แชร์

Bab 2 : Tawaran Iblis

ผู้เขียน: Fillani Putri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-04 23:06:34

Lutut Aruna terasa lemas mendengar ancaman pria itu. Gavin masih menatapnya dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia di otaknya.

Tangannya yang besar masih berada di perut Aruna. Sebuah klaim sepihak bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuh itu sejak malam panas di hotel.

Dari arah taman, suara tawa Maya terdengar begitu riang. Bagi Aruna, suara itu sekarang terdengar seperti lonceng kematian.

"Kamu gila, Gavin," desis Aruna sambil mencoba menepis tangan pria itu. "Maya itu adikku. Dia calon suamimu! Kenapa kamu sejahat ini?"

Gavin tidak bergeming sedikit pun. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpit Aruna hingga tidak ada lagi celah udara di antara mereka.

Aruna bisa merasakan detak jantung Gavin yang tenang. Sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar karena ketakutan.

Gavin menyelipkan jari ke sela rambut Aruna. Ia menariknya sedikit ke belakang agar wanita itu terpaksa mendongak menatapnya.

"Aku tidak peduli soal status, Aruna. Aku hanya peduli pada apa yang aku inginkan," bisik Gavin tepat di depan bibir Aruna.

Aroma wiski dan mint dari napasnya membuat ingatan Aruna terlempar balik ke kamar hotel itu. Sialan. Tubuhnya justru mengkhianati dengan memberikan reaksi panas yang tidak diinginkan.

"Kamu terlihat sangat suci di depan keluargamu. Padahal aku tahu betapa liarnya kamu saat berada di bawahku semalam," lanjut Gavin sambil terkekeh rendah.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah balkon. Jantung Aruna hampir melompat keluar.

"Kak Aruna? Gavin? Kalian di mana? Sayang?" Itu suara Maya.

Panik luar biasa menyerang Aruna. Namun Gavin tetap tenang, bahkan tidak melepaskan tangannya sampai detik terakhir sebelum Maya muncul.

Dengan gerakan yang sangat halus, Gavin mundur satu langkah. Ia berpura-pura sedang memperbaiki kancing lengan jasnya sambil menatap pemandangan taman.

"Ah, Maya. Kakakmu hanya sedang menunjukkan arah taman belakang padaku," ucap Gavin dengan nada yang begitu natural.

Maya tersenyum lebar tanpa curiga sedikit pun. Ia langsung memeluk lengan Gavin mesra. "Oh, kirain ke mana. Kak Aruna, wajahmu pucat sekali? Kakak sakit?"

"Aku... aku hanya sedikit pusing, Maya. Mungkin karena kurang tidur," dalih Aruna sambil berpegangan pada pagar balkon agar tidak jatuh.


Malam itu berakhir seperti siksaan pelan bagi Aruna. Saat keluarga Dirgantara berpamitan, Gavin menjabat tangan orang tua Aruna dengan sangat sopan.

Saat tiba giliran Aruna, Gavin menggenggam tangannya sedikit lebih lama di depan Maya. Ia menyelipkan sebuah kertas kecil ke dalam telapak tangan Aruna.

Begitu di dalam kamar yang terkunci, Aruna membuka kertas itu dengan tangan gemetar.

Hotel Kencana, Kamar 901. Jam 11 malam ini. Kalau tidak datang, aku kirim rekaman CCTV hotel semalam ke grup keluarga.

Aruna merasa sesak seketika. Pria itu benar-benar iblis yang sengaja menjebaknya dalam permainan gila ini.

Dengan air mata yang mengalir deras, Aruna mengambil kunci mobilnya. Ia tidak punya pilihan selain menghadapi iblis itu demi melindungi masa depan adiknya.

Sesampainya di depan kamar 901, Aruna menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama sampai pintu terbuka.

Gavin berdiri di sana hanya mengenakan jubah mandi putih yang longgar. Dadanya yang bidang dan kecokelatan terpampang jelas.

"Kamu terlambat lima menit, Aruna," ucapnya dingin sambil menarik Aruna masuk dan mengunci pintu dengan bunyi klik yang final.

"Berikan rekaman itu sekarang dan biarkan aku pergi!" tuntut Aruna dengan suara bergetar.

Gavin berjalan mendekat seperti singa yang mendekati mangsanya. Ia menyudutkan Aruna ke arah ranjang besar yang sudah rapi.

"Kamu datang ke sini bukan untuk negosiasi, Aruna. Kamu datang untuk membayar harga dari kebungkamanku," desis Gavin.

Gavin merenggut gaun Aruna hingga ritsleting belakangnya terbuka tanpa permisi. Tangannya meraba kulit punggung Aruna yang mulus dengan kasar.

"Lepaskan pakaianmu. Sekarang," perintah Gavin mutlak.

"Gavin, kumohon... pikirkan Maya..." rintih Aruna saat jubah mandi pria itu sengaja dilonggarkan, memperlihatkan tubuhnya yang membara.

Gavin justru tertawa sinis. Ia mendorong Aruna hingga jatuh ke kasur dan langsung menindihnya dengan beringas.

Gavin meraup kedua payudara Aruna, meremasnya dengan kuat hingga Aruna melenguh tinggi. Tangannya merayap ke bawah, merobek pakaian dalam Aruna dengan satu tarikan.

Tanpa banyak basa-basi, Gavin langsung menghujam Aruna dengan satu sentakan yang dalam dan keras.

"Ahh! Gavin!" pekik Aruna, mencengkeram sprei sekuat tenaga saat merasakan invasi pria itu yang tanpa ampun.

Gavin bergerak dengan tempo yang lebih liar dari semalam. Ia sengaja membuat Aruna kewalahan, membiarkan tubuh wanita itu bergetar hebat di bawah kekuasaannya.

"Bilang... pria mana yang sanggup membuatmu mendesah seperti ini?" geram Gavin di tengah napasnya yang menderu.

Gavin mendekatkan wajahnya ke telinga Aruna, membisikkan kata-kata yang membuat pertahanan Aruna runtuh sepenuhnya.

"Kamu tahu Aruna, aku lebih suka kamu memohon di bawah tubuhku daripada memohon dengan kata-kata. Jadi, nikmati saja setiap inci tubuhku malam ini."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 22: Sangkar Emas yang Retak

    Keheningan di vila itu terasa jauh lebih menyiksa daripada kemarahan Gavin semalam. Aruna terbaring kaku, menatap tetesan infus yang jatuh dengan ritme yang monoton—seperti waktu yang perlahan merenggut sisa-sisa harapannya.Ceklek.Pintu terbuka. Gavin masuk dengan pakaian yang sudah berganti, rapi dan dingin seperti biasa. Namun, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa pria itu tidak tidur sejak mereka kembali dari kantor lama Ayah. Di tangannya, ia membawa nampan berisi bubur dan segelas susu hangat."Makan," perintahnya singkat. Ia meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang.Aruna memalingkan wajah ke arah jendela. "Aku tidak lapar.""Dokter bilang kamu harus makan jika ingin janin itu selamat. Atau kamu ingin aku menyuapimu dengan cara yang tidak menyenangkan?" Gavin mencengkeram dagu Aruna, memaksanya menoleh.Tatapan mereka beradu. Aruna melihat ada badai di mata Gavin—keraguan yang mulai menggerogoti keyakinannya setelah mendengar nama 'Sari' se

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 21: Benih Keraguan

    Suara gesekan kain dan napas berat Gavin memenuhi ruangan kantor yang pengap itu. Di atas meja kayu yang pernah menjadi saksi bisu kejayaan ayahnya, Aruna merasa dunianya benar-benar runtuh. Bukan karena rasa perih di tubuhnya, melainkan karena kenyataan bahwa setiap ciuman dan sentuhan Gavin selama ini adalah racun yang sengaja disuntikkan untuk membunuhnya perlahan."Kenapa..." Aruna terisak, suaranya nyaris hilang di balik dada bidang Gavin. "Kalau kamu membenciku, kenapa kamu membiarkan aku mencuri kunci ini? Kenapa kamu membiarkan aku datang ke sini?"Gavin menghentikan gerakannya. Ia menarik rambut Aruna perlahan, memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat gelap di bawah cahaya bulan. "Vila itu adalah wilayahku, Aruna. Tidak ada semut pun yang keluar tanpa seizinku. Aku sengaja membiarkan supirku lengah. Aku ingin kamu menemukan bukti ini."Aruna terbelalak. "Kamu sengaja?""Aku ingin kamu tahu kebenarannya tepat saat kamu merasa paling mencintaiku. Itu adalah puncak dari

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 20: Kunci di Balik Dosa

    Gavin masih sibuk dengan asistennya, memberikan instruksi tegas mengenai pengamanan pemakaman Maya esok hari. Aruna memanfaatkan momen itu untuk mendekati supir pribadi mereka, Pak Dadang, yang berdiri di samping pintu mobil yang terbuka."Pak Dadang, boleh saya minta tolong? Dompet saya sepertinya tertinggal di laci depan mobil," ucap Aruna dengan nada setenang mungkin."Oh, biar saya ambilkan, Non Aruna," jawab Pak Dadang sigap."Tidak usah, Pak. Saya sekalian mau ambil tisu di sana. Bapak tolong belikan saya air mineral di kantin rumah sakit ya? Perut saya tiba-tiba tidak enak."Pak Dadang mengangguk patuh dan segera melangkah pergi. Begitu pria itu menjauh, Aruna segera menyambar kunci mobil yang masih menggantung di lubang starter. Dengan tangan gemetar, ia menarik gantungan mawar hitam itu kuat-kuat hingga terlepas dari ringnya, lalu menyembunyikannya di dalam genggaman tangannya.Ia segera mengembalikan kunci mobil ke posisi semula tepat saat Gavin menoleh ke arahnya."Aruna? S

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 19: Penyerahan Tanpa Syarat

    Laras senjata itu terasa dingin di telapak tangan Aruna, namun panas di hatinya jauh lebih membakar. Ia tidak sedang berdiri di depan seorang bos mafia, melainkan di depan pria yang telah berbagi ranjang dengannya, pria yang napasnya pernah menyatu dengan napasnya."Aruna, turunkan itu. Kamu sedang mengandung, guncangan emosi ini tidak baik untuk bayi kita," suara Gavin terdengar rendah, mencoba masuk ke dalam celah kewarasan Aruna."Bayi kita?" Aruna tertawa pedih, air matanya jatuh membasahi gaun merahnya yang terbuka. "Bayi ini adalah saksi bisu betapa pintarnya kamu bersandiwara. Kamu bukan pelindungku, Gavin. Kamu adalah penjara yang aku puja."Bram, sang pemilik ruangan, hanya menyesap cerutunya sambil menikmati drama di depannya. "Gavin, sepertinya koleksimu punya taring. Menarik sekali.""Keluar, Bram! Sekarang!" bentak Gavin tanpa melepaskan pandangannya dari Aruna.Begitu pintu tertutup, keheningan menyergap. Hanya ada deru napas mereka berdua. Gavin melangkah maju, perlahan

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 18

    "Berlututlah, Aruna. Memohonlah padaku jika kamu ingin ibumu tetap bernapas pagi ini." Suara Gavin terdengar begitu lembut, namun setiap katanya mengandung racun yang melumpuhkan.Aruna menatap kaki Gavin yang terbungkus celana kain mahal. Air matanya jatuh, membasahi lantai. "Tolong... jangan biarkan Ibu pergi... aku mohon, Gavin.""Aku tidak bisa mendengarmu dari bawah sana, Sayang," Gavin mengusap rambut Aruna, lalu menjambaknya sedikit agar wajah wanita itu mendongak. "Katakan dengan jelas. Siapa yang memegang nyawamu dan ibumu sekarang?""Kamu... kamu yang memegangnya," bisik Aruna dengan suara parau."Bagus." Gavin menarik Aruna berdiri, namun tidak membiarkannya menjauh. Ia justru memeluk pinggang Aruna, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka. "Sekarang, tunjukkan padaku betapa berartinya nyawa ibumu bagimu. Layani aku di sini, di depan jendela ini, agar matahari pagi tahu siapa pemilikmu yang sebenarnya."Aruna memejamkan mata. Rasa malu dan putus asa berperang di

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 17: Abu di Atas Luka

    Klik.Suara pemantik api itu terdengar nyaring di tengah sunyinya halaman vila, beradu dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Aruna menjerit histeris saat melihat percikan api menyambar pakaian Maya yang sudah basah oleh bensin. Namun, peluru dari senjata Paman Hardi tidak mengenai Maya; timah panas itu justru menghantam bahu salah satu penjaga Gavin yang mencoba maju."Maya! Tidak! Buang pemantiknya!" Aruna merontak hebat, mencoba berlari menuju adiknya, namun lengan kekar Gavin mengunci pinggangnya dari belakang dengan kekuatan yang menyakitkan."Lepaskan aku, Gavin! Dia akan terbakar!""Jangan bodoh, Aruna! Kamu mendekat, kamu ikut mati!" Gavin membentak tepat di telinganya, napasnya yang panas memburu di leher Aruna yang berkeringat.Di depan mereka, Maya tertawa dalam tangis. Api mulai menjilat ujung bajunya. "Kakak harus bebas... jangan jadi seperti aku yang hanya sampah!"Wussh!Api berkobar besar dalam sekejap. Tubuh Maya menjadi pilar api yang mengerikan di bawah caha

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 10: Melarikan Diri

    Aruna berdiri kaku di depan cermin besar butik mewah itu. Gaun satin berwarna sampanye yang melekat di tubuhnya terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, melainkan karena tatapan Gavin yang terus menguliti bayangannya dari pantulan kaca. Di sudut lain, Maya sedang sibuk mencoba gaun penga

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 9: Sisa Semalam

    "Aah... Stop Gavin. Sakit.""Jangan bohong Aruna, aku tahu kamu menikmatinya."Bukannya menurunkan tempo gerakan pinggulnya, Gavin malah mempercepat. Tangan Gavin bahkan sangat aktif meremas payudara Aruna."Ah... aku membencimu Gav... ahhh...."Gavin justru tertawa rendah. Suara beratnya memenuhi

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 8: Rahasia di Balik Botol

    Pukul tujuh pagi tepat. Klakson sedan hitam Gavin sudah meraung di depan pagar rumah Ibu. Aruna berdiri di teras dengan dua koper besar dan tas kerja yang ia dekap erat—tas yang kini ia tahu berisi alat pelacak."Sudah siap, Aruna? Ayo, biar aku bantu bawa kopernya," Gavin keluar dari mobil, wajahn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status