LOGINUdara di dalam kamar hotel terasa menyesakkan bagi Aruna. Gavin masih terus menghujamnya tanpa ampun, seolah ingin menguras seluruh tenaga wanita itu hingga tak bersisa.
Aruna mencengkeram bahu Gavin yang kokoh, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu saat sensasi panas menyapu seluruh tubuhnya. Desahan-desahan pasrah lolos begitu saja dari bibir Aruna, mengkhianati rasa benci yang ia rasakan di dalam hati.
"Gavin... ssshh... pelan..." rintih Aruna dengan mata terpejam rapat.
Gavin justru mempercepat temponya, membuat ranjang hotel itu berderit ritmis. Ia menarik kedua tangan Aruna ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan besar sementara tangan lainnya meremas dada Aruna dengan kasar.
"Katakan namaku, Aruna! Katakan siapa pria yang sedang memilikimu sekarang!" geram Gavin dengan napas memburu di ceruk leher Aruna.
"G-Gavin... ahhh!"
Aruna tidak bisa lagi menahan ledakan kenikmatan yang menyiksa itu. Tubuhnya melengkung hebat sebelum akhirnya lemas tak berdaya di bawah kungkungan calon tunangan adiknya sendiri.
Beberapa jam kemudian, Aruna terbangun saat hari masih sangat gelap. Ia mendapati Gavin sudah berpakaian rapi di depan cermin, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
"Ada di atas meja," ucap Gavin dingin tanpa menoleh.
Aruna melirik nakas, menemukan sebuah ponsel baru dan kartu akses berwarna emas.
"Gunakan itu buat komunikasi denganku. Dan kartu itu akses ke apartemen pribadiku. Aku nggak mau kita terus-menerus di hotel, terlalu berisiko," jelas Gavin sambil merapikan jam tangannya.
Aruna duduk sambil memeluk selimut, menutupi tubuh polosnya yang dipenuhi tanda kemerahan. "Sampai kapan, Gavin? Sampai kapan kamu mau lakuin ini?"
Gavin berbalik, menatap Aruna dengan senyum miring yang mematikan. Ia berjalan mendekat dan mengecup kening Aruna dengan lembut, namun terasa sangat beracun.
"Sampai aku bosan, Aruna. Dan melihat reaksi tubuhmu semalam, sepertinya itu akan lama," bisiknya.
Sebelum melangkah keluar, Gavin berhenti di ambang pintu. "Oh ya, sore ini ada acara fitting baju pengantin buat Maya. Ibumu telepon aku, minta aku nemenin kamu sama Maya karena ayahmu sibuk. Aku sudah mengiyakannya."
Jantung Aruna mencelos. "Aku nggak mau pergi!"
"Kamu bakal pergi, Aruna. Kamu bakal tersenyum manis di sampingku saat adikmu mencoba gaunnya," ancam Gavin penuh penekanan.
"Karena kalau tidak, hadiah video semalam bakal sampai ke ponsel ibumu tepat saat kamu lagi coba baju pengiring pengantin nanti."
Sore harinya, butik pengantin ternama itu tampak elegan dengan deretan gaun putih yang mewah. Aruna merasa ingin muntah setiap kali melihat senyum bahagia di wajah Maya.
"Kak Aruna, bagusan yang mana? Yang model ball gown atau yang mermaid?" tanya Maya dengan mata berbinar.
Aruna mencoba tersenyum meski hatinya perih. "Semuanya bagus di tubuhmu, Maya."
Gavin duduk di sofa beludru sambil menyesap kopi, menatap Aruna dengan tatapan predator yang tidak disadari oleh siapa pun. Saat Maya masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaun pertama, Gavin segera berdiri.
Ia berjalan mendekati Aruna yang sedang berpura-pura melihat deretan gaun pengiring pengantin. Gavin berdiri tepat di belakang Aruna, membiarkan tubuh mereka bersentuhan.
"Jangan dekat-dekat, Gavin! Maya bisa lihat!" desis Aruna panik.
Gavin justru melingkarkan tangannya di pinggang Aruna, menariknya hingga bokong Aruna menempel pada area sensitifnya yang mulai menegang.
"Dia lagi sibuk ganti baju. Kamu tahu, Aruna? Aku jadi membayangkan kamu yang pakai gaun putih ini, tapi hanya untuk aku lucuti di malam pengantin nanti," bisik Gavin di telinga Aruna.
Tangan Gavin mulai berani merayap masuk ke balik blus Aruna, mengusap bekas tanda merah yang ia buat semalam. Aruna mematung, napasnya mulai memburu karena takut sekaligus terangsang.
"Lepaskan, Gavin... kumohon," rintih Aruna lirih.
Tiba-tiba pintu ruang ganti terbuka. Aruna dengan cepat mendorong Gavin dan berpura-pura merapikan gaun di depannya.
"Gimana? Aku cantik nggak?" Maya muncul dengan gaun putih yang sangat indah.
Gavin tersenyum sangat manis, tipe senyum yang bisa menipu dunia. "Kamu luar biasa cantik, Maya. Calon istriku memang paling sempurna."
Gavin melirik Aruna sekilas melalui pantulan cermin, memberikan tatapan kemenangan yang membuat Aruna merasa menjadi wanita paling hina di dunia.
"Aruna, kenapa diam saja? Kakakmu sepertinya terlalu kagum sampai nggak bisa bicara, ya?" goda Gavin sambil merangkul pundak Maya, namun matanya tetap mengunci Aruna.
Siksaan itu terus berlanjut. Setiap kali Maya lengah, Gavin akan mencari celah untuk menyentuh Aruna. Entah itu gesekan tangan yang sengaja, atau bisikan-bisikan kotor tentang rencana mereka di apartemen nanti malam.
Aruna tahu, ia sudah terjebak dalam lubang dosa yang tidak ada dasarnya. Dan iblis yang membawanya ke sana adalah pria yang sebentar lagi akan menjadi suami adiknya.
"Siapkan dirimu buat nanti malam, Aruna. Aku ingin kamu pakai gaun pengiring pengantin ini saat aku menguasaimu di apartemen," bisik Gavin saat mereka berpapasan di lorong butik menuju kasir.
Suara wanita di layar televisi itu terus bergema, menghantam dinding kamar yang hening seperti vonis mati. Garis wajah Sari—wanita yang memiliki mata serupa dengan Gavin—menatap dingin ke arah kamera, menelanjangi rahasia yang terendam puluhan tahun."Adik kandung..."Dunia Aruna berhenti berputar. Seluruh persendian tubuh Gavin mendadak terkunci rapat di atas tubuh Aruna. Pria itu mematung, menatap layar kaca dengan pupil mata yang melebar penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.Di bawah kungkungan tubuh Gavin yang berat, Aruna merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Rasa mual yang teramat sangat menyembur dari lambungnya, meracuni seluruh aliran darahnya."Gavin..." bisik Aruna, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Lepaskan... lepaskan aku!"Aruna mendorong dada
Bau amis darah tua bercampur bau logam yang pekat memenuhi rongga dada Aruna. Cairan hangat yang mengalir di antara sela pahanya terasa tebal, merembes cepat menembus kain satin hitam yang melekat di kulitnya. Rasa melilit di perut bawahnya seolah mencakar dinding rahim dari dalam, merenggut seluruh pasokan udara hingga tenggorokannya terkunci rapat."Gavin..." suara Aruna pecah, nyaris berbisik. Tangannya gemetar hebat, menekan permukaan lantai semen yang dingin saat matanya menangkap warna merah pekat yang kian meluas, menyatu dengan genangan darah Paman Hardi di depannya.Langkah sepatu kulit Gavin berkedut. Pistol revolver silver di tangannya meluncur bebas, menghantam lantai batu dengan dentang nyaring yang memekakkan telinga. Pria itu berlutut secara mendadak, mengabaikan genangan darah yang langsung menodai lutut celana kain mahalnya."Aruna!" Pekikan rendah yang sarat akan panik pecah dari mulut Gavin. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika memucat. Matanya liar menatap
Dinding kamar yang gelap memantulkan suara napas yang berburu. Keringat dingin membasahi sprei sutra yang kusut, melekatkan sisa-sisa benang hitam ke kulit Aruna yang kemerahan. Di atasnya, dada Gavin naik turun secara teratur. Pria itu menyandarkan dahinya di celak leher Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu yang terkunci rapat di atas kepala."Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Aruna..." bisik Gavin dengan suara serak yang menyapu kulit telinga Aruna. Tangannya yang besar turun melingkari perut Aruna yang datar, menepuknya pelan seolah sedang menyegel sesuatu yang berharga di sana.Aruna menatap ceiling kamar yang remang. Bibirnya bengkak dan perih, dadanya masih memburu hebat dari pergulatan liar yang baru saja merenggut sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar, merespons sentuhan hangat yang ditinggalkan Gavin, sementara otaknya berteriak menyuarakan kebencian yang makin pekat."Paman Hardi..." suara Aruna keluar parau, hampir tenggelam di antara ketukan hujan yang mulai memukul kac
Angin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang
Aruna menahan napas. Tangannya mencengkeram sprei tebal di belakang punggungnya, berusaha mencari tumpuan saat guncangan panik menyerang dadanya. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar rembulan, pendar asap tipis dari moncong pistol pria itu terlihat begitu mengancam."Siapa kamu?" tanya Aruna, suaranya gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tenang.Pria itu melangkah masuk. Sepatu boots mewahnya beradu melintasi pecahan bingkai pintu kayu yang hancur. Ia menyalakan pemantik api perak di tangannya. Cahaya oranye yang temaram seketika menyinari separuh wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka tipis di rahang."Orang yang harusnya menyelamatkanmu dari monster bernama Gavin," sahut pria itu. Suaranya serak, dingin, dan tanpa nada keramahan."Paman Hardi?" Aruna menyipitkan mata, terbelalak melihat garis wajah yang sangat ia kenal itu. "Bagaimana bisa... bukankah Paman di penjara?"Pria itu tertawa tipis, suara tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia mem
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam masuk membawakan nampan berisi segelas air dan dua butir pil."Nona Aruna, ini obat penguat kandungan dari Tuan Gavin. Harus diminum sekarang," ujar penjaga itu singkat.Aruna menatap dua pil merah di atas nampan dengan kening berkerut. "Aku sudah minum obat tadi pagi.""Tuan meminta saya memastikan Nona meminumnya langsung di depan saya.""Kalau aku menolak?" Aruna bersedekap, menatap lurus mata pria itu."Tuan Gavin tidak memberi opsi menolak, Nona."Aruna menghela napas panjang. Ia mengambil dua pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meneguk air hingga tandas."Sudah kan? Sekarang keluar," kata Aruna dingin.Penjaga itu menunduk kaku. "Baik. Pintu akan tetap dikunci dari luar."Begitu gerendel pintu berbunyi klak, Aruna bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tenggorokannya di depan wastafel hingga mual hebat memicu perutnya memuntahkan kembali seluruh isi lambungnya. Pil ya
"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakm
Mobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin."Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna."Sakit?
Aruna mematung. Napasnya tertahan di kerongkongan, terasa mencekik. Di atas tubuhnya, Gavin justru mempererat cengkeraman pada pinggul Aruna, sengaja menekan berat tubuhnya hingga Aruna tidak bisa bergerak di bawah selimut tipis yang berbau keringat dan gairah itu."Gavin? Kok bau parfum Kak Aruna a
Klik.Aruna menempelkan kartu akses emas itu ke pintu apartemen Gavin. Tangannya gemetar hebat, sisa ketakutan dari butik siang tadi masih menjalar di nadinya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram. Di balik mantel panjangnya, ia mengenakan gaun pengiring pengantin w







