"Sekarang, kalian berdua harus ke rumah sakit. Luka-luka kalian harus segera diobati, aku tidak ingin kalian terluka lagi," ucap Arthur, melirik cemas ke arah kaki Marvin. "Saya baik-baik saja, Tuan. Selama putri Tuan ada di sampingku, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya," gurau Marvin, membuat wajah Alina merona merah di tengah sisa air matanya. "Bisa-bisanya kau bercanda dalam kondisi seperti ini, Marvin!" ketus Alina menggemaskan, namun tangannya dengan protektif memeluk pinggang Marvin untuk membantunya berjalan. Arthur terkekeh melihat interaksi keduanya. "Biarkan pasukanku yang mengurus sisa kekacauan di sini. Richard akan membusuk di penjara bawah tanah paling gelap seumur hidupnya. Ayo, masuk ke mobil Ayah." "Terima kasih, Ayah." Satu jam kemudian, di dalam mobil limusin mewah milik Arthur yang sedang melaju tenang menuju Rumah SAKIT Pusat Kota. Suasana di dalam mobil terasa begitu hangat. Alina duduk merapat di samping Marvin yang kepalanya bersandar lelah di bahu Alina,
Read more