ANMELDENPagi hari itu, suasana asri pedesaan menyambut langkah kaki Andien dan Bima. Keduanya berdiri tegak di depan sebuah rumah panggung kayu besar yang kokoh, dengan dua buah koper kecil di genggaman tangan masing-masing.Udara pegunungan yang bersih perlahan mengikis sisa-sisa kepenatan dari ketegangan ibu kota."Aku memang minta kamu milih tempat berlibur, tapi kenapa rumah orang tuaku?" tanya Bima, menatap bingung bangunan di hadapannya.Andien menoleh, menyunggingkan senyuman puas yang teramat manis. "Kau sudah mengenal kakekku, ayahku, bahkan kakakku. Tidak adil jika aku tidak kenal orang tuamu, Bima."Saat Andien mulai melangkah penuh semangat mendekati pintu utama, Bima dengan sigap menahan lengannya."Tunggu. Sebelum kita melangkah masuk, aku ingin bertanya satu. Kamu... sudah tahu tentang berita pengrusakan di panti asuhan Bu Sania semalam?" tanya Bima tiba-tiba, meneliti ekspresi wajah wanita di hadapannya.Andien mengangguk pelan tanpa riak kepanikan. "Aku tahu, Kak Fanny sudah
Pagi itu, kediaman mewah keluarga Utama kedatangan tamu yang tidak biasa. Tepat pukul tujuh pagi, dua orang perwira polisi berpangkat tinggi berdiri di depan pintu gerbang, menekan bel dengan ketukan yang tegas.Melihat kedatangan aparat penegak hukum selarut itu, seorang kepala pelayan langsung didera kepanikan luar biasa. Ia berlari tergesa-gesa menyusuri koridor menuju kamar pribadi Arkana."Tuan Besar, mohon maaf mengganggu Anda. Di depan ada dua perwira polisi yang mencari Anda," ucap kepala pelayan itu dengan napas tersengal-sengal.Arkana mengerutkan alisnya dalam-dalam. Gurat kebingungan sekaligus ketegangan yang samar mulai merayap di dahinya yang berkerut.Ia bertanya-tanya di dalam hati, urusan darurat apa yang membuat kepala polisi sendiri sampai harus mendatangi rumahnya sepagi ini.Arkana pun turun ke ruang tamu dengan pembawaan tegapnya yang mengintimidasi.Begitu sosok sang penguasa tertinggi Utama Group itu menampakkan diri, kedua perwira polisi yang semula duduk di s
Malam yang sama ketika panti asuhan Kasih Ibu diserbu, atmosfer di rumah sakit darurat tempat Sarah Virginia dirawat berubah menjadi pelatuk ketegangan yang mencekam dalam hitungan menit.Jarum jam menunjuk tepat pukul dua dini hari. Di depan pintu kamar nomor 402, dua pengawal berjas hitam yang disewa oleh Adrian masih berdiri kokoh, menjaga ibu kandung Indra dengan tingkat kewaspadaan tinggi.Namun, kedamaian malam itu pecah seketika saat suara sirene tanda bahaya mendadak melengking nyaring, memekakkan telinga dan menghentak seisi gedung.Ngiunggg! Ngiunggg!"Kebakaran! Ada api di lantai dua! Semua pasien harap segera dievakuasi melalui tangga darurat!" teriak seorang petugas keamanan rumah sakit yang berlari panik membelah koridor.Asap hitam yang pekat dan berbau menyengat mulai merayap naik melalui celah ventilasi, memenuhi lorong lantai empat dengan kabut kelabu yang menyesakkan dada.Suasana dalam sekejap berubah menjadi kekacauan massal yang mengerikan. Para perawat berlarian
Malam yang pekat membungkus panti asuhan Kasih Ibu. Di bawah temaram sinar rembulan, sepuluh siluet hitam bergerak senyap membongkar keheningan, melompati bayang-bayang pepohonan menuju gerbang besi yang menjulang tinggi.Langkah kaki mereka teratur, tanpa suara, namun memancarkan aura ancaman yang mematikan.Di tangan mereka, tergenggam balok-balok kayu besar dan sebuah palu godam berat yang siap menghancurkan apa pun.Pemimpin komplotan yang berada di barisan paling depan mendadak mengangkat tangan kanan, memberikan kode mutlak untuk menghentikan pergerakan.Suasana seketika mencekam. Ia menoleh ke belakang, memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya yang merupakan seorang spesialis pembobol kunci."Cepat buka gemboknya," desis sang pemimpin dengan suara rendah yang ditekan, matanya liar mengawasi sekitar."Tujuan kita malam ini adalah membuat kekacauan total di dalam ruangan. Kita harus bergerak cepat dan pastikan tidak ada satu pun orang luar yang melihat aksi kita."Pria ahli
Pagi itu, jarum jam baru saja menyentuh pukul lima subuh. Bima terbangun dengan denyut nyeri yang samar di kepalanya.Bima menoleh ke sisi kanan kasur. Kosong. Andien tidak ada di sana. Wanita itu sama sekali tidak melangkah masuk ke dalam kamarnya semalaman.Dirayapi rasa khawatir yang membuncah, Bima bergegas bangkit dan melangkah lebar menuju ruang tengah.Langkah kakinya mendadak terhenti ketika melihat pemandangan di lantai.Semua pakaian baru yang dibeli Andien kini berserakan tak karuan. Andien rupanya mengamuk dan meluapkan frustrasinya dengan melemparkan semua pakaian itu semalam.Bima menghela napas panjang. Ia berjongkok, memunguti pakaian-pakaian tersebut satu per satu dengan telaten, lalu menyimpannya di atas kursi dekat sofa.Pandangannya kemudian beralih pada sosok Andien yang masih terlelap di atas sofa abu-abu, beberapa helai pakaian menutupi wajah cantiknya.Bima mendekat dengan gerakan pelan, menyingkirkan kain-kain itu dari wajah Andien. Ia berlutut di tepi sofa, m
Siang itu, Andien melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju kantor Holy Entertainment.Setelah menemui Saifanny di panti asuhan, ia sengaja mampir ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa potong pakaian ganti.Langkah itu ia lakukan karena masih merasa sebal mengingat sindiran Bima kemarin malam yang mengejeknya mampu membeli sebotol wine vintage mahal namun tidak mampu membeli pakaian ganti.Meskipun hatinya masih dilingkupi rasa dongkol, setelah mendengar analisis dari Saifanny, Andien akhirnya mulai bisa memahami bahwa Bima memang tipikal pria yang sok suci.Namun, Andien menolak untuk menyerah begitu saja. Ia yakin, pria kaku penuh sarkasme yang hobi menyindir itu cepat atau lambat pasti akan goyah oleh pesonanya.Ia tidak percaya seorang pria dewasa seperti Bima benar-benar tidak tahu apapun mengenai dinamika hubungan percintaan.Satu jam menempuh perjalanan, Andien tiba di Holy Entertainment. Ia melangkah menyusuri koridor gedung sembari menjinjing dua buah pape







