Rasa lega langsung memenuhi dada Alize. Sejak mengetahui identitas pria itu, pikirannya terus kembali kepada Ruthie, anak kecil yang bahkan mungkin belum tahu apa yang sedang terjadi pada ayahnya. “Kapan aku bisa pergi, Lord Ogilvy?” Pria itu mengelus-elus jenggot palsunya, tetapi tidak cukup lama untuk berpikir dua kali. “Kita atur hari ini. Mungkin sebelum makan siang?” Alize mengangguk cepat. “Baik,” ujarnya. “Terima kasih atas kebaikan Anda.” Lord Ogilvy alias Louis mengangkat bahu. “Jangan berterima kasih dulu. Aku belum melakukan hal sulit.” Lalu mereka mendongak ketika suara langkah kaki terdengar dan Cedric muncul melewati ambang pintu. “Selamat pagi,” sapanya pria itu sembari menatap mereka semua. “Selamat pagi, Lord Courcy.” Lord Ogilvy menjawab paling lantang. Tatapannya mengikuti Cedric yang mengambil tempat duduk di seberangnya. “Ngomong-ngomong, Lord Courcy.” Cedric yang baru saja meraih cangkir tehnya mengangkat pandangan. “Ya?” “Apa Anda men
続きを読む