LOGINLututku terasa lemas mendengar ancaman yang keluar dari bibir pria itu. Gavin masih menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia yang kusembunyikan. Tangannya yang besar masih berada di perutku, seolah memberikan klaim bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuhku sejak malam itu. Aku bisa mendengar tawa Maya dan calon suaminya dari arah taman, suara kebahagiaan yang sekarang terasa seperti lonceng kematian bagiku.
"Kau gila, Gavin," desisku sambil mencoba menepis tangannya. "Maya adalah adikku. Dia sangat mencintai adikmu. Bagaimana bisa kau sejahat ini?" Gavin tidak bergeming. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpitku hingga tidak ada celah udara di antara kami. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan stabil, berbanding terbalik dengan jantungku yang berpacu liar karena ketakutan. Ia menyelipkan jari-jarinya ke sela rambutku, menariknya sedikit ke belakang agar aku terpaksa mendongak menatapnya. "Aku tidak peduli dengan cinta mereka, Aruna. Aku hanya peduli dengan apa yang aku inginkan. Dan saat ini, aku menginginkanmu untuk tetap tutup mulut dan patuh padaku," bisiknya tepat di depan bibirku. Aroma wiski dan mint dari napasnya membuat ingatanku kembali terlempar ke kamar hotel itu. Sialan. Tubuhku justru mengkhianatiku dengan memberikan reaksi panas yang tidak diinginkan. Aku memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. "Apa maumu sebenarnya? Kau punya segalanya. Kenapa harus aku?" Gavin terkekeh, suara rendah yang bergetar di dadanya itu terasa begitu intim sekaligus mengancam. "Karena kau menarik. Kau terlihat begitu suci di depan keluargamu, padahal aku tahu betapa liarnya kau saat berada di bawahku semalam. Kontras itu... sangat membangkitkan gairahku." Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah dapur. Jantungku hampir berhenti berdetak. "Kak Aruna? Kak Gavin? Kalian di dalam?" Itu suara Maya. Panik luar biasa menyerangku. Jika Maya melihat posisi kami seperti ini, semuanya akan berakhir. Aku menatap Gavin dengan tatapan memohon, tapi pria itu justru terlihat sangat tenang, seolah dia menikmati ketakutanku. Ia tidak melepaskan tangannya dari pinggangku sampai detik terakhir sebelum Maya muncul di ambang pintu dapur. Dengan gerakan yang sangat cepat dan halus, Gavin mundur satu langkah dan berpura-pura sedang mengambil gelas di rak atas, tepat di samping kepalaku. "Ah, Maya. Aku hanya sedang menanyakan pada kakakmu di mana letak gelas air putih. Kepalaku sedikit pening karena perjalanan jauh tadi," ucap Gavin dengan nada suara yang begitu natural dan sopan. Benar-benar seorang aktor yang hebat. Maya tersenyum lebar, tidak menaruh curiga sedikit pun. "Oh, maaf Kak Gavin. Biar aku saja yang ambilkan. Kak Aruna, wajahmu pucat sekali? Kau sakit?" Aku berpegangan pada pinggiran meja dapur agar tidak jatuh. "Aku... aku hanya sedikit pusing, Maya. Mungkin karena kurang tidur." "Istirahatlah, Kak. Biar aku yang menemani Kak Gavin dan keluarga kembali ke ruang tamu," ujar Maya dengan nada peduli yang tulus. Rasa bersalah menghujam jantungku seperti belati yang tajam. Bagaimana bisa aku menyembunyikan kenyataan bahwa aku telah tidur dengan pria yang sekarang sedang tersenyum ramah pada adikku ini? Gavin menatapku sekilas sebelum mengikuti Maya keluar. Tatapan itu adalah sebuah peringatan. Sebuah janji bahwa urusan kami belum selesai. Malam itu berakhir dengan siksaan bagiku. Setiap kali Gavin berbicara dengan orang tuaku, aku hanya bisa menunduk, meremas jemariku di bawah meja. Saat mereka akhirnya berpamitan, Gavin menjabat tangan Ayah dan Ibu dengan hormat. Saat tiba giliranku, ia menggenggam tanganku sedikit lebih lama dari seharusnya. Ia menyelipkan sebuah kertas kecil ke dalam telapak tanganku sebelum melepaskannya dengan senyum formal. Begitu mereka pergi dan aku sudah berada di dalam kamarku yang terkunci rapat, aku membuka kertas itu dengan tangan gemetar. Hotel kencana, Kamar 901. Jam 11 malam ini. Jika kau tidak datang, aku akan mengirimkan rekaman CCTV hotel semalam ke grup chat keluarga kalian. Duniaku terasa gelap seketika. Rekaman CCTV? Pria ini benar-benar iblis. Dia sudah merencanakan ini sejak awal. Dia tahu siapa aku, dia tahu hubungan keluarga ini, dan dia sengaja menjebakku. Aku melihat jam dinding. Sudah pukul sepuluh lewat lima belas menit. Aku punya waktu empat puluh lima menit untuk memutuskan masa depan hidupku dan kebahagiaan Maya. Jika aku pergi, aku akan menjadi budak nafsu Gavin selamanya. Jika aku tetap di sini, rahasia itu akan meledak dan menghancurkan kehormatan keluargaku. Dengan air mata yang mengalir deras, aku mengambil kunci mobil dan jaket hitamku. Aku tidak punya pilihan. Aku harus menghadapi iblis itu. Perjalanan menuju hotel terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Pikiranku kalut. Bagaimana jika ada yang melihatku? Bagaimana jika Gavin tidak menepati janjinya untuk diam? Namun, rasa takut akan kehancuran Maya jauh lebih besar daripada rasa takutku pada Gavin. Sesampainya di depan kamar 901, aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu. Tidak butuh waktu lama sampai pintu itu terbuka. Gavin berdiri di sana, hanya mengenakan jubah mandi putih yang longgar, memperlihatkan dadanya yang bidang dan kecokelatan. "Kau terlambat lima menit, Aruna," ucapnya dingin sambil menarikku masuk ke dalam dan mengunci pintu dengan bunyi klik yang sangat final. Aku berbalik menatapnya dengan penuh kemarahan. "Berikan rekaman itu padaku sekarang, dan biarkan aku pergi!" Gavin berjalan mendekat, langkahnya pelan dan pasti seperti singa yang mendekati mangsanya. Ia menyudutkan aku ke arah ranjang besar yang sudah tertata rapi. "Kau pikir ini semudah itu? Kau datang ke sini bukan untuk bernegosiasi, Aruna. Kau datang ke sini untuk membayar harga dari kebungkamanku." Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipiku dengan punggung jarinya, sebuah gerakan yang hampir terasa lembut jika saja tidak dibarengi dengan tatapan mata yang penuh nafsu. "Lepaskan pakaianmu. Sekarang." "Gavin, kumohon..." suaraku tercekat. Gavin mendekatkan wajahnya ke telingaku, membisikkan kata-kata yang membuat pertahananku runtuh sepenuhnya. "Kau tahu Aruna, aku lebih suka kau memohon di bawah tubuhku daripada memohon dengan kata-kata. Jadi, haruskah aku mulai membuka bajumu sendiri, atau kau ingin melakukannya dengan cara yang lebih sopan?"Mobil hitam mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuatku mual, namun ketakutanku pada pria di sampingku jauh lebih besar daripada rasa pusing di kepalaku. Gavin tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan kafe. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke jendela dengan rahang yang terkatup rapat. Aura kemarahan yang dipancarkannya begitu pekat, memenuhi ruang kabin mobil yang kedap suara ini hingga aku merasa oksigen di sekitarku menipis.Aku meremas jemariku sendiri, mencoba menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Mengapa setiap kali aku mencoba mencari jalan keluar, aku justru terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam? Sosok Raka yang ketakutan tadi terus terbayang di benakku, membuktikan bahwa Gavin Dirgantara bukan sekadar pria sombong dengan tumpukan uang. Dia adalah otoritas mutlak yang tidak mengenal kata tidak.Mobil akhirnya berhenti di basement sebuah apartemen penthouse eksklusif di pusat Jakarta. Tanpa menunggu sopir membukakan
Aku merasa seperti tawanan yang menunggu waktu eksekusi. Setiap kali ponsel pemberian Gavin bergetar, jantungku seolah berhenti berdetak. Namun, rasa sakit hati dan harga diri yang tersisa mendorongku untuk melakukan satu tindakan nekat. Aku butuh sekutu. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku lepas dari jeratan Gavin tanpa harus menghancurkan Maya.Sore itu, aku memutuskan untuk menemui Raka, mantan kekasihku yang sempat menyelingkuhiku. Ironis memang, menemui pria yang membuatku jatuh ke pelukan Gavin di malam itu. Tapi Raka adalah seorang pengacara, dan dia tahu banyak tentang celah hukum serta privasi digital.Kami bertemu di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, tempat yang kuyakin tidak akan terjangkau oleh radar keluarga Dirgantara."Aruna, aku senang kau mau menemuiku lagi. Aku benar-benar menyesal soal kejadian itu," ucap Raka sambil mencoba meraih tanganku di atas meja.Aku segera menarik tanganku dengan rasa muak. "Simpan maafmu, Raka. Aku di sini bukan untuk balikan. Aku
Aku menatap pantulan diriku di cermin besar butik pengantin ini. Mataku sedikit sembab, namun riasan tebal berhasil menyembunyikan kelelahan dan rasa hancur yang kurasakan. Di sebelahku, Maya tampak begitu cantik dan berseri-seri dalam balutan gaun pengantin satin berwarna putih gading. Ia terlihat seperti malaikat, sangat kontras denganku yang merasa seperti pendosa paling kotor di ruangan ini."Kak Aruna, menurutmu yang ini terlalu terbuka tidak di bagian punggung?" tanya Maya sambil berputar pelan di depan cermin.Aku mencoba memaksakan senyum terbaikku. "Tidak, Maya. Kau terlihat sangat sempurna. Reno pasti akan terpesona melihatmu.""Aku setuju dengan kakakmu, Maya. Kau terlihat sangat anggun."Suara bariton itu membuat seluruh tubuhku menegang. Aku melihat melalui cermin saat Gavin melangkah masuk ke area privat butik ini. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya, terlihat sangat berwibawa. Di belakangnya, Ibu menyusul dengan wajah sumringah karena kehadiran keluarga
Udara di dalam kamar hotel ini terasa mencekik. Aku berdiri mematung di depan Gavin, pria yang dalam semalam telah berubah dari orang asing menjadi mimpi buruk paling nyata dalam hidupku. Perintahnya baru saja menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kucoba pertahankan. Lepaskan pakaianku? Rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga."Gavin, ini keterlaluan," suaraku bergetar hebat. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan semalam. Kenapa kau harus menghancurkanku seperti ini?"Gavin duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya dengan santai seolah dia sedang menonton pertunjukan yang sangat menarik. Ia meraih segelas wiski yang ada di nakas, menyesapnya sedikit sebelum menatapku kembali dengan mata gelapnya yang tidak terbaca."Semalam itu adalah ketidaksengajaan yang menyenangkan, Aruna. Tapi malam ini? Malam ini adalah sebuah transaksi," ucapnya tanpa beban. "Aku punya sesuatu yang kau butuhkan, yaitu kebungkamanku. Dan kau punya sesuatu yang aku inginkan. Adil,
Lututku terasa lemas mendengar ancaman yang keluar dari bibir pria itu. Gavin masih menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia yang kusembunyikan. Tangannya yang besar masih berada di perutku, seolah memberikan klaim bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuhku sejak malam itu. Aku bisa mendengar tawa Maya dan calon suaminya dari arah taman, suara kebahagiaan yang sekarang terasa seperti lonceng kematian bagiku."Kau gila, Gavin," desisku sambil mencoba menepis tangannya. "Maya adalah adikku. Dia sangat mencintai adikmu. Bagaimana bisa kau sejahat ini?"Gavin tidak bergeming. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpitku hingga tidak ada celah udara di antara kami. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan stabil, berbanding terbalik dengan jantungku yang berpacu liar karena ketakutan. Ia menyelipkan jari-jarinya ke sela rambutku, menariknya sedikit ke belakang agar aku terpaksa mendongak menatapnya."Aku tidak peduli dengan cinta mereka, Aruna. Aku
Detak jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok tipis di bar ini biasanya membuatku mual, tapi malam ini semuanya terasa seperti bius yang kucari. Aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kekasihku selama tiga tahun sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemen yang seharusnya menjadi kejutan ulang tahunku. Hancur. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan jiwaku sekarang.Aku memesan satu gelas wiski lagi, lalu satu lagi, sampai pandanganku mulai sedikit berbayang. Di tengah keremangan lampu bar yang berputar, aku merasakan sebuah tatapan yang membakar kulit tengkukku. Aku menoleh perlahan dan menemukan seorang pria duduk di sudut yang paling gelap. Ia sedang menyesap minumannya dengan tenang, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dariku.Ia tidak seperti pria-pria di sini yang mencoba mendekat dengan rayuan murahan. Pria itu hanya diam, tapi auranya sangat mendominasi. Ia mengenaka







