MasukUdara di dalam kamar hotel ini terasa mencekik. Aku berdiri mematung di depan Gavin, pria yang dalam semalam telah berubah dari orang asing menjadi mimpi buruk paling nyata dalam hidupku. Perintahnya baru saja menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kucoba pertahankan. Lepaskan pakaianku? Rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga.
"Gavin, ini keterlaluan," suaraku bergetar hebat. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan semalam. Kenapa kau harus menghancurkanku seperti ini?" Gavin duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya dengan santai seolah dia sedang menonton pertunjukan yang sangat menarik. Ia meraih segelas wiski yang ada di nakas, menyesapnya sedikit sebelum menatapku kembali dengan mata gelapnya yang tidak terbaca. "Semalam itu adalah ketidaksengajaan yang menyenangkan, Aruna. Tapi malam ini? Malam ini adalah sebuah transaksi," ucapnya tanpa beban. "Aku punya sesuatu yang kau butuhkan, yaitu kebungkamanku. Dan kau punya sesuatu yang aku inginkan. Adil, bukan?" Ia meletakkan gelasnya dengan denting pelan yang terdengar nyaring di telingaku. "Aku tidak punya banyak waktu. Jika dalam hitungan ketiga kau masih berdiri di sana seperti patung, aku akan menekan tombol kirim pada ponselku. Maya pasti akan sangat terkejut melihat kakaknya yang teladan ternyata sangat berbakat di atas ranjang." "Jangan!" teriakku spontan. Aku menatapnya dengan kebencian yang mendalam, tapi tanganku mulai bergerak menuju ritsleting jaket hitam yang kukenakan. Setiap inci kain yang turun terasa seperti luka baru di jiwaku. Dengan tangan gemetar, aku membiarkan jaketku jatuh ke lantai, diikuti oleh pakaianku yang lain hingga aku hanya berdiri di hadapannya dengan pakaian dalam yang minim. Dinginnya AC kamar hotel menusuk kulitku, tapi rasa malu yang membakar jauh lebih menyakitkan. Gavin berdiri perlahan. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya membuatku ingin mundur, namun aku memaksakan diri untuk tetap diam. Ia berhenti tepat di depanku, membiarkan matanya menjelajahi tubuhku dengan intensitas yang membuatku merasa terbakar. Ia mengulurkan tangannya, ujung jarinya yang hangat menyentuh pundakku dan perlahan turun menuju dadaku. Aku tersentak, mencoba memalingkan wajah, namun ia dengan cepat mencengkeram daguku. "Lihat aku, Aruna," perintahnya rendah. "Jangan pura-pura menjadi korban. Tubuhmu mengingat apa yang kulakukan semalam, bukan?" Ia tidak menungguku menjawab. Bibirnya menyambar leherku, menghisap kulit sensitif di sana dengan paksa seolah ingin meninggalkan tanda permanen bahwa aku adalah miliknya. Aku mencoba melawan, mendorong bahunya yang keras, namun Gavin justru semakin mempererat pelukannya. Ia mengangkat tubuhku dan menghempaskannya ke atas ranjang yang empuk. Segala kebencian yang kurasakan seolah bertarung dengan reaksi biologis tubuhku yang berkhianat. Sentuhan Gavin begitu ahli, begitu menuntut, hingga aku tidak bisa menghentikan desahan yang lolos dari bibirku saat ia mulai menciumi area-area sensitifku. Ini adalah siksaan paling indah sekaligus paling menyakitkan yang pernah kualami. Di satu sisi aku membencinya dengan seluruh jiwaku, namun di sisi lain, sentuhannya membangkitkan gairah yang tidak bisa kupadamkan. Malam itu kembali menjadi saksi bisu penyerahanku. Gavin mengambil apa pun yang ia inginkan dariku tanpa ampun. Ia memperlakukanku dengan kombinasi antara kekasaran yang mendominasi dan kelembutan yang menyesatkan. Setiap kali aku merasa akan hancur, ia justru membawaku ke puncak kenikmatan yang membuatku semakin membenci diriku sendiri. --- Beberapa jam kemudian, aku terbangun saat hari masih sangat gelap. Gavin sudah berpakaian lengkap, berdiri di depan cermin besar sambil merapikan jam tangan mewahnya. Ia tampak segar, seolah-olah dia tidak baru saja menghabiskan malam dengan menghancurkan hidup seseorang. "Ada di atas meja," ucapnya tanpa menoleh padaku. Aku melirik ke arah nakas. Sebuah ponsel baru dan sebuah kartu akses berwarna emas terletak di sana. "Gunakan ponsel itu untuk berkomunikasi denganku. Jika aku memanggil, kau harus datang. Dan kartu itu... itu adalah akses ke apartemen pribadiku di pusat kota. Aku tidak ingin kita terus-menerus bertemu di hotel seperti ini. Terlalu berisiko," jelasnya dengan nada memerintah yang dingin. Aku duduk sambil memeluk selimut untuk menutupi tubuhku yang polos. "Sampai kapan, Gavin? Sampai kapan kau akan melakukan ini?" Gavin berbalik, menatapku dengan senyum miring yang mematikan. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Ia menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang telinga dengan gerakan yang hampir terlihat penuh kasih sayang. "Sampai aku bosan, Aruna. Dan melihat betapa manisnya reaksimu semalam, sepertinya itu akan memakan waktu yang sangat lama," bisiknya. Ia mengecup keningku sekilas sebelum berbalik menuju pintu. Namun, sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti dan menoleh kembali padaku. "Oh, aku lupa memberitahumu satu hal. Sore ini ada acara fitting baju pengantin untuk Maya. Ibumu meneleponku, meminta aku untuk menemanimu dan Maya karena ayahmu sedang sibuk. Aku sudah mengiyakannya." Jantungku mencelos. Fitting baju pengantin? Bersama Gavin? "Aku tidak mau pergi!" Gavin hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh sambil memutar kunci pintu. "Kau akan pergi, Aruna. Dan kau akan tersenyum manis di sampingku saat adikmu mencoba gaunnya, karena jika tidak, hadiah kecil dariku akan sampai ke ponsel ibumu tepat saat kau sedang mencoba baju pengiring pengantinmu nanti."Mobil hitam mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuatku mual, namun ketakutanku pada pria di sampingku jauh lebih besar daripada rasa pusing di kepalaku. Gavin tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan kafe. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke jendela dengan rahang yang terkatup rapat. Aura kemarahan yang dipancarkannya begitu pekat, memenuhi ruang kabin mobil yang kedap suara ini hingga aku merasa oksigen di sekitarku menipis.Aku meremas jemariku sendiri, mencoba menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Mengapa setiap kali aku mencoba mencari jalan keluar, aku justru terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam? Sosok Raka yang ketakutan tadi terus terbayang di benakku, membuktikan bahwa Gavin Dirgantara bukan sekadar pria sombong dengan tumpukan uang. Dia adalah otoritas mutlak yang tidak mengenal kata tidak.Mobil akhirnya berhenti di basement sebuah apartemen penthouse eksklusif di pusat Jakarta. Tanpa menunggu sopir membukakan
Aku merasa seperti tawanan yang menunggu waktu eksekusi. Setiap kali ponsel pemberian Gavin bergetar, jantungku seolah berhenti berdetak. Namun, rasa sakit hati dan harga diri yang tersisa mendorongku untuk melakukan satu tindakan nekat. Aku butuh sekutu. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku lepas dari jeratan Gavin tanpa harus menghancurkan Maya.Sore itu, aku memutuskan untuk menemui Raka, mantan kekasihku yang sempat menyelingkuhiku. Ironis memang, menemui pria yang membuatku jatuh ke pelukan Gavin di malam itu. Tapi Raka adalah seorang pengacara, dan dia tahu banyak tentang celah hukum serta privasi digital.Kami bertemu di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, tempat yang kuyakin tidak akan terjangkau oleh radar keluarga Dirgantara."Aruna, aku senang kau mau menemuiku lagi. Aku benar-benar menyesal soal kejadian itu," ucap Raka sambil mencoba meraih tanganku di atas meja.Aku segera menarik tanganku dengan rasa muak. "Simpan maafmu, Raka. Aku di sini bukan untuk balikan. Aku
Aku menatap pantulan diriku di cermin besar butik pengantin ini. Mataku sedikit sembab, namun riasan tebal berhasil menyembunyikan kelelahan dan rasa hancur yang kurasakan. Di sebelahku, Maya tampak begitu cantik dan berseri-seri dalam balutan gaun pengantin satin berwarna putih gading. Ia terlihat seperti malaikat, sangat kontras denganku yang merasa seperti pendosa paling kotor di ruangan ini."Kak Aruna, menurutmu yang ini terlalu terbuka tidak di bagian punggung?" tanya Maya sambil berputar pelan di depan cermin.Aku mencoba memaksakan senyum terbaikku. "Tidak, Maya. Kau terlihat sangat sempurna. Reno pasti akan terpesona melihatmu.""Aku setuju dengan kakakmu, Maya. Kau terlihat sangat anggun."Suara bariton itu membuat seluruh tubuhku menegang. Aku melihat melalui cermin saat Gavin melangkah masuk ke area privat butik ini. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya, terlihat sangat berwibawa. Di belakangnya, Ibu menyusul dengan wajah sumringah karena kehadiran keluarga
Udara di dalam kamar hotel ini terasa mencekik. Aku berdiri mematung di depan Gavin, pria yang dalam semalam telah berubah dari orang asing menjadi mimpi buruk paling nyata dalam hidupku. Perintahnya baru saja menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kucoba pertahankan. Lepaskan pakaianku? Rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga."Gavin, ini keterlaluan," suaraku bergetar hebat. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan semalam. Kenapa kau harus menghancurkanku seperti ini?"Gavin duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya dengan santai seolah dia sedang menonton pertunjukan yang sangat menarik. Ia meraih segelas wiski yang ada di nakas, menyesapnya sedikit sebelum menatapku kembali dengan mata gelapnya yang tidak terbaca."Semalam itu adalah ketidaksengajaan yang menyenangkan, Aruna. Tapi malam ini? Malam ini adalah sebuah transaksi," ucapnya tanpa beban. "Aku punya sesuatu yang kau butuhkan, yaitu kebungkamanku. Dan kau punya sesuatu yang aku inginkan. Adil,
Lututku terasa lemas mendengar ancaman yang keluar dari bibir pria itu. Gavin masih menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia yang kusembunyikan. Tangannya yang besar masih berada di perutku, seolah memberikan klaim bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuhku sejak malam itu. Aku bisa mendengar tawa Maya dan calon suaminya dari arah taman, suara kebahagiaan yang sekarang terasa seperti lonceng kematian bagiku."Kau gila, Gavin," desisku sambil mencoba menepis tangannya. "Maya adalah adikku. Dia sangat mencintai adikmu. Bagaimana bisa kau sejahat ini?"Gavin tidak bergeming. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpitku hingga tidak ada celah udara di antara kami. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan stabil, berbanding terbalik dengan jantungku yang berpacu liar karena ketakutan. Ia menyelipkan jari-jarinya ke sela rambutku, menariknya sedikit ke belakang agar aku terpaksa mendongak menatapnya."Aku tidak peduli dengan cinta mereka, Aruna. Aku
Detak jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok tipis di bar ini biasanya membuatku mual, tapi malam ini semuanya terasa seperti bius yang kucari. Aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kekasihku selama tiga tahun sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemen yang seharusnya menjadi kejutan ulang tahunku. Hancur. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan jiwaku sekarang.Aku memesan satu gelas wiski lagi, lalu satu lagi, sampai pandanganku mulai sedikit berbayang. Di tengah keremangan lampu bar yang berputar, aku merasakan sebuah tatapan yang membakar kulit tengkukku. Aku menoleh perlahan dan menemukan seorang pria duduk di sudut yang paling gelap. Ia sedang menyesap minumannya dengan tenang, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dariku.Ia tidak seperti pria-pria di sini yang mencoba mendekat dengan rayuan murahan. Pria itu hanya diam, tapi auranya sangat mendominasi. Ia mengenaka







