpampang jelas.
"Kamu terlambat lima menit, Aruna," ucapnya dingin sambil menarik Aruna masuk dan mengunci pintu dengan bunyi klik yang final.
"Berikan rekaman itu sekarang dan biarkan aku pergi!" tuntut Aruna dengan suara bergetar.
Gavin berjalan mendekat seperti singa yang mendekati mangsanya. Ia menyudutkan Aruna ke arah ranjang besar yang sudah rapi.
"Kamu datang ke sini bukan untuk negosiasi, Aruna. Kamu datang untuk membayar harga dari kebungkamanku," desis Gavin.
Gavin merenggut gaun Aruna hingga ritsleting belakangnya terbuka tanpa permisi. Tangannya meraba kulit punggung Aruna yang mulus dengan kasar.
"Lepaskan pakaianmu. Sekarang," perintah Gavin mutlak.
"Gavin, kumohon... pikirkan Maya..." rintih Aruna saat jubah mandi pria itu sengaja dilonggarkan, memperlihatkan tubuhnya yang membara.
Gavin justru tertawa sinis. Ia mendorong Aruna hingga jatuh ke kasur dan langsung menindihnya dengan beringas.
Gavin meraup kedua payudara Aruna, meremasnya dengan kuat hingga Aruna melenguh tinggi. Tangannya merayap ke bawah, merobek pakaian dalam Aruna dengan satu tarikan.
Tanpa banyak basa-basi, Gavin langsung menghujam Aruna dengan satu sentakan yang dalam dan keras.
"Ahh! Gavin!" pekik Aruna, mencengkeram sprei sekuat tenaga saat merasakan invasi pria itu yang tanpa ampun.
Gavin bergerak dengan tempo yang lebih liar dari semalam. Ia sengaja membuat Aruna kewalahan, membiarkan tubuh wanita itu bergetar hebat di bawah kekuasaannya.
"Bilang... pria mana yang sanggup membuatmu mendesah seperti ini?" geram Gavin di tengah napasnya yang menderu.
Gavin mendekatkan wajahnya ke telinga Aruna, membisikkan kata-kata yang membuat pertahanan Aruna runtuh sepenuhnya.
"Kamu tahu Aruna, aku lebih suka kamu memohon di bawah tubuhku daripada memohon dengan kata-kata. Jadi, nikmati saja setiap inci tubuhku malam ini."
Suara wanita di layar televisi itu terus bergema, menghantam dinding kamar yang hening seperti vonis mati. Garis wajah Sari—wanita yang memiliki mata serupa dengan Gavin—menatap dingin ke arah kamera, menelanjangi rahasia yang terendam puluhan tahun."Adik kandung..."Dunia Aruna berhenti berputar. Seluruh persendian tubuh Gavin mendadak terkunci rapat di atas tubuh Aruna. Pria itu mematung, menatap layar kaca dengan pupil mata yang melebar penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.Di bawah kungkungan tubuh Gavin yang berat, Aruna merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Rasa mual yang teramat sangat menyembur dari lambungnya, meracuni seluruh aliran darahnya."Gavin..." bisik Aruna, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Lepaskan... lepaskan aku!"Aruna mendorong dada
Bau amis darah tua bercampur bau logam yang pekat memenuhi rongga dada Aruna. Cairan hangat yang mengalir di antara sela pahanya terasa tebal, merembes cepat menembus kain satin hitam yang melekat di kulitnya. Rasa melilit di perut bawahnya seolah mencakar dinding rahim dari dalam, merenggut seluruh pasokan udara hingga tenggorokannya terkunci rapat."Gavin..." suara Aruna pecah, nyaris berbisik. Tangannya gemetar hebat, menekan permukaan lantai semen yang dingin saat matanya menangkap warna merah pekat yang kian meluas, menyatu dengan genangan darah Paman Hardi di depannya.Langkah sepatu kulit Gavin berkedut. Pistol revolver silver di tangannya meluncur bebas, menghantam lantai batu dengan dentang nyaring yang memekakkan telinga. Pria itu berlutut secara mendadak, mengabaikan genangan darah yang langsung menodai lutut celana kain mahalnya."Aruna!" Pekikan rendah yang sarat akan panik pecah dari mulut Gavin. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika memucat. Matanya liar menatap
Dinding kamar yang gelap memantulkan suara napas yang berburu. Keringat dingin membasahi sprei sutra yang kusut, melekatkan sisa-sisa benang hitam ke kulit Aruna yang kemerahan. Di atasnya, dada Gavin naik turun secara teratur. Pria itu menyandarkan dahinya di celak leher Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu yang terkunci rapat di atas kepala."Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Aruna..." bisik Gavin dengan suara serak yang menyapu kulit telinga Aruna. Tangannya yang besar turun melingkari perut Aruna yang datar, menepuknya pelan seolah sedang menyegel sesuatu yang berharga di sana.Aruna menatap ceiling kamar yang remang. Bibirnya bengkak dan perih, dadanya masih memburu hebat dari pergulatan liar yang baru saja merenggut sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar, merespons sentuhan hangat yang ditinggalkan Gavin, sementara otaknya berteriak menyuarakan kebencian yang makin pekat."Paman Hardi..." suara Aruna keluar parau, hampir tenggelam di antara ketukan hujan yang mulai memukul kac
Angin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang
Aruna menahan napas. Tangannya mencengkeram sprei tebal di belakang punggungnya, berusaha mencari tumpuan saat guncangan panik menyerang dadanya. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar rembulan, pendar asap tipis dari moncong pistol pria itu terlihat begitu mengancam."Siapa kamu?" tanya Aruna, suaranya gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tenang.Pria itu melangkah masuk. Sepatu boots mewahnya beradu melintasi pecahan bingkai pintu kayu yang hancur. Ia menyalakan pemantik api perak di tangannya. Cahaya oranye yang temaram seketika menyinari separuh wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka tipis di rahang."Orang yang harusnya menyelamatkanmu dari monster bernama Gavin," sahut pria itu. Suaranya serak, dingin, dan tanpa nada keramahan."Paman Hardi?" Aruna menyipitkan mata, terbelalak melihat garis wajah yang sangat ia kenal itu. "Bagaimana bisa... bukankah Paman di penjara?"Pria itu tertawa tipis, suara tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia mem
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam masuk membawakan nampan berisi segelas air dan dua butir pil."Nona Aruna, ini obat penguat kandungan dari Tuan Gavin. Harus diminum sekarang," ujar penjaga itu singkat.Aruna menatap dua pil merah di atas nampan dengan kening berkerut. "Aku sudah minum obat tadi pagi.""Tuan meminta saya memastikan Nona meminumnya langsung di depan saya.""Kalau aku menolak?" Aruna bersedekap, menatap lurus mata pria itu."Tuan Gavin tidak memberi opsi menolak, Nona."Aruna menghela napas panjang. Ia mengambil dua pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meneguk air hingga tandas."Sudah kan? Sekarang keluar," kata Aruna dingin.Penjaga itu menunduk kaku. "Baik. Pintu akan tetap dikunci dari luar."Begitu gerendel pintu berbunyi klak, Aruna bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tenggorokannya di depan wastafel hingga mual hebat memicu perutnya memuntahkan kembali seluruh isi lambungnya. Pil ya
"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakm
Mobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin."Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna."Sakit?
Aruna mematung. Napasnya tertahan di kerongkongan, terasa mencekik. Di atas tubuhnya, Gavin justru mempererat cengkeraman pada pinggul Aruna, sengaja menekan berat tubuhnya hingga Aruna tidak bisa bergerak di bawah selimut tipis yang berbau keringat dan gairah itu."Gavin? Kok bau parfum Kak Aruna a
Klik.Aruna menempelkan kartu akses emas itu ke pintu apartemen Gavin. Tangannya gemetar hebat, sisa ketakutan dari butik siang tadi masih menjalar di nadinya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram. Di balik mantel panjangnya, ia mengenakan gaun pengiring pengantin w







