Masuk"Melvin... aku tidak mau menggugurkan buah hatiku?! Aku tidak mau! Aku tidak akan pernah menggugurkannya, Melvin!" jerit Alina histeris, kedua tangannya seketika memeluk erat perut ratanya.Udara di dalam kamar mewah itu mendadak membeku. Marvin yang sempat terkejut luar biasa kini mengepalkan tangannya kencang, matanya memerah menatap Leo dengan penuh penderitaan."Leo... keluar sekarang!" perintah Marvin parau namun tajam."Tapi Tuan Vance, keputusan ini harus segera...""Aku bilang keluar, Leo!" bentak Marvin rendah, membuat Leo membungkuk dalam dan segera mundur perlahan menyisakan keheningan di antara pasangan suami istri itu.Marvin menghembuskan napas panjang, berlutut di tepi ranjang dan langsung menggenggam kedua tangan Alina yang gemetar hebat."Alina, dengarkan aku dulu, Sayang..." bujuk Marvin lembut, berusaha menenangkan napas istrinya yang memburu."Tidak, Marvin! Aku tahu apa yang ada di pikiranmu! Aku tahu apa yang ada dalam pikiran mu saat ini, Marvin," potong Alina s
"Menggugurkan buah hati kita...? Tidak! Aku tidak akan pernah mengizinkannya, Marvin! Aku tidak mau menggugurkan bayi ini meski itu adalah taruhan nyawaku," jerit Alina histeris, kedua tangannya seketika meremas perutnya erat-erat seolah melindungi janin di dalam rahimnya. Air mata Alina pecah tak terbendung. Suasana di dalam kamar utama yang megah itu berubah menjadi emosional dan penuh kesedihan. Marvin yang berdiri kaku segera melangkah cepat, merengkuh tubuh gemetar istrinya ke dalam pelukan erat. "Alina, tenanglah, Sayang... Dengarkan aku dulu, tidak akan terjadi itu. Aku akan mencarikan pengobatan yang terbaik untuk melindungi nyawa kalian berdua," bisik Marvin dengan suara bergetar parau, menahan gejolak emosi yang meremukkan dadanya. "Bagaimana aku bisa tenang, Marvin? Baru saja aku menerima kabar baik ini, tiba-tiba aku dihadapkan dengan kabar buruk seperti ini," potong Alina seraya terisak parah di dada suaminya. "Ini anak kita! Buah cinta kita! Aku tidak peduli jika
"Kau pikir rasa cinta ini bisa membusuk hanya karena kau tidak bisa melihat, Alina? Aku mencintaimu meski saat ini kau masih belum bisa melihat," bisik Marvin tepat di telinga istrinya, napas hangatnya menyapu kulit leher Alina yang meremang."Entah mengapa, kebutaan ini membuatku putus asa, Marvin," ungkap Alina penuh putus asa.Keheningan melingkupi kamar perawatan itu selama beberapa saat. Alina mengepalkan tangannya di kemeja Marvin, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu memberikan rasa aman."Aku hanya takut, Marvin... Aku takut kalau kau akan bosan dengan orang buta seperti aku," bisik Alina lirih, air matanya menetes pelan menembus kain kemeja Marvin. "Aku takut suatu hari nanti saat kau lelah menuntun langkahku, kau akan menatapku dengan rasa benci, bukan cinta lagi, Marvi. Aku takut jika itu sampai terjadi."Marvin mengurai pelukannya pelan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Alina, mengusap lelehan air mata di wajah pucat istrinya dengan ibu jari secara lembut."D
"Bercerai? Kau bicara apa, Alina? Jangan bicara sembarangan," protes Marvin, wajahnya terlihat panik."Aku tidak berguna untukmu, Marvin. Aku tidak mau menyusahkan hidupmu karena aku buta, Marvin," balas Alina, wajahnya terlihat putus asa."Jangan katakan itu lagi, Alina. Kau pikir pernikahan kita ini mainan, Alina?!" desis Marvin, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang meremukkan dadanya.Ruang perawatan yang sunyi itu terasa makin mencekam. Udara dingin seolah membeku di antara mereka. Alina memalingkan wajahnya yang pucat, menolak menatap ke arah sumber suara Marvin meski matanya sendiri tak mampu melihat apa-apa selain kegelapan pekat."Aku serius, Marvin," sahut Alina dingin, suaranya datar tanpa nada. "Untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini? Aku hanya menjadi beban untukmu. Wanita buta dan cacat seperti diriku hanya akan merusak masa depanmu.""Cukup, Alina! Berhenti merendahkan dirimu sendiri! Aku tak pernah berpikir seperti itu tentang dirimu, Alina. Aku mencintaimu
"Aku tidak sabar untuk kembali melihat senyumanmu, Marvin. Pastikan aku segera melihat," bisik Alina pelan."Tentu saja, Sayang. Aku akan Carikan dokter dan pengobatan yang terbaik untukmu," ucap Marvin meyakinkan, ia mencium punggung tangan Alina.***Dua minggu berlalu sejak hari damai di balkon perbukitan itu. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Di dalam kamar utama vila perbukitan yang megah dan hangat, tim dokter spesialis mata paling terkemuka dari Jerman berdiri tegang bersama Leo di sudut ruangan.Marvin duduk sangat dekat di samping Alina, memegang erat kedua tangan istrinya yang dingin dan gemetar."Kau siap, Sayang? Dikter akan segera mengobati matamu," bisik Marvin lembut, mengelus punggung tangan Alina.Alina mengangguk pelan, napasnya memburu halus. "Aku sangat gugup, Marvin... Bagaimana kalau aku masih melihat kegelapan?""Percayalah padaku, Alina. Dokter akan melakukan yang terbaik untukmu," bujuk Marvin mantap, lalu menoleh pada dokter utama. "Dokter, buka perb
"Selamat datang di neraka, Marvin Vance! Tentukan pilihanmu, penawar mata putriku, atau nyawa seluruh pasukanmu yang akan meledak di tempat ini!" jerit Helena dengan tawa membahana di tengah kepulan asap.Guncangan dahsyat akibat ledakan di luar vila membuat puing-puing atap runtuh berjatuhan. Namun, alih-alih panik, mata tajam Marvin justru berkilat bagai iblis yang menemukan celah mangsanya."Kau salah menilai lawanmu, Helena! Kau pikir aku akan memilih salah satunya? Kau salah!" gertak Marvin dingin.Dalam hitungan milidetik, sebelum Helena sempat menekan tombol detonator di tangannya, Marvin meluncur deras menewaskan jarak di antara mereka. Tangan kirinya mencengkeram cengkeraman leher Helena hingga wanita itu tersedak hebat, sementara tangan kanannya dengan kilat menyambar tabung reaksi berisi sampel darah khusus dari balik saku gaun hitam wanita itu!"L-lepaskan... bangsat kau, Marvin!" umpat Helena, matanya terbelalak tak percaya saat melihat tabung penawar itu sudah berpindah
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan
"Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...







