Suara logam dari gerendel pintu yang diputar itu bergema layaknya vonis eksekusi mati di telinga Amira.Napasnya terhenti seketika. Ia merapatkan punggungnya ke daun pintu kayu ek yang dingin, seolah benda mati itu bisa melindunginya dari bahaya. Aroma oud dan cerutu semakin pekat, mengusir wangi kertas tua dari buku-buku di sekeliling Amira. Lalu tak lama, terlihat siluet Malik membelah keremangan perpustakaan.Pria itu telah menanggalkan jas kerjanya entah di mana, hanya menyisakan kemeja sutra hitam yang lengannya kini digulung hingga ke siku.Urat-urat menonjol di lengan bawah pria itu terlihat jelas saat dia berjalan mendekat dengan keanggunan dan ketenangan seekor predator yang telah menyudutkan mangsanya."Kamu lari terlalu cepat, Habibti," suara serak Malik mengalun, membelai telinga Amira dengan bahaya murni. "Tehmu bahkan belum habis.""Buka pintunya," desis Amira. Suaranya bergetar hebat, namun ia memaksakan diri untuk menatap mata kelam pria itu. "Biarkan aku keluar, Mali
최신 업데이트 : 2026-02-15 더 보기