"Aku ingin kita pindah ke kota baru, Marvin. Kota yang tenang, di mana tidak ada yang mengenal siapa kita. Aku ingin memulai kehidupan baru denganmu," bisik Alina sore itu, menyandarkan kepalanya di dada bidang Marvin saat mereka bersiap menata lembaran baru. Marvin mengecup kening istrinya dalam-dalam. "Apapun untukmu, Sayang. Aku juga akan meneruskan seluruh usaha Ayahmu di sana. Kita mulai dari awal dengan identitas yang baru." **** Enam bulan kemudian, di sebuah kota pelabuhan baru yang asri. Kehidupan berjalan begitu sempurna dan normal dan penuh bahagia. "Terima kasih, Marvin. Kau sudah membuat hidupku bahagia. Kita bisa menikmati kehidupan pernikahan kita seperti itu." "Untukmu, aku rela melakukan apa saja, Sayang." Marvin mencium pucuk kepala Alina, merasakan hangatnya yang menenangkan. Tiba-tiba, dia menyodorkan sesuatu yang membuat dada Marvin berdegup lebih kencang. "Marvin, aku punya kejutan untukmu," katanya sambil menatapnya penuh harap. Ketika Marvin melihat test
Read more