เข้าสู่ระบบKali ini Cedric benar-benar bungkam.Raut wajahnya menegang. Ia sempat melirik Alize, tetapi segera mengalihkan pandangan ketika mendapati perempuan itu menatapnya dengan penuh kekecewaan.Ia tidak membantah tuduhan tersebut.Bagi Corentine, sikap itu sudah cukup menjadi jawaban.“Menarik,” gumamnya. “Kau membantu kelompok pemberontak menjatuhkan keluarga de Mably, sementara pada saat yang sama berharap bisa mengambil istriku setelah aku disingkirkan.”“Aku tidak pernah berniat mencelakai Alize,” ujar Cedric akhirnya.“Namun, kau bersedia membuatnya kehilangan perlindungan yang dimilikinya sekarang.”Cedric mengatupkan rahang.Alize yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.“Jadi, selama ini kau memang tidak pernah berniat mendapatkanku kembali karena masih mencintaiku?”Cedric menoleh kepadanya. “Alize—”“Jawab saja.”Pria itu tampak kesulitan mencari kata-kata.“Aku hanya ingin kita kembali seperti dahulu.”“Jangan berbohong lagi kepadaku.” Suara Alize terdengar dingin. “Kau tahu
Alize menahan senyum tipis. Kini ia memahami alasan suaminya begitu tenang sejak awal. Ancaman hukuman badan tadi hanyalah bagian dari rencananya. Corentine sudah memperkirakan Cedric tidak akan mengaku hanya karena ditakut-takuti. Karena itulah, ia mencari cara lain untuk memastikan pria itu tidak bisa berlindung di balik statusnya sebagai bangsawan asing. Sekarang ia bisa memperkirakan apa yang telah dilakukan suaminya. Tampaknya Corentine meminta bantuan Putra Mahkota Louis, yang juga menjabat sebagai panglima ibu kota. Putra Mahkota mengirimkan surat resmi kepada Raja Adalran. Surat itu menjelaskan bahwa pasukan Duke de Mably telah menangkap seorang bangsawan Adalran yang diduga terlibat dalam teror di ibu kota Montveraine. Yang sudah pernah terjadi sebelumnya, taktik Putra Mahkota biasanya hanya memberi dua pilihan kepada kerajaan tetangga. Pertama, menyerahkan hak untuk menghukum Viscount Courcy kepada Duke de Mably. Kedua, menerima kembali Cedric sebagai tahanan y
Alize hampir memprotes, tetapi mengurungkan niatnya. Ia tahu Corentine tidak akan menjelaskan rencananya sebelum yakin rencana itu bisa berhasil.Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan, seorang pengawal mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin.“Yang Mulia, Lord Cedric meminta bertemu dengan Anda.”Corentine menoleh.“Apa dia menyebutkan maksudnya?”“Dia mengatakan ingin memberikan keterangan mengenai beberapa kejadian di kastel. Namun, dia hanya bersedia berbicara langsung kepada Anda.”Alize segera menatap suaminya. Apakah ancaman hukuman tadi akhirnya membuat Cedric berubah pikiran?Corentine tidak menunjukkan keterkejutan. Ia justru mengangguk perlahan, seolah telah memperkirakan kemungkinan itu.“Baik. Bawa dia ke ruang interogasi.”Penjaga itu membungkuk dan segera pergi.Alize menatap Corentine dengan rasa ingin tahu. “Kau pikir dia akan mengaku?”“Siapa tahu.” Corentine meraih sarung tangannya dari meja. “Tetapi jika dia benar-benar ingin berbicara, aku aka
Greta yang berdiri di belakangnya sampai terkejut. Dua penjaga di dekat pintu saling melirik, tetapi tak seorang pun berani menyela. Alize menarik napas untuk meredakan emosinya, tetapi kemarahan yang telah menumpuk membuat suaranya tetap bergetar ketika ia kembali berbicara. “Kau boleh menyangkal semuanya, tetapi jangan berharap aku akan mempercayaimu lagi. Aku sudah cukup lama mengenalmu untuk mengetahui bahwa kau selalu punya alasan ketika perbuatanmu terbongkar!” “Aku tidak peduli apakah kau mempercayaiku atau tidak,” balas Cedric ketus. “Kau datang ke sini hanya untuk menghakimiku tanpa bukti!” “Tanpa bukti?” Alize tertawa pendek, sama sekali tanpa kegembiraan. “Kau pikir aku akan datang kemari hanya untuk mendengarkan kebohonganmu?” “Kalau kau tidak punya bukti, sebaiknya kau—” “Cukup, Cedric.” Sebuah suara berat menyela dari ujung lorong. Alize menoleh. Corentine sedang berjalan mendekati mereka dengan wajah serius. Di belakangnya, seorang pengawas sel tampak menunggu d
Alize mendadak menegakkan tubuh.“Dia mengenali wajah penyusup itu?”“Ya, Yang Mulia.”Mirelle mengangguk, lalu terdiam ketika menyadari betapa pentingnya informasi tersebut. Jika June benar-benar mengenali orang yang menyusup ke kandang kuda, mungkin itulah alasan seseorang ingin membungkamnya.Namun, ia tidak tahu siapa orang tersebut. Ingatannya tentang percakapan itu berhenti sampai di sana.Alize terkejut. Selama ini, ia mengira June hanya melihat penyusup itu sekilas ketika memergokinya di kandang kuda. Ia tidak pernah menyangka gadis itu sempat melihat wajahnya dengan jelas.“Apakah June menyebutkan jenis kelamin orang itu? Pria atau wanita?” tanyanya.Mirelle menggeleng.“Tidak, Yang Mulia. Dia tidak berani mengungkapkan lebih jauh. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya mengenali wajah orang itu.”Alize mengerutkan kening. “Jadi, menurutmu June dibunuh karena melihat langsung wajah si penyusup?”Mirelle mengangguk tanpa ragu.“Saya tidak tahu siapa orang itu, tetapi June tampak s
Mirelle mengangkat wajah perlahan. “Jika aku meninggalkan Corentine dan menikah dengannya, aku akan membawa mahar yang cukup besar. Itulah yang sebenarnya dia inginkan.” Mirelle tidak mampu berkata-kata. Ia sama sekali tidak pernah mengetahui fakta tersebut. Selama ini, ia mengira Cedric benar-benar ingin mendapatkan Alize kembali karena masih mencintainya. Ia bahkan bersedia mempertaruhkan hubungannya dengan Alize demi membantu pria itu mewujudkan keinginannya. Ternyata, Cedric tidak hanya memanfaatkan perasaannya. Pria itu juga berbohong mengenai alasan di balik semua tindakannya. Mirelle menunduk lagi. Dadanya terasa sakit ketika menyadari betapa bodohnya dirinya selama ini. Untuk apa ia melakukan semua hal berbahaya itu? Untuk apa ia mengkhianati perempuan yang menyayanginya, jika pada akhirnya Cedric hanya menganggapnya sebagai alat yang bisa dibuang kapan saja? Kedua wanita itu sama-sama terisak. Alize membiarkan Mirelle menangis tanpa mendesaknya untuk segera menenangka
“Lady Gwen,” suara Corentine terdengar tenang dari ambang pintu, “tampaknya kau terlalu sering mengatur istriku.” Ruangan langsung hening sesaat. Lady Gwen tampak sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang membuat Alize berjalan mondar-mandir dengan tiga buku di atas kepala. Namun seperti bia
“Aku hanya… kelelahan.” Suara Alize lirih, nyaris tenggelam di antara napasnya sendiri. Namun ia tahu itu tidak sepenuhnya benar. Dan ia juga tahu Corentine tidak akan langsung mempercayainya. Namun tetap saja, itu satu-satunya hal yang bisa ia ucapkan. Sejak ia diselamatkan di desa Vorn, tub
“Kurasa mereka tidak akan berani.” Suara Corentine tenang sekali. Seolah apa pun yang baru saja terjadi di luar sana hanyalah gangguan kecil yang tidak layak mengusik ketenangan malam. Alize masih duduk di tepi tempat tidur, menatapnya. Ia menganggap Corentine terlalu menyepelekan keadaan.
Perjalanan pulang dari istana berlangsung tenang. Kereta kuda bergerak menyusuri jalan utama ibukota yang mulai lengang, lampu-lampu jalan berpendar redup di antara bayangan bangunan batu. Suara roda yang berderak terasa lebih pelan dari biasanya—atau mungkin itu hanya perasaan Alize saja. An







