Partager

Bab 22

Auteur: Rose_roshella
last update Date de publication: 2026-04-09 10:05:10
"Tuan putri tidak perlu merawatku lagi. Aku sudah sembuh," ucap Marvin saat melihat Alina masih menyuapi makanan untuknya.

"Tapi kau masih belum pulih benar, Marvin."

Marvin lalu menarik tubuhnya ke dalam pangkuannya.

"Aku sudah pulih, Sayang. Sudah saatnya aku yang akan melayanimu, Nona Alina Sterling." Marvin lalu menggendong tubuh Alina dan membawanya ke kamar. Tanpa menunggu lama, mereka pun melepaskan rindu dalam sebuah hasrat yang sudah lama tak mereka rasakan, menyatukan tubuh mereka
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 81

    "Nona, apa kau baik-baik saja?’ Suara Hugo penuh kekhawatiran saat matanya menangkap wajah Alina yang berubah sendu setelah mendengar ucapan Marvin tadi." Alina menghela napas pelan, mencoba mengusir rasa sakit yang bersembunyi di balik senyum tipisnya. "Aku baik-baik saja, Hugo. Jangan kau cemaskan aku. Semua ini, aku pasti bisa lalui sendiri." Namun, di dalam hati Alina bertanya-tanya, 'Bisakah aku benar-benar mengatasi semuanya sendiri? Aku sudah kehilangan dirinya dan juga hatiku yang sudah hancur.' Hugo menatap Alina penuh kekhawatiran. "Aku akan menunggu di luar. Kalau Nona butuh sesuatu, jangan ragu untuk memanggilku." Alina menundukkan kepala, berusaha menenangkan diri. "Baik. Sekarang kau bisa tinggalkan aku bersama ayahku, Hugo."Hugo membungkuk, sempat ragu sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Alina sendiri di dalam.Setelah pintu ruangan itu tertutup, Alina mendorong kursi roda otomatisnya ke arah ayahnya. Seketika itulah pertahanan Alina runtuh total. Ia mere

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 80

    "Apa yang kau katakan? Kau tidak mengenaliku?""Tidak. Aku tidak mengenalimu. Kau siapa?" Marvin menatap dingin wajah Alina.Alina mencengkeram pegangan kursi rodanya erat-erat, air matanya perlahan merembes dari balik perban hitam yang menutupi matanya. Suara dingin Marvin dan tawa kemenangan Lenika seolah menjadi belati yang menusuk jantungnya berulang kali."Marvin... tolong jangan bercanda, ini aku, Alina," bisik Alina, suaranya bergetar hebat. "Aku tahu kau sedang marah padaku, tapi tolong jangan berpura-pura tidak mengenalku..."Marvin mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap Alina dengan sorot mata yang sepenuhnya asing dan dingin. "Aku tidak bercanda! Aku benar-benar tidak tahu siapa kau. Dan apa katamu tadi? Istri? Jangan mengarang cerita, Nona. Aku hanya memiliki satu istri, dan dia adalah Lenika! Kau salah orang, Nona.""Marvin... Tolong jangan katakan itu." Alina menutup telinganya, berharap dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Marvin saat ini.Lenika melangkah ma

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 79

    “Hahaha… apa katamu? Istri kesayangan Marvin Vance? Kau terlalu percaya diri, gadis buta,” Lenika melepas tawa sumbang yang menusuk telinga Alina.“Aku lebih dulu mengenalnya dibanding dirimu. Aku adalah wanita pertama yang dinikahinya, bukan kau. Jadi jangan terlalu berharap kau bisa mendapatkan Marvin.” Alina menghela napas dalam, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski aliran darahnya bergejolak.“Berhentilah bermimpi menjadi yang pertama di hatinya, Lenika. Nyatanya, aku lah wanita yang terlebih dahulu dicintainya.” Kalimat itu keluar pelan, tapi penuh keyakinan. Tangan Lenika mengepal erat, matanya menyala seperti kobaran api cemburu. Alina tahu, kata-katanya kali ini telah menusuknya lebih dalam dari yang dia kira. “Kau…!” Lenika mulai berkata, tapi Alina langsung menyelanya sebelum ucapannya berlanjut. “Hugo… tolong antarkan aku ke ruangan ayahku, dan pastikan lagi, wanita ini tidak ada di ruangan suamiku setelah aku kembali,” pinta Alina cepat, mencoba menghindari kon

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 78

    "Tuhan, tolong jangan biarkan dia mati." Alina masih berlutut, memohon kepada Sang Pencipta untuk keajaiban suaminya.Di tengah kegelapan dunianya dan ratapan doa yang begitu pilu, suara dengung panjang monitor jantung Marvin masih terus bergema, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.BIIIIIIIP...Dokter di dalam ruangan menggelengkan kepalanya pasrah. Ia meletakkan alat kejut jantung itu ke atas meja medis. "Maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Pasien tidak merespons. Waktu kematian sudah__""Tidak! Marvin tidak boleh mati! Dokter, kau berbohong!" jerit Lenika histeris, mencoba menerobos masuk namun tertahan oleh tubuh Hugo yang kokoh. "Lepaskan aku, Hugo! Suamiku tidak boleh mati!""Tenang, Lenika! Jangan membuat keributan di dalam ruang operasi! Jangan buat suasana menjadi gaduh!" bentak Hugo dengan napas memburu, menahan pergerakan Lenika yang kian liar.Sementara itu, Alina masih bersujud di lantai dingin di ambang pintu. Air matanya merembes membasahi perban barun

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 77

    "Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon... jangan tinggalkan aku dalam kegelapan ini! Bertahanlah demi aku," jerit Alina histeris, ia mengguncang-guncang tubuh Marvin yang sudah tak bergerak.Hugo langsung menerobos maju bersama dua perawat. "Nona Alina, lepaskan Marvin! Dokter harus segera menanganinya! Tenangkan dirimu, Nona.""Tidak! Aku tidak mau lepas! Dia harus bangun, Hugo! Jangan biarkan dia pergi." tangis Alina semakin pecah."Nona, jika Anda tidak melepaskannya sekarang, Marvin benar-benar bisa meninggal! Tenangkan dirimu, Nona Sterling!" bentak Hugo terpaksa, sembari dengan lembut menarik tubuh Alina menjauh dari Marvin.Tim medis dengan cekatan mengangkat tubuh Marvin dan Tuan Arthur ke atas brankar secara bersamaan. Suasana di dalam ruangan berubah menjadi sangat kacau dengan instruksi-instruksi medis yang saling bersahutan."Pasien pertama, Tuan Arthur, denyut nadi sangat lemah! Siapkan ruang operasi satu!" teriak dokter penanggung jawab. "Pasien kedua, Marvin, mengalami syok

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 76

    "Lepaskan senjatamu sekarang, Marvin! Letakkan di lantai dan tendang ke arah anak buahku!" teriak Richard lagi melalui interkom, tawanya terdengar begitu puas.Marvin melirik anak buah Richard yang mengelilinginya, lalu perlahan mencabut pistol dari pinggangnya."Marvin, jangan gila! Ini jebakan!" bisik Hugo menahan lengan Marvin."Aku tidak punya pilihan, Hugo. Nyawa Alina taruhannya," sahut Marvin dingin. Ia menjatuhkan pistolnya ke lantai dan menendangnya menjauh. "Buka pintunya, Richard! Aku sudah tidak bersenjata!"KLIK.Pintu baja itu perlahan terbuka. Marvin melangkah masuk dengan kedua tangan terangkat di samping kepala. Di dalam ruangan, bau anyir darah langsung menyengat hidungnya. Tuan Arthur terkapar di lantai dekat ranjang dengan dada bersimbah darah, tak bergerak.Sementara itu, Alina duduk di sudut ranjang, menangis histeris dengan moncong pistol Richard yang menempel ketat di pelipisnya. Perban di matanya kembali merembeskan darah segar."Marvin? Kau di sini?! Jangan m

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status