Alina tersentak, namun ombak besar tiba-tiba datang menghantam tubuhnya, menyeretnya masuk ke dalam gulungan air yang dalam. Napasnya terputus, dunianya mendadak menjadi gelap saat air laut masuk menguasai paru-parunya. BYURRR! Marvin berenang dengan kecepatan penuh, menerjang ombak demi meraih tubuh Alina yang mulai tenggelam. Dengan sisa tenaganya, ia mendekap pinggang Alina dan membawanya kembali ke daratan tanpa pedulikan nyawanya sendiri. "Alina! Bangun, Sayang! Aku mohon bangun!" Marvin menepuk-nepuk pipi Alina yang pucat pasi. Tidak ada denyut nadi yang terasa di lehernya. "Tidak! Kau tidak boleh mati, Alina! Aku tak akan memaafkan diriku sendiri," kata Marvin, dengan jantung berdebar kencang. Panik setengah mati, Marvin langsung melakukan CPR, menekan dada Alina berkali-kali. "Satu, dua, tiga... Bangun, Alina!" Marvin lalu menangkupkan bibirnya, memberikan napas buatan berkali-kali ke dalam mulut Alina, menyalurkan seluruh sisa kehidupan yang ia miliki demi wanita itu. "
Read more