Beranda / Mafia / Dosa Beraroma Oud / Bab 4 Sebut Namaku

Share

Bab 4 Sebut Namaku

Penulis: Silentia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-12 13:53:36

Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratnya yang keras, memperlihatkan seringai tipis yang sangat mematikan.

"Kamu tidak menguncinya," suara serak Malik memecah keheningan, mengalun rendah dan penuh kepuasan absolut.

Amira menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Tangannya mencengkeram erat gaun merah marunnya. "Aku, aku lupa."

Malik terkekeh pelan. Tawa yang bergetar di dada bidangnya itu menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai kebohongan murahan Amira.

Pria itu mulai melangkah maju. Setiap langkahnya yang tanpa suara di atas karpet seolah menyedot sisa oksigen di dalam ruangan. Aroma oud dan cerutu perlahan menenggelamkan wangi lavender di kamar tersebut.

"Lupa?" Malik mengulang kata itu dengan nada mengejek yang lembut. Ia berhenti tepat di depan lutut Amira yang masih terduduk kaku di tepi ranjang. "Seorang wanita tidak akan lupa mengunci pintu jika dia benar-benar merasa terancam, Amira. Kamu tidak memutar kunci itu karena jauh di dalam hatimu, kamu merindukan sentuhanku."

"Tidak!" Amira mendongak, matanya berkaca-kaca menatap netra kelam pria itu. "Kamu mengancamku. Jika aku menguncinya, kamu akan mendobrak pintu ini dan mempermalukanku di depan seluruh klan."

"Aku memang akan melakukannya," balas Malik santai. Pria itu menunduk, mengurung Amira dengan meletakkan kedua telapak tangannya di sisi tubuh wanita itu, tepat di atas kasur. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. "Tapi itu bukan alasanmu. Akui saja, Habibti. Kamu merindukan apa yang kita lakukan semalam."

"Aku membencimu," desis Amira, meski napasnya mulai tersengal saat wangi maskulin itu menyerbu indra penciumannya.

"Benci dan cinta memiliki akar gairah yang sama," bisik Malik. Tangan kanan pria itu terangkat, ujung jari kasarnya menyusuri leher jenjang Amira hingga menyentuh pinggiran choker beludru merah berhiaskan berlian hitam itu. "Dan melihatmu memakai rantai dariku dengan begitu patuh, itu membuatku ingin menghancurkan setiap inci pertahananmu malam ini."

Amira tersentak saat jari Malik membelai kulit di balik kalung itu, tepat di atas memar gigitan yang masih berdenyut. "Suamiku yang menyuruhku memakainya. Dia tidak tahu apa-apa, Malik. Dia adikmu!"

"Adikku adalah pria bodoh yang tidak tahu cara menghargai berlian murni di depan matanya," geram Malik, suaranya berubah menjadi tajam dan berbahaya. "Dia memakaikanmu perhiasan ini hanya untuk menyelamatkan wajahnya sendiri di depanku. Apakah itu pria yang ingin kamu lindungi kehormatannya? Pria yang mengorbankan istrimu sendiri demi angka-angka di pelabuhan?"

Kata-kata Malik menampar Amira dengan kenyataan telak. Rasa sakit yang selama ini ia pendam kembali menyeruak.

Zayn memang pengecut. Lima tahun ia hidup seperti pajangan yang patuh, menahan kesepian dan kehampaan, sementara suaminya hanya peduli pada citra dan harta.

Melihat sorot mata Amira yang meredup karena keputusasaan, raut wajah Malik sedikit melunak, namun obsesi di matanya semakin berkobar. Pria itu meraih pinggang Amira dengan kedua tangannya, lalu menarik wanita itu berdiri dengan satu gerakan kuat.

Amira terkesiap saat tubuhnya berbenturan dengan dada bidang Malik. Pria itu tidak melepaskannya, melainkan menuntunnya berjalan mundur hingga punggung Amira menabrak cermin meja rias yang dingin.

"Lihat," perintah Malik tepat di telinga Amira. Pria itu berdiri di belakangnya, memeluk pinggang Amira dan menahan punggung wanita itu merapat ke dadanya.

Amira dengan gemetar menatap pantulan mereka di cermin. Dirinya yang terlihat begitu kecil dan rapuh dalam balutan gaun sutra, dikurung oleh sesosok bayangan raksasa yang menatapnya dengan pemujaan yang posesif. Kalung berlian hitam di lehernya berkilau di bawah cahaya redup, seolah menegaskan siapa pemilik aslinya.

"Lihat betapa cantiknya kamu," gumam Malik. Pria itu menyingkirkan rambut panjang Amira ke satu sisi bahu, mengekspos leher bagian belakangnya. "Zayn mendandanimu untuk menipu dunia. Tapi aku, aku tidak butuh kain sutra ini untuk melihat nilaimu." Bibir Malik turun, mengecup tengkuk Amira dengan gerakan lambat yang menyiksa.

Amira memejamkan mata, kepalanya otomatis mendongak, memberikan akses lebih bagi pria itu. Erangan pelan yang sangat memalukan lolos dari bibirnya. Logikanya berteriak, namun tubuhnya merespons sentuhan Malik layaknya bunga yang merekah setelah kemarau panjang.

"Katakan padaku, Amira," bisik Malik di sela-sela ciuman basahnya pada leher wanita itu. Tangan besar Malik merambat naik, menelusuri lekuk pinggang Amira dari balik bahan gaun yang ketat. "Siapa yang menguasai pikiranmu seharian ini? Siapa pria yang membuatmu bergetar hebat saat ini?"

"T-tolong, Malik." Amira terisak pelan, air mata kembali jatuh membasahi pipinya. "Jangan lakukan ini."

"Sebut namaku," tuntut Malik. Pria itu membalik tubuh Amira secara paksa, mencengkeram rahang wanita itu dengan satu tangan. Matanya menyala oleh api gairah yang kelam. "Sebut namaku dan akui bahwa kamu menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu, atau aku akan pergi dari ruangan ini sekarang juga dan mengembalikanmu pada neraka kebosanan suamimu."

Napas Amira terputus. Ancaman itu entah mengapa terdengar jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Membayangkan pria ini meninggalkannya, mengabaikannya seperti yang Zayn lakukan selama bertahun-tahun, membuat rongga dadanya terasa sesak.

Dengan sisa-sisa harga diri yang telah hancur, Amira menatap sepasang mata elang itu. Tangannya yang bergetar perlahan terangkat, meremas kemeja putih di dada Malik.

"Malik," bisik Amira, suaranya pecah oleh keputusasaan dan hasrat yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Aku menginginkanmu."

Seringai kemenangan yang luar biasa gelap mengembang di wajah sang Raja. Namun, sebelum bibir pria itu berhasil meraup bibir Amira untuk mencicipi kemenangannya, suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar menghentak di lorong luar, menuju tepat ke arah kamar mereka.

Langkah itu berhenti di depan pintu. Lalu, suara gedoran keras yang memekakkan telinga menggelegar, diikuti oleh teriakan panik dan marah dari luar sana.

"Amira! Buka pintunya! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak Zayn.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 6 Tapi Aku Monster yang Memujamu

    Tangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak. Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja ke dalam cengkeraman iblis tanpa perlawanan sedikit pun.Di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, Amira merasakan udara di sekitarnya menghangat. Aroma oud dan asap cerutu yang memabukkan itu merapat.Malik berjongkok di hadapannya. Tangan besar pria itu, yang biasa digunakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya tanpa ampun, kini merengkuh bahu Amira yang bergetar. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Amira adalah porselen paling rapuh di dunia."Menangislah," bisik Malik dengan suara baritonnya yang berat, mengusap helaian rambut yang menempel di pipi basah Amira. "Menangis untuk terakhir kalinya bagi pria bodoh itu. Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata untuk s

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 5 Dia Istriku!

    Gedoran di pintu itu terdengar bagai ledakan meriam yang meluluhlantakkan dunia Amira.Tubuh Amira seketika menegang kaku. Matanya terbelalak ngeri menatap pintu kayu ek tebal yang kini bergetar akibat pukulan dari luar. Dorongan gairah yang baru saja menguasai akal sehatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh kepanikan yang membekukan darah."Amira! Buka pintunya! Aku melihat semua penjaga lorong ditarik mundur! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak Zayn. Suara suaminya terdengar serak, perpaduan antara kemarahan yang memuncak dan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.Napas Amira memburu. Ia berusaha mendorong dada bidang Malik untuk melepaskan diri. "Malik, lepaskan aku. Dia tahu! Zayn tahu kamu ada di sini!" bisiknya panik, air mata ketakutan menggenang di pelupuk matanya.Namun, alih-alih panik atau melepaskan pelukannya, Malik justru mendecak pelan. Seringai kemenangan di wajah aristokrat pria itu luntur, digantikan oleh raut kekesalan yang sangat dingin. Pria itu menatap pintu d

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 4 Sebut Namaku

    Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratnya yang keras, memperlihatkan seringai tipis yang sangat mematikan."Kamu tidak menguncinya," suara serak Malik memecah keheningan, mengalun rendah dan penuh kepuasan absolut.Amira menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Tangannya mencengkeram erat gaun merah marunnya. "Aku, aku lupa."Malik terkekeh pelan. Tawa yang bergetar di dada bidangnya itu menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai kebohongan murahan Amira. Pria itu mulai melangkah maju. Setiap langkahnya yang tanpa suara di atas karpet seolah menyedot sisa oksigen di dalam ruangan. Aroma oud dan cerutu perlahan menenggelamkan wangi lavender di kamar tersebut."Lupa?" Malik mengulang kata itu dengan nada

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 3 Cepat Ganti Bajumu

    Amira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya. Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya."Cepat ganti bajumu," perintah Zayn, sambil sibuk memasukkan map-map tebal ke dalam tas kulitnya tanpa menoleh sedikit pun. "Pakai gaun merah marun yang kubelikan bulan lalu. Cocokkan dengan kalung dari Kak Malik itu. Dia sangat memperhatikan detail, jangan sampai kamu membuatnya merasa tidak dihargai setelah kesalahanmu pagi ini."Amira ingin menjerit. Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kakakmu lakukan? Namun, pita suaranya seolah putus. Ia hanya bisa berdiri dengan kaku, melangkah menuju ruang ganti layaknya boneka kayu yang ditarik benangnya. Di depan cermin meja rias, Amira membalut tubuhnya dengan gaun merah marun berlengan panjang. Sutra dingin itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya.Dengan jemari yang

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 2 Kamu Sudah Kutandai

    Suara logam dari gerendel pintu yang diputar itu bergema layaknya vonis eksekusi mati di telinga Amira.Napasnya terhenti seketika. Ia merapatkan punggungnya ke daun pintu kayu ek yang dingin, seolah benda mati itu bisa melindunginya dari bahaya. Aroma oud dan cerutu semakin pekat, mengusir wangi kertas tua dari buku-buku di sekeliling Amira. Lalu tak lama, terlihat siluet Malik membelah keremangan perpustakaan.Pria itu telah menanggalkan jas kerjanya entah di mana, hanya menyisakan kemeja sutra hitam yang lengannya kini digulung hingga ke siku.Urat-urat menonjol di lengan bawah pria itu terlihat jelas saat dia berjalan mendekat dengan keanggunan dan ketenangan seekor predator yang telah menyudutkan mangsanya."Kamu lari terlalu cepat, Habibti," suara serak Malik mengalun, membelai telinga Amira dengan bahaya murni. "Tehmu bahkan belum habis.""Buka pintunya," desis Amira. Suaranya bergetar hebat, namun ia memaksakan diri untuk menatap mata kelam pria itu. "Biarkan aku keluar, Mali

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 1 Selamat Pagi, Adik Ipar

    Tanda kemerahan berbentuk gigitan yang tercetak jelas di atas tulang selangka pria itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Amira dalam satu tarikan napas. ​Pria itu sengaja membiarkan dua kancing teratas kemeja sutra hitamnya terbuka. Di sanalah tanda itu berada. Sebuah memar kemerahan, bersanding dengan tiga garis luka goresan kuku yang mulai mengering namun masih terlihat perih.​Di bawah meja, lutut Amira bergetar hebat hingga beradu satu sama lain. Rasa mual bercampur horor menghantam ulu hatinya. Semalam, di tengah lorong sayap timur yang gelap gulita dan pengaruh anggur, seorang pria menariknya ke dalam kamar dan pria itu menyentuhnya dengan kebrutalan memuja, memberikannya puncak gairah yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun pernikahan, dan memaksanya mendesahkan permohonan-permohonan tak tahu malu. Ia mengira pria itu adalah Zayn yang akhirnya terbangun dari sikap dinginnya. Namun, ternyata tebakannya salah besar.​"Kamu mengaduk tehmu terlalu lama, Amira," tegur sebuah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status