Masuk"Lenika..." Marvin menggertakkan giginya kuat-kuat, saat melihat wanita yang ada di layar tablet miliknya.Marvin mematung. Tatapannya tertuju pada layar tablet yang dipegang Hugo, merekam jelas bagaimana Lenika melangkah terburu-buru keluar melalui pintu belakang rumah sakit, lalu masuk ke dalam sebuah mobil hitam mewah tanpa ada paksaan sama sekali. Tidak ada penculikan. Tidak ada penyanderaan. Semua itu murni pelariannya sendiri setelah menyusun skenario palsu untuk memprovokasi Marvin dan memfitnah Alina."Ini... tidak mungkin," gumam Marvin, suaranya mendadak tercekat. "Kau masih tidak percaya dengan bukti yang sangat jelas ini, Marvin?" Alina menggelengkan kepalanya tak percaya."Tidak ada rekayasa dari CCTV ini, Marvin." Hugo terlihat jelas membela Alina.Tangan Marvin yang mengepal mulai gemetar saat ego dan keyakinannya runtuh seketika. "Lenika... dia mengirim pesan bahwa kau mengancam nyawanya, Alina..."Alina tersenyum sinis, melangkah satu tapak lagi hingga jaraknya denga
"Bagaimana kondisi ayahku, Dokter?" tanya Alina cepat, begitu mendengar derap langkah sang dokter menjauh dari ranjang ayahnya.Dokter paruh baya itu menghela napas, namun kali ini ada nada lega dalam suaranya. "Ini sebuah mukjizat, Nona Alina. Respons motorik Tuan Arthur meningkat drastis. Detak jantungnya stabil dan gelombang otaknya menunjukkan tanda-tanda kesadaran penuh. Beliau sudah melewati masa kritisnya. Dia akan membaik setelah ini."Alina menggenggam tangannya sendiri dengan erat, air matanya kembali luruh, namun kali ini karena rasa syukur. "Terima kasih, Tuhan... Terima kasih, Dokter. Kau sudah menyelamatkan ayahku.""Sama-sama, Nona. Tuan Arthur hanya butuh istirahat total malam ini. Besok, ayahmu akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap biasa," lanjut dokter itu sebelum akhirnya berpamit keluar ruangan bersama Hugo.Di dalam ruangan yang kini kembali sunyi, Alina memutar kursi rodanya menghadap jendela yang tertutup, meskipun ia hanya bisa melihat kegelapan.'Kau de
"Nona, apa kau baik-baik saja?’ Suara Hugo penuh kekhawatiran saat matanya menangkap wajah Alina yang berubah sendu setelah mendengar ucapan Marvin tadi." Alina menghela napas pelan, mencoba mengusir rasa sakit yang bersembunyi di balik senyum tipisnya. "Aku baik-baik saja, Hugo. Jangan kau cemaskan aku. Semua ini, aku pasti bisa lalui sendiri." Namun, di dalam hati Alina bertanya-tanya, 'Bisakah aku benar-benar mengatasi semuanya sendiri? Aku sudah kehilangan dirinya dan juga hatiku yang sudah hancur.' Hugo menatap Alina penuh kekhawatiran. "Aku akan menunggu di luar. Kalau Nona butuh sesuatu, jangan ragu untuk memanggilku." Alina menundukkan kepala, berusaha menenangkan diri. "Baik. Sekarang kau bisa tinggalkan aku bersama ayahku, Hugo."Hugo membungkuk, sempat ragu sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Alina sendiri di dalam.Setelah pintu ruangan itu tertutup, Alina mendorong kursi roda otomatisnya ke arah ayahnya. Seketika itulah pertahanan Alina runtuh total. Ia mere
"Apa yang kau katakan? Kau tidak mengenaliku?""Tidak. Aku tidak mengenalimu. Kau siapa?" Marvin menatap dingin wajah Alina.Alina mencengkeram pegangan kursi rodanya erat-erat, air matanya perlahan merembes dari balik perban hitam yang menutupi matanya. Suara dingin Marvin dan tawa kemenangan Lenika seolah menjadi belati yang menusuk jantungnya berulang kali."Marvin... tolong jangan bercanda, ini aku, Alina," bisik Alina, suaranya bergetar hebat. "Aku tahu kau sedang marah padaku, tapi tolong jangan berpura-pura tidak mengenalku..."Marvin mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap Alina dengan sorot mata yang sepenuhnya asing dan dingin. "Aku tidak bercanda! Aku benar-benar tidak tahu siapa kau. Dan apa katamu tadi? Istri? Jangan mengarang cerita, Nona. Aku hanya memiliki satu istri, dan dia adalah Lenika! Kau salah orang, Nona.""Marvin... Tolong jangan katakan itu." Alina menutup telinganya, berharap dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Marvin saat ini.Lenika melangkah ma
“Hahaha… apa katamu? Istri kesayangan Marvin Vance? Kau terlalu percaya diri, gadis buta,” Lenika melepas tawa sumbang yang menusuk telinga Alina.“Aku lebih dulu mengenalnya dibanding dirimu. Aku adalah wanita pertama yang dinikahinya, bukan kau. Jadi jangan terlalu berharap kau bisa mendapatkan Marvin.” Alina menghela napas dalam, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski aliran darahnya bergejolak.“Berhentilah bermimpi menjadi yang pertama di hatinya, Lenika. Nyatanya, aku lah wanita yang terlebih dahulu dicintainya.” Kalimat itu keluar pelan, tapi penuh keyakinan. Tangan Lenika mengepal erat, matanya menyala seperti kobaran api cemburu. Alina tahu, kata-katanya kali ini telah menusuknya lebih dalam dari yang dia kira. “Kau…!” Lenika mulai berkata, tapi Alina langsung menyelanya sebelum ucapannya berlanjut. “Hugo… tolong antarkan aku ke ruangan ayahku, dan pastikan lagi, wanita ini tidak ada di ruangan suamiku setelah aku kembali,” pinta Alina cepat, mencoba menghindari kon
"Tuhan, tolong jangan biarkan dia mati." Alina masih berlutut, memohon kepada Sang Pencipta untuk keajaiban suaminya.Di tengah kegelapan dunianya dan ratapan doa yang begitu pilu, suara dengung panjang monitor jantung Marvin masih terus bergema, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.BIIIIIIIP...Dokter di dalam ruangan menggelengkan kepalanya pasrah. Ia meletakkan alat kejut jantung itu ke atas meja medis. "Maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Pasien tidak merespons. Waktu kematian sudah__""Tidak! Marvin tidak boleh mati! Dokter, kau berbohong!" jerit Lenika histeris, mencoba menerobos masuk namun tertahan oleh tubuh Hugo yang kokoh. "Lepaskan aku, Hugo! Suamiku tidak boleh mati!""Tenang, Lenika! Jangan membuat keributan di dalam ruang operasi! Jangan buat suasana menjadi gaduh!" bentak Hugo dengan napas memburu, menahan pergerakan Lenika yang kian liar.Sementara itu, Alina masih bersujud di lantai dingin di ambang pintu. Air matanya merembes membasahi perban barun







