Alize terbangun perlahan. Sisa-sisa mimpi itu masih menggantung di benaknya—kabur, tapi cukup jelas untuk membuat perasaannya ganjil. Dalam mimpi itu, pintu kamar terbuka tanpa suara. Corentine masuk, langkahnya tenang seperti biasa. Ia berdiri di dekat ranjang, menatapnya beberapa saat, lalu berkata dengan suara rendah... “Lanjutkan tidurmu.” Hanya itu. Tidak ada sentuhan. Tidak ada senyum. Hanya kalimat itu… dan cara ia menatapnya, seolah memastikan sesuatu. Alize mengerjap, menatap langit-langit kamar. Ia menghela napas pelan, lalu berbalik sedikit, berniat menarik lonceng pelayan. Namun gerakannya terhenti. Di meja kecil dekat jendela, sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana menarik perhatiannya. Kotak kecil berwarna merah. Alize duduk perlahan, selimut bergeser turun dari bahunya. Ia menatap benda itu beberapa detik, seolah memastikan bahwa itu nyata, bukan sisa mimpi yang terbawa ke pagi hari. Lalu ia bangkit. Lantai terasa dingin di telapak kakinya
Read More