MasukTangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak.
Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja ke dalam cengkeraman iblis tanpa perlawanan sedikit pun. Di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, Amira merasakan udara di sekitarnya menghangat. Aroma oud dan asap cerutu yang memabukkan itu merapat. Malik berjongkok di hadapannya. Tangan besar pria itu, yang biasa digunakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya tanpa ampun, kini merengkuh bahu Amira yang bergetar. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Amira adalah porselen paling rapuh di dunia. "Menangislah," bisik Malik dengan suara baritonnya yang berat, mengusap helaian rambut yang menempel di pipi basah Amira. "Menangis untuk terakhir kalinya bagi pria bodoh itu. Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata untuk siapa pun selain untukku." Kata-kata itu memicu percikan amarah di tengah keputusasaan Amira. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, wanita itu mengangkat wajahnya dan memukul dada keras Malik. "Kamu iblis!" jerit Amira tertahan, suaranya serak. Kepalan tangannya menghantam kemeja putih pria itu berkali-kali. "Kalian berdua sama-sama monster! Kenapa kamu melakukan ini padaku?! Kenapa kamu menghancurkan hidupku?!" Malik menerima pukulan-pukulan itu tanpa bergeming sedikit pun. Ia membiarkan Amira melampiaskan rasa frustrasi dan sakit hatinya. Ketika tenaga Amira mulai habis dan pukulannya melemah menjadi sekadar remasan putus asa di kemeja sutranya, Malik menangkap kedua pergelangan tangan wanita itu. Pria itu membawa jemari Amira ke bibirnya, lalu mengecup buku-buku jari yang memerah itu dengan penuh pemujaan. "Aku memang monster, Habibti," jawab Malik, menatap lurus ke dalam manik mata Amira yang berlinang air mata. Kilat obsesi di mata kelam pria itu menyala terang, membakar sisa-sisa kewarasan Amira. "Tapi aku monster yang memujamu. Aku monster yang akan membunuh siapa pun yang berani membuatmu merasa tidak berharga, termasuk saudaraku sendiri." Malik berdiri, lalu dengan satu tarikan kuat dan mudah, ia mengangkat tubuh Amira ke dalam gendongannya. Amira tersentak, refleks melingkarkan lengannya ke leher kokoh pria itu agar tidak terjatuh. Wajah mereka begitu dekat hingga Amira bisa merasakan embusan napas hangat Malik di bibirnya. Pria itu melangkah tegap menuju ranjang raksasa di tengah kamar, lalu membaringkan Amira di atas lautan bantal dengan kelembutan yang sangat kontras dengan reputasinya sebagai penguasa dunia bawah tanah. Malik menyusul naik, mengungkung tubuh kecil Amira di bawah bayang-bayang tubuh besarnya. "Zayn telah melepaskan haknya atas dirimu malam ini," bisik Malik. Ujung hidungnya menyusuri garis rahang Amira, menghirup aroma lavender yang bercampur dengan air mata. "Suamimu mengorbankanmu demi angka-angka di atas kertas. Dia membiarkan istrinya dikunci bersama pria lain karena takut miskin. Apakah kamu masih ingin mempertahankan kesetiaanmu pada pecundang seperti itu?" Dada Amira naik-turun dengan cepat. Kata-kata racun Malik menembus tepat ke titik terlemah pertahanannya. Tidak ada lagi yang tersisa dari pernikahannya. Bangunan kesetiaan yang ia jaga susah payah selama lima tahun telah diruntuhkan oleh fondasinya sendiri. Amira memejamkan mata. Rasa sakit hati akibat pengkhianatan Zayn perlahan memudar, tergantikan oleh kobaran api yang jauh lebih gelap dan berbahaya. Api gairah yang dibangun dari rasa dendam dan kerinduan yang memuakkan akan sentuhan Malik. Melihat keraguan yang mengikis di wajah Amira, Malik tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu menyelinapkan tangannya ke punggung Amira, menemukan ritsleting gaun merah marun yang membungkus tubuh wanita itu. Dengan satu tarikan pelan yang membelah keheningan, ritsleting itu terbuka hingga ke pangkal punggung. "Buka matamu, Amira," perintah Malik mutlak. Dengan napas tersengal, Amira membuka matanya. Malik menatapnya dengan lapar. Pria itu menyingkap gaun merah marun dari bahu Amira, membiarkan kain sutra itu melorot hingga sebatas pinggang. Kulit pualam Amira yang dipenuhi jejak kemerahan dari malam sebelumnya kembali terekspos di bawah cahaya perapian. Hanya choker beludru berhiaskan berlian hitam itu yang masih tertinggal, melingkar angkuh di leher jenjang Amira sebagai tanda kepemilikan mutlak. "Malam ini, tidak ada anggur yang membutakan matamu. Tidak ada kegelapan yang menyembunyikan wajahku," geram Malik, suaranya bergetar menahan hasrat yang siap meledak. Pria itu menyatukan jemari mereka, menekannya di atas seprai. "Aku ingin kamu melihatku dengan sadar saat aku menjadikanmu milikku." Bibir Malik turun, meraup bibir Amira dalam satu ciuman yang brutal, menuntut, dan penuh dahaga. Ciuman itu seolah menyapu bersih eksistensi Zayn dari dunia ini. Seluruh penolakan Amira musnah. Tangannya yang terkepal perlahan terbuka, membalas genggaman Malik dengan tak kalah erat. Saat lidah pria itu menginvasi mulutnya, Amira mengerang pelan, melengkungkan tubuhnya menyambut dominasi pria yang menghancurkan sekaligus menyelamatkan hidupnya. Ia menyerah pada iblis ini sepenuhnya. Kamar yang menjadi saksi bisu pengkhianatan suaminya itu kini menjadi panggung bagi dosa baru yang jauh lebih memabukkan. Setiap sentuhan Malik, setiap bisikan kasarnya, mengikis kewarasan Amira hingga ia tidak bisa memikirkan apa pun selain pria di atasnya. Beberapa jam kemudian, saat badai salju di luar jendela telah mereda menjadi rintik es yang sunyi, Amira terbaring lemas di pelukan Malik. Selimut tebal menutupi tubuh polos mereka. Dada Amira masih naik-turun teratur, wajahnya bersandar di dada bidang pria yang kini membelai rambut panjangnya dengan gerakan posesif. Kelelahan mendera setiap sendi tubuh Amira, namun pikirannya mulai menjernih. Realitas tentang apa yang baru saja ia lakukan dan bagaimana nasibnya besok pagi mulai menghantui kepalanya. "Malik," bisik Amira parau, memecah keheningan kamar. "Apa yang akan terjadi besok? Bagaimana aku harus menatap wajah Zayn setelah, setelah semua ini?" Malik terkekeh rendah. Dada bidangnya bergetar di bawah pipi Amira. Pria itu menunduk, mengecup puncak kepala wanitanya. "Kamu tidak perlu memikirkan Zayn," jawab Malik dengan nada santai yang mengerikan. "Karena mulai besok, Zayn tidak memiliki urusan apa pun lagi denganmu." Amira mendongak, menatap rahang tegas pria itu dengan kening berkerut. "Apa maksudmu? Kami masih terikat pernikahan. Saat badai ini reda dan kita kembali ke Beirut, aku harus pulang ke mansion-nya." "Kamu tidak akan pulang ke mansion itu," sela Malik tajam. Mata kelam pria itu menatap Amira dengan kilat kemenangan yang membuat darah Amira kembali mendingin. "Kamu akan ikut denganku ke penthouse pribadiku." "T-tapi Zayn tidak akan membiarkannya. Tetua klan pasti akan mempertanyakan—" "Zayn akan membiarkannya," potong Malik membelai kalung choker di leher Amira dengan jari telunjuknya. Pria itu menyeringai kejam, sebuah rahasia gelap tersembunyi di balik matanya. "Menurutmu, apakah sebuah kebetulan pihak bea cukai tiba-tiba mengganti inspektur dan menahan kontainer senjata yang diurus Zayn di Tripoli?" Napas Amira terhenti seketika. Matanya terbelalak lebar seiring kengerian yang menyusup ke dalam benaknya. "Aku yang memotong jalur distribusinya," bisik Malik tepat di depan bibir Amira. "Aku yang menyuap pihak pelabuhan untuk menjebaknya, menciptakan kerugian miliaran dolar, dan memaksanya berutang nyawa pada klan." Jantung Amira berdetak liar hingga nyaris melompat keluar dari tulang rusuknya. Insiden pelabuhan yang membuat Zayn dihukum, dikucilkan di sayap utara malam ini, dan diancam kehilangan warisan, semua itu bukan kecerobohan Zayn. "Aku menghancurkan kerajaan kecil suamimu hanya untuk satu tujuan," lanjut Malik. Suaranya berubah menjadi bisikan kelam yang merantai jiwa Amira tanpa ampun. "Menjadikannya alat tukar untuk menebusmu."Tangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak. Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja ke dalam cengkeraman iblis tanpa perlawanan sedikit pun.Di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, Amira merasakan udara di sekitarnya menghangat. Aroma oud dan asap cerutu yang memabukkan itu merapat.Malik berjongkok di hadapannya. Tangan besar pria itu, yang biasa digunakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya tanpa ampun, kini merengkuh bahu Amira yang bergetar. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Amira adalah porselen paling rapuh di dunia."Menangislah," bisik Malik dengan suara baritonnya yang berat, mengusap helaian rambut yang menempel di pipi basah Amira. "Menangis untuk terakhir kalinya bagi pria bodoh itu. Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata untuk s
Gedoran di pintu itu terdengar bagai ledakan meriam yang meluluhlantakkan dunia Amira.Tubuh Amira seketika menegang kaku. Matanya terbelalak ngeri menatap pintu kayu ek tebal yang kini bergetar akibat pukulan dari luar. Dorongan gairah yang baru saja menguasai akal sehatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh kepanikan yang membekukan darah."Amira! Buka pintunya! Aku melihat semua penjaga lorong ditarik mundur! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak Zayn. Suara suaminya terdengar serak, perpaduan antara kemarahan yang memuncak dan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.Napas Amira memburu. Ia berusaha mendorong dada bidang Malik untuk melepaskan diri. "Malik, lepaskan aku. Dia tahu! Zayn tahu kamu ada di sini!" bisiknya panik, air mata ketakutan menggenang di pelupuk matanya.Namun, alih-alih panik atau melepaskan pelukannya, Malik justru mendecak pelan. Seringai kemenangan di wajah aristokrat pria itu luntur, digantikan oleh raut kekesalan yang sangat dingin. Pria itu menatap pintu d
Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratnya yang keras, memperlihatkan seringai tipis yang sangat mematikan."Kamu tidak menguncinya," suara serak Malik memecah keheningan, mengalun rendah dan penuh kepuasan absolut.Amira menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Tangannya mencengkeram erat gaun merah marunnya. "Aku, aku lupa."Malik terkekeh pelan. Tawa yang bergetar di dada bidangnya itu menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai kebohongan murahan Amira. Pria itu mulai melangkah maju. Setiap langkahnya yang tanpa suara di atas karpet seolah menyedot sisa oksigen di dalam ruangan. Aroma oud dan cerutu perlahan menenggelamkan wangi lavender di kamar tersebut."Lupa?" Malik mengulang kata itu dengan nada
Amira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya. Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya."Cepat ganti bajumu," perintah Zayn, sambil sibuk memasukkan map-map tebal ke dalam tas kulitnya tanpa menoleh sedikit pun. "Pakai gaun merah marun yang kubelikan bulan lalu. Cocokkan dengan kalung dari Kak Malik itu. Dia sangat memperhatikan detail, jangan sampai kamu membuatnya merasa tidak dihargai setelah kesalahanmu pagi ini."Amira ingin menjerit. Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kakakmu lakukan? Namun, pita suaranya seolah putus. Ia hanya bisa berdiri dengan kaku, melangkah menuju ruang ganti layaknya boneka kayu yang ditarik benangnya. Di depan cermin meja rias, Amira membalut tubuhnya dengan gaun merah marun berlengan panjang. Sutra dingin itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya.Dengan jemari yang
Suara logam dari gerendel pintu yang diputar itu bergema layaknya vonis eksekusi mati di telinga Amira.Napasnya terhenti seketika. Ia merapatkan punggungnya ke daun pintu kayu ek yang dingin, seolah benda mati itu bisa melindunginya dari bahaya. Aroma oud dan cerutu semakin pekat, mengusir wangi kertas tua dari buku-buku di sekeliling Amira. Lalu tak lama, terlihat siluet Malik membelah keremangan perpustakaan.Pria itu telah menanggalkan jas kerjanya entah di mana, hanya menyisakan kemeja sutra hitam yang lengannya kini digulung hingga ke siku.Urat-urat menonjol di lengan bawah pria itu terlihat jelas saat dia berjalan mendekat dengan keanggunan dan ketenangan seekor predator yang telah menyudutkan mangsanya."Kamu lari terlalu cepat, Habibti," suara serak Malik mengalun, membelai telinga Amira dengan bahaya murni. "Tehmu bahkan belum habis.""Buka pintunya," desis Amira. Suaranya bergetar hebat, namun ia memaksakan diri untuk menatap mata kelam pria itu. "Biarkan aku keluar, Mali
Tanda kemerahan berbentuk gigitan yang tercetak jelas di atas tulang selangka pria itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Amira dalam satu tarikan napas. Pria itu sengaja membiarkan dua kancing teratas kemeja sutra hitamnya terbuka. Di sanalah tanda itu berada. Sebuah memar kemerahan, bersanding dengan tiga garis luka goresan kuku yang mulai mengering namun masih terlihat perih.Di bawah meja, lutut Amira bergetar hebat hingga beradu satu sama lain. Rasa mual bercampur horor menghantam ulu hatinya. Semalam, di tengah lorong sayap timur yang gelap gulita dan pengaruh anggur, seorang pria menariknya ke dalam kamar dan pria itu menyentuhnya dengan kebrutalan memuja, memberikannya puncak gairah yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun pernikahan, dan memaksanya mendesahkan permohonan-permohonan tak tahu malu. Ia mengira pria itu adalah Zayn yang akhirnya terbangun dari sikap dinginnya. Namun, ternyata tebakannya salah besar."Kamu mengaduk tehmu terlalu lama, Amira," tegur sebuah







