Beranda / Mafia / Dosa Beraroma Oud / Bab 2 Kamu Sudah Kutandai

Share

Bab 2 Kamu Sudah Kutandai

Penulis: Silentia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-15 23:35:20

Suara logam dari gerendel pintu yang diputar itu bergema layaknya vonis eksekusi mati di telinga Amira.

Napasnya terhenti seketika. Ia merapatkan punggungnya ke daun pintu kayu ek yang dingin, seolah benda mati itu bisa melindunginya dari bahaya.

Aroma oud dan cerutu semakin pekat, mengusir wangi kertas tua dari buku-buku di sekeliling Amira. Lalu tak lama, terlihat siluet Malik membelah keremangan perpustakaan.

Pria itu telah menanggalkan jas kerjanya entah di mana, hanya menyisakan kemeja sutra hitam yang lengannya kini digulung hingga ke siku.

Urat-urat menonjol di lengan bawah pria itu terlihat jelas saat dia berjalan mendekat dengan keanggunan dan ketenangan seekor predator yang telah menyudutkan mangsanya.

"Kamu lari terlalu cepat, Habibti," suara serak Malik mengalun, membelai telinga Amira dengan bahaya murni. "Tehmu bahkan belum habis."

"Buka pintunya," desis Amira. Suaranya bergetar hebat, namun ia memaksakan diri untuk menatap mata kelam pria itu. "Biarkan aku keluar, Malik."

Pria itu tertawa pelan. Tawa yang sama sekali tidak mengandung humor, melainkan dominasi absolut yang tak terbantahkan.

Malik berhenti tepat di hadapan Amira, mengurung wanita itu di antara tubuh besarnya dan daun pintu. Ujung sepatu kulit mahalnya menyentuh ujung sepatu bot Amira, memutus segala jarak yang tersisa.

"Kamu memanggilku dengan sebutan 'Kak Malik' dengan sangat patuh di meja makan tadi," gumam pria itu pelan. Tangan kanannya terangkat, mengusap rahang Amira dengan ibu jari yang kasar. "Tapi di ruangan gelap ini, kamu memanggil namaku persis seperti saat kamu menjerit memohon padaku semalam."

"Hentikan!" Amira menepis tangan pria itu dengan kasar, tidak peduli pada bahaya yang mengintainya. Air mata kepanikan dan rasa malu mulai menggenang di pelupuk matanya. "Semalam adalah sebuah kesalahan! Aku mabuk akibat anggur sialan itu. Aku mengira kamu adalah suamiku. Jika aku tahu itu adalah dirimu, aku lebih memilih mati daripada membiarkanmu menyentuhku!"

Bohong. Kebohongan itu terasa pahit di lidah Amira, namun itu adalah satu-satunya perisai rapuh yang ia miliki untuk menutupi tubuhnya yang berkhianat.

Mata Malik menyipit, kilat berbahaya memancar dari sepasang netra kelam itu. Alih-alih marah karena ditepis, pria itu justru mencondongkan tubuhnya, menempelkan dada bidangnya pada tubuh gemetar Amira.

"Kesalahan?" Malik mendengus sinis, matanya menelanjangi pertahanan Amira. "Tubuhmu tidak pernah berbohong, Amira. Saat bibirku menyusuri perutmu semalam, kamu melengkung menyambutku dengan sangat rakus. Suamimu yang menyedihkan itu, pria pengecut yang membentakmu hanya karena secangkir teh tumpah, tidak akan pernah bisa membuatmu hancur dan merasa utuh dalam waktu yang bersamaan."

"Tutup mulutmu," rintih Amira, mencoba mengangkat tangannya untuk menutup telinga.

Namun tangan besar Malik bergerak lebih cepat. Dengan mudah, pria itu meraih kedua pergelangan tangan wanita itu, menariknya ke atas, dan menekannya ke daun pintu di atas kepala Amira hanya dengan satu cengkeraman tangan kanannya yang mutlak.

"Zayn menyia-nyiakanmu selama lima tahun," bisik Malik tepat di depan bibir Amira. Napas pria itu, beraroma mint dan bourbon menerpa wajahnya, membuat kedua kaki Amira nyaris kehilangan tenaga untuk berdiri. "Dia menjadikanmu sekadar pajangan di rumahnya. Tapi aku, aku akan menjadikanmu ratuku. Aku sudah memperhatikanmu di klan ini sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di pelaminan."

Amira membelalak tak percaya. Napasnya memburu menabrak dada keras pria itu. "Kamu gila. Jika klan tahu tentang aib ini, mereka akan menghancurkan kita."

"Klan ini ada di bawah telapak kakiku," potong Malik tajam, nadanya menyiratkan keangkuhan seorang tiran sejati. "Aku yang membiayai napas mereka. Tidak ada satu pun tetua bangka di rumah ini yang berani mempertanyakan apa yang aku klaim sebagai milikku."

Tangan kiri Malik yang bebas menyusup pelan ke balik kerah gaun wol Amira, meraba kulit lembutnya hingga menemukan memar kemerahan yang ia tinggalkan semalam. Pria itu menekan tanda itu pelan, mengundang pekikan tertahan dari bibir Amira. Sengatan gairah yang salah dan memuakkan, kembali menyala.

"Kamu sudah kutandai," bisik Malik, suaranya berubah menjadi geraman posesif yang dalam.

Pria itu menunduk, menempelkan bibirnya pada rahang Amira, menciumnya dengan kelembutan yang menyesakkan. "Nikmati sisa siangmu bersama adikku. Tapi ingat ini baik-baik. Saat malam tiba, pastikan pintu kamarmu tidak terkunci. Karena jika aku harus mendobraknya, seluruh penghuni chateau ini akan tahu persis bagaimana caraku memuaskanmu hingga kamu menangis."

Malik melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Amira. Pria itu memutar kunci pintu dengan santai, lalu melangkah mundur, membiarkan udara dingin kembali memeluk tubuh Amira yang merosot lemas. Tanpa menoleh lagi, sang mafia berjalan menyusuri rak-rak tinggi, menghilang begitu saja melalui sebuah pintu penghubung rahasia yang ada di sudut perpustakaan.

Amira jatuh terduduk di atas karpet Persia. Kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya. Ancaman Malik terus terngiang di telinganya layaknya kutukan.

Pria itu tidak sedang menggertak. Malik sungguh akan datang malam ini, dan ia tahu suaminya sama sekali tidak bisa diandalkan untuk melindunginya dari monster tersebut.

Dengan langkah tertatih dan sisa tenaga yang ada, Amira kembali menyusuri lorong menuju kamar suite utamanya. Ia hanya berharap bisa mengunci pintu dan menangis di balik selimut, namun pemandangan di dalam kamar justru membuatnya semakin mual dan kehilangan harapan.

Zayn sedang memasukkan beberapa tumpuk dokumen ke dalam tas kerjanya dengan wajah kalut dan keringat dingin sebesar biji jagung di dahinya.

Suaminya menoleh saat Amira melangkah masuk.

"Amira, dari mana saja kamu? Cepat bersiap," perintah Zayn tanpa basa-basi, suaranya meninggi karena stres.

"Bersiap untuk apa? Badai salju di luar masih mengamuk, kita tidak mungkin kembali ke Beirut sekarang," jawab Amira lemah. Ia berjalan gontai menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.

"Kak Malik marah besar soal pelabuhan. Dia menghukumku dengan sangat kejam," Zayn mengusap wajahnya dengan kasar, tampak sangat putus asa. "Aku harus memantau pergerakan kontainer dan memperbaiki dokumen kerugian dari ruang kerja di sayap utara malam ini. Mungkin aku tidak akan bisa tidur sama sekali sampai fajar. Tapi Kak Malik berbaik hati, dia mengadakan makan malam keluarga malam ini sebelum aku mulai bekerja."

Dada Amira seakan dihantam batu godam. Sayap utara. Itu adalah ujung terjauh dari chateau ini, berbeda arah sama sekali dengan kamar utama mereka. Malik sengaja menyingkirkan Zayn dari kamar malam ini. Pria iblis itu telah mengatur papan caturnya dengan sangat sempurna.

"Aku merasa sangat pusing, Zayn. Bisakah aku absen dari makan malam?" mohon Amira dengan suara bergetar.

"Tidak bisa!" bentak Zayn seketika, matanya melebar dipenuhi kepanikan. Ia berjalan mendekat dan menatap istrinya dengan tajam. "Ini perintah langsung dari Kak Malik. Kamu harus tampil sempurna untuk menutupi kesalahanku di meja sarapan tadi pagi. Oh ya, seorang pelayan baru saja membawakan ini. Dari Kak Malik, katanya sebagai permintaan maaf atas insiden teh tadi karena dia membuatmu terkejut."

Zayn merogoh saku jasnya dan melemparkan sebuah kotak beludru hitam kecil ke pangkuan Amira.

Dengan tangan sedingin es dan bergetar hebat, Amira membuka pengait kotak itu. Di atas bantalan sutra putih di dalamnya, tergeletak sebuah kalung choker bertahtakan deretan berlian hitam murni yang dirangkai di atas pita beludru merah darah. Bentuknya sangat indah, luar biasa mahal, dan lebarnya dirancang sangat pas untuk menutupi seluruh perpotongan leher. Lebih tepatnya menutupi jejak gigitan rahasia itu dengan sempurna.

Tepat di bawah kalung mematikan tersebut, terselip sebuah kartu kecil bernuansa gading dengan tulisan tangan tegak bersambung yang sangat rapi dan tegas. Amira mengambilnya, dan membaca deretan huruf yang hanya bisa dipahami olehnya.

Pakailah. Ratu harus selalu mengenakan perhiasannya sebelum sang Raja datang menjemput malam ini.

Amira menatap kalung berlian hitam itu dengan horor yang melumpuhkan seluruh fungsi otaknya. Benda itu bukanlah sebuah perhiasan. Benda itu adalah kalung pengekang. Sebuah tanda kepemilikan yang Malik paksa untuk ia kenakan, dan diserahkan langsung oleh tangan suaminya sendiri yang bodoh dan buta.

Amira meremas ujung gaunnya erat-erat, menyadari bahwa malam ini, neraka beludrunya baru saja dimulai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 6 Tapi Aku Monster yang Memujamu

    Tangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak. Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja ke dalam cengkeraman iblis tanpa perlawanan sedikit pun.Di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, Amira merasakan udara di sekitarnya menghangat. Aroma oud dan asap cerutu yang memabukkan itu merapat.Malik berjongkok di hadapannya. Tangan besar pria itu, yang biasa digunakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya tanpa ampun, kini merengkuh bahu Amira yang bergetar. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Amira adalah porselen paling rapuh di dunia."Menangislah," bisik Malik dengan suara baritonnya yang berat, mengusap helaian rambut yang menempel di pipi basah Amira. "Menangis untuk terakhir kalinya bagi pria bodoh itu. Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata untuk s

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 5 Dia Istriku!

    Gedoran di pintu itu terdengar bagai ledakan meriam yang meluluhlantakkan dunia Amira.Tubuh Amira seketika menegang kaku. Matanya terbelalak ngeri menatap pintu kayu ek tebal yang kini bergetar akibat pukulan dari luar. Dorongan gairah yang baru saja menguasai akal sehatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh kepanikan yang membekukan darah."Amira! Buka pintunya! Aku melihat semua penjaga lorong ditarik mundur! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak Zayn. Suara suaminya terdengar serak, perpaduan antara kemarahan yang memuncak dan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.Napas Amira memburu. Ia berusaha mendorong dada bidang Malik untuk melepaskan diri. "Malik, lepaskan aku. Dia tahu! Zayn tahu kamu ada di sini!" bisiknya panik, air mata ketakutan menggenang di pelupuk matanya.Namun, alih-alih panik atau melepaskan pelukannya, Malik justru mendecak pelan. Seringai kemenangan di wajah aristokrat pria itu luntur, digantikan oleh raut kekesalan yang sangat dingin. Pria itu menatap pintu d

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 4 Sebut Namaku

    Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratnya yang keras, memperlihatkan seringai tipis yang sangat mematikan."Kamu tidak menguncinya," suara serak Malik memecah keheningan, mengalun rendah dan penuh kepuasan absolut.Amira menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Tangannya mencengkeram erat gaun merah marunnya. "Aku, aku lupa."Malik terkekeh pelan. Tawa yang bergetar di dada bidangnya itu menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai kebohongan murahan Amira. Pria itu mulai melangkah maju. Setiap langkahnya yang tanpa suara di atas karpet seolah menyedot sisa oksigen di dalam ruangan. Aroma oud dan cerutu perlahan menenggelamkan wangi lavender di kamar tersebut."Lupa?" Malik mengulang kata itu dengan nada

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 3 Cepat Ganti Bajumu

    Amira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya. Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya."Cepat ganti bajumu," perintah Zayn, sambil sibuk memasukkan map-map tebal ke dalam tas kulitnya tanpa menoleh sedikit pun. "Pakai gaun merah marun yang kubelikan bulan lalu. Cocokkan dengan kalung dari Kak Malik itu. Dia sangat memperhatikan detail, jangan sampai kamu membuatnya merasa tidak dihargai setelah kesalahanmu pagi ini."Amira ingin menjerit. Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kakakmu lakukan? Namun, pita suaranya seolah putus. Ia hanya bisa berdiri dengan kaku, melangkah menuju ruang ganti layaknya boneka kayu yang ditarik benangnya. Di depan cermin meja rias, Amira membalut tubuhnya dengan gaun merah marun berlengan panjang. Sutra dingin itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya.Dengan jemari yang

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 2 Kamu Sudah Kutandai

    Suara logam dari gerendel pintu yang diputar itu bergema layaknya vonis eksekusi mati di telinga Amira.Napasnya terhenti seketika. Ia merapatkan punggungnya ke daun pintu kayu ek yang dingin, seolah benda mati itu bisa melindunginya dari bahaya. Aroma oud dan cerutu semakin pekat, mengusir wangi kertas tua dari buku-buku di sekeliling Amira. Lalu tak lama, terlihat siluet Malik membelah keremangan perpustakaan.Pria itu telah menanggalkan jas kerjanya entah di mana, hanya menyisakan kemeja sutra hitam yang lengannya kini digulung hingga ke siku.Urat-urat menonjol di lengan bawah pria itu terlihat jelas saat dia berjalan mendekat dengan keanggunan dan ketenangan seekor predator yang telah menyudutkan mangsanya."Kamu lari terlalu cepat, Habibti," suara serak Malik mengalun, membelai telinga Amira dengan bahaya murni. "Tehmu bahkan belum habis.""Buka pintunya," desis Amira. Suaranya bergetar hebat, namun ia memaksakan diri untuk menatap mata kelam pria itu. "Biarkan aku keluar, Mali

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 1 Selamat Pagi, Adik Ipar

    Tanda kemerahan berbentuk gigitan yang tercetak jelas di atas tulang selangka pria itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Amira dalam satu tarikan napas. ​Pria itu sengaja membiarkan dua kancing teratas kemeja sutra hitamnya terbuka. Di sanalah tanda itu berada. Sebuah memar kemerahan, bersanding dengan tiga garis luka goresan kuku yang mulai mengering namun masih terlihat perih.​Di bawah meja, lutut Amira bergetar hebat hingga beradu satu sama lain. Rasa mual bercampur horor menghantam ulu hatinya. Semalam, di tengah lorong sayap timur yang gelap gulita dan pengaruh anggur, seorang pria menariknya ke dalam kamar dan pria itu menyentuhnya dengan kebrutalan memuja, memberikannya puncak gairah yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun pernikahan, dan memaksanya mendesahkan permohonan-permohonan tak tahu malu. Ia mengira pria itu adalah Zayn yang akhirnya terbangun dari sikap dinginnya. Namun, ternyata tebakannya salah besar.​"Kamu mengaduk tehmu terlalu lama, Amira," tegur sebuah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status